Menghadiri Yudicium Keponakan Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Standard

Beji-20140204-01796Kemarin saya mewakili kakak saya menjadi orang tua untuk menemani keponakan yang yudicium di FE Universitas Indonesia. Kakak saya terlambat datang dari Bali dan baru tiba sore hari. Jadilah saya pagi-pagi berangkat ke Depok agar bisa tiba di sana pukul 08 00 pagi.  Cepat sekali waktu berlalu. Rasanya belum lama saya mengantar keponakan saya ke sini untuk mendaftar  dan ikut masa orientasi. Sekarang kok sudah selesai ya? Cepat juga. Tapi setelah saya hitung-hitung kembali, ternyata memang baru 3.5 tahun.  Ya..memang termasuk cepat lah kalau begitu. Jenjang Sarjana Strata 1, normalnya kan ditempuh selama 4 tahun.

Acaranya sebenarnya menarik. Namun sayang sekali, kami para orangtua ditempatkan di area terpisah dengan mahasiswa yang akan yudicium itu. Walaupun telah disediakan 4 buah layar dimana kami bisa menyaksikan prosesi yudicium itu ‘life’ di layar, tetap saja  terasa kurang mantap jika tidak bisa menyaksikan langsung di ruangan yang sama. Terutama jika kita ingin mengabadikan moment-moment penting di acara itu, jadi tidak bisa.

Akhirnya saya cuma menonton layar dan menyaksikan berjalannya acara serta mendengarkan setiap sambutan  yang diberikan, baik oleh Dekan, perwakilan Ikatan Alumni ataupun perwakilan Orangtua mahasiswa. Ada baiknya juga buat saya menyimak. Sangat jarang saya bisa dapat kesempatan di sini dan mendengar secara langsung pidato-pidato yang diucapkan oleh guru besar di fakultasnya sendiri.  Selain itu, jika berbicara tentang lulusan baru,  tentu saja sebagai karyawan sebuah perusahaan, selama ini sudut pandang saya lebih sebagai penampung lulusan/tenaga kerja baru – bagaimana merekrut, memberikan training, menempatkannya di dalam perusahaan, dan sebagainya. Nah, mendengarkan bagaimana bagian dari civitas akademika dari lembaga yang menyediakan calon-calon tenaga kerja baru berbicara serta memberi wejangan kepada para lulusan barunya, tentu menjadi hal yang menarik untuk saya dengarkan.

The Next Level of Excellence.

Semua orang tahu bahwa selama ini FE UI telah mencetak sarjana-sarjana yang berkwalitas tinggi. Hal itu tentunya tidak terlepas dari upaya dan kerja keras FE UI. Mulai  dari usahanya merekrut siswa siswi terbaik Indonesia yang memang benar-benar excellent dari sekolahnya masing-masing, hingga menyediakan kurikulum dan tata cara pendidikan yang sebaik-baiknya, sehingga keluar sebagai tenaga kerja dengan kwalitas yang sangat baik.Terbukti dengan banyaknya pejabat, akademisi, pengambil-pengambil keputusan  di perusahaan-perusahaan, pakar-pakar maupun praktisi ekonomi yang bagus adalah lulusan FE UI.  Excellent!.  Namun tentu saja FE UI tidak ingin berhenti sampai di sana. Sudah saatnya sekarang FE UI untuk bergerak ke arah “the next level of Excellence”, yakni dengan menyiapkan lulusan yang memiliki basic yang excellent sehingga cepat beradaptasi dengan perubahan apapun yang terjadi di dunia luar sana.  Ke depannya fakultas akan lebih fokus untuk memahami proses, sebagai contoh misalnya lebih tertarik untuk mempelajari mengapa sebuah keputusan diambil, dan bukan pada data-datanya, atau misalnya jika itu berkaitan dengan laporan keungan maka akan lebih memahami mengapa dan kapan  sebuah laporan dibuat, bukan pada bagaimana cara membuat laporan –  demikian dijelaskan oleh Prof Ari Kuncoro, PhD – Dekan Fakultas  Ekonomi UI. Saya pikir shifting focus  seperti ini sangat penting, karena pada kenyataannya di dunia kerja, kita juga tidak mengharapkan karyawan kita hanya statis menjadi ‘do-er’ saja yang sangat ahli melakukannya. Namun lebih dari itu tentunya mengharapkan tenaga kerja yang memahami keseluruhan dan  inti permasalahan dengan lebih baik,  serta peka terhadap dinamika pasar yang terjadi dan mampu  mengantisipasinya dengan sangat baik.

Menjadi Pemain Kehidupan Yang Baik.

Lalu Professor itu pun menceritakan sebuah quote tentang  golf. Di sana disebutkan bahwa Permainan golf itu tidak bisa dimenangkan. Golf hanya bisa dimainkan saja. Jika kita menang dalam permainan golf, itu karena kita bermain dengan bagus. Bukan karena kita nge”beat” lawan kita. Ha ha.! benar juga ya. Untuk memenangkan permainan golf dengan baik, tentu kita harus menjalaninya sendiri.   Demikian juga dengan kehidupan. Jika ingin memahami kehidupan secara hakiki, ya kita harus menjalaninya sendiri dan bermain dengan baik. Bukan dengan cara  nge”beat” kehidupan orang lain. Dan untuk bisa menjalaninya dengan baik, kita perlu memiliki kemampuan bermain yang baik. Ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi hanyalah basic saja sifatnya. Berikutnya, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Analogi yang sangat baik.

Belajar Seumur Hidup

Sementara itu, Bapak Lorens Manurung, ketua persatuan orangtua mahasiswa memberi wejangan kepada para mahasiswa calon wisudawan/wisudawati  dan sekalian melaporkan kegiatan dan pertanggungjawabannya. Mengutip sebuah quote ” Orang-orang yang berhenti belajar adalah pemilik masa lalu, orang-orang yang terus belajar akan menjadi  pemilik masa depan.”.   Wah.. boleh juga quote itu.  Mengingatkan kita tentang betapa pentingnya belajar dan terus belajar.  Belajar seumur hidup kita. Dan jangan pernah merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki. Karena di luar sana masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Jadi jangan pernah berhenti belajar.  Sangat setuju. Dan saya juga berpikir tak mau berhenti belajar.

Jangan Korupsi

Itu adalah beberapa hal menarik diantara yang saya dengar pagi itu. Tentunya masih ada banyak lagi ide-ide dan quote-quote  lain yang menarik, termasuk wejangan perwakilan Iluni tentang  bagaimana menjaga nama baik almamater dan pesan yang sangat baik tentang “JANGAN KORUPSI”. Cara menceritakannya membuat saya tertawa. Sangat benar adanya. Jika kita misalnya korupsi 100 juta rupiah, dan misalnya kita masih punya sisa hidup 60 tahun lagi, maka  uang 100 juta itu jika didepresiasikan selama 60 tahun, sebenarnya sekitar empat ribu lima ratus rupiah sehari. Masa  demi uang yang empat ribu lima ratus itu kita harus menanggung aib selama 60 tahun? Oleh karena itu jangan korupsi. Pesan yang sangat baik. Bukan dengan hanya mengatakan bahasa klise  yang mengambang “Jaga nama baik almamater”, namun dengan sekaligus menunjuk beberapa “perbuatan buruk populer” * yiiih..apalagi ini bahasanya* yang jangan sampai dilakukan. Dan saya tidak tahu, apakah setiap perguruan tinggi selalu mengingatkan hal ini kepada para alumninya?

Demikianlah saya menikmati acara yudicium itu. Walaupun tetap merasa agak kecewa karena tidak bisa melihat langsung acaranya dari ruangan yang sama, dan tidak bisa melihat keponakan saya secara langsung, namun saya cukup terhibur dengan mendengarkan pidato-pidato itu dari layar. Dan tentunya lebih terhibur lagi begitu mendengar nama keponakan saya diumumkan lulus dengan predikat  “Cum Laude”.  Lumayan deh. Lumayan membuat saya bangga sebagai bibinya.

Oh ya..dan tentunya sebagai wakil orang tua, saya juga ingin menyampaikan rasa hormat dan sekaligus mengucapkan terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada Fak Ekonomi Universitas Indonesia yang telah mendidik anak kami dengan baik hingga berhasil menyelesaikan studinya dengan baik pula.

13 responses »

  1. selama buat keponakannya, mbak…. mantap euy!

    semoga pesan dan kesan dalam sambutan tersebut bisa meresap dan terus dipegang teguh oleh para calon pemimpin baru bangsa ini.

  2. Pertama, selamat untuk kelulusan sang keponakan ya Jeng Dani.
    Kedua, kesempatan berharga terjadi dialog dalam diam antara Universitas sebagai penghasil lulusan dan Jeng Dani sebagai pengguna lulusan, semoga menjadi simpul klik.
    Salam hangat

  3. Wah luar biasa keponakannya nih Bu, udah pinter, cepet pula lulusnya.
    Yang menarik, seperti halnya komentar Bu Prih, sebagai orang yang sudah kenyang pengalaman dalam urusan HRD, apa yang nJenengan pikirkan sebenarnya adalah hal yang sangat penting untuk diketahui penyelengaara pendidikan di seluruh Indonesia sehingga keterpaduan antara penghasil dan penerima lulusan membuka jalan yang lebih baik untuk semuanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s