Toga, Kelulusan & Dunia Kerja.

Standard

Dewa Agung 2Sabtu yang lalu saya kembali ke kampus UI, ikut kakak saya menyaksikan acara wisuda keponakan saya tercinta, I Dewa Agung Trisna H.  Ribuan orang menempati Balairung tempat upacara. Sebagian besar adalah undangan. Dan sebagian lagi tentunya  adalah para wisudawan itu. Mereka mengenakan jubah kebesaran (toga), lengkap dengan topi wisudanya.

Toga dan topi wisuda dikenakan sebagai penanda bahwa seseorang telah menyelesaikan sebuah tahap kehidupan belajarnya. Ia menjadi symbol sebuah pencapaian. Pencapaian suatu titik yang bukan titik akhir. Karena setelah ini, tentunya masih ada segment kehidupan yang harus dicapai lagi.

Ada yang berencana akan segera mencari pekerjaan, ada yang sudah memiliki pekerjaan, ada yang membuat lapangan pekerjaan baru, ada yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, mau menikah dan lain sebagainya. Dan sebagian lagi barangkali malah belum tahu mau ngapain dan belum punya rencana apa-apa.

Status kelulusan vs kesuksesan di dunia kerja.

Jangan berhenti berusaha sampai di sini. Pencapaian status kelulusan yang baik, bukan menjadi jaminan kesuksesanmu di dunia kerja. Rankingmu akan kembali lagi di set ke angka nol begitu kamu memasuki dunia kerja. Kamu harus membuat bar-nya menjadi naik dan naik terus sampai ke puncaknya” itu adalah rangkaian kalimat pertama yang saya ucapkan kepada keponakan saya ketika saya tahu bahwa ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik.

Index Prestasi (IP) akademis yang tinggi sangat dibutuhkan saat harus melalui seleksi masuk ke sebuah perusahaan. Setelah itu semuanya kembali lagi ke titik awal. Ke titik nol, dimana orang tidak ada lagi yang menanyakan berapa IP kita. Mulai lagi! Berjuang lagi. Belajar babak baru kehidupan dalam masyarakat. Babak baru pendidikan yang tidak kita dapatkan di bangkus sekolah ataupun kuliah. Atasan akan menilai kita hanya berdasarkan kinerja kita pada setiap kurun waktu yang ditentukan. Bukan dari seberapa besar IP kita saat lulus dari Perguruan tinggi.

Kwalitas Perguruan Tinggi

Satu hal menarik yang saya perhatikan selama bekerja lebih dari dua dasa warsa adalah,  ternyata IP  setiap Perguruan tinggi itu berbeda-beda standar kwalitasnya (kwalitas yang saya maksudkan di sini adalah  angka IP vs performancenya dalam pekerjaan).   Contohnya begini;  Lulusan Perguruan tinggi A dengan IP kumulatif di atas 3.5, setelah di dunia kerja ternyata tidak selalu lebih bagus kwalitasnya dari lulusan Perguruan tinggi B yang  IP nya  lebih rendah – misalnya hanya 2.7.  Logika kita tentu yang memiliki IP 3.5 ke atas  lebih bagus kwalitasnya dari yang memiliki Ip 2.7 bukan? Umumnya sih memang begitu. Ternyata tidak selalu seperti itu. Mengapa? Salah satunya ya karena.. asal perguruan tingginya lain. Salah duanya ya.. mungkin terletak dari si anak itu sendiri.

Saking penasarannya akhirnya saya sempat mewawancarai beberapa orang  lulusan Perguruan Tinggi A dan B dengan banyak pertanyaan detail, sehingga saya mendapatkan pemahaman seperti ini. Rupanya, menurut lulusan Perguruan tinggi A itu,  lebih dari 5o% lulusan di angkatannya memiliki IP 3.0  ke atas. Jadi tidak ada istimewanya  memiliki IP kumulatif  di atas 3.0 . Bahkan yang memiliki Ip 3.5 ke atas itupun sangat banyak. “Itu sih  biasa-biasa saja” katanya. Dia sendiri tidak merasa dirinya istimewa dan tidak pula merasa melakukan effort yang istimewa untuk mendapatkannya.

Sedangkan lulusan Perguruan tinggi B,  merasa bahwa IPnya yang ‘cuma’ berkisar di  2.7 itu sudah cukup tinggi dibanding teman-temannya yang  lain. Yang mendapatkan IP kumulatif di atas 3.5 hanya sedikit jumlahnya. Bisa dihitung dengan jari satu tangan.

Saya jadi berpikir, apakah standard IP antar perguruan tinggi di negeri ini yang memang kurang standard? Kalau demikian adanya, tentu pihak  Department Pendidikan perlu meletakkan perhatian di sini. Ataukah memang ada perguruan tinggi yang menerapkan standard rendah untuk mendapatkan nilai yang tinggi? Dengan harapan agar lebih banyak lulusannya yang mendapat peluang direkrut di perusahaan-perusahaan? Karena secara umum, salah satu kriteria yang digunakan untuk mensortir awal tenaga kerja tentu angka IP (walaupun tentu saja ada banyak kriteria lain). Membantu membangun image “Wah..lulusannya diterima di mana-mana“.  Melakukan hal ini mungkin saja lumayan membantu di awal, namun pada akhirnya akan ketahuan juga. Karena para pengguna lama kelamaan akan tahu dari kenyataan lapangannya juga.  Kok kebanyakan karyawan yang kwalitasnya buruk itu berasal dari perguruan tinggi A? Bukan B atau C? Saya pikir, perguruan tinggi sebaiknya tetap berfungsi sebagai lembaga yang mencetak tenaga kerja dengan kwalitas yang baik dan jangan terjebak mencoba meningkatkan image kelulusannya dengan cara yang kurang tepat yang akhirnya mengorbankan tujuan utamanya.

Ini  adalah pendapat pribadi saya, sebagaimana yang saya alami sebagai seorang pengguna lulusan baru Perguruan tinggi.  Dan  tentunya tingkat kesahihannya perlu diuji lagi melalui penelitian yang lebih memadai dan profesional. Pendapat pribadi,  tidak berarti bahwa itu adalah yang terjadi secara umum. Selain itu, kejadian yang saya ceritakan di atas juga telah terjadi belasan tahun yang lalu, dan mungkin juga sudah tidak terjadi lagi pada saat sekarang ini.

 (Note: saya tidak bekerja di bidang Human Resource development, hanya di sebuah department yang cukup sering menggunakan lulusan baru untuk Management Trainee).

Jenjang Akademis

Suatu kali  sekitar sepuluh tahun yang lalu, seorang anak Management Trainee di department saya yang baru saja menyelesaikan kuliah S2-nya berkata kepada saya “Saya ini kan lulusan S2.  Pangkat dan gaji saya kan harusnya lebih tinggi dari karyawan yang lulusan S1.  Jadi, kapan saya bisa mendapatkan kenaikan pangkat dan gaji, Mbak?” tanyanya. Saya tertegun mendengar pertanyaannya. Secara akademis, tentu tak bisa dipungkiri bahwa tenaga kerja yang memiliki ijasah S2 memiliki jenjang yang lebih tinggi dari tenaga kerja yang memiliki ijasah S1. Itulah sebabnya mengapa jenjang S2 dilakukan setelah jenjang S1. Namun apakah dengan demikian, serta merta saya lalu  harus datang ke HR Department & meminta mereka untuk meningkatkan gajinya melebihi karyawan lain yang lulusan S1?.  Tentu saja tidak. Anak ini belum menunjukkan kinerja yang baik diposisinya sekarang.  Dan bahkan kwalitas pekerjaannya cenderung lebih buruk dibandingkan rata-rata. Agak sedikit lebih malas dibanding teman-temannya, pemahaman data dan analisanya lemah, cenderung menyelesaikan segala sesuatu ‘asal jadi’, dengan demikian kesimpulan dan strategy yang disusunnya pun menjadi lemah. Beberapa kali saya telah memberikan ‘feedback’ atas kinerjanya ini. Banyak hal yang masih perlu ia perbaiki. Saya lalu mengajak anak itu duduk dan mengobrol.

Dunia pekerjaan tidak berjalan equaly persis dengan dunia akademis.  Ketika para lulusan itu sudah masuk ke dalam sebuah perusahaan (sekarang namanya karyawan), yang menjadi dasar penilaiannya sekarang adalah murni kinerjanya sendiri alias performance karyawan itu sendiri dalam menjalankan  tugas atau jabatan yang dipercayakan padanya. Jenjang akademisnya sama sekali tidak dibawa-bawa. Jika karyawan itu secara konsisten memiliki kinerja yang bagus, tentu akan mudah dipromosikan tanpa memandang apakah ia lulusan S1 atau pun S2.  Sebaliknya,  jika kenyataannya tak mampu menunjukkan kinerja yang baik, tentu tidak ada atasan yang akan mau memberinya promosi jabatan, tanpa perduli apakah ia penyandang gelar S1 ataupun S2. Mempromosikan seseorang dengan buta, hanya karena ia menyelesaikan pendidikannya tidak menjamin akan meningkatkan kinerja perusahaan secara umum.

Peringkat pendidikan lebih banyak digunakan sebagai persyaratan awal saat menyeleksi masuknya karyawan baru.  Misalnya, untuk posisi tertentu dibutuhkan karyawan lulusan SMA  atau setingkatnya,  untuk posisi lain barangkali dibutuhkan lulusan S1, atau S2 dan sebagainya.

Jadi jangan pernah berpikir,  jika kita menyelesaikan jenjang S2 kita, gaji dan pangkat kita dengan automatis akan ditingkatkan. Tetap saja harus bertarung dalam hal kwalitas dan kinerja dengan karyawan lain di posisi yang serupa”  kata saya.  Anak itu kecewa mendengar penjelasan saya. “Lalu apa gunanya saya sekolah mengambil S2 jika tidak langsung bisa naik pangkat?. Rugi dong!” katanya.  “Tentu saja tidak” kata saya.

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sama sekali tidak ada ruginya. Jenjang pendidikan, membantu membuka wawasan dan cara kita berpikir secara struktural yang lebih baik. Perguruan tinggi laksana Ibu kandung yang  memberikan  kita alat yang bisa kita gunakan sepanjang  hidup kita untuk membantu meningkatkan kwalitas pekerjaan dan kinerja kita secara umum, sehingga dengan demikian maka lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan promosi – tentu saja itu jika kita menggunakannya dengan baik. Jika tidak kita gunakan, ya… memang benar tak ada manfaatnya.

Saya jadi teringat akan sebuah lagu kanak-kanak traditional Bali  (pupuh Ginanti):

Saking tuhu manah guru/mituturin cening jani/kaweruhe luwir sanjata/ne dadi prabotang sai/kaanggen ngaruruh mertha/saenun ceninge urip“.

terjemahan bebasnya:

Dengan ketulusan hatiku (bapakmu, gurumu)/memberimu nasihat kepadamu,  wahai anakku/ilmu itu bagaikan senjata/yang bisa kau gunakan sebagai alat setiap saat/untuk mencari rejeki/sepanjang usia hidupmu, anakku”

Jadi gunakanlah ilmu yang kita dapatkan dari bangku sekolah atau perguruan tinggi dengan sebaik-baiknya untukmenjalankan kehidupan kita di fragment berikutnya.

15 responses »

  1. Selamat atas kelulusan keponakannya mba.
    Membaca tulisan ini membuat saya tetap semangat di dua bidang. Di bidang pekerjaan, untuk lebih meningkatkan kinerja. Di bidang pendidikan, saya perdalam di bidang yg saya geluti saat ini. Dgn mengambil kursus2 yang berhubungan atau berkuliah mulai tahun ini.

    Terima kasih atas sharingnya mba.

  2. Duluuu banget ada teman yang kerja lebih dahulu di Surabaya ingin mengambil s2 di universitas yang terkenal “cepat” bisa mendapatkan ijazah S2. Saya cegah teman itu dan sampaikan ke dia: daripada menghamburkan uang, lebih baik dia konsentrasi bekerja karena bagaimanapun kualitas pekerjaan yang dilihat dan syukurlah sekarang dia sudah mendapatkan promosi dengan tanpa mengambil s2 yang nenurut saya juga tidak terlalu berguna karena universitasnya.

  3. Selamat atas kelulusan keponakannya ya…mbak.
    Saya sendiri adalah tipikal orang yang tidak begitu mengistimewakan IP, karena pada prinsipnya IP hanyalah salah satu parameter saja dari sekian banyak parameter lainnya seperti pola fikir, leadership dan bahasa😀
    Ketika karir dan kualitas serta volume pekerjaan membutuhkan peningkatan jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, saya baru mengambil study lanjut untuk membuka wawasan dan pola fikir yang lebih baik lagi.

  4. Nilai IP memang ngga ada standar-nya mbak. Semua tergantung dosen-dosennya mau murah nilai atau pelit. Masalahnya mahasiswa sekarang manja. Diberi nilai jelek mereka ngambek. Diberi bagus mereka malas. Dilema lah kita sebagai pengajar…. *lah kok malah curhat😀

  5. Ah bahagianya mba ini menyaksikan keponakan tercinta di wisuda.

    Point-point penting diatas yang brhubungan dgn dunia kerja baik juga sbg catatan untuk saya. Anak pertama saya kuliah di jurusan teknik informatika, kini sedang menyusun skripsi, mba. Moga-moga tuntas di semester ini. Ia pecinta game, skripsinya merancang game tentang pertempuran pejuang yang terjadi di Bojong Kokosan, Sukabumi.
    Ah, maaf saya jadi ngelantur, mba. Ini karena saking inginnya saya menyaksikan anak pertama saya di wisuda.

    Salam,

  6. Selamat untuk kelulusan Nanda keponakan.
    Pengembangan cara berfikir selama di dunia pendidikan ditempa lebih lanjut di dunia kerja ya Jeng Dani. Salam

  7. memang budaya yang berlaku di universitas akan mempengaruhi cara dosen dalam memberikan penilaian. Kebetulan saya nyambi ngajar di perguruan tinggi swasta, pernah suatu kali saya memberi nilai E pada mahasiswa. Lalu saya dipanggil pimpinan, diminta mengubah nilai tersebut, dengan alasan ini kan PT swasta, jangan pelit-pelit kasih nilai. Kasihan para mahasiswa, udah PT swasta, IP rendah pula.
    Saya sih nggak mau ngubah, lha wong emang si mahasiswa jarang masuk, disuruh buat proyek akhir malah cuma download program punya orang lain, disuruh presentasi ditanya2 nggak bisa jawab. tapi ajaibnya si mahasiswa itu kok bisa ikut wisuda, padahal seingat saya, dia belum mengulang mata kuliah yang saya ajarkan tersebut

  8. Sudah bisa ditakar kecerdasannya kalau seseorang itu alumnus dari perguruan tinggi ternama seperti UI. Namun tentunya dunia kerja tidak hanya kecerdasan yang dituntut tapi juga “keserbabisaan” individu yang bersangkutan dalam menghadapi persoalan-persoalan didunia kerja itu sendiri…

    Selamat buat keponakannya mb@Made !

  9. Selamat untuk kelulusan dan diwisudanya keponakan, Mbak Dani.
    Aku setuju kalau standar IP tidak sama antar satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi yang lain, bahkan dalam satu perguruan tinggi yang sama pun belum tentu seseorang dengan IP lebih tinggi lebih berkualitas dalam perkerjaan jika dibandingkan dengan yang IP-nya lebih rendah

  10. Artikelnya bagus. Quote terakhirnya juga ya Mbak. Hanya sayangnya kursi kosong untu
    lulusan lulusan baru tidak sebanyak yang dibayangkan. Jadi terkadang orang sudah kepalang
    kerja di tempat yang tidak sesua dengan bidang ilmunya. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s