24 Jam Untuk Setiap Orang.

Standard

WaktuTuhan itu Maha Adil. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh ibu saya. Sebagai kanak-kanak, tentunya saya pernah mempertanyakan kebenaran pernyataan itu, ketika tanpa sengaja  melihat banyak juga kenyataan yang tidak adil di sekitar. Namun jawaban Ibu saya selalu sama. Bahwa, “Tuhan itu tetap Maha Adil. Jikalaupun kita belum mampu melihat keadilan terjadi pada saat ini,  bukan berarti bahwa Tuhan itu tidak adil. Barangkali hanya karena kita belum mampu melihat skenario besarnya dengan lengkap saja. Barangkali yang kita lihat hanya fragment-fragment kecil kehidupan saja. Pecahan-pecahan yang mirip puzzle yang belum mampu kita rangkai dengan akal pikiran kita. Seperti halnya bahwa bukan berarti bumi itu datar, hanya karena kita tak mampu melihatnya dari posisi yang memungkinkannya terlihat utuh dan bulat.

Ya..okelah. Sayapun menurut apa kata Ibu saya saja. Tuhan itu memang Maha Adil.

*****

Sebenarnya saya bukan mau membahas  masalah  Ketuhanan sih. Tapi sedang teringat akan banyaknya aktifitas yang ingin dilakukan  setiap hari namun rasanya kekurangan waktu. Duuuuh! Pengen nonton theater lagi, belum kesempatan. Terus ada kerabat yang ngajakin ketemuan, sudah janji akan segera melaksanakannya.. namun belum kesempatan juga. Pengen kopdaran sama teman blogger yang dekat-dekat  aja..belum kejadian juga. Apalagi melihat begitu banyaknya photo-photo teman-teman yang lagi kopdaran.. duuh jadi pengen banget. Janji sama anak-anak mau ngajak pulang kampung..beluman juga. Duuuhhh…enak banget ya yang bisa pulang kampung sering-sering. Kadang-kadang terasa banget “Duuuh..rasanya nggak adil banget, di saat orang lain sudah bersantai-santai menikmati hidup..kenapa aku sendiri yang harus bekerja keras sampai malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaan…hua auww….

Bukan saja gara-gara pekerjaan yang numpuk semata. Weekend saja saya masih tetap bingung bagaimana membagi waktu dengan baik. ” Ada 2 jam yang saya miliki sebelum kita pergi , mana mendingan;  saya menggambar? ngeblog? motret-motret burung di pinggir kali? atau menari?” tanya saya kepada suami pada sebuah akhir pekan. Semua ingin saya kerjakan. Semua saya sukai. Namun saya tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan semua itu sekaligus. Minta pendapat. “Menari” jawab suami saya dengan tegas dan jelas dari balik koran paginya.  Yap..terimakasih atas jawabannya, Ok lah saya menari. Tapi masalahnya saya masih tetap juga ingin menggambar. Dan juga ingin memotret. Dan juga ingin ngeblog. Belum lagi keinginan-keinginan lain yang ada di balik permukaan. Seperti pengen masak ini, pengen beli pupuk, pengen nanem bibit tomat yang dua minggu lalu habis disemai.

Akhirnya saya menyadari, bahwa sebenarnya pertanyaan saya  itu hanya sebuah retorika. Kalimat tanya yang sebenarnya tidak perlu dijawab oleh suami saya. Karena toh jika dijawabpun saya tetap tidak  mampu memecahkan masalah saya.  Jadi saya yang harus memutuskan sendiri, apa yang mau saya lakukan untuk mengisi waktu saya yang terbatas ini.

Nah sebenarnya di sinilah letak permasalahannya. Setiap orang memiliki sederet keinginan untuk melakukan ini dan itu. Yang berbeda-beda.  Namun pada kenyataannya kita semua diberi waktu 24 jam sehari. Tidak ada yang mendapat lebih dan tidak ada yang mendapat kurang. Itu adil namanya. Masalahnya bagaimana sekarang kita masing-masing memanfaatkan waktu yang jumlahnya 24 jam per hari itu setiap hari.

Bagi sebagian orang, waktu yang adil ini *24jam per hari* , barangkali terasa kelamaan. Misalnya bagi mereka yang sedang menunggu, sedang merindu,  yang sedang dalam penantian, yang sedang bosan, yang sedang kesakitan dan menderita  dan sebagainya. Waktu yang sebenarnya 24 jam per hari tidak lebih dan tidak kurang ini, jadi terasa sangat panjang.  Mengapa? Karena di saat-saat seperti itu, kita tidak memiliki kemampuan optimal untuk menikmati waktu kita. Kita ingin waktu cepat berlalu.

Sebaliknya jika kita menikmati hidup kita dan berencana ini dan itu, waktu berjalan terasa terlalu sangat cepat. Waduuuh..sudah hari Minggu siang saja ya? Besok masuk dong! Padahal masih pengen main bersama anak-anak. Padahal masih pengen ngeblog lebih banyak. Padahal masih pengen menggambar.Padahal masih pengen bereksperimen di dapur. Dan seterusnya, dan seterusnya keinginan diri.  Waktu yang sebenarnya sama 24 jam sehari tidak lebih dan tidak kurang ini terasa sangat pendek. Mengapa? ya..karena di saat-saat seperti itu, kita sedang sangat-sangat menikmati apa yang kita lakukan di dalam waktu itu. Kita ingin waktu jangan berlalu.

24 jam yang sama, bisa terasa berbeda tergantung bagaimana suasana hati kita dan bagaimana kita menikmatinya.

14 responses »

  1. kuncinya pada pilihan prioritas menurut kita ya mbak… ah, 24 jam seringkali memang terasa kurang, karena aku masih blm juga pandao membagi waktu untuk memenuhi banyak keinginan…

  2. Bener, mbak Dani. 2 nikmat Tuhan yang seringkali dilupakan untuk disyukuri itu nikmat sehat, dan nikmat waktu luang…🙂
    Saranku mudik dulu, mbak. Sekalian liburan, kan? Anak2 pasti seneng..🙂

  3. Bener banget mbak, 24 jam yg sama bisa sangat berbeda bagi setiap orang. Bos saya dan saya sama-sama punya 24 jam. Tapi entah kenapa sepertinya beliau mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yg banyak itu, sementara saya kadang suka telat dari deadline, hehe….

  4. Betul banget nih Mbak,
    Jatah setiap orang sama, 24 jam. Tapi rupanya manfaat yang diperoleh dari jatah waktu yang sama itu berbeda…
    Akhir pekan saya juga bingung. Ingin lakukan ini, ingin lakukan itu…

    Salam,

  5. Tuhan bukan hanya sekadar adil tapi lebih dari itu, kalau dalam Islam disebut qish yaitu tingkat yg lebih tinggi daripada adil. Contohnya dalam sebuah perkara, bisa jadi salah satu pihak merasa adil sementara pihak lawannya merasakan ketidakadilan. Kalau qish itu kedua pihak merasakan keadilan.

  6. Ibu.. Bnyk lho yg bingung bgmn menghbskan wkt 24 jam itu krn mmg gak ada kerjaan, bknnya malas tp mmg rejeki blm menghampiri. Jadi dinikmati saja wkt yg ada.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s