Ke Situ Gunung, Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Standard

Taman Nasional Gunung Gede PangrangoAkhir pekan, setelah sebelumnya ngobrol dengan temannya, suami saya tiba-tiba punya ide untuk mengajak saya ke Situ Gunung.  “Tempatnya sangat indah dan sejuk. Selain itu, banyak burung-burung liar lho di situ. Pasti menyenangkan bisa mengambil photo-photo burung di situ” katanya. Tentu saja saya senang alang kepalang. Saya pikir suami saya sekarang sangat memahami dan mulai mendukung kecintaan saya akan alam.  Saya belum pernah ke sana. Tapi sebelumnya pernah diajakin teman-teman untuk camping di sana. Selain itu juga ada seorang teman photographer yang pernah mengambil photo-photo di situ dan menunjukkan keindahannya kepada saya. “Ajak anak-anak juga. Siapa tahu mau” kata saya. Ternyata anak-anak juga menyambut dengan antusias.

Hari Minggu pagi, kami berangkat.  Lokasinya sekitar setengah jam perjalanan dari  rumah kami di Sukabumi. Kalau di tempuh dari Jakarta,  dan seandainya perjalanan lancar, kurang lebih akan memakan waktu sekitar 3-4 jam menuju ke arah Sukabumi. Sebelum sampai kota Sukabumi, kita akan tiba di daerah Cisaat.  Dari sana kita mengambil arah ke kiri, ikuti jalan menanjak ke atas  terus hingga tiba di desa Gede Pangrango. Secara umum jalanan cukup bagus, kecuali di bagian ujung, jalanan mulai rusak dan berlubang-lubang. Situ Gunung lokasinya berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.   Setelah melewati pintu pos penjagaan dan membayar 10 000 per orang untuk memasuki kawasan itu, kami tiba di tempat parkiran I. Di sana kami bisa memilih, apakah akan menuju ke danau (Situ Gunung)  atau ke air terjun (Curug Sawer).  Kami memutuskan untuk menuju ke danau saja.  Jalanan menembus hutan sedikit menanjak lalu menurun dan sedikit berkelok. Sekitar 1 kilometer dari parkiran I lalu kami tiba di parkiran ke II. Dari sana ada jalanan kecil menuju danau yang jaraknya sekitar 20o meter ke bawah, bisa ditempuh dengan jalan kaki atau pakai motor.

Karena masih pagi, suara burung terdengar riuh.  Namun sangat sulit untuk menemukannya. Suaranya saja yang heboh, namun burungnya entah dimana. Tidak terlihat. Menclok di antara dahan-dahan pohon Damar yang tingginya melebihi gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Saya mulai menyadari bahwa tidak akan banyak photo burung yang bisa saya dapatkan di sini, mengingat jenis jenis burung yang banyak di sini tentunya yang memiliki habitat di kanopi hutan.  Lalu apa yang bisa kita nikmati di Situ Gunung?

Menikmati Berjalan Kaki  Ke Situ Gunung.

Berjalan ke Situ GunungWalaupun tak berhasil memotret burung, saya tetap sangat menikmati perjalanan ke danau di tengah hutan  ini.  Jalanan terbuat dari batu-batu. Mungkin dulunya pernah rapi,namun sayang belakangan sudah banyak yang rusak dan berlubang. Menuruninya sedikitnya membuat kita berkeringat. Itung-itung sekalian ber- olah raga kecil.

Sambil berjalan, saya bisa melihat-lihat keragaman tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.  Jika ada yang menarik, kami berhenti sebentar. Lalu saya menerangkan apa yang saya tahu tentang tumbuhan itu kepada anak saya yang besar.  Tentang nama tanaman itu, kebiasaan hidupnya, kegunaannya bagi manusia jika ada dan sebagainya.

Anak saya terlihat sangat tertarik.  Mungkin ia merasa masih nge-link dengan pelajaran di sekolahnya tentang klasifikasi tanaman. Beberapa kali bertanya kepada saya, apakah ada dari jenis Gymnospermae yang ia bisa lihat di sana.

Pohon MatiSaya pun berusaha mencari-cari barangkali saya bisa menemukan pohon melinjo, conifer ataupun cycas di sana. Setidaknya saya bisa menemukan pohon pinus untuk saya tunjukkan pada anak saya.

Belajar tanaman sambil melihat contohnya langsung di alam ternyata sangat memudahkan. Pelajaran bisa diterima dengan cepat dan terintegrasi, dengan cara mendengar apa yang saya katakan, melihat apa yang saya tunjukkan dan bahkan merasakan dengan cara menyentuhnya ataupun mencium baunya sendiri jika ia mau.

Kita bisa mengenal jenis-jenis pakis dengan cepat. Melihat jahe-jahean, melihat lumut, jamur dan sebagainya. Mulai dari tanaman yang besar, kecil, tinggi, rendah, yang tegak, yang miring bahkan yang tumbang.

Perjalanan turun itupun terasa menyenangkan dan sama sekali tidak terasa lelah.

Di Danau.

Situ GunungBeberapa menit kemudian sampailah kami di tepi danau. Rupanya danau kecil saja. Luasnya sekitar 11 hektar menurut tukang perahu. Dulunya danau ini lenih luas, sekitar 15 hektar, namun belakangan airnya menyusut.  Namun demikian, danau ini tampak sangat tenang. Dikelilingi oleh bukit dan hutan alami. Di tengahnya ada dua pulau kecil-kecil yang hanya terdiri atas beberapa pohon dan tanaman saja. Memandangnya terasa membawa kedamaian dan kesejukan ke dalam hati kita.

Kamipun duduk-duduk di atas tikar memandang ke danau. Menonton orang memancing. Di kejauhan tampak orang sedang berperahu berkeliling danau. Ada juga yang sedang menangkap kijing menggunakan rakit.  Saya memandang burung layang-layang yang beterbangan menangkap seranga di tepi danau.

Bermain Perahu.

BerperahuMemandang aktifitas di danau itu, anak saya yang kecil mengajak kami naik perahu. karena tak ada seorangpun yang mau, akhirnya saya menemani anak saya bermain perahu berkeliling danau. Tukang perahu memberi tahukan bahwa ongkosnya adalah Rp 7 000 per orang.  Sudah termasuk tukang dayung, sehingga kalau mau kami tidak usah mendayung sendiri. Saya setuju.

Tapi anak saya rupanya sangat ingin memegang dayung sendiri.  Berada di perahu kecil begini, mengingatkan saya akan kampung halaman saya di tepi danau Batur. Apa yang dilakukan anak saya sekarang ini, sama dengan yang saya lakukan ketika saya kecil dulu. Mendayung dan mendayung sambil belajar mengarahkan perahu ke depan, ke kiri ataupun ke kanan.

Saya melihat ia sangat menikmatinya. Mungkin kapan-kapan akan saya ajak pulang ke danau Batur, agar ia bisa mendayung di atas danau yang jauh lebih besar ukuran dan ombaknya.

Memancing   

MemancingSelepas bermain perahu, anak saya ingin memancing.Maka sayapun bertanya kepada tukang perahu apakah ada yang menyewakan  alat pancing di situ.  Tukang perahu seketika memberi anak saya dua buah joran pancing untuk dipinjam.  Juga umpan berupa udang kecil-kecil yang ditangkap dari danau itu.

Saya memeriksa sebentar alat pancing itu sebelum memberikannya kepada kedua anak saya. Agak aneh juga karena tidak ada pelampung yang dijadikan pertanda apakah umpannya dimakan ikan atau tidak. Alasan tukang perahu, ia sengaja tidak memasang pelampung karena danau itu sangat berangin dan tidak mau pelampungnya didorong angin. Hmm…begitu ya. Saya tidak begitu yakin akan alasannya.

Tapi baiklah, daripada tidak ada alat pancing sama sekali. Menjelang tengah hari, kamipun pulang dengan menelusuri kembali jalanan yang tadi.  Yang penting anak saya menikmati akhir pekannya dengan cara yang menyenangkan, walaupun hanya setengah hari.

Saya baru terinformasi rupanya danau ini adalah danau buatan. Pantas saja ada beberapa sisa bangunan batu (barangkali taman) di sekitarnya.

 

 

11 responses »

  1. Wah asyik juga bisa menghabiskan waktu di alam bersama keluarga begitu, Mbak.
    Ngomong-ngomong kalau mau ke Situ Gunung berarti penginapan terdekat ada di Sukabumi ya Mbak?

  2. Ah, Mbak main ke Situ Gunung gak info-info ah. Kan kalau tahu siapa tahu bisa ketemuan di Situ Gunung.

    Saya biasa ke Situ Gunung sama istri. Kadang sama anak-anak juga. Naik angkot dari rumah saya di daerah Rambay.
    Sudah lama nih saya gak sempat lagi main ke Situ Gunung. Jadi kangen kesana lagi…

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s