Daily Archives: February 18, 2014

Mengapa Kutilang Bertengger Di Pucuk Pohon?

Standard

Semua tentu ingat lagu kanak-kanak yang diciptakan Ibu Soed ini.

“Di pucuk pohon  Cempaka. Burung Kutilang berbunyi. Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili“. Burung Kutilang 2Nah, kenapa Burung Kutilang harus bertengger di pucuk pohon cempaka? Pertanyaan tolol itu saya ajukan kepada diri saya sendiri. Walaupun saya setuju 100% dengan lagu itu. Saya setuju bahwa Burung Kutilang memang hobbynya bertenggernya di pucuk pohon.

Kutilang atau yang dikenal juga dengan sebutan Sooty Headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster) sangat banyak berkeliaran di wilayah Bintaro dan sekitarnya. Kita bisa menemukannya dengan mudah di taman-taman sektor IX, taman  sektor VIII, dan sebagainya hingga ke pohon-pohon di pinggir kali. Karena sering mengamati burung Kutilang, saya jadi tahu bahwa burung Kutilang ini memang punya kesenangan  nangkring di puncak pohon. Burung Kutilang Tidak seperti burung-burung lain yang malah sering berlindung di balik dahan tersembunyi,  Kutilang suka akan tempat terbuka. Sehingga tidak heran, sangat mudah bagi kita untuk melihat Burung Kutilang bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Berada di puncak pohon,akan membuat burung Kutilang berada pada ketinggian yang baik. Dimana ia bisa memandang sekeliling tanpa halangan yang berarti. Ia bisa melihat dimana letak pepohonan berbuah yang memberinya makanan berlimpah untuk musim itu. Ia juga bisa melihat dengan mudah, dimana pasangan dan keluarganya sedang bertengger. Bahkan ia pun bisa melihat dengan baik jika ada burung Rajawali yang berniat menyambar anaknya. Namun jika ia membutuhkan pandangan yang lebih jelas, di mana letak dahan yang memiliki buah yang ranum, tentu Burung Kutilang dengan leluasa bisa turun kembali dan masuk menyelusup ke dalam pohon untuk memeriksa dahan dan ranting.

Memikirkan kebiasaan Burung kutilang ini saya jadi teringat akan proses “Zoom In” dan “Zoom Out” kamera. Jika kita ingin melihat gambaran besar sebuah kejadian, maka  kita tinggal men”Zoom Out” photo. Sedangkan jika kita ingin melihat gambaran kecil dan detailnya, kita tinggal memencet tombol “Zoom In”. Demikian juga yang dilakukan oleh Burung Kutilang ini. Jika ia ingin mengetahui gambaran detail dari  sebuah tempat, ia tinggal masuk ke dalam pohon. Zoom In!. Sebaliknya jika ia ingin mendapatkan gambaran besar tentang lingkungannya berada, ia tinggal terbang dan menclok di pucuk yang tinggi. Zoom Out!.

Burung Kutilang

Kemampuan untuk ber’Zoom In’ dan ber “Zoom Out” inipun tentunya dibutuhkan oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin perlu selalu mampu melihat gambaran besar suatu masalah tanpa harus kehilangan pandangan detail.

Ketinggian penglihatan sangat dibutuhkan bagi fungsi leadership dan strategic thinking. Memiliki ketinggian pandangan, akan membantu seorang pemimpin untuk melihat dengan jelas berbagai masalah ataupun peluang yang mungkin ada dengan cara yang lebih baik. Karena dari ketinggian,akan memungkinkan bagi sang pemimpin untuk melihat permasalahan secara utuh  sebagai suatu kesatuan tanpa harus tersegment-segment.

Demikian juga seorang pemimpin sangat perlu membaur  dan masuk ke dalam  untuk memahami  titik-titik permasalahan dengan lebih detail.

Dengan menguasai pemahaman atas keduanya, maka pemimpin akan terbantu untuk mengambil keputusan dengan lebih baik.

 

 

Kupu-Kupu Delias, Si Penerbang Tinggi.

Standard

Sampel: Novus- Puncak, Bogor.

 Novus 1Sebagai penggemar keindahan alam, mata saya  sangat sulit untuk dilepaskan dari  bunga-bunga liar, burung-burung ataupun kupu-kupu yang bertebangan di sekeliling saya. Kemanapun saya pergi, yang saya lihat ya itu lagi, itu lagi. Kalau bukan bunga liar, kupu-kupu, atau burung. Demikian juga ketika liburan yang lalu, saya sekeluarga bermain-main ke daerah pegunungan yang berudara sejuk di Bogor. Saya berharap menemukan speies Kupu-Kupu yang berbeda dari yang biasa saya lihat di dataran rendah seperti Jakarta.

 Sayang sekali, kabut turun selama dua hari berturut-turut. Jadi saya tidak bisa mengoptimalkan waktu saya untuk menjelajah lahan-lahan terbuka di sana. Untungnya saya sempat memiliki satu hari yang agak terang, cukup untuk  menikmati keindahan Kupu-kupu yang beterbangan di sekeliling.

Karena di tempat itu ukup banyak ada pepohonan dan tanaman berbunga, saya menemukan cukup banyak species yang beterbangan di sana, mulai dari keluarga Papillionini, Leptorcini,Pierinae, Danainae,dan sebagainya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Kupu-Kupu Delias, dari keluarga Pieinae – karena kupu-kupu ini, meskipun ada di juga di  Bali dan Jakarta, namun belum pernah saya amati dalam jarak yang cukup dekat. Karena kupu-kupu ini sangat senang bermain di pepohonan.  Kadang-kadang memang ada turun sebentar, namun biasanya akan terbang membubung tinggi ke puncak pepohonan lagi.  Jadi agak sulit juga untuk saya memotretnya.

Kupu-kupu ini sering saya lihat di antara pepohonan yang menaungi jalan-jalan di daerah Kebayoran Baru dan sekitarnya. Saya belum pernah mendapatkan fotonya sebelumnya, selain karena ia terbang tinggi, juga karena setiap kali saya melihat Kupu-Kupu ini, kebetulan saya sedang tidak membawa kamera. Selama di Puncak, Kupu-Kupu ini terbang tidak terlalu jauh dari tempat saya. Kadang-kadang terbang tinggi di pepohonan, namun cukup sering juga turun  dan mencari makan di bunga-bunga yang ada di situ,  sehingga saya bisa mengambil fotonya.

Mengamati Kupu-Kupu Delias  ini terasa sangat seru.  Karena ada beberapa jenis, dengan warna pokok yang sama namun sedikit beda dalam corak dan tata letak pewarnaan pada sayapnya.  Selain itu, belakangan saya baru tahu  bahwa ternyata antara yang jantan dan yang betina pun  ada juga yang berbeda coraknya.

Delias descombesi.

Jika sayapnya sedang menguncup, Kupu-Kupu ini secara keseluruhan akan terlihat Kuning dan Hitam. Itu disebabkan karena bagian luar sayap belakangnya yang lebih lebar didominasi oleh warna kuning, dengan beberapa goresan warna hitam pada ujung sayap belakangnya. Ada bintik berwarna merah yang mencolok pada pangkal sayap belakang luarnya, yang menjadi pertanda bahwa Kupu-Kupu itu adalah Delias descombesi.  Sayap atas bagian luarnya didominasi warna hitam dengan beberapa garis oretam yang berwarna putih. Sayap atas tidak terlalu dominant kelihatannya, sehingga jika  saya bertanya kepada anak saya, apa warna kupu -kupu itu?  Maka saya berani menjamin ia akan mengatakan Kuning.

Namun yang mengejutkan adalah , jika kupu-kupu ini membentangkan sayapnya,  Kupu-kupu ini berwarna putih.  Maka  jika kita hanya melihat Kupu-kupu ini dari atas dengan keadaan sayap yang sedang mengembang, tidak ada seorangpun yang setuju jika ada yang mengatakan warnanya kuning. Seperti foto di atas – saya ambil dari Kupu-kupu yang sama. Tampak samping dan tampak atasnya jauh berbeda bukan?

Delias periboea

Delias periboeaKupu-Kupu Delias yang satu ini serupa dengan Delias descombesi. Bedanya adalah,  jika pada Delias descombesi memiliki bintik  merah  pada pangkal sayap bawahnya,  Kpu-kupu Delias periboea tidak memiliki bintik merah itu. Sebagai gantinya, ia memilki sapuan warna merah dalam jumlah  yang lebih banyak pada area ujung sayap belakang bagian luarnya. Sayang di gambar ini tidak terlalu jelas kelihatan.  Sisanya hampir sama, didominasi warna kuning, jingga kemerahan dan hitam serta putih.

Di Puncak, saya melihat populasi  Delias periboea tidak sebanyak Delias descombesi. Tapi itu mungkin saja karena saya hanya sempat mengamatinya di satu tempat dan hanya sehari.  Barangkali jika saya memiliki kesempatan lebih banyak,mungkin saja ceritanya akan berbeda.

Kupu-Kupu Delias ini berukuran sedang, kurang lebih 3.5 cm. Paling suka  hinggap di bunga jatropha, bunga benalu dan bunga sikat botol yang berwarna merah cerah.