Daily Archives: May 24, 2014

Mengunjungi Little Tokyo Ennichisai 2014, di Blok M Square Jakarta.

Standard

???????????????????????????????Hari ini anak saya mengajak pergi untuk melihat Little Tokyo Ennichisai di Blok M Square. Ia sangat tertarik pada kebudayaan Jepang dan saat ini sedang tekun mempelajari bahasa Jepang. Sebenarnya saya agak lelah, karena baru saja  tiba kembali di tanah air dari perjalanan urusan pekerjaan. Sebenarnya belum sempat beristirahat dengan cukup. Tapi melihat anak saya sedemikian semangat, maka sayapun menunda istirahat saya dan memilih untuk menemaninya ke sana.

Sedikit informasi,  Little Tokyo Ennichisai adalah sebuah acara kebudayaan,  seni dan kulinari Jepang yang diselenggarakan setiap tahun di kawasan Blok M Square di Jakarta. Dan untuk tahun ini, diselenggarakan hari ini dan besok, 24-25 May 2014. Saat kami tiba di sana, acara sudah lumayan ramai. Makin siang makin ramai dan berjejal-jejal.

Yang namanya festival kebudayaan, tentu ada panggung dimana kita bisa melihat berbagai seni dan budaya jepang ditampilkan. Walaupun anak saya yang kecil lebih suka melihat-lihat stand pameran dan jualan, keduanya masih setuju untuk melihat sejenak ke panggung . Di sana sedang ada pertunjukan tari kolaborasi Indonesia – Jepang yang diselingi dengan permainan drum dan bendera. Menarik sekali.

 

Kuliner dan Stand Lain.

Banyak yang menarik untuk dilihat. Yang jelas di sana ada  panggung acara untuk kesenian. Lalu berderet-deret tenda untuk stand berbagai makanan khas Jepang, mulai dari Ramen, Sushi, Udon, Takoyaki, Soba, Dorayaki,dan sebagainya. Juga berbagai merk produk-produk buatan Jepang, mulai dari kosmetik, fashion hingga mobil.

Sebenarnya banyak makanan Jepang yang ingin saya coba. Tapi karena si kecil suka sekali pada Takoyaki, jadilah akhirnya kami makan camilan bulat berisi potongan daging gurita itu.

Menembak di Osaka Stand.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????Salah satu stand yang menarik perhatian anak saya adalah stand Osaka. Karena di sana ada permainan menembak untuk mendapatkan hadiah berupa barang-barang kecil dari jepang.  Banyak pengunjung datang mencoba menembak. Kebanyakan para  remaja pria dan lelaki dewasa. Ada juga beberapa orang anak-anak seusia SD yang ikut. Melihat itu, anak saya yang kecil juga minta ikut mencoba menembak.  Saya setuju. Biarlah dia mencoba ketajaman  fokusnya.

Ia mencoba dengan 4 peluru. Sayang gagal semua. Wajahnya kelihatan kecewa bercampur penasaran. padahal ia ingin sekali mendapatkan salah satu hadiah bola kecil yang digantung di sana.  Melihat itu kakaknya pun ikut mencoba. Ingin membantu mendapatkan bola kecil buat adiknya. Banggg!! . Sayang meleset. Gagal lagi.

Saya penasaran, mengapa anak saya tidak sukses menembak. padahal dulunya sering bermain tembak-tembakan mainan. Apakah selongsong senapannya bengkok? Akhirnya saya bilang, “Coba mama yang menembak“. Anak saya heran. Tapi juga penasaran. Tentu ia tidak terpikir kalau saya juga ingin mencoba menembak.  Penjaga stand itu pun heran. Ibu-ibu kok nembak?.

Saya meminjam senapan kayu itu. Memfokuskan moncong senapan pada titik bidik yang mau saya tuju yakni kartu dengan 1 point. Dan …bang!. Kena!  Horee!! Saya dapat 1 point.

Anak saya terkejut.  Kok bisa kena? Mungkin kebetulan? Coba lagi. Saya ambil sebutir peluru lagi dan kembali memfokuskan arah moncong senapan saya. Kali ini saya ingin menembak kartu yang bertuliskan 5 point. Dan…bang! Kena lagi. Bahkan kartu yang berisi 5 point itu meloncat dan mengenai kartu disebelahnya lagi yang bertuliskan 1 point. Jadi tembakan ke dua  saya dapat 6 point sekaligus. Akhirnya bola yang diinginkan anak saya itupun berhasil kami dapatkan dan bawa pulang.

Kedua anak-anak saya benar-benar terheran-heran. Bagaimana saya bisa menembak setepat itu.  “Apakah mama pernah latihan militer?” tanyanya dengan bingung.  Saya tersenyum dan segera mengajarkan kepada anak saya bagaimana cara memfokuskan moncong senapan dengan benar agar tembakannya tepat sasaran. Dan ..bang! Sukses! Anak saya berhasil menembak dengan baik. Sangat jelas, bahwa keberhasilan menembak adalah hanya soal fokus!.

Cosplay.

???????????????????????????????Salah satu pemandangan yang menarik di sana hari ini adalah banyaknya  para “Cosplayers” yang berlalu lalang. Mereka menggunakan berbagai kostum, rias wajah dan rambut serta accesories meniru tokoh-tokoh anime, manga dan film-film kartun Jepang yang digandrungi anak-anak, seperti   Doraemon, Naruto, dan sebagainya. Dengan mudah kita bisa bertemu dengan Kakashi Hatake, jonin yang wajahnya setengah tertutup. Atau melihat Sasuke Uchiha berjalan dengan baju biru-putih khasnya itu. Lalu beberapa anggota Akatsuki dengan jubah hitam dan gambar awan merahnya.

Selain tokoh-tokoh Naruto itu, juga terlihat ada Sora dan Roxas dari Kingdom Hearts. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh kartun yang saya tak kenal namanya.

Menarik juga melihat para remaja bergantian minta berfoto dengan para tokoh ini.

Parade.

Parade selalu menjadi bagian yang paling menarik dari sebuah festival. Demikian juga pada Ennichisai ini. Penonton bergerombol dan bersedia berdiri berjejal-jejal demi berhasil melihat parade in.

Akhirnya yang bisa saya katakan adalah, bahwa acara seperti ini sungguh sangat bagus untuk memperkenalkan seni budaya dan kuliner  negara lain sehingga memicu kedekatan dan meningkatkan rasa persahabatan antar bangsa.

Lombok: Penghalau Burung.

Standard

Burung-burunganGerimis turun di Mataram dan sekitarnya. Sore hari menjelang malam. Saya memandang ke areal persawahan di sekitar rumah makan yang berupa pondok-pondok bambu di areal yang cukup luas.  Mata saya tertarik pada sebuah benda hitam yang tampak terbang di tengah sawah di kejauhan.  Benda itu tampak bergerak-gerak di tengah hujan.Namun tidak berubah lokasinya.Selalu tetap di situ. Tak jauh dari sebuah tiang bambu dengan sobekan kain yang dipakai untuk menghalau burung. Burung apa itu? Apa yang sedang dilakukannya?

Karena tidak jelas, maka saya mendekat. Tentu saja tidak bisa dekat sekali, karena burung besar berwarna hitam itu berada ditengah sawah. Barulah saya sadar. Ternyata itu burung buatan!  Oalaaa…. rupanya saya sudah harus memperbaharui kaca mata minus saya.

Terbuat dari bambu, dibentuk mirip burung dan dihiasi dengan bulu-bulu unggas berwarna hitam. Sepintas lalu memang tampak seperti burung. Elang atau Gagak. Digantung pada seutas tali yang diikatkan pada tiang bambu di tengah sawah.  Iapun bergerak-gerak di tiup angin dan diterpa air hujan. Tentu awalnya dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung kecil macam Emprit, Peking, Cici ataupun Bondol agar jangan datang beramai-ramai menyerbu padi yang sedang menguning. Biasanya burung-burung kecil takut pada burung-burung pemangsa yang ukurannya lebih besar.

Burung-burung pemakan biji-bijian sejak jaman dulu dianggap sebagai hama bagi para petani. Berbagai upaya dilakukan untuk menghalaunya. Mulai dari membuat boneka orang yang didandani dengan baju, topi atau sarung tangan alias orang-orangan sawah (Scarecrow), sehingga jika burung melihat orang-orangan itu, diharapkan akan merasa terancam dan terbang. Apakah burung-burung itu akan merasa takut? Mungkin ya. Namun pernah juga saya  melihat ada burung yang malah bertengger di atas topi orang buatan itu.  Kelihatannya burung satu itu sudah tahu bahwa ia dibohongi.

Ada juga petani yang membuat klonongan, yakni tali-tali yang dibentangkan di atas sawah dan digantungi dengan bunyi-bunyian, sehingga jika ditarik dan digerakkan suaranya riuh ‘ klonong…klonong..klonongggg….dan burung-burungpun terbang ketakutan. Ini mungkin lebih efektif untuk mengusir burung.Namun masalahnya, petani tentu tak selalu punya waktu untuk menarik klonongan ini setiap saat.

Sangat menarik mengingat-ingat tentang cara petani menghadapi kawanan burung, karena semuanya tiba-tiba membuat saya sadar bahwa kebanyakan  cara yang dilakukan petani hanyalah untuk tujuan ‘menghalau’ bukan untuk menyakiti atau menangkap burung-burung itu. Cara yang sangat damai dan tanpa kekerasan.

Mata saya kembali tertuju pada burung-burungan itu yang bergerak-gerak tertimpa gerimis. Saat itu sudah pasti burung-burungan itu tidak bekerja, mengingat tanaman padi di bawahnya masih sangat muda dan hijau royo-royo. Belum ada tanda-tanda berbunga. Apalagi berbuah. Tidak ada burung pemakan padi yang tertarik datang.

Ia tidak berfungsi seperti yang seharusnya. Namun setidaknya telah berhasil menarik kenangan indah masa kecil saya saat hampir setiap hari  bermain-main di tengah sawah…

Hidup yang damai!