Titi Ugal Agil Dalam Kehidupan.

Standard

meniti jembatan bambuSeekor burung Terkuak tampak berjalan berjingkat-jingkat di lumpur tepi sungai. Saya memperhatikannya dari jarak jauh. Burung itu tidak melihat saya. Sibuk mengais sesuatu di lumpur. Setelah selesai dengan kesibukannya, lalu ia memandang ke samping.Kelihatan seakan ingin menyeberang ke gundukan tanah yang lain di pinggir kali. Tampak ia berhenti sesaat, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya  kalau mau ia tinggal nyebur ke air dan kemudian berenang saja. Namun rupanya burung itu berpikir lain.

Ia menengok ke kiri dan ke kanan, lalu mulai melangkahkan kakinya di atas tumpukan sampah plastik yang mengumpul di situ, kemudian melompat ke sebatang bambu yang melintang memanjang di situ  ke arah gundukan tanah di seberang. Oooh..rupanya ia ingin memanfaatkan bambu itu menjadi jembatan. Saya melihat ia berjalan perlahan, berusaha menyeimbangkan badannya dengan baik agar tidak tercebur ke kali. Saya agak tegang menyaksikan burung itu menyeberang. Takut ia terpeleset dan tercebur. Namun kelihatannya ia cukup tenang. Selangkah…dua langkah..tiga langkah..empat langka…lima langkah.. eh.. ujung bambu itu menurun ke air. Burung itu tetap berjalan di atas bambu, walaupun bambu itu sekarang berada di bawah permukaan air. Langkahnya mantap dan tetap di atas bambu.  Hingga akhirnya ujung bambu itu habis, maka ia berjalan cepat dengan lurus ke atas gundukan tanah. Horee! Ia berhasil menyeberang, tanpa harus berenang. Cukup dengan berjalan saja.

Sampai akhirnya burung itu berhasil menclok di seberang, saya tetap tidak mengerti mengapa burung itu memilih meniti bambu untuk menyeberang ketimbang berenang atau terbang.  Padahal ia memiliki kemampuan yang baik untuk terbang maupun berenang.

Melihat burung itu meniti bambu tiba-tiba saya teringat akan cerita tentang Titi Ugal Agil yang  sangat populer di kalangan masyarakat Bali.   Waku kecil, saya diceritakan oleh tetua saya bahwa jika suatu saat nanti kita meninggal, maka pada suatu kesempatan roh kita akan berkumpul di sebuah padang rumput yang disebut Tegal Penangsaran. Mulai dari sana kita akan mengalami berbagai macam ujian dan persidangan sesuai dengan karma yang kita lakukan selama menjalani kehidupan di dunia fana ini. Salah satunya, kita akan berjalan di atas sebuah jembatan tipis yang sangat rapuh bernama Titi Ugal Agil.  Jembatan itu adalah jembatan pengujian bagi para roh.

Jika kita tidak berhasil menyeberang,  maka roh kita akan jatuh ke jurang di bawah Titi (jembatan) itu. Jurang itu  penuh api dan pedang tajam serta berbagai ragam peyiksaan yang disebut Neraka.  Jika kita pernah mencuri dan mengambil sesuatu yang bukan hak kita maka tangan kita akan dipotong. Jika kita pernah  berzinah, maka area kemaluan kita akan dibelah. Jika kita peernah  memfitnah, nyinyir, membicarakan keburukan orang lain maka mulut kita akan disobek, jika kita pernah membunuh maka seluruh tubuh kita akan disiksa berat dan dilempar ke Neraka yang lebih di bawahnya lagi sehingga lebih sulit lagi bagi keluarga kita  untuk mendoakan agar  bisa lepas dari genggaman para penghuni Neraka. Semua kesalahan dan kejahatan akan ada hukumannya yang setimpal.

Sedangkan jika kita berhasil menyeberang,  maka roh kita akan menyeberang ke suatu tempat penantian terakhir yang akan menetapkan apakah roh kita akan masuk ke Sorga, jika roh kita benar-benar bersih dari kesalahan dan perbuatan buruk selama di dunia fana. Atau  jika kita ada melakukan beberapa kesalahan dan perbuatan buruk yang ringan dan jumlahnya jauh lebih sedikit dari perbuatan baik kita yang jumlah dan skalanya jauh lebih banyak dan besar, maka kita  masih diberi kesempatan untuk lahir kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, sehingga pada suatu saat kita bisa benar-benar masuk Sorga dan tak perlu lahir kembali.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Bali, tentu saja saya percaya dengan konsep Titi Ugal Agil itu. Namun saya rasa perjalanan kita di atas Titi Ugal Agil itu sebenarnya sudah  bisa kita tebak sejak kita masih hidup di dunia ini.  Karena sebenarnya jembatan ujian yang disebut Titi Ugal Agil itu, sebenarnya telah diletakkan di hati kita.

Contohnya saja jika kita sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat. Tiba-tiba ada Polisi lalu lintas sedang melakukan razia dadakan. Pas diperiksa, eh… SIM ketinggalan. Nah sekarang kita masuk ke dalam jembatan pengujian Titi Ugal Agil. Menyogok agar tidak ditilang? Atau pasrah ditegur polisi dan  ikuti aturan, jika harus ditilang ya biar ditilang saja? Hati nurani kita yang memutuskan apakah kita ingin lolos kelak di Titi Ugal Agil atau tidak.

Atau menjelang pemilu, seseorang datang ke rumah membawakan beras dan uang meminta kita untuk mencoblos nomor kandidat yang sebenarnya tidak kita kenal latar belakangnya pun dengan baik. Kita sedang masuk Titi Ugal Agil. Terima beras dan uangnya dan penuhi permintaannya mencoblos kandidat yang dimaksudkan? Atau menolak pemberian itu dan memilih sesuai dengan hati nurani kita?

Atau jika kita memegang jabatan tertentu,  ketika sampai di rumah ternyata kita menerima parcel hari raya dari seorang agency yang bekerjasama dengan kantor tempat kita bekerja. Kita juga sedang masuk ke dalam Titi Ugal Agil. Kita terima,buka dan manfaatkan parcel itu untuk diri kita dan keluarga kita?Atau sebaiknya pulangkan saja ke kantor dan informasikan kepada agency itu bahwa kita tidak bersedia menerima parcel  itu secara pribadi?

Banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang harus kita waspadai dalam tingkah laku kita yang jika tidak waspada akan mengarahkan kita pada korupsi kecil-kecilan, pencurian, kolusi, penyogokan dan sebagainya. Hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan ujian bagi kita untuk melewati jembatan rapuh yang bernama Titi Ugal Agil itu.

18 responses »

  1. Si burung mungkin sedang tak ingin basah dan capek ya Mbak…

    Konsep Titi Ugal Agil ini pun ada di ajaran Islam. Saat setiap orang akan diuji dengan menyeberang jembatan… haduhhh….

  2. Jadi ingat jaman kecil dulu, semasa SD kalau berangkat ke sekolah harus menyeberang sungai yang lebarnya sekitar 2 meter, jembatannya adalah dua batang bambu yang direbahkan berjejer. Harus berjalan pelan-pelan sekali supaya sampai diseberang. Jembatan ini sering menjadi bahan cerita bagi guru ngaji. Sekarang jembatannya masih besar, masing-masing kaki dapat pijakan. Kalau diakhirat nanti jembatannya sangat kecil, bagai rambut dibelah tujuh. Begitulah guru ngaji saya selalu mengingatkan kami unntuk berbuat baik, agar tidak kecemplung saat melewati jembatan.

  3. Jika jembatan ujian titi ugal agil berlaku sejak kita hidup, apa bisa ini dipahami sebagai proses untuk penyempurnaan mbak? Bagi yg lulus akan naik peringkat, dan yg tidak lulus tetap di tempat atau sebaliknya diturunkan…

  4. Saya baru mendengar tentang istilah Tti Ugal Agil ini disini, Mbak.
    Walau demikian, hal ini juga ada dalam agama yang saya anut. Konsep jembatan (titi) itu sudah melekat juga dalam pikiran saya.

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s