Lombok: Penghalau Burung.

Standard

Burung-burunganGerimis turun di Mataram dan sekitarnya. Sore hari menjelang malam. Saya memandang ke areal persawahan di sekitar rumah makan yang berupa pondok-pondok bambu di areal yang cukup luas.  Mata saya tertarik pada sebuah benda hitam yang tampak terbang di tengah sawah di kejauhan.  Benda itu tampak bergerak-gerak di tengah hujan.Namun tidak berubah lokasinya.Selalu tetap di situ. Tak jauh dari sebuah tiang bambu dengan sobekan kain yang dipakai untuk menghalau burung. Burung apa itu? Apa yang sedang dilakukannya?

Karena tidak jelas, maka saya mendekat. Tentu saja tidak bisa dekat sekali, karena burung besar berwarna hitam itu berada ditengah sawah. Barulah saya sadar. Ternyata itu burung buatan!  Oalaaa…. rupanya saya sudah harus memperbaharui kaca mata minus saya.

Terbuat dari bambu, dibentuk mirip burung dan dihiasi dengan bulu-bulu unggas berwarna hitam. Sepintas lalu memang tampak seperti burung. Elang atau Gagak. Digantung pada seutas tali yang diikatkan pada tiang bambu di tengah sawah.  Iapun bergerak-gerak di tiup angin dan diterpa air hujan. Tentu awalnya dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung kecil macam Emprit, Peking, Cici ataupun Bondol agar jangan datang beramai-ramai menyerbu padi yang sedang menguning. Biasanya burung-burung kecil takut pada burung-burung pemangsa yang ukurannya lebih besar.

Burung-burung pemakan biji-bijian sejak jaman dulu dianggap sebagai hama bagi para petani. Berbagai upaya dilakukan untuk menghalaunya. Mulai dari membuat boneka orang yang didandani dengan baju, topi atau sarung tangan alias orang-orangan sawah (Scarecrow), sehingga jika burung melihat orang-orangan itu, diharapkan akan merasa terancam dan terbang. Apakah burung-burung itu akan merasa takut? Mungkin ya. Namun pernah juga saya  melihat ada burung yang malah bertengger di atas topi orang buatan itu.  Kelihatannya burung satu itu sudah tahu bahwa ia dibohongi.

Ada juga petani yang membuat klonongan, yakni tali-tali yang dibentangkan di atas sawah dan digantungi dengan bunyi-bunyian, sehingga jika ditarik dan digerakkan suaranya riuh ‘ klonong…klonong..klonongggg….dan burung-burungpun terbang ketakutan. Ini mungkin lebih efektif untuk mengusir burung.Namun masalahnya, petani tentu tak selalu punya waktu untuk menarik klonongan ini setiap saat.

Sangat menarik mengingat-ingat tentang cara petani menghadapi kawanan burung, karena semuanya tiba-tiba membuat saya sadar bahwa kebanyakan  cara yang dilakukan petani hanyalah untuk tujuan ‘menghalau’ bukan untuk menyakiti atau menangkap burung-burung itu. Cara yang sangat damai dan tanpa kekerasan.

Mata saya kembali tertuju pada burung-burungan itu yang bergerak-gerak tertimpa gerimis. Saat itu sudah pasti burung-burungan itu tidak bekerja, mengingat tanaman padi di bawahnya masih sangat muda dan hijau royo-royo. Belum ada tanda-tanda berbunga. Apalagi berbuah. Tidak ada burung pemakan padi yang tertarik datang.

Ia tidak berfungsi seperti yang seharusnya. Namun setidaknya telah berhasil menarik kenangan indah masa kecil saya saat hampir setiap hari  bermain-main di tengah sawah…

Hidup yang damai!

 

 

 

4 responses »

  1. kenangan orang2an sawah dan tarik tali kaleng berdenting yang meneduhkan.
    ‘Musuh’ petani padi kini ganti tikus jeng….modifikasi pengetahuan lokal untuk menanganinya.
    Salam

  2. orang-orang sawah dan tali yang ditarik dan berbunyi klonong-klonong juga akrab dengan masa kecilku, tapi yang sekretif diatas belum lihat,
    petani berusaha mengurangi tetapi tidak menyakiti burung *diingatkan kembali untuk berdamai dengan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s