Bali: Mampir Di Pusat Pendidikan Dan Konservasi Penyu di Pulau Serangan.

Standard
Turtle Conservation & Education Center, Pulau Serangan,  Bali

Turtle Conservation & Education Center, Pulau Serangan, Bali

Mengisi siang yang panas, adik saya mengajak bermain ke Pulau Serangan. Makan siang di bawah pohon rindang di pulau itu, sambil mengamati tingkah laku seekor burung Kipasan di tepi hutan bakau di sebelah kami. Sehabis makan siang,  kami memutuskan untuk berkeliling pulau.   Di tengah perjalanan, tiba-tiba adik saya bertanya apakah saya mau melihat penyu?  Saya tertarik. Adik saya membelokkan kendaraannya dan mencari tempat parkir di bawah pohon rindang.

Seorang pria yang memperkenalkan namanya sebagai Made Kanten menyapa kami dengan sangat ramah. Ia mengajak kami masuk.

Entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang kolega, drh Ida Bagus Windia Adnyana (panggilannya Gus Win) yang bekerja banyak dalam upaya penyelamatan penyu. Jangan-jangan ia aktif di sini. Benar saja dugaan saya. Pak Made Kanten mengatakan  bahwa Gus Win memang merupakan  ahli penyu yang aktif di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu itu, namun sayangnya hari itu beliau sedang tidak ada di sana. “Besok beliau pasti ke sini, Bu” jelas Pak Made Kanten. Sayapun mencoba menghubungi Gus Win untuk  sekedar menyapa  halo dan mengabarkan bahwa saya sedang pulang ke Bali dan mampir di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu itu. Gus Win mengatakan bahwa saat itu sedang ada acara di  tempat seorang kolega yang lain di Denpasar dan mempersilakan saya melihat-lihat di sana.

Pak Made Kanten dari Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan Bali

Pak Made Kanten dari Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan Bali

Kami  berbincang-bincang tentang tempat itu.  Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu yang saat ini dipimpin oleh  Bapak Wayan Griya ini dibuka tahun 2005, diprakarsai oleh Desa Adat Serangan dan pada awalnya dibantu oleh WWF  dalam upaya untuk menyelamatkan penyu-penyu dari kepunahan.

Pada tahun-tahun itu dan sebelumnya, banyak penyu ditangkap oleh penduduk  dan telornya diambil untuk dimasak. Hal ini membuat penyu menjadi semakin berkurang. Selain itu rusaknya habitat penyu akibat pembangunan hotel-hotel dan tempat pariwisata juga ikut semakin mempercepat penurunan populasi penyu.

Pak Made Kanten juga menjelaskan, terutama pada saat daerah pantai di sekitar sana direklamasi, populasi penyu benar-benar berkurang. “Sekarang sudah agak membaik. Selain karena berhasilnya upaya penangkaran penyu dan pelepasan tukik-tukik kembali ke laut, juga  karena sekarang pasirnya sudah mulai lebih alami. Sehingga penyu sudah mulai bisa bertelor kembali” jelasnya.

Saat ini Penyu adalah hewan yang dilindungi undang-undang baik di negara kita maupun di negara lain.

Kegiatan apa saja yang dilakukan di Pusat Pendidikan & Konservasi Penyu di Pulau Serangan?

Bak pasir tempat penetasan telor penyu

Bak pasir tempat penetasan telor penyu

Sesuai dengan namanya, kegiatan utama di tempat ini adalah melakukan konservasi alias upaya penyelamatan dan penjagaan penyu agar terhindar dari kepunahan. Kegiatan itu antara lain dengan relokasi dan penyelamatan sarang penyu, yakni upaya mengambil telor-telor penyu di pantai umum agar tehindar dari pencurian, lalu ditetaskan di tempat konservasi dan dilepaskan kembali ke laut.

Di alam, dari ratusan butir telor yang dihasilkan oleh seekor penyu, hanya sekitar belasan anak penyu (tukik) yang bisa menetas dan  selamat hingga ke laut. Tentu saja karena faktor alam, gangguan manusia, ataupun pemangsa alami seperti burung, kepiting, ataupun ular  memangsa anak penyu ini sebelum mampu hidup dengan baik di laut.

Di tempat  konservasi, angka penetasan meningkat jauh, dan tentunya dengan pengawalan petugas konservasi, tukik-tukik ini akan lebih banyak yang bisa selamat pada saat dilepaskan kembali ke laut. “Sekali bertelor jumlahnya bisa sekitar 130-15o butir. Biasanya kami split menjadi 2 lokasi penetasan untuk meningkatkan rate penetasannya. Telor penyu menetas dalam waktu 45-50 hari” Jelas pak Made Kanten. Hatch Rates penyu di penangkaran itu sekitar 40-60%. Hampir semuanya dilepaskan kembali ke laut paling lambat pada saat berumur 6 bulan. Hanya 1-2 ekor yang dipelihara di sana untuk keperluan pendidikan dan penelitian.

Selain kegiatan penetasan dan penangkaran, pusat konservasi ini juga menampung para mahasiswa atau peneliti yang ingin melakukan penelitian tentang penyu dan juga memberikan training dan latihan serta penyuluhan tentang penyelamatan penyu.

Jenis-jenis Penyu Di Indonesia

Anak penyu hijau yang mentas tanggal 28  December 2013

Anak penyu hijau yang mentas tanggal 28 December 2013

Ada 7 jenis penyu di dunia ini. Dan sangat beruntungnya kita, 6 diantaranya hidup di negara kita Indonesia.

Ke enam jenis penyu itu adalah Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea),  Penyu  Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Pipih (Natator depressus) dan Penyu Tempayan (Caretta caretta). Hanya jenis penyu Kemp;’s Ridley (Lepidochelys kempi) yang tidak ada di perairan kita.

Penyu Belimbing, atau Leatherback Turtle (Demochelys coriacea) adalah penyu yang dianggap paling terancam kepunahan pada saat ini.  Tempurungnya  tanpa memiliki sisik, memiliki 5 bukit   mirip belimbing. Itulah sebabnya mengapa disebut Penyu Belimbing.

Penyu Hijau alias Green Turtle (Chelonia mydas), juga digolongkan ke dalam kategori terancam punah.  Walaupun namanya Penyu Hijau, jangan berharap melihat penyu ini berwarna hijau dalam keadan hidup-hidup. Tempurungnya tetap saja berwarna coklat. Karena nama  hijau itu diambil dari warna lemaknya yang berwarna hijau. Penyu ini memiliki sisik besar yang jumlahnya 4 pasang tidak saling bertumpuk. Tidak punya sisik di depan matanya.

Seekor Penyu Sisik (Hawksbill Turtle) yang cacat kehilangan satu siripnya dan rusak kerapasnya akibat kena baling-baling perahu motor.

Seekor Penyu Sisik (Hawksbill Turtle) yang cacat kehilangan satu siripnya dan rusak kerapasnya akibat kena baling-baling perahu motor.

Saya melihat ada beberapa ekor Penyu Hijau di kolam penangkaran. Terlihat sehat dan lincah. Mungkin sebagian teman-temannya sudah dilepaskan ke laut.

Penyu Sisik alias Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata), diberi nama demikian karena paruhnya mirip paruh burung elang. Penyu ini statusnya nyaris sama dengan si Penyu Belimbing. Sangat terancam punah.

Penyu Sisik juga memiliki 4 pasang sisik costal namun terlihat lebih tebal dan saling bertumpuk.  Saya melihat ke arah penyu-penyu itu.

Ada seekor penyu yang kelihatannya cacat. Sirip depannya tidak ada. Dan karapasnya kelihatan sobek-sobek. “Itu didapat dari nelayan yang menyerahkan penyu itu ke sini untuk diselamatkan. Kemungkinan besar dia cacat karena kena baling-baling kapal” kata Pak Made Kanten.

Saya melihat dengan trenyuh Penyu Sisik yang tampak tenang dan berusaha berenang perlahan di kolam itu.  Di satu sisi sangat senang juga mendengar cerita Pak Made Kanten, bahwa kesadaran masyarakat saat ini sudah sangat jauh meningkat dalam upaya penyelamatan penyu, sehingga jika ada penyu yang terluka dan tak berdaya ditemukan oleh nelayan, kerap diserahkan ke pusat penangkaran juga.

Penyu Lekang

Penyu Lekang

Penyu  Lekang alias Olive Ridley Turtle (Lepidochelys olivacea), statusnya juga terancam punah saat ini. Namun menurut Pak Made Kanten, jenis penyu ini yang paling sering ditemukan bertelor di pantai-pantai pulau Bali.  Jadi populasinya yang paling lumayan banyak dibandingkan jenis penyu-penyu yang lain.

Penyu Lekang, mempunyai 6 pasang sisik costal/mungkin lebih. Warnanya kelabu dan bentuknya lebih bulat dibanding penyu lain.

Saat saya di sana, saya hanye melihat 3 jenis penyu di sana yakni Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Lekang.

Selain itu sebenarnya masih ada jenis penyu lain di perairan Indonesia yakni Penyu Pipih alias Flatback Turtle (Natator depressor). Dinamakan demikian tentu karena punggungnya yang pipih. Jenis penyu ini memiliki 4 pasang sisik costal dan warnanya kelabu. Dan yang satunya lagi adalah Penyu Tempayan alias Loggerhead Turtle (Caretta caretta) yang memiliki 5 pasang sisik costal, warna tempurungnya coklat kemerahan.

 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Penyu betina, dimanapun ia lahir, maka ke sanalah ia akan pulang untuk bertelor” kisah Pak Made Kanten.  Menurutnya, usaha penangkaran dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan penyu sudah cukup berhasil. Terbukti dengan meningkatnya kembali  jumlah penyu yang mendarat dan bertelor di beberapa pantai di Bali belakangan ini. “Dulu sempat susah sekali.Sekarang kita sudah bisa menemukan penyu bertelor kembali walaupun jumlahnya masih sedikit”.  Jenis penyu hijau hanya 1 sarang di Candi dasa. Penyu Lekang meningkat menjadi 300 sarang ditemukan tahun ini, antara lain di Perancak, Kedonganan, Sanur, Pantai Saba  dan sebagainya selain di Serangan sendiri. Musim bertelor adalah April- Oktober.

Penyakit yang paling banyak diderita oleh penyu saat ini umumnya adalah gangguan pernafasan. Namun diluar banyak juga ditemukan penyu yang tersedak oleh sampah plastik. Perbaikan kebersihan lingkungan juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kelestarian penyu.

Saat ini Pusat Konservasi ini menggantungkan dana dari  donasi serta sumbangan sukarela pengunjung yang datang ke tempat itu.

Saya sangat salut dengan upaya yang dilakukan oleh pihak desa Adat Serangan dan WWF serta masyarakat dan akademisi untuk membantu penyelamatan penyu dari kepunahan.

 

 

 

.

14 responses »

  1. Aku penasaran dengan rasa telor penyu, apa rasanya enak banget sampai banyak orang yg mengkonsumsinya. Aku suka ngeliat tukik, lucu dan imut. Syukurlah, ikut senang melihat banyak orang yang semakin peduli dengan keberadaan penyu.

  2. Syukurlah kesadaran masyarakat untuk melestarikan penyu semakin tinggi ya, Mbak.. Jadi inget temen yang doyan banget makanin telor penyu, sekali makan bisa abis 30 butir..😦

  3. Temen ku kerja di conservasi di kuta, kalo malam suka jaga2 di kuta. Kata nya banyak penyu juga bertelur disana, maka nya ada tugu penyu gede di pantai kuta, begitu cerita nya

  4. Om Swastiastu, Selamat malam pengunjung dan sahabat blog Mbok Made, begitu asiknya menulis ya, kemana aja bisa jadi bahan artikel yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita semua.

    Reklamasi telah merubah habitat hidup Penyu di pulau Serangan, secara alami. Semoga pembibitan membuat satua Penyu di dalam laut semakin banyak…

    terima kasih infonya

    Selamat manulis

  5. Pulau Serangan…yang nyebrang dari Tanjung Benoa atau tempat lain Jeng Dani. Apresiasi untuk konservasi Penyu kekayaan Indonesia. Salam

  6. Menarik tulisannya nih Mbak.
    Jadi inget di Sukabumi pun ada yg seperti ini, Tepaynya di Ujung Genteng. Sayang saya belum sempat berkunjung kesana nih Mbak.

    Salam,

  7. met pagi pak Made Kanten….kami dari salah satu perusahaan di Nusa Dua Bali. Bertepatan bulan Desember akan mengadakan HUT ke 4. Namun sebelum merayakan HUT tersebut, kami akan mengedakan beberapa kegiatan peduli lingkungan. Salah satu kegiatan yaitu pelepasan tukik di pantai Club Med Nusa Dua.

    Apakah di tempat pak Made kanten menyediakan stok Tukik ? Kami memerlukan 100 ekor saja, untuk dilepas liarkan di habitatnya.

    Kami akan melakukan pelepasan tukik tersebut bersama-sama dengan karyawan kami.

    Demikian permohonan ini saya sampaikan.

    Silahkan menghubungi saya di no hp 081999458999.

    Terima kasih,
    Andran Suwardana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s