Daily Archives: May 29, 2014

Aku, Anakku Dan Pentas Seni Sekolah.

Standard
Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Kalau ada hari tersedih yang pernah saya alami dalam hidup saya, salah satunya itu adalah hari kemarin.

Ceritanya dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Anak saya yang kecil memberi informasi bahwa sekolahnya akan menyelenggarakan sebuah Pentas Seni tahunan. Tapi kali ini akan sangat kolosal dan diadakan di Taman Mini Indonesia Indah. Bukan di sekolah. Mereka akan mementaskan Pinocchio!. Karena selama ini saya jarang bisa  menghadiri acara Pentas Seni sekolahnya dan jarang menontonnya beraksi di panggung, ia memohon kepada saya  agar kali ini saya mengambil cuti. Tentu maksudnya agar saya bisa menyaksikannya bermain di panggung. “Sekali ini saja, MaMama tidak boleh kerja di luar kota atau di luar negeri pas tanggal itu. Kalau disuruh kantornya, bilang nggak mau!“. Kata anak saya wanti-wanti.

Mendengar permintaannya itu saya merasa sangat trenyuh. Benar apa yang ia katakan. Selama ini saya terlalu sibuk. Sehingga jarang bisa menyaksikannya tampil di panggung. Aneh juga. Selalu ada saja kesibukan di kantor yang membuat saya tidak bisa hadir di sekolah setiap kali anak saya pentas. Sehingga kadang-kadang anak saya membanding-bandingkan saya dengan mama teman-temannya. “Mamanya orang-orang, selalu datang ke sekolah. Tapi mamaku sangat jarang”.  Katanya sedih. Memikirkan itu sayapun membulatkan tekad untuk mengambil cuti tanggal 28 Mei, kemarin. Boss saya sudah setuju dan sudah menandatangai ijin cuti saya. Itu beberapa bulan yang lalu.

*****

Ini cerita kemarin…

Minggu yang lalu boss saya mengatakan bahwa ia akan cuti dan pulang ke negaranya. Dan  tentunya meminta saya stand by di tempat selama beliau tidak ngantor. Dan seperti biasanya untuk urusan yang urgent dan butuh decision yang cepat saya harus konsultasi dengan bossnya boss saya yang berkedudukan di negara tetangga.  Oke. Tidak ada masalah.

Namun kemarin, saya diingatkan kembali akan janji menonton PenSi sekolah anak saya. Saya harus mengambil cuti hari ini. Toh juga ijin cuti saya sudah ditandatangani jauh hari sebelumnya. Jadi apa masalahnya? Saya berhak dong untuk tidak datang ke kantor?.

Tapi masalahnya ada banyak pekerjaan yang harus saya bereskan hari ini. Ada beberapa issue yang harus saya close case-nya hari ini.  Belum lagi ada beberapa brief dan proposal yang kena deadline hari ini.Waduuh! Sebenarnya urusannya jadi agak ribet ini.

Akhirnya setelah cross check kembali,  ternyata di undangan ada informasi bahwa PenSi akan berlangsung dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Ooh.. walaupun anak saya berangkat ke TMII pukul 9 pagi untuk gladi resik dulu, berarti  sebenarnya saya bisa berangkat sekitar jam 2-3 siang, agar bisa mencapai TMII sebelum jam 5 sore. Sebenarnya saya masih bisa ngantor dulu paginya, lalu nanti menyusul ke TMII langsung dari kantor. Rasanya tidak enak kalau saya memaksakan diri  mengambil cuti, sementara pekerjaan banyak  dan semuanya urgent. Dan boss lagi nggak ada pula.  Saya tidak mau juga memanfaatkan kesempatan tidak bekerja saat si boss tidak ada. Mungkin cutinya bisa saya switch ke hari lain.

Akhirnya aya memutuskan untuk ke kantor saja dulu paginya. Saya akan mengambil cuti setengah hari saja. Lalu saya akan pulang  selepas makan siang – kurang lebih jam 1 siang. Jadi masih keburu bagi saya untuk berangkat ke TMII dan menyaksikan anak saya manggung. Sayapun bekerja dengan anteng hingga pukul 12 siang, membereskan apa yang perlu saya bereskan.

Menjelang makan siang, saya teringat  bahwa hari ini anak-anak Management Trainee berada terakhir department saya dan saya terpikir mengajak mereka untuk makan siang terakhir bersama saya.  Kalau begitu, mungkin saya pulang agak  mundur sedikitlah. Pukul 2 siang masih terkejar.

Pukul 2 siang saya mau pergi, satu dua orang masuk ke ruangan saya “Bu, sebentar saja Bu. Ini saya perlu keputusan ibu..bla bla bla..” Mau tidak mau saya harus meladeninya. Okelah, saya mundur lagi pulangnya ke pukul 3 sore. Mungkin masih terkejar. Walaupun mepet.

Bersiap berangkat, lalu tiba-tiba bossnya boss saya yang berada di negara tetangga  meninggalkan pesan untuk mengajak skype call jam 4 sore. Penting dan urgent!.  Saya tidak bisa menolak. Karena memang itu urgent dan important dan merupakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab utama saya.   Lah ?! Akhirnya bubarlah semuanya!.

Suami saya mengatakan bahwa ia akan berangkat duluan saja kalau begitu. Ia tidak bisa menunggu saya lebih lama lagi.  Dan ia meninggalkan surat undangan dari sekolah untuk saya di atas meja piano.   Saya berusaha menghibur diri saya. Skype call barangkali hanya setengah – satu jam. Bilanglah saya berangkat dari kantor jam 5 sore. Perjalanan 1 jam ke sana, karena melawan arus. Mungkin saya bisa tiba di TMII pukul 6 sore. Telat se-jam mungkin nggak apa-apa.Anak saya memegang 2 peranan. Satu di depan dan satu di bagian akhir. Se-apes-apesnya tentu saya masih bisa melihat bagian belakangnya.

Perasaan saya menjadi galau. Karena ternyata, saya baru bisa keluar ruang meeting pukul setengah enam sore. Sedih!

Bergegas pergi, saya lalu mampir ke rumah dulu untuk mengambil undangan. Jika tidak tentu saya tidak akan diijinkan masuk ke Sasono Langen Budoyo. Jalanan ternyata sangat macet, tiba di rumah sudah pukul 7 malam.

Sopir bertanya apakah saya masih akan tetap mencoba ke Taman Mini?.  Ya!.  Saya kepalang janji kepada anak saya. Jadi saya harus pergi, walaupun kesempatan melihatnya di panggung sangatlah kecil. Saya masih berkeras  datang. Tol Bintaro kelihatan lancar, namun selepas tol Pondok Indah tiba-tiba semuanya mandek  dan merayap. Akhirnya ketika saya sampai di wilayah Pasar Minggu, suami saya mengirim pesan bahwa pementasan telah usai.

Saya tak mampu menahan kesedihan hati saya. Airmata saya mengalir. Sejenak rasa kesal, marah,sedih, nggak enak semuanya berkecamuk di kepala saya.  Apa yang harus saya katakan kepada anak saya? Ini benar-benar sebuah ketololan dan keteledoran fatal yang saya lakukan sehingga merusak janji penting pada anak saya.  Saya sangat menyesal. Mengapa saya tidak berusaha memaksakan diri tadi pagi untuk tetap mengambil cuti saja? Bukankah tidak setiap hari saya minta cuti?  Selain itu toh ijin cuti sebenarnya sudah saya kantongi? Dan toh juga kantor tidak pernah memaksa saya harus bekerja dan tidak mengambil cuti?  Mengapa saya sok merasa memiliki tanggungjawab tinggi terhadap pekerjaan jika pada akhirnya hanya menghancurkan harapan anak saya yang sudah ia kumpulkan sejak bertahun-tahun agar suatu kali bisa pentas di atas panggung ditonton oleh ibunya? Aduuh..saya sudah menghancurkan semuanya. Kebahagiaan saya dan kebahagiaan anak saya.

Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata saya. Dalam pikiran yang kusut masai, saya tidak bisa memfokuskan perhatian di jalan raya. Karena tidak fokus, salahlah saya memberikan arahan pada sopir dalam mengambil belokan dari tol menuju ke TMII. Harusnya masuk ke Taman Mini melalui belokan ke 3, persis setelah jembatan, sopir malah mengambil belokan ke dua yang mengarah ke Tol Jagorawi. Hadeh! Akhirnya terpaksa saya harus menyusuri jalan tol ke Bogor itu hingga ke Cibubur dan berusaha mencari pintu keluar agar bisa balik ke Jakarta. Hari sudah gelap. Saya tersesat di Cibubur!.

*****

Anak saya mengirim pesan. Mencoba menghibur saya.  Dia benar-benar seseorang yang memiliki big heart. Airmata saya mengambang membacanya. Membuat tulisan di BB menjadi kabur. Rasanya nyesel dan nyesek!.

Saya tahu bahwa saya harus mengulang kembali pelajaran saya tentang bagaimana menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan kehidupan keluarga dengan lebih baik.

Back to square one!.