Kisah Pagi Di Bandara Ngurah Rai.

Standard

Sarapan pagiPagi-pagi buta saya bangun. Berdua dengan seorang teman, saya bermaksud berangkat ke pulau Lombok  mengambil jadwal penerbangan pagi. Perjalanan yang pendek sebenarnya. Paling banter hanya 15 menit dari Denpasar.

Setelah lepas counter check-in  kami lalu melenggang menuju  ruang tunggu.  Bandara Ngurah Rai sudah sangat ramai sepagi ini. Kursi di ruang tunggu terasa agak penuh. Rupanya tempat itu juga menjadi gate untuk beberapa penerbangan lokal ke Ende, Labuan Bajo,  Kupang, selain ke Praya.

Ada sebuah sebuah kafe  kecil  didekat situ. Lumayan nyaman untuk duduk dan menikmati sarapan pagi.  Kebetulan ada kursi yang kosong dan kami memang belum sempat sarapan pagi. Saya mengajak teman saya untuk menunggu boarding di sana saja. Dua orang yang tampaknya suami istri  tampak duduk di meja di sebelah kami. Melihat dua buah ransel di dekatnya, saya menduga mereka adalah tourist yang akan back pack-an melanglang Nusa Tenggara dari Bali. Mereka asyik berbincang sambil menyeruput kopi panas. Dari logatnya saya menduga mereka berkebangsaan Inggris. Yang perempuan kebetulan duduk berseberangan arah dengan saya. Ia tersenyum ramah saat saya mengambil tempat duduk. Sayapun membalas senyumnya sepintas, lalu melihat ke daftar menu yang ada. Tak banyak pilihan, tapi lumayanlah untuk sarapan saja.

Saya lalu  memesan secangkir teh panas dan pisang goreng untuk sarapan. Sementara teman saya memesan makanan lain. Sambil menunggu saya ngobrol ke kiri dan ke kanan dengan teman saya itu. Teh hangat muncul dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Tiba-tiba  wanita di sebelah kami mengasongkan sebuah salak ke teman saya untuk diambil.

Buah apa ini? saya baru melihatnya..” tanya wanita itu  kepada kami. “Salak” jawab saya. Pria  pasangannya tampak berkerenyit.  Kelihatan ia memang tidak pernah tahu buah salak sebelumnya. Saya lalu menjelaskan bahwa buah Salak adalah buah dari salah satu tanaman sejenis palma yang berduri.  Sangat umum dijumpai di Indonesia, termasuk di Bali. Terkadang disebut Snake Fruit juga karena kulitnya bersisik mirip kulit ular. Ia menggigitnya sebentar dan tampak ekspresinya biasa saja. Saya pikir barangkali ia mendapatkan salak yang agak sepet dan asem, bukan yang manis. Saya lalu menambahkan penjelasan saya, bahwa buah salak saat muda terasa agak sepat dan asam, tapi jika dipetik tepat saat matang, selalu terasa manis dan renyah.  Jika beruntung, kadang kita juga bisa menemukan jenis salak yang memang terasa sangat manis dan lebih manis dari yang lainnya. Namanya Salak Gula Pasir. “Barangkali saya kurang beruntung” kata pria itu sambil tertawa kecut.  Kamipun ikut tertawa.

Mereka  lalu memberikan lagi  Orange Juice dalam kemasan tetra pack kepada kami. Ia bilang tidak sanggup lagi meminumnya karena kebanyakan. Rupanya mereka membawa dua kotak makanan yang isinya snack, minuman dan buah-buahan. Barangkali dari Hotel tempatnya menginap semalam dan mereka tak bisa menghabiskannya. Itulah sebabnya mereka membaginya kepada kami daripada tidak termakan atau terminum. Wah..tahu gitu tentu kami tak perlu memesan minuman tadi.

Pengumuman penerbangan di ruangan itu  terdengar bergema. Petugas memanggil penumpang yang akan berangkat ke Labuan Bajo dan Ende untuk memasuki pesawat. Dua orang tourist itupun mempersiapkan ranselnya dan pamit kepada kami.

Saya memandang langkah kakinya dan tiba-tiba teringat. Baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Menerima pemberian makanan/buah-buahan dan minuman dari orang asing yang sama sekali tidak kami kenal.  Saya pikir apa yang mereka lakukan itu adalah ide yang sangat bagus. Mereka tahu bahwa mereka tak sanggup menghabiskannya. Dan karena tidak mau membuang-buang makanan, maka iapun memberikannya kepada kami. Sangat simple. Sangat praktis.  Sangat santai dan tidak ada beban. Seolah-olah kami telah kenal akrab bertahun-tahun lamanya.

Rasanya  saya tidak pernah melihat orang lain melakukan itu. Termasuk saya.Saya tidak  pernah punya ide sebelumnya untuk membagikan kelebihan makanan kepada orang yang  tidak saya kenal.  Kecuali itu teman dekat atau keluarga. Selama ini jika saya memiliki kelebihan makanan yang tidak sanggup saya makan (walaupun sangat jarang sih),  ada dua hal yang mungkin akan saya lakukan: 1/ jika makanannya bisa dikemas, mungkin akan saya  masukkan ke dalam tas, untuk saya makan lagi nantinya.  Atau jika saya tidak mau repot dan agak malas, mungkin saja  saya tinggal begitu saja di meja kafe/atau restaurant/ruang tunggu  tempat saya duduk.

Padahal kalau dipikir-pikir, membuang makanan tentu saja bukan perbuatan yang terpuji ya?. Sementara banyak orang sangat susah untuk makan.

Saya mencoba mencari-cari alasan mengapa saya tidak pernah membagi makanan di perjalanan kepada orang asing.  Barangkali saya takut jika orang merasa tersinggung jika tiba-tiba ditawarin makanan. Atau lebih parahnya bisa-bisa saya diduga tukang tipu yang sedang melakukan aksi lewat pemberian makanan. Entahlah…saya agak takut disangka begini dan disangka begitu. Jadi untuk amannya ya…makanan itu akhirnya tidak saya tawarkan. Padahal , barangkali itu hanya perasaan saya saja ya?.

Perbuatan dua orang tourist itu memberi saya inspirasi baru. Barangkali  akan coba saya contek  di kemudian hari, jika kebetulan saya mengalami hal yang sama…

 

 

 

i

15 responses »

  1. Saya juga gitu Mbak Dani, jarang2 bagi2 makanan di perjalanan. Soalnyagak suka juga terima dari orang lain. Ini parah ya kayaknya aku hehehe

  2. Kalo Mama ku kebiasaan ngasih orang Mbak, walau ngga dikenal.. Ngga semuanya mau nerima sih, malah ada yang menatap tajam dan curiga. Heheh.. Kasian Mama ku..🙂 Cuma pikir beliau daripada mubazir ya lebih baik dikasih ke orang aja🙂

  3. karena ada kejadian kejahatan melalui makanan dan minuman… lalu menjadi berita… akhirnya banyak yang jadi takut untuk memberi dan menerima

  4. Ah sekarang ini mau kasih makanan ke orang lain yg gak dikenal, rasanya sungkan Mbak. Ada kecurigaan disana dgn maraknya penipuan atau apalah dgn menerima dari orang tak dikenal.

    Bingung jadinya dgn kondisi seperti itu…

  5. nah, itu dia, Mbak. Maslaahnya saya pernah beberapa kali baca ada aksi penipu yang menawarkan minuman. Ternyata minumannya udah dikasih obat tidur dulu. Ketika si korban jaid mengantuk barang2nya habis dibawa kabur.

    Jadi mau berbuat baik kadang suka serba salah, ya

  6. Terhenyak dengan keteladanan ini Jeng Dani…saya masuk daftar barisan tak terbiasa menerima dan menawarkan makanan pada orang blum kenal.
    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s