Monthly Archives: February 2014

Burung Layang-Layang: Berbagi Tugas Dengan Adil.

Standard

Menunggu anak  sedang melakukan perwatan di dokter gigi lumayan membuat mata mengantuk. Saya mencoba mengakalin beratnya mata saya dengan bermain handphone. Tetap terasa berat.Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan sebentar di depan Klinik.  Tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya lalu lintas yang lewat merangkak setengah macet.  Pak Satpam menyapa saya dengan ramah. Lalu entah bagaimana mulainya, percakapan jadi mengalir tentang burung-burung liar yang suka beterbangan di pepohonan sekitar Klinik Gigi itu.

Sarang Burung Layang-Layang 2

Banyak sih, Bu. Tapi biasanya ya Burung Kutilang atau Burung Kemlade” katanya. Saya mendengarkan dengan baik. “Tapi burung Layang-Layang juga suka ada” kata  Pak Satpam restaurant sebelah Klinik Gigi itu yang ikut nimbrung. “Ada sarangnya juga,Bu” katanya.  Saya menjadi tertarik. “Dimana?“tanya saya.

Pak Satpam lalu menunjuk sebuah sarang burung yang menempel di dinding sebuah toko di sebelah Kilinik Gigi itu. “Sayang sedang kosong, Bu. Kadang suka ada isinya” kata bapak itu menjelaskan.Saya mendongak ke atas untuk melihat sarang burung yang disebutkan itu. Tampak sarang terbuat dari lumpur dan serat-serat tanaman. Dinding disekitarnya tampak kotor. Ya, kelihatannya sarang itu  sedang kosong. Tidak berpenghuni.  Pak Satpam menjelaskan bahwa sarang burung itu sudah lama ada di sana. “Mungkin sudah dipakai 4-5 kali musim bertelor, Bu” jelasnya. Hm..jadi rupanya burung Layang-Layang suka membuat sarang permanen yang bisa dipakai ulang.

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seekor Burung Layang-layang yang hinggap di atap rumah yang dijadikan toko itu. Oh! Apa yang dilakukannya. Ia tampak tengak tengok sebentar, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu terbang turun di sudut dinding tak jauh dari sarang itu berada.

Sarang Burung Layang-Layang

Pada saat itu, sebuah kepala burung terlihat menyembul keluar dari sarang itu. Wah! rupanya sarang itu ada isinya. Seekor Burung layang-Layang tampak bergerak gerak dan semakin menampakkan kepala dan tubuhnya.

Sarang Burung Layang-Layang 1

Sejenak ia tampak bengong di pinggir sarang. Lalu ia terbang. “Itu yang betina“kata Pak Satpam. Terus terang saya mengalami kesulitan untuk membedakan mana yang jantan dan mana yang betina.  Setahu saya, yang betina memiliki kepala yang lebih langsing dan ramping.  Tapi kedua ekor burung ini nampak sama saja.

Mungkin ia harus pergi sebentar untuk mencari makan untuk dirinya sendiri. Karena saya tidak melihat jantannya datang menyuapinya makanan.  Ada kemungkinan kalau mereka mencari makannya masing-masing.

Burung Layang-Layang Jantan menunggu sarang

Burung layang-layang yang satu lagi tampak mendekat mengawasi sarangnya. Saya memperhatikan gerak geriknya. Perlahan-lahan ia berjingkat mendekati sarang. Lalu masuk dan menggantikan betinanya mengeram  telor/anak di sarangnya.

Burung Layang-Layang Jantan masuk sarang

Wah hebat juga Burung Layang-Layang jantan itu. Rupanya mereka melakukan penjagaan secara bergilir.  Saya lihat Burung Layang-Layang jantan ini sangat sabar menunggu sarangnya. Kendati betinanya belum muncul-muncul juga, ia tetap nongkrong di situ.

Burung Layang-Layang Jantan menunggu di sarang

Hanya ketika sudah terlalu lama dan betinanya tiada kunjung datang juga, maka si Burung jantan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya dan melakukan ‘body stretching’. Walaupun kelihatan tengak tengok, tapi ia tetap menjaga sarangnya dengan ketat. Ia tidak meninggalkan sarangnya begitu saja tanpa penjagaan.  Sangat bertanggung-jawab.

Saya merasa tingkah laku Burung Layang-Layang ini sangat mirip dengan kelakuan manusia. “Aplusan juga seperti kita ya” kata Pak Satpam sambil tertawa.

 

Lappet Moth, Si Ngengat Kuning Yang Cerah Ceria.

Standard

Ngengat Kuning 4Ketika pulang dari bermain-main bersama anak saya  di danau Cipondoh, saya melihat ada sesuatu yang menarik di balik daun bunga Iris Kuning yang tumbuh di tepi danau itu.  Warnanya kuning cemerlang, membuatnya sangat mencolok mata dibandingkan lingkungan sekitarnya yang berwarna hijau. Sayapun mendekat dan takjub.

Seekor ngengat!. Dan warnanya kuning. Saya belum pernah melihat sebelumnya.  Jadi saya harus ngubek-ubek mencari referensi – apa nama ngengat ini? Ulatnya seperti apa tampangnya ya?

Saya menemukan sebuah gambar referensi di dunia maya, lalu saya telusuri kembali ke situs-situs lainnya akhirnya saya tahu  bahwa ngengat ini bernama Lappet Moth betina (Trabala vishnou).  Hah? Aneh tampangnya. Aneh juga namanya.  Sayapnya berwarna kuning terang. Pada sayap belakang terdapat gambar berwarna pink  bergaris merah yang mirip gambar orang sedang membawa pentungan. lalu di bawahnya ada bintuk-bintik hitam kemerahan yang mirip jejak kaki orang di sayap itu.

Lalu pada sayap depannya juga ada bintik-bintik yang serupa.  Tapi secara keseluruhan ngengat ini tampak cantik dan ceria. Seprti halnya ngengat yang lain, antenanya lebar dan berbulu – beda dengan kupu-kupu.

Ulatnya rupanya juga berwarna kuning bergaris-garsi hitam dengan bulu yang banyak. Menurut referensi yang saya baca,ngengat ini sama sekali tidak makan dan minum pada tahapan hidup ngengatnya.Karena umurnya pendek. Cuma hidup untuk kawin, bertelor dan mati. Kegiatan makan dan minumnya dilakukan pada tahapan kehidupan sebelumnya (saat menjadi ulat). Menarik juga ya.

Menyetrum Ikan.

Standard

Menyetrum Ikan 2Seorang laki-laki berjalan di bantaran kali belakang rumah sambil menyandang  dua buah alat panjang mirip pancing. Saya melihatnya dari jarak agak jauh. Berbaju biru dan bercelana hitam, lengkap dengan sepatu boot berwarna hijau. Ia mengenakan topi berwarna jingga. Lelaki itu terus berjalan menyusuri kali sambil sesekali melihat ke kiri ke kanan dengan pandangan awas. Saya agak menaruh curiga.  Apa yang dicari oleh lelaki itu? Mengapa ia lewat di bantaran kali itu?

Saya tahu sih, bantaran kali ini adalah tanah negara. Siapapun warga negara berhak untuk lewat di situ. Namun jika bukan warga yang tinggal sekitar situ atau jika tidak ada tujuannya,  tentu orang malas lewat di sana. Apa yang akan dilakukannya? Terus terang  kecurigaan saya itu bukan tanpa alasan.

Saya tahu ada beberapa orang penduduk asli yang suka memanfaatkan bantaran kali untuk  mengatasi kesulitan hidupnya, misalnya dengan menanam sedikit sayuran spt kangkung, bayam, singkong,  atau menyabit rerumputan untuk makanan kambing, mengambil kayu mati untuk kayu bakar, dsb.

Namun ada juga yang berusaha mengambil  sesuatu dengan merusak keseimbangan alam. Saya pernah menemukan ada lelaki tak dikenal yang agak mencurigakan. Ketika saya tanyakan maksudnya,  ternyata ia sedang berusaha memasang jaring dan  menangkap burung-burung liar yang ada di situ. Akhirnya saya tegur dan lelaki itupun pergi, tapi saya tidak tahu apakah hari berikutnya ia datang lagi atau tidak.  Saya juga pernah mendengar ada orang yang berusaha menangkap biawak yang hidup di kali itu untuk dijadikan…sate!. Menyedihkan, bukan? Masalahnya adalah… biawak itu jumlahnya semakin sedikit dari waktu ke waktu. Apakah sedemikian pentingnya ya untuk memakan sate daging biawak sehingga tega memburunya?

Menyetrum Ikan 1

Karena hal-hal di atas itulah, maka saya menjadi seorang pencuriga jika ada orang tak dikenal terpergok oleh saya berada di sana. Lalu saya melihat punggungnya. Astaga!.  Ia membawa kotak mirip ransel. Di dalamnya ada benda persegi  mirip accu atau sumber listrik dan ada kawat-kawatnya.Waduuuh! Apa yang akan dilakukannya?. Karena penasaran saya mendekat dan menyapa lelaki itu.

Menyetrum Ikan 3

Wah…alat apa itu, Mas?” tanya saya menunjuk benda di punggungnya. Semoga ia tidak menjawab bahwa benda itu adalah bom. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah saya. Dan ke kamera yang saya bawa.  Pandangannya agak gugup  -mungkin wajah saya kelihatan lebih galak dari apa yang saya maksudkan. Atau jangan-jangan ia menyangka saya seorang wartawan yang akan meliput kegiatannya? Entahlah.

Lelaki itupun menjelaskan bahwa itu adalah alat untuk menangkap ikan dengan setrum. Sayapun mulai menginterview, mengapa dan bagaimana caranya ia akan menggunakan alat itu, ikan apa yang didapat dan apakah tidak akan membunuh semua ikan di sungai itu *.. anyway, saya tahu kebanyakan isinya hanya ikan sapu-sapu. Tapi ikan sapu-sapu kan tetap mahluk hidup juga*, dan apakah itu tidak membahayakan dirinya ya? Kesalahan kecil jika bermain dengan listrik bertegangan tinggi di air tentu bisa berakibat fatal bukan?

Menyetrum IkanAkhirnya ia menjelaskan kepada saya, bahwa ia akan terjun ke sungai dengan alat itu karena menurutnya arus listrik yang digunakannya tidak terlalu tinggi dan aman untuk dirinya. Alat panjang berbentuk pancing itu nantinya berguna untuk menyetrum ikan yang menurutnya hanya pingsan saja, sehingga mudah diambil. Dan menurutnya tidak semua ikan akan tersetrum, hanya yang di daerah sasaran saja.

Saya tidak bisa memahami penjelasannya dengan baik. Menurut saya jika ada arus listrik di air, bukannya akan dirasakan oleh mahluk hidup di sekitarnya juga ya? Bukankah air adalah pengantar listrik yang sangat baik?  Terus jika ikan dewasa yang bisa disetrum, bagaimana dengan ikan-ikan kecilnya? Tentu akan mengalami dampak setrum yang lebih buruk lagi bukan? Pada mati dong? bagaimana dengan masa depan ikan -ikan itu? Menurut saya kegiatan menyetrum ikan ini bisa jadi sangat mengganggu ekosistem dan keberlangsungan para ikan di sungai kecil ini.  Ia mengatakan hanya menyetrum dan mengambil ikan besarnya saja.  itupun hanya pingsan sebentar saja, lalu sadar kembali.

Akhirnya lelaki itu menunjukkan ke saya ikan-ikan yang telah berhasil ditangkapnya dan dimasukkan ke dalam dungki (tempat penyimpanan ikan).  Saya melongokkan kepala saya ke dalam. Isinya tidak banyak,  kebanyakan ikan gabus. Memang kelihatannya ia tidak menangkap ikan sembarangan sih, hanya yang dewasa saja. Padahal  menurutnya ia sudah bekerja sejak jam enam pagi menyusuri sungai dari arah Sektor IX Bintaro Jaya.  Kalau melihat ikan dan jumlahnya, kelihatannya sih ia tidak melakukan sesuatu yang aneh ya. Sayang saya tidak bisa memotret ikan-ikan itu dalam jarak seperti itu, karena lensa yang saya bawa saat itu kebetulan lensa tele.

Menyetrum Ikan 4Saya tidak punya pemahamam  tentang peraturan pemerintah tentang penangkapan ikan dengan cara setrum ini.  Terus terang saya ingin tahu, apakah ada peraturannya, penjelasan serta pasal-pasalnya. Dan hari ini ketika saya coba Googling, ternyata malah ada beberapa berita kecelakaan gara-gara menyetrum ikan  yang saya baca, yang  menyebabkan tewasnya tukang setrum itu sendiri.  Kasusnya bukan satu,malah ada beberapa. Saya jadi semakin prihatin.

Kalau begini sih, sudah jelas. Mau ada peraturan atau tidak, sebaiknya memang jangan menggunakan alat setrum untuk menangkap ikan.

Ethos Kerja Si Burung Layang-Layang.

Standard

– Mencari Bahan Untuk Membuat Sarang-

pacific SwallowKeingintahuan akan sesuatu biasanya membuat kita berusaha mencari tahu lebih lanjut. Demikianlah yang terjadi dengan saya. Melihat burung Layang-Layang beterbangan di atas kali berburu  jentik-jentik dan nyamuk, saya merasa sangat penasaran. Burung-burung itu terbang hilir mudik, naik turun, berputar-putar berkeliling  tanpa mengenal lelah. Hebat! Kerja melulu. Kapan berhentinya ya? Dan dimana tempatnya bertengger jika ia kelelahan?

Setelah lama mengamat-amati, akhirnya saya tahu bahwa jika kelelahan burung itu akan hinggap sejenak di  sebatang pohon mati di sebuah lahan kosong di perumahan.  Biasanya  hanya sebentar. Seolah-olah memiliki energy kinetik yang jumlahnya berjuta-juta Joule, burung itu akan kembali terbang berputar-putar lagi.  Saya hanya pernah melihatnya dari jarak yang jauh. Belum pernah melihatnya dari jarak dekat.  Sehingga warna aslinya hanya bisa saya tebak dari foto yang diperbesar sekian puluh kali.

pacific Swallow 1

Namun seperti kata pepatah, “Dimana Ada kemauan, Di sana Ada Jalan”.  Beberapa bulan yang lalu, saat saya menunggu di lahan  itu, tiba-tiba seekor burung Layang-Layang hinggap di tanah. Jaraknya sangat dekat dengan tempat saya berdiri. Sekitar 3-4 meter di depan saya.  Dan pasangannya pun ikut hinggap tak jauh dari sana. Benar-benar sebuah mujijat yang membuat badan saya tiba-tiba terasa kaku. Saya belum pernah melihat burung Layang-Layang sedekat ini. Sekarang saya bisa melihat warnanya dengan sangat baik.

Burung Layang-Layang atau disebut dengan Pacific Swallow (Hirundo tahitica) ini kepalanya berwarna biru tua metalic dengan warna merah mirip karat besi di dahinya, pipi, leher dan bagian atas dadanya.  Sayap bagian atasnya berwarna biru metalic namun seterusnya hingga ke ujung berwarna hitam.  Dada bagian bawah dan perutnya berwarna putih kotor.  Di bagian ekor bawahnya nampak garis-garis nyata hitam-putih. Paruh dan kakinya berwarna abu-abu. Sayapnya memang sangat panjang dan ramping melebihi ekornya.

pacific Swallow 3

Burung itu berdiri sangat lama di situ. tengak tengok kiri dan kanan seolah-olah memastikan tidak ada bahaya yang mengancam keselamatannya.  Lalu ia berjalan berjingkat-jingkat ke depan.  Apa yang dicari? Apakah sedang mencari makanan? Saya penasaran.

pacific Swallow 4Rupanya ia tertarik pada seutas benang. Ia merunduk. Tampak oleh saya warna putih di batas leher dan punggungnya. Ia mematok benang itu dan berusaha menarik-nariknya dengan sekuat mungkin. Namun benang putih itu tampaknya tersangkut sesuatu di tanah. Sehingga tak bergerak.  Jadi ia tidak berhasil menariknya. Hmmm…sayang sekali.  Mengapa ya burung ini berusaha menarik benang? Apakah barangkali benang itu ia sangka cacing yang bisa dimakan?. Saya tambah penasaran.

pacific Swallow 5

Burung itu tidak berputus asa. Ia berjalan beberapa langkah lagi ke depan mendekati seonggok kotoran sapi yang sudah kering dan tinggal serat-serat rumputnya saja.  Sisa-sisa pemotongan Idul Qurban sebelumnya. Sekarang ia mencoba menarik  serat tanaman itu sekuat-kuatnya, sementara kaki kanannya dipakai untuk menginjak gumpalan kotoran dan serat yang lain.  Mungkin maksudnya memisahkan seutas serat yang akan ia ambil dari kekusutannya dengan serat yang lain.  Sekarang saya mengerti.Kelihatannya ia sedang mencari bahan-bahan untuk membuat sarang. Bukan mencari makanan.

pacific Swallow 6Saya melihat perjuangannya yang sangat keras dan bersungguh-sungguh untuk berhasil. Ia terus berusaha menarik serat itu. Terus dan terus hingga hampir saja ia terjungkal ke belakang.

pacific Swallow 7

Namun ia seperti tak mengenal kata putus asa. Ia coba lagi dan lagi.  Akhirnya iapun berhasil menarik dan melepasnya dari gumpalan kotoran.  Luar biasa burung ini!.

pacific Swallow 9

Iapun terbang dengan membawa serat untuk bahan membuat sarangnya yang entah di mana.  Demikian juga pasangannya. Ia  melakukan kegiatan yang sama. Mengais kotoran demi mendapatkan seutas serat tumbuhan untuk dijadikan bahan pembuat sarang.  Mereka terbang. Meninggalkan saya yang terbenong-bengong sendirian.

pacific Swallow 10Saya terkagum-kagum akan ethos kerjanya yang luar biasa. Tidak berhenti sebelum berhasil!

*****

Burung Layang-Layang itu. Ia bekerja dengan tidak mengenal lelah. Terbang dan terbang berputar-putar mencari makan hingga sukses dan kenyang. Istirahat hanya seperlunya. Lalu bekerja lagi tanpa lelah.  Demikian juga ketika berusaha mengumpulkan bahan untuk membuat sarang. Ia  berusaha keras, walau nyaris terjungkal. Juga cukup kreatif berusaha mencari alternative, yang penting tujuannya tercapai. Coba lagi, lagi,lagi  dan lagi. Hingga kesuksesan datang menghampiri.

Jangan berhenti sebelum berhasil!

Reuni – Menjaga Ketersambungan Emosional Dengan Sahabat Kita.

Standard

???????????????????????????????Sekitar  sebulan yang lalu, seorang teman mengirimkan sebuah artikel terbitan sebuah Asosiasi International kepada saya. “Baca deh Bu. Itu menarik” saran teman saya. Sayapun membacanya. Artikel itu berupa summary dari sebuah category forum yang diisi oleh beberapa  ahli sebagai pembicaranya. Ketika membaca itu, saya menemukan nama Deb Brunt, Head of Consumer Insight PZ Cussons ada tertera di situ sabagai salah seorang panel dari forum itu yang banyak diliput statementnya. “Wah.. kontributornya ternyata temanku“kata saya spontan kepada teman saya yang memberikan artikel. “O ya Bu?” kata teman saya heran. Ya,tentu saja saya tidak menyangka dan merasa sangat senang melihat nama sahabat saya di sebut secara positive di media. Saya pikir ia memang sangat menguasai bidang itu. Berpikir begitu, tiba-tiba saya merasa kangen padanya. Sudah lama rasanya tidak bertemu dan ngobrol dengannya.

Lalu mendadak minggu yang lalu Deb mengirim pesan kepada saya bahwa ia akan ke Indonesia Senin ini dan balik lagi ke Inggris hari Kamis, dan ngajakin ketemuan. Ya. ya. Tentu saja. Maka, sayapun segera mengontak dua sahabat karib saya yang lain lagi untuk sekalian reuni dengan Deb. Tentu bakalan seru banget.  Dengan mempertimbangkan lokasi hotel tempatnya menginap, tempat tinggal dua sahabat saya yang lain, akhirnya kami memilih Negev di City Plaza sebagai tempat yang terbaik untuk bertemu. Deb juga datang dengan 2 teman lain dari Inggris juga rupanya.

Seperti yang namanya reunian, tentu saja seru banget dan penuh pembicaraan nostalgia. Mulai dari ngomongin perubahan bentuk badan, dari yang agak kurusan menjadi sangat melar hingga dari yang agak gemukan menjadi kurusan, cerita keluarga kami masing-masing,  pengalaman kami setalah berpisah, pengalaman seru ketika berada di Nigeria,  dan sebagainya. Lalu obrolan kami bertambah seru ketika kami mulai membicarakan keinginan untuk bermain-main ke Bali. Dan mulai pada teringat kalau saya berasal dari Bali. Mulailah  menyusun akal, dan ide-ide kreatif yang konyol bagaimana caranya agar bisa ke Bali bareng-bareng. Dan sudah pasti saya harus mengambil peranan penting sebagai guide, penterjemah, kontributor, dan sebagainya.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali saya bertemu dengannya. Deb merasa ia sudah tidak pernah ke Indonesia lagi sejak sekitar 7 tahun. Oh..mungkin kami sudah tidak pernah bertemu selama itu. Namun semalam ketika saya membongkar foto-foto lama, saya melihat ada beberapa foto saya dengannya.  Mungkin ada beberapa file yang belum sempat saya periksa, namun saya sudah menemukan beberapa foto lama saya dengan Deb. Lumayan.

Ada foto yang saya simpan dari sekitar tahun 2005  di Bangkok. Biasalah,…foto yang diambil sedang makan malam habis kerja. Tapi ada juga foto  saat istirahat dalam sebuah session inovasi.

Lalu ada lagi foto-foto tahun 2008 saat kami sedang di Manchester. Foto itu diambil di sebuah restaurant Asia di Manchester ( kalau tidak salah nama restaurantnya adalah Saporo) . Terekam saya dan debie sedang berkompetisi untuk melemparkan telor dan menangkapnya dengan topi yang ada di kepala kita.  Seru juga saat itu.

Stockport

Ada ada lagi sebuah foto saat saya sedang berada di pabrik Cussons di Stockport. Rasanya waktu itu sedang ada pekerjaan ketak ketok bangunan, dan agar bisa lewat dengan selamat, maka kami harus memakai helm merah itu.

Hmm…jadi  saat ia mengantarkan saya ke Pabrik Cussons di Stockport  tahun 2008 itu barangkali adalah saat terakhir kali saya bertemu Deb. Ya..mungkin sebenarnya baru 5 tahun kami tidak bertemu.  Melihat foto-foto itu saya jadi teringat betapa baiknya Deb. Ia selalu menjadi orang yang menemani kami setiap kali kami ada acara di kantor pusat kami di Manchester tahun-tahun itu.  Ia adalah orang yang mengajak kami ke mana-mana. Mengantarkan pergi market visit, menemani kunjungan ke pabrik, menemani makan malam dan sebagainya. Selalu sabar dan sangat tulus.

Di luar urusan personal itu, saya juga banyak belajar tentang research darinya. Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu statistic & research yang cukup * paling banter hanya 1-2 semester waktu di bangku kuliah, sementara pekerjaan saya di marketing menuntut saya untuk banyak melakukan research, Debby adalah guru saya di bidang itu. Ia membantu saya dengan banyak tips-tips  praktis  mengenai research yang bisa langsung diaplikasikan.  Ia juga sangat banyak memberi  saya advise dalam melakukan pemilihan Research Agency yang baik, merancang dan menyetujui research design, menyusun Discussion Guide maupun Questioner, menyaksikan dan mengevaluasi berjalannya research, menggali dan menemukan Consumer insight  dan sebagainya ilmu yang sebelumnya tidak saya kuasai.

Wah.. ternyata banyak hal yang Deb telah kontribusikan ke dalam hidup saya, baik secara personal maupun dalam pekerjaan.  Hi hi… kalau dijembrengin begini saya jadi merasa belum sempat berterimakasih, boro-boro membalas kebaikannya itu.

*****

Reunian! Bertemu kembali dengan sobat lama, adalah salah satu cara yang sangat baik kita lakukan untuk menjaga ketersambungan kita dengan para sahabat. Karena dalam rentang waktu sekian  tahun, banyak hal yang telah terjadi. Banyak hal yang telah berubah. Dan tentunya  kita perlu tahu apa saja yang telah dialami sahabat kita dan kita juga perlu memberi tahu apa saja yang telah kita alami, sehingga kita merasa “updated” satu sama lain. Walaupun tentu saja update informasi bisa dilakukan lewat media yang lain, namun tetap saja pertemuan kembali alias reuni akan sangat membantu  mem’boost’ hubungan  emosi persahabatan kita dengan lebih baik.

Senangnya!.

Mengapa Kutilang Bertengger Di Pucuk Pohon?

Standard

Semua tentu ingat lagu kanak-kanak yang diciptakan Ibu Soed ini.

“Di pucuk pohon  Cempaka. Burung Kutilang berbunyi. Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili“. Burung Kutilang 2Nah, kenapa Burung Kutilang harus bertengger di pucuk pohon cempaka? Pertanyaan tolol itu saya ajukan kepada diri saya sendiri. Walaupun saya setuju 100% dengan lagu itu. Saya setuju bahwa Burung Kutilang memang hobbynya bertenggernya di pucuk pohon.

Kutilang atau yang dikenal juga dengan sebutan Sooty Headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster) sangat banyak berkeliaran di wilayah Bintaro dan sekitarnya. Kita bisa menemukannya dengan mudah di taman-taman sektor IX, taman  sektor VIII, dan sebagainya hingga ke pohon-pohon di pinggir kali. Karena sering mengamati burung Kutilang, saya jadi tahu bahwa burung Kutilang ini memang punya kesenangan  nangkring di puncak pohon. Burung Kutilang Tidak seperti burung-burung lain yang malah sering berlindung di balik dahan tersembunyi,  Kutilang suka akan tempat terbuka. Sehingga tidak heran, sangat mudah bagi kita untuk melihat Burung Kutilang bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Berada di puncak pohon,akan membuat burung Kutilang berada pada ketinggian yang baik. Dimana ia bisa memandang sekeliling tanpa halangan yang berarti. Ia bisa melihat dimana letak pepohonan berbuah yang memberinya makanan berlimpah untuk musim itu. Ia juga bisa melihat dengan mudah, dimana pasangan dan keluarganya sedang bertengger. Bahkan ia pun bisa melihat dengan baik jika ada burung Rajawali yang berniat menyambar anaknya. Namun jika ia membutuhkan pandangan yang lebih jelas, di mana letak dahan yang memiliki buah yang ranum, tentu Burung Kutilang dengan leluasa bisa turun kembali dan masuk menyelusup ke dalam pohon untuk memeriksa dahan dan ranting.

Memikirkan kebiasaan Burung kutilang ini saya jadi teringat akan proses “Zoom In” dan “Zoom Out” kamera. Jika kita ingin melihat gambaran besar sebuah kejadian, maka  kita tinggal men”Zoom Out” photo. Sedangkan jika kita ingin melihat gambaran kecil dan detailnya, kita tinggal memencet tombol “Zoom In”. Demikian juga yang dilakukan oleh Burung Kutilang ini. Jika ia ingin mengetahui gambaran detail dari  sebuah tempat, ia tinggal masuk ke dalam pohon. Zoom In!. Sebaliknya jika ia ingin mendapatkan gambaran besar tentang lingkungannya berada, ia tinggal terbang dan menclok di pucuk yang tinggi. Zoom Out!.

Burung Kutilang

Kemampuan untuk ber’Zoom In’ dan ber “Zoom Out” inipun tentunya dibutuhkan oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin perlu selalu mampu melihat gambaran besar suatu masalah tanpa harus kehilangan pandangan detail.

Ketinggian penglihatan sangat dibutuhkan bagi fungsi leadership dan strategic thinking. Memiliki ketinggian pandangan, akan membantu seorang pemimpin untuk melihat dengan jelas berbagai masalah ataupun peluang yang mungkin ada dengan cara yang lebih baik. Karena dari ketinggian,akan memungkinkan bagi sang pemimpin untuk melihat permasalahan secara utuh  sebagai suatu kesatuan tanpa harus tersegment-segment.

Demikian juga seorang pemimpin sangat perlu membaur  dan masuk ke dalam  untuk memahami  titik-titik permasalahan dengan lebih detail.

Dengan menguasai pemahaman atas keduanya, maka pemimpin akan terbantu untuk mengambil keputusan dengan lebih baik.

 

 

Kupu-Kupu Delias, Si Penerbang Tinggi.

Standard

Sampel: Novus- Puncak, Bogor.

 Novus 1Sebagai penggemar keindahan alam, mata saya  sangat sulit untuk dilepaskan dari  bunga-bunga liar, burung-burung ataupun kupu-kupu yang bertebangan di sekeliling saya. Kemanapun saya pergi, yang saya lihat ya itu lagi, itu lagi. Kalau bukan bunga liar, kupu-kupu, atau burung. Demikian juga ketika liburan yang lalu, saya sekeluarga bermain-main ke daerah pegunungan yang berudara sejuk di Bogor. Saya berharap menemukan speies Kupu-Kupu yang berbeda dari yang biasa saya lihat di dataran rendah seperti Jakarta.

 Sayang sekali, kabut turun selama dua hari berturut-turut. Jadi saya tidak bisa mengoptimalkan waktu saya untuk menjelajah lahan-lahan terbuka di sana. Untungnya saya sempat memiliki satu hari yang agak terang, cukup untuk  menikmati keindahan Kupu-kupu yang beterbangan di sekeliling.

Karena di tempat itu ukup banyak ada pepohonan dan tanaman berbunga, saya menemukan cukup banyak species yang beterbangan di sana, mulai dari keluarga Papillionini, Leptorcini,Pierinae, Danainae,dan sebagainya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Kupu-Kupu Delias, dari keluarga Pieinae – karena kupu-kupu ini, meskipun ada di juga di  Bali dan Jakarta, namun belum pernah saya amati dalam jarak yang cukup dekat. Karena kupu-kupu ini sangat senang bermain di pepohonan.  Kadang-kadang memang ada turun sebentar, namun biasanya akan terbang membubung tinggi ke puncak pepohonan lagi.  Jadi agak sulit juga untuk saya memotretnya.

Kupu-kupu ini sering saya lihat di antara pepohonan yang menaungi jalan-jalan di daerah Kebayoran Baru dan sekitarnya. Saya belum pernah mendapatkan fotonya sebelumnya, selain karena ia terbang tinggi, juga karena setiap kali saya melihat Kupu-Kupu ini, kebetulan saya sedang tidak membawa kamera. Selama di Puncak, Kupu-Kupu ini terbang tidak terlalu jauh dari tempat saya. Kadang-kadang terbang tinggi di pepohonan, namun cukup sering juga turun  dan mencari makan di bunga-bunga yang ada di situ,  sehingga saya bisa mengambil fotonya.

Mengamati Kupu-Kupu Delias  ini terasa sangat seru.  Karena ada beberapa jenis, dengan warna pokok yang sama namun sedikit beda dalam corak dan tata letak pewarnaan pada sayapnya.  Selain itu, belakangan saya baru tahu  bahwa ternyata antara yang jantan dan yang betina pun  ada juga yang berbeda coraknya.

Delias descombesi.

Jika sayapnya sedang menguncup, Kupu-Kupu ini secara keseluruhan akan terlihat Kuning dan Hitam. Itu disebabkan karena bagian luar sayap belakangnya yang lebih lebar didominasi oleh warna kuning, dengan beberapa goresan warna hitam pada ujung sayap belakangnya. Ada bintik berwarna merah yang mencolok pada pangkal sayap belakang luarnya, yang menjadi pertanda bahwa Kupu-Kupu itu adalah Delias descombesi.  Sayap atas bagian luarnya didominasi warna hitam dengan beberapa garis oretam yang berwarna putih. Sayap atas tidak terlalu dominant kelihatannya, sehingga jika  saya bertanya kepada anak saya, apa warna kupu -kupu itu?  Maka saya berani menjamin ia akan mengatakan Kuning.

Namun yang mengejutkan adalah , jika kupu-kupu ini membentangkan sayapnya,  Kupu-kupu ini berwarna putih.  Maka  jika kita hanya melihat Kupu-kupu ini dari atas dengan keadaan sayap yang sedang mengembang, tidak ada seorangpun yang setuju jika ada yang mengatakan warnanya kuning. Seperti foto di atas – saya ambil dari Kupu-kupu yang sama. Tampak samping dan tampak atasnya jauh berbeda bukan?

Delias periboea

Delias periboeaKupu-Kupu Delias yang satu ini serupa dengan Delias descombesi. Bedanya adalah,  jika pada Delias descombesi memiliki bintik  merah  pada pangkal sayap bawahnya,  Kpu-kupu Delias periboea tidak memiliki bintik merah itu. Sebagai gantinya, ia memilki sapuan warna merah dalam jumlah  yang lebih banyak pada area ujung sayap belakang bagian luarnya. Sayang di gambar ini tidak terlalu jelas kelihatan.  Sisanya hampir sama, didominasi warna kuning, jingga kemerahan dan hitam serta putih.

Di Puncak, saya melihat populasi  Delias periboea tidak sebanyak Delias descombesi. Tapi itu mungkin saja karena saya hanya sempat mengamatinya di satu tempat dan hanya sehari.  Barangkali jika saya memiliki kesempatan lebih banyak,mungkin saja ceritanya akan berbeda.

Kupu-Kupu Delias ini berukuran sedang, kurang lebih 3.5 cm. Paling suka  hinggap di bunga jatropha, bunga benalu dan bunga sikat botol yang berwarna merah cerah.

Hubungan Manusia.

Standard

..manusia merasa ter’connected’ satu sama lain karena ada suatu persamaan yang menautkan keduanya.

Pemikiran ini muncul di kepala saya ketika Mbak Mechta Deera dan saya ngobrol di time line- face book  tentang Kembang Sepatu.  Seperti halnya dengan blogger lain kecuali Bu Prih, saya belum pernah Kopdaran dengan siapapun teman-teman di dunia maya, termasuk Mbak Mechta Deera.  Bahkan dengan Mbak Evi- yang merupakan blogger pertama yang saya kenal di dunia maya-pun saya belum sempat kopdaran. Untuk dunia perbloggeran, saya ini tergolong kuper.

Dengan Mbak Mechta, memang ada sesekali berkunjung ke laman masing-masing. Namun tak terlalu sering juga.  Entah kenapa, ketika ngobrolin tentang bunga Kembang sepatu, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat saya serasa telah berteman lama dengannya.  Ada sesuatu yang membuat saya merasa tersambungkan.  Mengapa seseorang merasa tersambungkan dengan cepat padahal mereka belum kenal satu sama lain?  Pertanyaan itu menggantung di kepala saya beberapa saat.

A life timesLalu saya ingat akan seorang blogger lain yang bernama Klaus Kommoss, pemilik blog ” A Life Times Two” – blog tentang petualangan dua orang manusia bernama Klaus dan Parvin dalam menjalani kehidupan. Ini adalah blog petualangan yang paling menginspirasi saya selama ini.  Klaus adalah seorang  insinyur kelahiran Jerman, sedangkan Parvin istrinya adalah sorang kelahiran Iran,  yang menjadi physicist  di Jerman.  Sangat beruntung ia menulis di blognya dalam Bahasa Inggris, dan bukan Bahasa jerman, sehingga saya bisa membacanya. Saya menemukan bahwa petualangan-petualangan mereka sangat menarik dan penuh perenungan akan hidup. Sehingga dalam sekejap saya merasa sangat nyambung. Walaupun saya tidak kenal mereka berdua, namun saya merasa sangat dekat. Seolah-olah saya telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Ada sesuatu, entah apa  yang membuat saya merasa seperti itu.  Itu pula yang ditulis oleh Klaus  di komentarnya di Blog saya.

Ia mengatakan masih struggle menterjemahkan tulisan saya * maklum tulisan -tulisan saya berbahasa Indonesia, sementara ia tidak berbahasa Indonesia*. Tapi ia  juga menyetujui salah satu ungkapan saya bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri untuk ditulis ataupun diceritakan kepada orang lain.  Dan ia menambahkan ” ... and when you look at it with an open heart they are all quite amazing. Sometimes you can even see your very own story reflected in someboy elses narration and this way you have a chance to see the mysterious “impersonal” or universal quality of all stories and feel the connectedness” tulisnya.

Saya sangat setuju dengan pendapatnya. ketika membaca tulisan seseorang, terkadang memang kita merasa kisah kitalah yang sedang diceritakannya dan akhirnya merasa nyambung.  Dan sayapun menambahkan “…when we read somebody elses story we feel very closed as if we’ve already known that person for years. There must be something generic exists in every human heart. That I guess, the natural instinct to seek happiness and peace. And I think the way we approach happiness in life will make we feel connected quickly” Pendapat saya. Saya yakin ada sesuatu yang sifatnya “generik’ di hati setiap manusia, yang menyebabkan seseorang merasa tersambung dengan cepat dengan orang lain.

Sayang sekali, sekitar bulan September 2012 saya menengok blog ini, saya menemukan bahwa ternyata Klaus sudah wafat. Tidak ada kisah petualangan lagi yang ia ceritakan. Tentu saja saya sedih. Namun tulisan-tulisannya sangat hidup dan tetap hidup di hati saya.  Namun jika ditanya lebih jauh, apakah saya mengenal  Klaus dan Parvin? Tentu saja saya belum pernah bertemu dengan mereka di dunia nyata. Mungkin itulah yang terjadi jika seorang blogger meninggal dunia. Tubuh fisiknya mungkin saja sudah tidak ada, namun tulisan-tulisan, buah pemikiranya tetap ada di sana, abadi di udara.

Hal ini semakin membuat saya berpikir bahwa selalu ada persamaan yang membuat kita mengapa merasa dekat dengan seseorang. Coba perhatikan orang-orang yang dekat dengan kita.  Para sahabat, pasangan atau bahkan mantan pacar di masa lalu, semuanya yang pernah dekat dengan hidup kita pasti memiliki suatu kesamaan yang entah apa dengan kita yang membuat kita merasa dekat dan tersambungkan dengannya sedemikian cepat.  Rentetan kebetulan-kebetulan sama yang cukup banyak.

Dan dengan teman-teman blogger, tentu saja saya merasa tersambungkan dengan cepat, minimalkarena satu hal….sama-sama hobby menulis.

Terpeleset.

Standard

Seekor Burung Terkwak

Saya melongokkan kepala saya untuk melihat keadaan sungai di belakang rumah.  Seekor burung Terkwak (Amaurornis phoenicurus) tampak berjingkat-jingkat di rumpun keladi liar yang tumbuh di situ.  Saya berusaha menahan diri dan gerakan saya agar tidak membuatnya terkejut. Namun rupanya burung air itu kepalang melihat kedatangan saya. Mungkin karena terkejut melihat saya, ia pun lari terburu-buru dan menclok sedapatnya saja di atas selembar daun keladi.

terpeleset

Barangkali karena permukaan daun keladi yang licin dan barangkali ia berpikir dan menyangka saya akan menyerangnya, maka iapun terpeleset.

terpeleset 3

Akhirnya ia berusaha mengatur langkahnya agar tidak melorot lebih jauh. Namun rupanya machine penggerak di badannya lebih sulit di’rem, akhirnya iapun semakin terpeleset. Nyaris jatuh, ia kemudian terbang dan kabur menjauh. Seandainya burung itu tidak terkejut, lebih waspada dan berhati-hati. Serta menyadari keadaan diri dan sekitarnya dengan lebih baik, mungkin ia tidak akan terpeleset.

terpeleset 4

Terpeleset! Bukan hanya Burung Terkwak yang pernah terpeleset. Sayapun pernah mengalaminya. Dan merenungkannya kembali ketika melihat bagaimana burung Terkwak ini terpeleset karena kaget melihat saya.

-Terpeleset pikiran-

Pikiran kita diajarkan untuk lurus dan selalu lurus.  Jika ia harus bergerak maju, maka  ia harus bergerak menuju ke arah kebenaran dan kebaikan. Dan letak kebenaran dan kebaikan ini secara lokasi, dibahasakan sebagai arah yang lurus.  Namun jalan pikiran yang kita tempuh kadangkala memiliki landscape yang bervariasi.Ada yang mudah kita lalui untuk selalu berjalan dengan lurus, namun landascape yang ada terkadang menggoda kita untuk keluar dari jalur yang seharusnya lurus. Sedikit melenceng, berbelok , berhenti ataupun memutar…. dan terpeleset.

Kecurigaan yang berlebihan akan sesuatu, keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan menjadi hak kita, benci dan iri hati terhadap sesuatu, gelisah dan rasa takut yang berlebihan dan sebagainya. Semuanya akan membawa pikiran kita bergerak ke arah yang berbeda dari yang seharusnya dan sangat mungkin membuat pikiran kita terpeleset.

Mencegah pikiran agar tidak terpeleset, akan sangat membantu untuk mencegah perkataan dan perbuatan kita agar jangan sampai terpeleset.

-Terpeleset lidah alias terpeleset perkataan-

Ketika kita terpeleset pikiran, hingga kita belum menterjemahkannya menjadi perkataan dan perbuatan, maka praktis yang tahu apakah kita terpeleset atau tidak hanyalah diri kita sendiri dan Yang Maha Tahu.  Kita semua tahu, bahwa sebaiknya kita selalu berkata yang baik dan berkata yang benar. Orang tua kita mengajarkan kita begitu. Guru-guru di sekolah kita juga mengajarkan begitu. Dan bahkan lingkungan masyarakat kita pun mengajarkan kita begitu. Namun mengapa sesekali kita bisa terpeleset lidah juga? Berkata dengan nada kasar, sinis dan tidak bersahabat.  Menghina, berbohong ataupun menfitnah.  Menyakiti hati seseorang dengan lidah kita yang tajam seperti silet?

Bagaimana kita harus mengontol lidah kita untuk  tidak terpeleset? Menerima keadaan dengan baik, meningkatkan kesadaran diri dan memikirkan dengan hati-hati setiap calon perkataan yang akan kita ucapkan – barangkali sedikitnya akan menolong kita agar tidak mudah terpeleset.

-Dan juga barangkali terpeleset perbuatan-

Mencuri dan mengambil milik orang lain tanpa ijin, meminjam tanpa mengembalikan, mem-bully, melecehkan, melakukan korupsi, menyontek, memalsukan, memeras, menodong, melirik pasangan orang lain dan melakukan perselingkuhan, memukul, menendang, mencubit, menganiaya, melukai, melakukan kekerasan fisik lainnya, membunuh dan sebagainya  keterpelesetan dalam perbuatan  lainnya –  Walaupun mungkin terpeleset ini lebih jarang terjadi…namun tetap saja mungkin terjadi dan menimpa kita, jika kita tak mampu mengontrol diri  dan panca indra kita dengan baik.

Apapun itu bentuk keterpelesatannya, pada intinya mengatakan pada saya bahwa kewaspadaan, kehati-hatian dan peningkatan kesadaran diri akan sangat membantu kita untuk mencegah kita mengalami keterpelesetan,  ataupun mengulang kembali keterpelesetan yang pernah terjadi pada diri kita.

Tri Kaya Parisudha – sebuah renungan tepi kali…

Menyaksikan Hukum Genetika Bekerja Pada Bunga Kembang Sepatu.

Standard

Kembang Sepatu JinggaTentunya banyak yang masih ingat akan pelajaran  dasar Genetika yang menjadi sub bagian pelajaran Biology di SMA ? Saya masih sedikit ingat dengan Hukum Mendel yang bercerita tentang bagaimana prinsip-prinsip genetika bekerja pada setiap individu. Lah?  Kenapa tiba-tiba saya berbicara soal Genetika dan  Hukum Mendel? Guru Biology bukan, Ilmuwan bukan, Biologist pun bukan. Ceritanya berawal dari sini.

Berada di rumah, menyebabkan saya memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekeliling rumah dengan lebih detail. Kali ini ada hal menarik yang saya lihat di bunga kembang sepatu saya yang berwarna  jingga.  Fotonya seperti di sebelah ini. Sepintas lalu tidak ada  yang terasa aneh. Bunganya cantik. Mahkotanya selapis, jumlahnya 5 dan berukuran sedang. Berwarna jingga dan sedikit bergelombang di tepinya. Di pangkal mahkotanya ada warna merah terang, dibatasi warna pink yang membaur dengan warna jingga muda. Lalu di tengahnya terdapat tangkai putik berwarna  putih, dilengkapi dengan benang-benang sari dan kepala sari yang berwarna kuning pucat. Nah! Lalu keanehannya di mana?

Kembang Sepatu Jingga bertingkatBunga ini barulah terasa aneh jika kita tahu bahwa tanaman Kembang Sepatu saya ini  sehari-harinya mengeluarkan bunga bertingkat seperti foto di sebelah ini. Sejak ia ditanam, barangkali entah ratusan atau bahkan ribuan kuntum bunga telah dihasilkannya. Semuanya bertingkat. Mahkotanya terdiri atas dua tingkat. Bagian bawah persis sama dengan yang pertama, yakni terdiri atas mahkota selapis berjumlah 5 lembar, dengan warna jingga muda. Bagian tengahnya berwarna merah dibatasi pink. Lalu ada tangkai putik yang berwarna putih.

Bedanya sebelum tumbuh benang sari, bermunculan mahkota-mahkota bunga di sekelilingnya yang berwarna jingga muda, menyusun bunga baru berimple dengan ukuran yang lebih kecil dari mahkota di bawahnya. Dari pusat mahkota bunga itulah kemudian keluar benang-benang sari dan kepala sarinya. Dengan demikian Kembang Sepatu jingga ini kelihatan bertumpang /bertingkat.  Cantik sekali.

Kembang Sepatu merah selapisSaya juga memiliki cerita serupa  denagn Kembang  Sepatu Merah saya ini.  Kembang Sepatu saya ini memiliki mahkota bunga  selapis berjumlah 5 buah berwarna merah terang .  Saya sangat menyukai warna merahnya yang terasa sangat merah sempurna. Merah semerah-merahnya. Merata dari ujung mahkotanya sampai ke pinggir.   Sebenarnya mungkin ada sedikit gradasi tingkat kegelapan dari warna merahnya terutama pada pangkalnya, namun nyaris tak terlihat. Mahkotanya melengkung ke bawah pada ujungnya dan berukuran sedang, karena Kembang Sepatu ini memang dari jenis yang berukuran sedang.

Tangkai putiknya panjang berwarna merah, dengan 5 kepala putik yang berwarna merah. Lalu ada banyak benang sari dan kepala sari  yang berwarna kuning. Begitulah saya menggambarkan bunga Kembang Sepatu saya ini.

Kembang Sepatu merah doubleNah, mari kita coba lihat bagaimana tampilan bunga Kembang Sepatu ini sehari-harinya. Fotonya seperti ini.  Beda sekali, bukan?

Warnanya nyaris sama. Merah semerah-merahnya. Tapi mahkota bunganya bukan selapis, namun double dan berimple. Ada banyak mahkota bunga yang tumbuh dari pangkal yang sama. Bergelombang semuanya dan sangat penuh. Sehingga alih-alih bentuknya  seperti bunga kembang sepatu klasik lainnya, kumpulan mahkota bunga kembang sepatu ini malah membulat nyaris membentuk bola.

Benang-benang sari dan kepala putiknya muncul dari sela-sela tumpukan mahkotanya. Kadang-kadang  arahnya tak jelas atau bahkan muncul di titik yang berbeda.

Kembang SepatukuKedua bunga yang  tampak berbeda ini muncul dari pohon yang sama dari cabang besar yang sama. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya bagi saya melihat kejadian ini terjadi pada tanaman kemabng Sepatu merah ini. Sebelumnya saya sudah sempat melihat kemunculan bunga selapisnya dua kali. Jadi buat saya sudah tidak aneh lagi. Namun memang sangat jarang terjadi. Padahal tanaman yang satu ini sangat rajin berbunga. Setiap hari  kuntum bunganya yang mekar antara 5 – 20 buah.

Kejadian itulah yang mengingatkan saya akan Hukum Mendel I yang disebut dengan  Hukum Segregasi, seperti yang diajarkan oleh Guru Biology saya di SMA dulu.  Dimana pada hukum ini disebutkan bahwa setiap induk (individu) memiliki pasangan Gen yang disebut dengan Alel. Pada saat terjadinya perkawinan dengan individu yang lain, Alel-Alel ini akan memisah dari individu induknya dan bergabung dengan Alel pasangannya di dalam individu baru (anak).

Bagi yang menyukai pelajaran Biology tentu ingat bahwa Alel-Alel ini ada yang bersifat Dominant (Terlihat) dan ada yang bersifat Resesif (kurang/tidak terlihat) pada anaknya. Alel yang Dominant akan selalu tampak dengan nyata – misalnya Alel bertingkat pada bunga  Kembang Sepatu jingga  saya ini tentulah bersifat Dominant, karena ia selalu terlihat bertingkat pada hampir setiap kuntum bunganya selama bertahun-tahun. Baru sekali ini saya melihatnya berbunga selapis dan tidak bertingkat (Alel Resesif). Barangkali saja ia pernah mengeluarkan 1 – 2 kuntum bunga selapis tak bertingkat seperti ini sebelumnya,  namun mungkin tidak sempat saya lihat karena kesibukan.

Dan pada tanaman Kembang Sepatu merah yang saya miliki , tentunya mahkota ganda dan berimple merupakan sifat yang lebih Dominant ketimbang sifat mahkota selapisnya yang bersifat lebih Resesif.

Ah! Saya berpikir barangkali ada baiknya saya panggil anak saya untuk ikut melihat kejadian ini dan belajar  Biology langsung dari contoh kejadiannya secara langsung. Sayapun memanggil anak saya.

Ia sangat tertarik dengan Hukum Mendel ini. Lalu berkomentar. “Very interesting!. Aku sudah pernah membaca sebelumnya dan mengerti general idea dari Genetic Transformation itu. Tapi yang aku ingin tahu, bagaimana rumus persisnya, kapan dan berapa banyak masing-masing kasus dominant dan resesif itu terjadi?“. Aduuuuuh! Saya malah nggak siap dengan jawabannya. harus baca-baca literatur lagi atau ngacak-acak Google dulu nih minta informasi.

Sambil menunggu saya mencari-cari jawaban, anak saya terus nyerocos menceritakan kepada saya games-games yang menurutnya sangat menarik tentang bagaimana kita mengotak-atik gen dan menciptakan individu baru yang bisa kita rekayasa sendiri agar memiliki gen unggul seperti yang kita inginkan. Dengan fasih ia menyebut kata-kata genetic engineering, genetic transformations, biotechnology, genome manipulations dan sebagainya. Semuanya ia dapatkan dari games dan internet. Dunia seperti berputar  cepat di kepala saya, membuat saya merasa pening.

Betapa teknology dan  informasi merasuk ke dalam otak anak-anak sedemikian cepatnya dan meninggalkan otak para orangtua yang bergerak lebih lambat…