Daily Archives: March 9, 2014

Belajar Menari Bali Kembali.

Standard

Latihan menari BaliSaya  mengantarkan anak saya yang kecil untuk bermain di mall di  Bintaro.  Sementara menunggu,  saya mengobrol dengan si kakak.  Suara gamelan Bali terdengar  menyentak telinga. . Tergerak oleh rasa kangen akan kampung halaman, maka sayapun  mendekat.   Ada sebuah panggung kecil dengan dekorasi traditional Bali  berdiri di tengah ruangan. Oooh…tempat kursus menari rupanya. Sanggar Dewata.

Seorang pria yang rupanya adalah Guru Tari di sana menyapa saya dengan senyum.  Saya bertanya hal-hal ringan seputaran kegiatan kursus tari itu. Lalu menawarkan si kakak  untuk belajar menari Bali. Anak saya melihat ke arah anak-anak perempuan yang belajar menari di sana lalu menggeleng. “Aku kan cowo, ma. Masak disuruh menari” elaknya.  Saya lalu menjelaskan. “Di Bali, kesenian adalah milik semua orang. Semua orang menari. Mau laki atau perempuan, sama saja. Dan profesi penari traditional  merupakan profesi yang sangat dihargai” bujuk saya. Lalu saya menjelaskan bahwa  ia bisa belajar tari  laki seperti Tari Baris, Tari Jauk atau Tari Topeng dan sebagainya. Jadi tidak harus belajar  tarian wanita. Kecuali jika memang nantinya mau jadi Guru Tari. Anak saya tetap tidak tertarik. Baiklah. Sayapun tidak mau memaksa.

Sambil ngobrol,  tiba-tiba saya merasa Guru Tari ini  mirip wajahnya dengan seorang teman saya.  Namanya Made *saya lupa persisnya Made siapa*. Seorang Guru Tari Bali juga,  saya kenal sekitar tahun 1995 di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat. Saat itu saya pindah dari Bali ke Jakarta.  Sambil bekerja, saya mengisi waktu luang saya dengan berlatih menari di sanggarnya itu.

Saya lalu menanyakan namanya ” Nama saya Made” katanya.  Hmmm… “Made siapa?” tanya saya kembali. Masalahnya, Made adalah nama sejuta umat kalau di Bali. Tidak memberi makna apa-apa selain hanya nomor urut dalam keluarga.Nama saya juga Made. Sama dong.  “Made Sutedja” katanya. Oooh. Wah, masalah berikutnya…saya tidak ingat  siapa nama lengkap Bli Made yang saya kenal dulu itu.

Lalu saya menanyakan di mana rumahnya di Bali. Ia menyebut sebuah tempat. Nah, persis!!!. Sama! Besar kemungkinan ia adalah Bli Made  teman lama saya dulu. Lalu saya mengingatkan tentang  diri saya dan Sanggar Tarinya di daerah Anggrek Cakra di Rawa Belong. Barulah ia ingat akan saya.  Tentu saja ia tidak bisa mengenali saya dengan mudah, mengingat perubahan fisik saya yang sudah terlalu jauh dalam rentang waktu nyaris 20 tahun. Wah.. senang sekali. Lalu ia menyarankan saya untuk menari lagi. Melatih badan kembali agar  berkeringat dan lebih sehat. Anggap saja olah raga!. O ya ..benar juga ya.

Kebetulan! Kebetulan banget ! Belakangan saya juga merasa kesehatan saya agak terganggu. Kelebihan berat badan dan mulai mengalami keluhan yang tidak menyenangkan. Saya berniat untuk merawat tubuh saya kembali . Mengatur pola makan dan berniat mau ikut fitness. Saya mau sehat.

Nah, sekarang muncul ide untuk menari lagi sebagai pengganti fitnes. Mungkin yang ini lebih menyenangkan buat saya.

Pertama,  Fitnes ataupun menari sama-sama membuat saya berkeringat. Bagus untuk  membuang sedikit demi sedikit lemak  di tubuh saya.

Kedua, menarikan  tarian  traditional – artinya saya ikut melestarikan kesenian daerah Indonesia. Penting kan?.

Lalu yang ketiga,  menari memang salah satu hobby saya – nah karena jika dasarnya memang hobby, jadi kita akan melakukannya dengan senang hati. Hidup saya akan lebih bahagia, ketimbang jika saya melakukan fitnes karena terpaksa. Benar tidak?

Dulu mama-mu ini penari,lho!. Sering nari di panggung”  cerita Bli Made kepada anak saya.  Anak saya heran. Tentu sulit baginya untuk membayangkan mamanya yang segendut ini dulunya pernah menari di panggung. Ia  ingin tahu lebih detail.

Ya. Dulu!  Sebenarnya bukan penari profesional yang dibayar sih. Hanya penari amatiran.  Tapi seperti halnya kebanyakan wanita di Bali, saya memang belajar menari dan mulai nenari di Pura-Pura/ panggung sejak umur 5 tahun. Karena wajib. Tentu saja tanpa bayaran. Tapi lebih bersifat “Ngayah” (mengabdi, menyumbangkan tarian untuk upacara atau untuk kepentingan masyarakat).

Latihan menari Bali 1 Guru  Tari pertama saya adalah almarhumah  Ni Ketut Sudiari, adik ibu saya yang memang terkenal sebagai penari yang bagus di jamannya.  Lalu Bapak saya mulai  mendatangkan  Guru Tari serius untuk mengajar kami anak-anaknya. Guru Tari saya itu  berasal dari  Tampaksiring, Gianyar – bernama  I Wayan Gatri . Pak Wayan Gatri tinggal di rumah kami beberapa bulan untuk mengajar kami menari. Bapak Wayan Gatri ini juga merupakan menantu dari penari kawakan bapak  I Made Pasek Tempo, yang sangat terkenal di jamannya, bukan hanya di Bali namun  hingga ke Jerman.  Sangat kebetulan karena Pak Made Pasek Tempo ini masih satu klan dengan Bapak saya (keluarga Pasek Kayu Selem), maka Pak Made Pasek Tempo juga sering datang berkunjung ke rumah. Ssesekali ikut mengawasi kami berlatih menari. Mengenang itu semua,  saya jadi ingin menyampaikan hormat saya yang sebesar-besarnya kepada guru-guru saya itu  – dimanapun kini beliau berada.

Mendengar itu, anak saya mulai percaya bahwa dulu saya memang pernah bisa menari. Sekarang? Apakah mama masih bisa menari? Yaah… sudah lupa lah. Wong namanya sudah nyaris 20 tahun tak pernah menari lagi.

Barangkali tahun 1995 itulah terakhir kali saya manggung. Kalau tidak salah ingat di Hotel Sahid. Entah acara apa.Saya lupa.  Anak saya terkikik geli membayangkan bagaimana saya yang segendut ini nantinya akan menari di panggung. Lah…menari kan tidak harus untuk manggung! Menari untuk menjaga kesehatan kan bisa juga.  Usia jangan dijadikan halangan. Yang penting tetap semangat!.

Saya lalu ikut nimbrung ke panggung kecil itu dan kembali belajar menari lagi. Dengan ditonton anak-anak saya. Lumayan melelahkan. Karena sekarang semua otot tubuh terpaksa bergerak. Jari kaki, jari tangan, otot betis, otot paha, dengkul, pantat, pinggang, dada, lengan, tangan, kepala, dagu dan bahkan hingga ke otot mata. Keringat sayapun mengucur seperti habis mandi. Semoga lebih sehat!

Advertisements