Terpeleset.

Standard

Seekor Burung Terkwak

Saya melongokkan kepala saya untuk melihat keadaan sungai di belakang rumah.  Seekor burung Terkwak (Amaurornis phoenicurus) tampak berjingkat-jingkat di rumpun keladi liar yang tumbuh di situ.  Saya berusaha menahan diri dan gerakan saya agar tidak membuatnya terkejut. Namun rupanya burung air itu kepalang melihat kedatangan saya. Mungkin karena terkejut melihat saya, ia pun lari terburu-buru dan menclok sedapatnya saja di atas selembar daun keladi.

terpeleset

Barangkali karena permukaan daun keladi yang licin dan barangkali ia berpikir dan menyangka saya akan menyerangnya, maka iapun terpeleset.

terpeleset 3

Akhirnya ia berusaha mengatur langkahnya agar tidak melorot lebih jauh. Namun rupanya machine penggerak di badannya lebih sulit di’rem, akhirnya iapun semakin terpeleset. Nyaris jatuh, ia kemudian terbang dan kabur menjauh. Seandainya burung itu tidak terkejut, lebih waspada dan berhati-hati. Serta menyadari keadaan diri dan sekitarnya dengan lebih baik, mungkin ia tidak akan terpeleset.

terpeleset 4

Terpeleset! Bukan hanya Burung Terkwak yang pernah terpeleset. Sayapun pernah mengalaminya. Dan merenungkannya kembali ketika melihat bagaimana burung Terkwak ini terpeleset karena kaget melihat saya.

-Terpeleset pikiran-

Pikiran kita diajarkan untuk lurus dan selalu lurus.  Jika ia harus bergerak maju, maka  ia harus bergerak menuju ke arah kebenaran dan kebaikan. Dan letak kebenaran dan kebaikan ini secara lokasi, dibahasakan sebagai arah yang lurus.  Namun jalan pikiran yang kita tempuh kadangkala memiliki landscape yang bervariasi.Ada yang mudah kita lalui untuk selalu berjalan dengan lurus, namun landascape yang ada terkadang menggoda kita untuk keluar dari jalur yang seharusnya lurus. Sedikit melenceng, berbelok , berhenti ataupun memutar…. dan terpeleset.

Kecurigaan yang berlebihan akan sesuatu, keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan menjadi hak kita, benci dan iri hati terhadap sesuatu, gelisah dan rasa takut yang berlebihan dan sebagainya. Semuanya akan membawa pikiran kita bergerak ke arah yang berbeda dari yang seharusnya dan sangat mungkin membuat pikiran kita terpeleset.

Mencegah pikiran agar tidak terpeleset, akan sangat membantu untuk mencegah perkataan dan perbuatan kita agar jangan sampai terpeleset.

-Terpeleset lidah alias terpeleset perkataan-

Ketika kita terpeleset pikiran, hingga kita belum menterjemahkannya menjadi perkataan dan perbuatan, maka praktis yang tahu apakah kita terpeleset atau tidak hanyalah diri kita sendiri dan Yang Maha Tahu.  Kita semua tahu, bahwa sebaiknya kita selalu berkata yang baik dan berkata yang benar. Orang tua kita mengajarkan kita begitu. Guru-guru di sekolah kita juga mengajarkan begitu. Dan bahkan lingkungan masyarakat kita pun mengajarkan kita begitu. Namun mengapa sesekali kita bisa terpeleset lidah juga? Berkata dengan nada kasar, sinis dan tidak bersahabat.  Menghina, berbohong ataupun menfitnah.  Menyakiti hati seseorang dengan lidah kita yang tajam seperti silet?

Bagaimana kita harus mengontol lidah kita untuk  tidak terpeleset? Menerima keadaan dengan baik, meningkatkan kesadaran diri dan memikirkan dengan hati-hati setiap calon perkataan yang akan kita ucapkan – barangkali sedikitnya akan menolong kita agar tidak mudah terpeleset.

-Dan juga barangkali terpeleset perbuatan-

Mencuri dan mengambil milik orang lain tanpa ijin, meminjam tanpa mengembalikan, mem-bully, melecehkan, melakukan korupsi, menyontek, memalsukan, memeras, menodong, melirik pasangan orang lain dan melakukan perselingkuhan, memukul, menendang, mencubit, menganiaya, melukai, melakukan kekerasan fisik lainnya, membunuh dan sebagainya  keterpelesetan dalam perbuatan  lainnya –  Walaupun mungkin terpeleset ini lebih jarang terjadi…namun tetap saja mungkin terjadi dan menimpa kita, jika kita tak mampu mengontrol diri  dan panca indra kita dengan baik.

Apapun itu bentuk keterpelesatannya, pada intinya mengatakan pada saya bahwa kewaspadaan, kehati-hatian dan peningkatan kesadaran diri akan sangat membantu kita untuk mencegah kita mengalami keterpelesetan,  ataupun mengulang kembali keterpelesetan yang pernah terjadi pada diri kita.

Tri Kaya Parisudha – sebuah renungan tepi kali…

17 responses »

  1. Pengambilan momen Burung Terkwak detail sekali. Keren.

    Terimakasih atas sharing perenungannya.
    Benar apa yang pernah dikatakan orang-orang bijak jaman dahulu, bahwa indikator tingginya ketakwaan adalah menjaga sikap kehati-hatian; … kemudian diperjelas dalam jurnal ini, yaitu hati-hati agar tidak terpeleset pikiran, terpeleset lidah, dan terpeleset perbuatan.

  2. Terpeleset . . . rasanya keadaan ini sering kita temukan dalam keseharian hidup kita, ya Mbak. Kalau terpeleset yang berarti tidak sengaja, mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi kalau ‘terpeleset’ yang disengaja . . . nah itu yang harus dihindari meskipun dilingkungan sekitar tampaknya semakin banyak orang yang terpeleset dengan sengaja

  3. Aduh, jadi inget penilaian kinerja kemaren Mba Made. Akhirnya bos saya terpeleset lidahnya.Ga tahu diengaja atau tidak akhirnya beliau menceritakan hal-hal yang seharusnya tidak diceritakan. Jadinya bingung apakah bos sengaja atau gimana. Huehehehee.. *maap komen OOT*

  4. Burungnya kecil…? Iya sama seperti komentar2 yg lain, hasil jepretannya cakeuuuup 👍👍👍👍

    Yang namanya terpeleset itu selalu sakit, terpeleset sambil njawil orang, ikut jatuh juga hehe
    Mudah2an selalu berhati2, menjaga lidah, menjaga mata, menjaga sikap, menjaga telinga juga hati kita..
    Renungan indah di hari minggu untuk mengawali hari esok .. Danke ya mbaaaak…

  5. terkagum sangat dengan ketrampilan pengambilan fotonya…..
    Tri Kaya Parisudha – sebuah renungan tepi kali…yang luar biasa, terpeleset karena kelicinan lingkungan berpadu dengan kelengahan diri.
    Matur suksma mBok ade.

  6. waaah..aku selalu suka baca postingan dr mbak…aku paling sering kepeleset pikiran sama perbuatan nih…huhuhu…sangat susah menghindarinya..lebih sering, kita baru menyadari saat kita sudah kepeleset dan jatuh…
    smoga kita smua terhindar dari kepeleset y mbak..amiiin🙂

    • Hi hi.. sebenarnya aku juga heran sih Ed. Tapi mungkin sebenarnya memang masih banyak burung yang terbang bebas di Jakarta dan sekitarnya – karena sebenarnya untuk sebuah kota, Jakarta tergolong banyak pohon kan? Coba deh perhatikan di sekeliling…memang banyak kok…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s