Menyikapi Perkelahian Anak I: Tentang Kaya Dan Miskin.

Standard

Kakak-AdikSabtu sore. Saya tertidur. Lelah juga. Suara anak-anak yang  berbisik-bisik namun saling berargumentasi, membuat saya terbangun. Diantaranya terselip kata-kata bahwa anak saya yang kecil dipukul oleh teman bermainnya. Tentu saja saya terhenyak kaget. Akibatnya suami saya pun jadi ikut masuk ke kamar dan  mencari tahu ada apa.

Reaksi pertama yang muncul ke permukaan dari seorang ibu tentu “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .  Dan reaksi pertama dari bapaknya tentu saja: “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .   Typical reaksi yang memang selalu berbeda jika dikeluarkan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Ibu.

Anak saya yang kecil sambil sesenggukan bercerita bahwa ia dipukul teman bermainnya yang emosi karena temannya itu kalah bermain. Menurutnya, sebelumnya  ia kalah. Temannya itu berhore-hore ria  atas kemenanganya dan mengejeknya habis-habisan. Maka saat giliran menang, anak saya membalas berhore-hore ria juga, walaupun tidak pakai mengejek. Rupanya sang teman emosi dan merasa dipanas-panasin, lalu memukulnya. Ia menunjukkan lengan kanannya yang sakit. Saya memeriksanya sebentar. Kelihatannya tidak apa-apa. Tidak ada luka. Tidak ada memar atau  biru.  Sakit sedikit. Jadi saya tidak terlalu khawatir.  Dipukul dan memukul adalah hal biasa pada anak laki-laki. Sepanjang tidak cedera serius. Nanti juga mereka baikan kembali.

Sayapun menjelaskan kepada anak saya, bahwa dalam setiap permainan itu dituntut sportifitas yang tinggi. Mental yang siap untuk kalah dan menang. Kalau menang jangan sombong dan kalau kalah jangan ngambek. Apalagi memukul.

Kalau kalah sekarang,  justru harus digunakan untuk melatih diri dengan lebih baik lagi, agar lain kali bisa menang kata saya. Anak saya mengatakan bahwa ia tidak melakukan itu. Ia justru menjadi korban emosi temannya itu yang memang selalu emosian.

Kakaknya menasihati, “Aku sudah hapal,  orangnya memang sering emosian. Makanya, orang seperti itu jangan dipanas-panasin. Santai aja” nasihat kakaknya.  Menghadapi orang yang tidak sportif dan suka emosian, perlu cara yang berbeda. “Orang seperti itu justru perlu dikasihani. Bukan dibalas dan dipanas-panasin” lanjut kakaknya lagi. Anak saya yang kecil kelihatannya tidak terlalu setuju dengan pendapat kakaknya. Ia tidak setuju jika dilarang untuk membalas berhore-hore ria.  Kenapa temannya boleh berhore-hore ria dan mengejeknya, sementara ia tidak boleh? Ia juga tidak mengerti, mengapa yang salah harus dikasihani.

Akhirnya saya memeluk anak saya yang kecil yang segera  menyusupkan kepalanya ke perut saya dan sesenggukan.

Orang di dunia ini, ada yang kaya dan miskin” kata saya memulai cerita. Lalu saya mulai mengajaknya berpikir tentang orang yang kaya. Bagaimana orang kaya dalam pikirannya itu? Orang kaya banyak uangnya. Rumahnya bagus. Makanannya enak-enak. Bajunya bagus. Mobilnya mahal. Liburan ke luar negeri terus. Mainannya mahal-mahal. Hidupnya enak ya. Sangat menyenangkan jadi orang kaya. Lalu orang miskin? Tidak punya uang. Atau punya sedikit. Rumahnya kurang bagus. Atapnya bocor-bocor. Atau mungkin tidak punya rumah. Makanannya juga tidak mahal. Yang murah-murah. Atau mungkin sulit untuk bisa makan karena tidak punya uang. Bajunya jelek, tidak bisa beli yang bagus-bagus. Judulnya kasihan!. Kalau dibandingkan dengan yang kaya.

Lalu saya mengingatkan bahwa itu adalah jika kita lihat orang kaya dan miskin dari sisi uang. Dari sisi harta.

Tapi kalau kita pandang dari sisi mental, budi pekerti dan tingkah laku, juga ada orang yang kaya dan miskin lho!” kata saya. Anak saya terdiam sejenak.  Mulai mengerti ke mana arah pembicaraan saya.  Orang yang kaya secara mental dan budi pekerti, akan berusaha selalu berbuat baik. Suka menolong orang lain. Selalu berusaha mengontrol emosinya.  Tidak pemarah. Tidak suka menghina orang lain.  Sportif!. Kalau bermain, tidak terlalu menyombongkan kemenangannya dan mengejek orang lain yang kalah. Suka memaafkan orang lain yang berbuat salah padanya. Dan banyak lagi perbuatan baik lainnya. Nah itu namanya orang kaya! Banyak orang yang suka padanya. Sangat menyenangkan ya  hidupnya! Anak saya setuju.

Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara mental dan budi pekerti? Ia pemarah. Suka menghina dan mengejak orang lain. Mem-bully orang. Memukul.  Membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang lebih buruk lagi.   Dan sebagainya hal yang buruk lagi. Banyak orang yang tidak suka padanya. Kurang menyenangkan ya hidupnya? Kasihan ya hidupnya!.  Ia perlu dibantu dan dikasih tahuin agar sikapnya berubah.

Sekarang anak saya mulai terlihat mengerti. Jadi mudah bagi saya untuk mengatakan agar ia segera melupakan kejadian itu dan memaafkan temannya yang sudah memukulnya itu.  “Menjadi kaya secara mental dan budi pekerti itu jauh lebih penting, daripada kaya harta tapi miskin mental dan budi pekerti”, kata saya. Tapi saya tidak mau terlalu mendesaknya untuk menerima kalimat saya. Saya biarkan saja pikirannya berjalan dan bekerja sendiri untuk mencerna situasi.

Akhirnya iapun mengusap airmatanya dan terlihat riang kembali. Semoga ia benar-benar bisa memaafkan teman yang memukulnya itu.  Belajar membaca situasi dan merespon situasi dengan lebih baik. Atau bahkan bisa membantu merubah sikap temannya itu dengan caranya sendiri. Lagipula tentu saja sebagai orang tua saya tidak mau memperpanjang permasalahan. Namanya juga anak-anak. Ya memang begitulah. Sebentar bermain, sebentar berantem. Tapi nett nett – ketika mereka dewasa, mereka akan memahami indahnya persahabatan yang terjalin diantara mereka sejak kecil. Lengkap dengan suka dukanya.

9 responses »

  1. Bgus banget Mba Made pelajaran yang dimasukkan. Memang banyak sekali orang-orang yang miskin mentalnya. Baru saja mengalami konflik di tempat kerja dengan orang yang miskin mental.

    • Ya begitulah Dan… apa yang kita alami di tempat kerja juga kadang terjadi pada saat kita masih kecil ya… Butuh kedewasaan kita juga dalam menyikapinya. Jika tidak, kadang kita jadi ikut terseret melakukan kemiskinan mental

  2. Pingback: Menyikapi Perkelahian Anak II: Peran Seorang Kakak. | nimadesriandani

  3. Oke banget Mbak nasehatnya.
    Baca cerita temen anaknya Mbak yang emosian aku ingat adikku. Kalau dia kalah main sama aku, dia marah (ngga pake mukul sih), trus mutung enggak mau main lagi wkwkwk.

  4. Saya lihat disini kalau Mbak itu ibu yang bijaksana. Memberikan ketentraman kpd sang anak dgn kisah yang luar biasa indah…
    Saya pikir sih kebanyakan ibu bila mendengar cerita anaknya seperti ini akan terbakar emosinya dan melabrak orang tua si anak…
    Coba banyak ibu seperti Mbak ya….

  5. Belum pernah ngalamin sih, Andro berantem fisik sm temen2nya, mbak. Huhu, serem juga ya kalo smp ada adegan pukul memukul begitu. Beneran jd pengalaman berharga nih, jurnal mbak Dani yg ini… TFS yah, mbaaakk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s