Daily Archives: February 15, 2014

Menyaksikan Hukum Genetika Bekerja Pada Bunga Kembang Sepatu.

Standard

Kembang Sepatu JinggaTentunya banyak yang masih ingat akan pelajaran  dasar Genetika yang menjadi sub bagian pelajaran Biology di SMA ? Saya masih sedikit ingat dengan Hukum Mendel yang bercerita tentang bagaimana prinsip-prinsip genetika bekerja pada setiap individu. Lah?  Kenapa tiba-tiba saya berbicara soal Genetika dan  Hukum Mendel? Guru Biology bukan, Ilmuwan bukan, Biologist pun bukan. Ceritanya berawal dari sini.

Berada di rumah, menyebabkan saya memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekeliling rumah dengan lebih detail. Kali ini ada hal menarik yang saya lihat di bunga kembang sepatu saya yang berwarna  jingga.  Fotonya seperti di sebelah ini. Sepintas lalu tidak ada  yang terasa aneh. Bunganya cantik. Mahkotanya selapis, jumlahnya 5 dan berukuran sedang. Berwarna jingga dan sedikit bergelombang di tepinya. Di pangkal mahkotanya ada warna merah terang, dibatasi warna pink yang membaur dengan warna jingga muda. Lalu di tengahnya terdapat tangkai putik berwarna  putih, dilengkapi dengan benang-benang sari dan kepala sari yang berwarna kuning pucat. Nah! Lalu keanehannya di mana?

Kembang Sepatu Jingga bertingkatBunga ini barulah terasa aneh jika kita tahu bahwa tanaman Kembang Sepatu saya ini  sehari-harinya mengeluarkan bunga bertingkat seperti foto di sebelah ini. Sejak ia ditanam, barangkali entah ratusan atau bahkan ribuan kuntum bunga telah dihasilkannya. Semuanya bertingkat. Mahkotanya terdiri atas dua tingkat. Bagian bawah persis sama dengan yang pertama, yakni terdiri atas mahkota selapis berjumlah 5 lembar, dengan warna jingga muda. Bagian tengahnya berwarna merah dibatasi pink. Lalu ada tangkai putik yang berwarna putih.

Bedanya sebelum tumbuh benang sari, bermunculan mahkota-mahkota bunga di sekelilingnya yang berwarna jingga muda, menyusun bunga baru berimple dengan ukuran yang lebih kecil dari mahkota di bawahnya. Dari pusat mahkota bunga itulah kemudian keluar benang-benang sari dan kepala sarinya. Dengan demikian Kembang Sepatu jingga ini kelihatan bertumpang /bertingkat.  Cantik sekali.

Kembang Sepatu merah selapisSaya juga memiliki cerita serupa  denagn Kembang  Sepatu Merah saya ini.  Kembang Sepatu saya ini memiliki mahkota bunga  selapis berjumlah 5 buah berwarna merah terang .  Saya sangat menyukai warna merahnya yang terasa sangat merah sempurna. Merah semerah-merahnya. Merata dari ujung mahkotanya sampai ke pinggir.   Sebenarnya mungkin ada sedikit gradasi tingkat kegelapan dari warna merahnya terutama pada pangkalnya, namun nyaris tak terlihat. Mahkotanya melengkung ke bawah pada ujungnya dan berukuran sedang, karena Kembang Sepatu ini memang dari jenis yang berukuran sedang.

Tangkai putiknya panjang berwarna merah, dengan 5 kepala putik yang berwarna merah. Lalu ada banyak benang sari dan kepala sari  yang berwarna kuning. Begitulah saya menggambarkan bunga Kembang Sepatu saya ini.

Kembang Sepatu merah doubleNah, mari kita coba lihat bagaimana tampilan bunga Kembang Sepatu ini sehari-harinya. Fotonya seperti ini.  Beda sekali, bukan?

Warnanya nyaris sama. Merah semerah-merahnya. Tapi mahkota bunganya bukan selapis, namun double dan berimple. Ada banyak mahkota bunga yang tumbuh dari pangkal yang sama. Bergelombang semuanya dan sangat penuh. Sehingga alih-alih bentuknya  seperti bunga kembang sepatu klasik lainnya, kumpulan mahkota bunga kembang sepatu ini malah membulat nyaris membentuk bola.

Benang-benang sari dan kepala putiknya muncul dari sela-sela tumpukan mahkotanya. Kadang-kadang  arahnya tak jelas atau bahkan muncul di titik yang berbeda.

Kembang SepatukuKedua bunga yang  tampak berbeda ini muncul dari pohon yang sama dari cabang besar yang sama. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya bagi saya melihat kejadian ini terjadi pada tanaman kemabng Sepatu merah ini. Sebelumnya saya sudah sempat melihat kemunculan bunga selapisnya dua kali. Jadi buat saya sudah tidak aneh lagi. Namun memang sangat jarang terjadi. Padahal tanaman yang satu ini sangat rajin berbunga. Setiap hari  kuntum bunganya yang mekar antara 5 – 20 buah.

Kejadian itulah yang mengingatkan saya akan Hukum Mendel I yang disebut dengan  Hukum Segregasi, seperti yang diajarkan oleh Guru Biology saya di SMA dulu.  Dimana pada hukum ini disebutkan bahwa setiap induk (individu) memiliki pasangan Gen yang disebut dengan Alel. Pada saat terjadinya perkawinan dengan individu yang lain, Alel-Alel ini akan memisah dari individu induknya dan bergabung dengan Alel pasangannya di dalam individu baru (anak).

Bagi yang menyukai pelajaran Biology tentu ingat bahwa Alel-Alel ini ada yang bersifat Dominant (Terlihat) dan ada yang bersifat Resesif (kurang/tidak terlihat) pada anaknya. Alel yang Dominant akan selalu tampak dengan nyata – misalnya Alel bertingkat pada bunga  Kembang Sepatu jingga  saya ini tentulah bersifat Dominant, karena ia selalu terlihat bertingkat pada hampir setiap kuntum bunganya selama bertahun-tahun. Baru sekali ini saya melihatnya berbunga selapis dan tidak bertingkat (Alel Resesif). Barangkali saja ia pernah mengeluarkan 1 – 2 kuntum bunga selapis tak bertingkat seperti ini sebelumnya,  namun mungkin tidak sempat saya lihat karena kesibukan.

Dan pada tanaman Kembang Sepatu merah yang saya miliki , tentunya mahkota ganda dan berimple merupakan sifat yang lebih Dominant ketimbang sifat mahkota selapisnya yang bersifat lebih Resesif.

Ah! Saya berpikir barangkali ada baiknya saya panggil anak saya untuk ikut melihat kejadian ini dan belajar  Biology langsung dari contoh kejadiannya secara langsung. Sayapun memanggil anak saya.

Ia sangat tertarik dengan Hukum Mendel ini. Lalu berkomentar. “Very interesting!. Aku sudah pernah membaca sebelumnya dan mengerti general idea dari Genetic Transformation itu. Tapi yang aku ingin tahu, bagaimana rumus persisnya, kapan dan berapa banyak masing-masing kasus dominant dan resesif itu terjadi?“. Aduuuuuh! Saya malah nggak siap dengan jawabannya. harus baca-baca literatur lagi atau ngacak-acak Google dulu nih minta informasi.

Sambil menunggu saya mencari-cari jawaban, anak saya terus nyerocos menceritakan kepada saya games-games yang menurutnya sangat menarik tentang bagaimana kita mengotak-atik gen dan menciptakan individu baru yang bisa kita rekayasa sendiri agar memiliki gen unggul seperti yang kita inginkan. Dengan fasih ia menyebut kata-kata genetic engineering, genetic transformations, biotechnology, genome manipulations dan sebagainya. Semuanya ia dapatkan dari games dan internet. Dunia seperti berputar  cepat di kepala saya, membuat saya merasa pening.

Betapa teknology dan  informasi merasuk ke dalam otak anak-anak sedemikian cepatnya dan meninggalkan otak para orangtua yang bergerak lebih lambat…