Monthly Archives: June 2014

Tentang Kejujuran Uang Receh.

Standard

pink-lotus2Kemarin pagi, sambil jalan ke kantor saya sempat mampir di sebuah minimarket  untuk mengambil sedikit sisa uang buat belanja dapur hingga akhir bulan. Seusai mengambil uang, saya sekalian membeli 2 botol minuman Vitamin C  dan sekaleng teh bunga Chrysant. Karena takut kesiangan, saya terburu-buru membayar ke kasir.  Total harganya Rp 16 100. Saya merogoh sejumlah uang dari dompet dan mengangsurkannya kepada kasir.

Ketika menghitung uang yang saya bayarkan kepadanya,  saya melihat perubahan pada wajah dan mata kasir itu. Ia terlihat seperti kaget. Sejenak kasir itu tampak terdiam dan berhenti bergerak. Matanya tertuju pada uang saya yang sekarang ada ditangannya. Perubahan ekspresinya itu membuat saya jadi penasaran dan ikut melihat ke arah uang di tangan mas kasir itu. Ooh.. rupanya saya kelebihan membayar!. Ada empat uang lima ribuan,selembar uang ribuan dan sekeping logam ratusan.. Semuanya ada Rp 21 100. Jadi kelebihan lima ribu rupiah.  Itu rupanya yang membuat si mas kasir tertegun dan berubah ekspresinya.

Salah membayar !. Beberapa kali saya melihat kejadian salah membayar terjadi pada pelanggan Supermarket lain juga. Kelebihan atau kekurangan. Umumnya kasir akan menegur jika uang kita kurang, atau mengembalikan jika uang kita lebih. Karena cukup seringnya melihat kejadian seperti itu, sayapun hanya menunggu saja. Saya pikir ia akan segera mengatakan bahwa uang saya kelebihan Rp 5 000 dan akan segera mengembalikannya kepada saya. Tapi ternyata, alih-alih mengembalikan kelebihannya, si mas kasir itu malah memasukkan semua uang itu ke laci mesin kasir, memberi struk belanjaan kepada saya dan berkata ” Uangnya pas ya, Bu?”.

“Hah?! Bukannya uang saya tadi kelebihan lima ribu ya?” tanya saya spontan.  Mendengar pertanyaan saya, kasir itu berkata “O ya, benar Bu” lalu ia mengembalikan uang saya yang lima ribu rupiah itu. Wajahnya tampak memerah. Terlihat agak malu.

Sambil berjalan keluar dan masuk ke kendaraan saya jadi memikirkan kelakukan kasir itu. Mungkin ada yang berkata, hadeh..duit lima ribu saja kok dipermasalahkan. Bagi saya masalahnya bukan soal nominalnya yang lima ribu rupiah itu- karena uang bisa saya cari dengan baik selama saya masih mampu bekerja. Dan terus terang saya juga bukan orang yang mengutamakan uang dalam hidup saya. Tapi saya menyorot soal kejujurannya dalam hal keuangan. Kok bisa ya? Saya sungguh terperanjat akan kelakuan mas kasir itu.  Sama sekali tidak menyangka kalau ia akan melakukan perbuatan tidak jujur seperti itu. Sangat sayang!

Malam hari menjelang tidur, saya sengaja menceritakan hal ini kepada anak saya agar ia mendapatkan gambaran, betapa nilai kejujuran sangat penting bagi saya dan keluarga. Anak saya yang mendengar cerita saya tentang itu mencoba menetralisir, “Barangkali ia tidak nyadar kalau uangnya Mama kelebihan, Ma!“. katanya.

Itu sesuatu yang tidak mungkin. Karena mama melihat sendiri bagaimana ekspresi wajahnya saat menerima uang itu. Dan ia melihat ke uang itu cukup lama sebelum memasukkannya ke laci. Jadi ia sangat sadar kalau uangnya sebenarnya lebih. Dan ia juga mengatakan itu, kok” kata saya.

Lalu saya meneruskan,  bahwa kejujuran itu harus dibangun dari hal-hal kecil. Dipupuk dari uang receh seratus rupiah.  Jika kita terbiasa dengan sikap jujur terhadap uang receh, maka kita akan terbiasa berbuat jujur dalam keuangan. Satu rupiahpun jika memang bukan milik kita, jangan pernah diambil. Kembalikan kepada yang berhak.

Sebaliknya jika kita membiarkan diri tidak jujur dengan uang receh ini, mengabaikannya, maka lama-lama kita akan terbiasa mengambil hak yang bukan menjadi hak kita. Dari uang seratus yang kita pikir tidak ada artinya, kita ambil,  lalu berikutnya menjadi seribu yang berani kita ambil, selanjutnya menjadi lima ribu, menjadi seputuh ribu, lalu seratus ribu, sejuta, puluhan juta, ratusan juta bahkan semilyar…jadilah kita koruptor. Mengambil uang yang bukan menjadi hak milik kita. “Jika kita tidak mendisiplinkan diri untuk jujur dengan uang receh,  maka ketidak jujuran mungkin kita lakukan dalam jumlah yang lebih besar di kemudian hari” kata saya kepada anak saya.

Tapi aku kan selalu mengembalikan sisa uang kalau mama suruh belanja. Aku tidak pernah mengambil satupun ” kata anak saya. Saya membenarkan, anak saya memang selalu mengembalikan uang receh sisa belanja utuh -utuh.  Tak pernah diambil sekepingpun. Lalu saya menjelaskan kepadanya,  mengapa saya menceritakan kejadian ini kepadanya, bukan untuk menuduhnya atau mencurigainya melakukan ketidak-jujuran, tetapi  hanya untuk mengingatkan saja, bahwa betapa pentingnya nilai kejujuran bagi saya dan keluarga.

Anak saya hanya terdiam lalu mencium pipi saya dan menarik selimutnya lebih ke atas. “Selamat tidur, mama..” katanya. Ia memejamkan matanya. Sambil mengusap-usap punggungnya, saya menunggunya tertidur pulas. Berharap ia akan selalu mengenang percakapan kami dan membawa nilai-nilai kejujuran selalu dalam aliran darahnya di seluruh kehidupannya ke depan.

 

 

Advertisements

Fine Art Cards : Parrots Of Australia.

Standard

Seorang teman yang baru kembali dari Australia menghadiahkan saya Fine Art Cards tentang 4 jenis Burung Nuri Australia. Wah ..terimakasih banyak. Kebetulan banget saya suka melihat gambar burung. Dan kebetulan banget pula saya suka pada lukisan. Beberapa saat setelah kartu itu saya terima,  saya mulai mengamat-amati kwalitas lukisan burung yang ada di kartu itu.  Seketika saya sadar, betapa tinggi kwalitas karya seninya.

Fine Art Cards

Di balik kartu itu saya melihat ada sedikit data tentang pelukisnya. Jeremy Boot namanya, yang membuat saya ingin tahu lebih lanjut dan akhirnya mampir di website-nya “The Art of Jeremy Boot”.  Jeremy ini rupanya memang seorang “Wildlife Artist” asal Australia yang tentunya banyak melukis tentang kehidupan burung-burung di alam liar Australia. Jeremy banyak melakukan observasi tentang tingkah laku burung-burung ini dan lalu menuangkan apa yang ia lihat dalam kanvas sebagai lukisan yang sangat hidup, indah dan penuh warna.  Saya sendiri pada awalnya menyangka lukisan itu adalah foto. Karena sangat mirip dengan aslinya.

Lahir di Adelaide pada tahun 1948 – pengalaman camping untuk sebuah ekspedisi bersama ayahnya di masa kecillah yang membuatnya sangat menyukai kehidupan alam liar.  Karya-karya indahnya yang nyaris hiidup ini mengundang para penerbit untuk memintanya mengisi ilustrasi buku-buku burung yang diterbitkan di Australia seperti misalnya ” Nocturnal Birds of Australia – 1977″ lalu juga buku “Birds of South Australia -1986” dan yang terakhir adalah mengisi ilustrasi untuk The field Guide “The Birds of Australia”.  Jeremy juga kelihatannya memenangkan beberapa award. Saat ini Jeremy bekerja dari studionya di Adelaide, South Australia.

Itu sekilas mengenai pelukisnya.  Dan ini adalah beberapa karya lukisnya yang ada di kartu yang saya terima.

1. Eastern Rosella .

Eastern Rosella

Eastern Rosella

Burung Nuri yang berwarna kinclong ini adalah salah satu dari 8 jenis burung Rosella yang asli benua kangguru dan Tasmania. Ia disebut dengan nama Eastern Rosella (Platycercus eximius).  Burung ini memliki kepala dan dada yang berwarna merah terang. Pipi berwarna putih dengan paruh berwarna putih agak krem serta mata berwarna coklat. Dada bagian bawahnya berwara kuning dan perutnya berwarna hijau.  Bulu di punggungnya berwarna hitam dengan bercak berwarna kuning terang, lalu diujung-ujung sayapnya ada warna biru.  Ekornya panjang berwarna hijau pada bagian atasnya, serta kebiruan pada bagian bawahnya.Pangkal ekornya berwarna merah berstrip kuning. Wah..warnanya heboh dan ngejreng sekali.

Menurut keterangan Jeremy Boot, burung ini jumlahnya sangat banyak dan bahkan mudah ditemukan di daerah perkotaan. Suka membuat sarang di lubang-lubang pohon.

2. Pink Cockatoo.

Pink Cockatoo

Pink Cockatoo

Pink Cockatoo atau jika dibahasa Indonesia-kan menjadi Burung Kakatua Merah Jambu (Lophochroa leadbeateri), sering juga disebut dengan Major Mitchell’s Cockatoo. Warnanya sungguh menarik. gabungan warna pink pucat dengan warna putih sangat serupa dengan burung Kakatua Maluku kita (Cacatua mollucensis). Namun jika kita perhatikan, jambul besar dari burung Kakatua Maluku kita biasanya hanya terdiri atas warna tunggal, yakni merah jambu terang. Sedangkan pada Pink Cockatoo milikAustralia ini, warna jambulnya kelihatan merupakan campuran warna pink terang dan jingga.  Burung ini juga bersarang pada lubang-lubang pohon.

3. Galah.

Galah

Galah juga dikenal dengan nama Rose Breasted Cockatoo alias Kakatua Dada Merah Jambu (Eolophus roseicapilla). Burung ini sungguh sangat cantik dan anggun warnnanya. Dengan dada berwarna merah jambu terang dan punggung berwarna kelabu. Jambulnya berwarna pink pucat. Saya belum pernah melihat burung kakatua jenis ini di Indonesia.

4. Rainbow Lorikeet.

Perkici Pelangi

Rainbow Lorikeet alias Burung  Nuri Pelangi atau Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus)- disebut demikian tentu karena warna-warni bulunya yang serupa pelangi. Karena burung ini juga ada di Indonesia, maka mungkin burung ini adalah yang paling saya kenal diantara 4 jenis gambar burung di kartu ini. Burung yang suaranya ribut ini memiliki warna-warna yang sangat cerah. pipi dan kepala serta perut yang biru. Dada merah bercampur jingga dan kuning cerah.Punggung hijau. Paruh merah.

Sangat senang dan berterimaksih bahwa saya sudah menerima kartu ini. saya salut pada Jeremy Boot pelukisnya, yang  mampu memadukan pengetahuan tentang burung-burung liar di alam bebas ini dengan seni.

 

 

 

 

 

 

Tegalan Yang Tersisa.

Standard

ladangSalah seorang Satpam di gerbang depan perumahan bercerita bahwa di sekitar tempat tinggalnya masih banyak sawah,sehingga masih banyak jenis burung liar yang berkeliaran. Saya terpesona mendengarnya. Sawah? Di Bintaro?Lahan pertanian yang sangat sulit saya lihat belakangan ini. Karena sebagian besar sudah dirombak jadi areal perumahan. Satpam itu juga terlihat memiliki pengetahuan yang luas tentang burung-burung yang banyak berkeliaran di sekitar Bintaro. Dan tahu banyak mengenai sejarah daerah itu sebelum dirombak dan dijadikan perumahan. Tentu saja saya percaya, karena ia memang lahir sebagai penduduk Betawi asli di situ. Karena saya juga sangat tertarik akan kehidupan burung-burung liar, maka saya senang ngobrol dengannya. Suatu kali suami saya bertanya apakah kami boleh bermain ke rumahnya? Ingin melihat sawah dan melihat-lihat burung. Ia mempersilakan kami datang.

Demikianlah,maka pada akhir pekan kami janjian akan ke sana. Karena kebetulan kami libur dan pak Satpam-pun sedang libur, habis jaga malam. Anak saya yang kecil ingin ikut. Sayang hujan turun sangat deras. Sehingga kami baru bisa berangkat pukul 3 sore ketika hujan mulai reda. Tidak terlalu sulit mencari rumahnya.

Seperti halnya kebanyakan rumah penduduk Betawi, halamannya masih cukup luas untuk memelihara ayam. Namun karena hujan, halamannya jadi becek Di sekelilingnya masih banyak pepohonan hijau yang tinggi. Ada beberapa ekor burung Cerukcuk dan burung Madu tampak terbang. Lalu setelah itu saya melihat lagi seekor burung Tekukur. Saya bisa melihat, populasi burung bebasnya kelihatan lumayan banyak. Kami dikenalkan dengan ibu, istri dan anaknya.

Mengobrol sebentar lalu diajak berangkat ke sawah yang letaknya di sebelah rumahnya. Sedikit meloncati bekas pagar yang rendah, dan lahan yang ditanami pohon bambu, lalu tibalah di kami di sawah. Ooh..rupanya bukan sawah tanaman padi seperti yang ada dalam pikiran saya. Daripada Sawah, mungkin lahan ini sebenarnya lebih tepat kalau disebut dengan Tegalan. Karena sebagian besar lahannya kering, ditanami singkong dan pepaya. Walaupun di sana-sini saya lihat juga ada lahan yang dibedeng-bedeng ditanami bayam dan kangkung dan disekelilingnya dibuat parit untuk penyiraman.  Ada bagian lain dari lahan itu yang masih berbentuk rawa kecil. Ia bercerita masih sering menemukan burung ayam-ayaman atau burung mandar di situ. “Larinya sangat cepat. Saya belum pernah bisa menangkapnya” katanya.

Tegalan itu sangat becek. Saya berjingkat-jingkat berjalan berusaha meminimalisir jumlah lumpur yang menempel di sandal yang saya gunakan.  Seorang bapak tua terlihat sedang berjongkok  mencabuti bayam di tengah gerimis. Ia menggunakan capil lebar. Satpam berkata bahwa orang tua itu adalah babenya. Ia mencabut sayuran untuk dipasarkan keliling di kampung itu dengan sepeda. Entah kenapa hati saya merasa trenyuh,melihat orang tua seumur itu masih bekerja dengan tekun.  Saya jadi terbayang sepeda dengan dua buah keranjang besar yang tadi saya lihat di rumah mereka. Cukup sering saya melihat engkong-engkong Betawi yang sudah renta berkeliling menjajakan hasil panennya, entah itu sayur mayur, singkong, pisang atau nangka. Namun baru kali ini saya melihatnya bekerja di ladang dan memetik sayurannya sebelum dijajakan esok hari berkeliling kampung.

Saya melirik ke hasil panennya sore itu.Kelihatan tidak seberapa. Paling banter hanya sekitar 15- 18 ikat bayam. Dan mungkin sekitar 15-18 ikat kangkung juga.   Akhirnya saya berkata, bahwa saya ingin membeli hasil panennya hari itu. Setelah dihitung ternyata memang ada 15 ikat masing-masing. Saya akan ambil semuanya, selain untuk saya masak di rumah, juga bisa saya bagi-bagikan kepada para tetangga saya.

Pak satpam berkata, bahwa lahan itu dulunya adalah milik babenya. Namun sekarang kepemilikannya sudah pindah kepada Bintaro Jaya. Namun karena belum digunakan, pihak Bintaro masih mengijinkan para petani di situ untuk mengelola lahannya. Kakek itupun bercerita, bahwa tanah itu dilepas sudah lama sekali. Puluhan tahun yang lalu. “Waktu itu harganya masih seribu lima ratus rupiah per meter” katanya. Saya tidak terbayang harga tanah saat ini di Bintaro. Tentunya tidak akan dijual. Kalaupun dijual, sudah pasti dalam bentuk properti seperti rumah ataupun ruko yang bernilai miliaran rupiah.

Saya memandang lahan-lahan luas yang masih belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Lahan-lahan yang tersisa. Lalu rumah-rumah penduduk Betawi asli yang berusaha bertahan dari pergerakan roda  pembangunan.

Gelap merangkak mengisi sore. Ada banyak suara burung. Namun sangat sulit untuk melihatnya. Saya pikir kami datang tidak pada saat yang tepat untuk memantau burung. Mungkin lain kali sebaiknya saya datang lagi saat lahan tegalan kering tidak ada hujan, dan lebih bagus lagi di pagi hari. Kami memutuskan untuk pulang.

Pak Satpam memberikan oleh-oleh tambahan kepada kami. Singkong dan pepaya yang ia baru petik. Pantes saja tadi ia sempat menghilang sebentar. Lalu anak saya juga ingin membeli anak ayam. Waduuuh! Banyak juga bawaan kami. Saya membayarkan sejumlah uang yang menurutnya terlalu banyak. Tapi sesungguhnya saya tahu,  bahwa nilai uang itu tidak melebihi dari jumlah uang yang harus saya keluarkan jika saja saya membeli sayur mayur, singkong dan pepaya itu di Supermarket. Belum plus anak ayamnya.

Terlebih lagi,  persaudaraan yang tulus yang mereka tawarkan kepada kami sekeluarga bukanlah hal yang bisa dibeli dengan uang. Tiada tara harganya.

Cerita Si Tukang Bubur Ayam.

Standard

Bubur ayamPagi ini, karena sisa nasi semalam yang dijadikan Nasi Goreng jumlahnya tidak memadai untuk dikonsumsi olehseluruh keluarga, maka saya memutuskan untuk sarapan bubur ayam saja.  Belinya tentu di tukang bubur ayam yang lewat di depan rumah. Sebenarnya di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 orang tukang bubur ayam. Yang pertama adalah yang manteng di depan ruko. Yang satunya lagi adalah yang berkeliling dengan sepeda motor.

Tukang bubur yang pertama,  sudah manteng  di perumahan ini barangkali sejak 5 tahun terakhir ini. Model buburnya mirip dengan bubur ayam Cirebon. Terdiri atas Bubur, kuah, kacang kedelai goreng, suwir ayam, irisan daun bawang -seledri, kecap, kerupuk dan sambal. Terus ada sate hati-rempela- usus- telor puyuh. Saya tidak terlalu nge-fans dengan bubur ini. Terutama pada kuah dan sambelnya. Menurut saya banyak Bubur Cirebon lain yang jauh lebih enak dari bubur ini. Walaupun harus saya akui, bahwa pelanggan tukang bubur ini sebenarnya lumayan banyak juga.  Berarti sebenarnya enak kan?

Lalu tukang bubur yang ke dua. Yang berputar-putar setiap pagi dari satu blok ke blok yang lain di perumahan, adalah tukang bubur yang sudah berjualan di sini sejak lebih dari  15 tahun. Mungkin mendekati 20 tahun.  Buburnya berbeda. Komposisinya kurang lebih begini: bubur,ayam suwir, tongcai, irisan cakwe, irisan daun seledri, sambal dan kerupuk. Sambelnya adalah sambel kacang yang enak yang membuat keseluruhan rasa bubur ini menjadi lebih enak dari bubur yang pertama – tentu saja ini menurut saya lho ya. Belum tentu menurut orang lain.

Sambil menunggu ia menyiapkan, saya bertanya kepadanya,dimanakah ia tinggal? “Di Bekasi, Bu” jawabnya. Hah??!!. Alangkah terkejutnya saya. Wow! Bekasi! Jauh banget ya?  Pantesan ia selalu mengenakan bandana batik segitiga yang dikalungkan di lehernya. Rupanya itu dipakai untuk menutup hidungnya agar tidak terlalu banyak menghirup polusi udara saat berkendara melintasi  Jakarta dari arah Bekasi ke Tangerang.

Ada semacam perasaan tidak enak di hati saya. Mengapa setelah nyaris dua puluh tahun mengenalnya, saya baru bertanya. Kelihatan betapa cuek dan tidak perdulinya saya terhadap lingkungan sekitar saya.  Tapi entah kenapa saya merasa pernah tahu bahwa tukang bubur ini tinggalnya tak jauh-jauh dari perumahan ini juga. Lalu pelan-pelan saya bertanya  “Dulu bukannya tinggal di dekat sini ya? Atau dari dulu memang tinggal di Bekasi?” tanya saya. “Ya, Bu. Dulu waktu belum berkeluarga saya ngontrak di dekat sini. Tapi setelah berkeluarga, saya  pindah ke Bekasi ke rumah istri saya” katanya. Oooh. Saya merasa sedikit lebih lega. Setidaknya saya tidak secuek bebek.

Nah, pertanyaan berikutnya, mengapa ia tidak mencari pelanggan baru saja di daerah Bekasi sana saja? Ngapain jauh-jauh dari Bekasi ke TangSel sini  hanya untuk berjualan bubur?

Ia lalu bercerita bahwa jumlah pelanggannya sudah terlalu banyak di wilayah Bintaro dan sekitarnya sini dan ia tidak mau meninggalkan pelanggannya begitu saja. “Mereka sudah cocok dengan rasa bubur ayam saya. Dan saya juga sudah hapal selera mereka.   Ada yang suka banyak sambal, ada yang tidak suka pedas, ada yang mau cakwenya yang banyak, ada juga yang mau buburnya yang banyak. Beda-bedalah Bu. Jumlahnya juga sudah sangat banyak. Tidak mungkin saya menghilang begitu saja dari Bintaro. Soalnya kalau tidak jualan sehari saja, banyak yang menanyakan.” katanya sambil menambahkan sambel ke bubur pesanan saya. Ooh..rupanya ada semacam ikatan emosi antara pelanggan dan tukang bubur ini. Ikatan yang tidak mau saling kehilangan.

“Mencari pembeli baru di Bekasi mungkin sebenarnya tidak telalu sulit, Bu.  Tapi perlu waktu lama untuk membuat pembeli di Bekasi mau berlangganan kepada saya.  Jadi, di Bekasi saya punya pembeli, tapi kalau di Bintaro saya punya pelanggan. Kalau saya muter-muter di Bintaro sini, sudah pasti dagangan saya akan habis sebelum tengah hari. Kalau di bekasi belum tentu.  Makanya demi pelanggan, lebih baik saya berangkat ke sini setiap pagi . Buat saya melayani pelanggan yang sudah lebih pasti membeli lebih penting daripada mencari pembeli baru” tambahnya.

Lebih lanjutnya si Tukang Bubur bercerita kepada saya bahwa setiap hari ia bangun pukul dua dinihari untuk mempersiapkan dagangan sehingga bisa berangkat jam 4 subuh-subuh dari Bekasi agar bisa sampai di Bintaro sekitar jam setengah enam atau jam enam pagi. Itu dilakoninya setiap hari. Wow!  Setelah saya membayar, tukang bubur itupun pergi dengan motor bebeknya.

Sambil memandangi punggungnya dari kejauhan, saya jadi memikirkan kata-katanya itu. Sangat jelas terlihat bahwa ia memang sangat memahami pelanggannya. Dan sangat mengutamakan pelanggannya.

Pembeli memang beda dengan Pelanggan. Mencari pembeli bisa saja mudah, namun mengubahnya menjadi pelanggan belum tentu pekerjaan mudah. Oleh karena itu, mempertahankan pembeli yang sudah menjadi pelanggan setia kita jauh lebih penting daripada mencari pembeli baru dan membuatnya menjadi pelangggan kita.

Sekarang saya baru tahu, mengapa tukang bubur ini selalu membunyikan klakson setiap kali ia lewat di depan rumah saya. Ia selalu tersenyum ramah, tak perduli saya membeli ataupun tidak. Dan jika saya membeli, tanpa perlu saya sebutkan lagi, ia selalu hapal bahwa saya memerlukan sambal lebih banyak. Demikianlah caranya ia membuat saya senang dan suka membeli bubur ayamnya. Barangkali saya adalah salah satu orang yang dihitungnya sebagai salah satu pelanggannya.

 

 

Liebster Award.

Standard

image31

Saya mendapatkan Liebster Award dari 2 sahabat, Indonesia In My Pocket dan Rindu Tanah Basah. Terimakasih banyak untuk telah memilih saya. Dan tentunya sebelum menerima award ini, saya akan melakukan tugas saya dengan baik yakni menceritakan 11 fakta tentang diri saya dan menjawab  pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan baik.

11 Fakta tentang diri saya.

1. Saya seorang ibu rumah tangga yang bangga dengan 2 orang anak laki-laki yang sangat baik dan menyenangkan.  

2. Saya seorang pemasar dan mendapatkan penghasilan saya dengan memasarkan produk- produk perawatan dan fragrance. 

3. Saya juga seorang dokter hewan, dan sangat menyukai dunia binatang terutama burung, ikan dan kupu-kupu.

4. Saya mencintai keluarga besar saya dan merasa tidak ada tempat yang lebih aman di dunia selain di tengah keluarga saya.  

5. Saya adalah orang yang sangat mempercayai bahwa manusia di muka bumi ini dilahirkan setara, sehingga bagi saya tidak berlaku klaim yang mengatakan bahwa seseorang lebih tinggi derajatnya dari yang lain hanya karena harta, kasta, pangkat, kedudukan, agama, suku, bangsa ataupun attribut-attribut lainnya yang berbeda.

6. Saya penyuka lukisan dan karya -karya seni yang lain, dan saya suka menggambar. 

7. Saya menyukai karya-karya sastra dan saya suka menulis.

8. Saya menyukai alam lepas dan senang berada di pematang sawah, di ladang, di tepi sungai, ditepi pantai dan tepi danau. 

9. Saya menyukai pepohonan dan bunga-bunga, dan saya suka berkebun.

10. Saya menyukai keseimbangan dan selalu berusaha keras menyeimbangkan kehidupan saya dengan sebaik-baiknya.

 11. Saya menyukai banyak bidang, tapi belum pernah menjadi ahli bahkan di salah satu bidangpun. 

 

Menjawab 11 pertanyaan dari Indonesia In My Pocket:

1. If you had one choice of any city in the world (beside those in your own country) that you can spend 1 month in, all expenses paid where would you go and why?| Kalau bisa milih satu kota diluar negeri untuk menghabiskan 1 bulan dengan gratis, mau kemana dan kenapa? Saya tidak begitu menyukai kota. Saya lebih menyukai alam. Tapi jika saya boleh memilih pergi dengan gratis ke luar negeri, saya ingin ke Kepulauan Galapagos untuk menyusuri jejak Charles Darwin. 
2. What book you love so much that you have re-read at least twice, why?| Buku apa yang kamu suka sampai baca dua kali, dan kenapa?Ada beberapa buku yang saya sukai dan baca lebih dari sekali, misalnya Musashi karya Eiji Yoshikawa, Wanita karya Paul I Wellman, buku-buku Harry Potter, buku-buku tulisan Paulo Coelho, buku-buku karya Karl May, tulisan-tulisan Kahlil Gibran, Bhagawad Githa, karya-karya Rhonda Byrne, tulisan Robin Sharma dan masih ada beberapa lagi . 

Tapi buku yang benar-benar saya baca sampai sobek sobek adalah buku Field Guide to The Birds of Java and Bali karya John McKinnon. Kenapa? ya..karena saya sangat menyukai burung dan buku itu menyajikan persis apa yang ingin saya ketahui.
3. If you are a mythical creature what would you be?| Kalau kamu mahluk gaib/ dari dunia fantasi, kamu jadi apa?Agak sulit membayangkan kalau diri saya menjadi mahluk gaib. Tapi jika saya harus memilih diantara jenis mahluk gaib yang pernah saya baca, barangkali saya akan memilih menjadi Griffin atau Gryphon, mahluk berwujud singa dan bersayap rajawali. Karena mahluk ini sangat perkasa di darat dan di udara, selain juga digambarkan sebagai mahluk yang lurus hatinya dalam membela kebenaran. Lebih suka lagi karena ternyat Harry Potter-pun memilih Griffindor. 
 4. Tell us 3 things you love about where you are living at the moment| 3 hal yang kamu sukai dari tempat tinggal mo saat ini.3 hal yang saya sukai mengenai tempat tinggal saya sekarang adalah:

1. Tetangga dan orang-orang di sekitar saya baik-baik, ramah dan tidak segan saling membantu.

2. Sangat jarang terdengar peristiwa kriminal, jadi saya merasa sangat aman.

3. Di belakang tempat tinggal saya ada sungai dengan banyak pohon-pohon, sehingga saya bisa melihat burung-burung dan kupu-kupu bebas berkeliaran. 
5. What was you favourite photo you have taken the last year that you put up in your blog or any social media? Why? (can you put it up?)| Foto favorit yang kamu ambil di setahun terakhir ini apa dan kenapa?

Graphium agamemnon

Saya suka foto ini karena ketika melihatnya saya merasakan sebuah kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian pagi. Keselarasan alam yang sangat menenangkan jiwa. 
6. What food you really dislike? Why? | Makanan apa yang kamu paling gak suka?Makanan yang dingin. Misalnya cold salad,- karena membuat perut saya kedinginan dan merasa tidak nyaman.
7. What skills or weird thing would you show off if you were to be put on a talent show?| Bakat apa yang paling kamu banggakan? Saya tidak punya bakat yang hebat sekali untuk ditunjukkan di panggung. Tapi jika harus memilih, saya akan memilih menari.
8. Around you when you are reading this question, is there anything red? if there is what is it?| Disekitar kamu saat ini ada benda berwarna merah? Apakah itu?Ada. Mouse dariMicrosoft, Watercolour Pencil’s Box.
 9. What was the proudest moment in your life? | Saat/ masa yang paling kamu banggakan sejauh ini?Saat melahirkan. Saya bangga menjadi seorang ibu.
10. Name 3 songs that makes you happy and smile| Sebutkan 3 lagu yang bisa bikin kamu senang dan tersenyum. 1/. My Favorite Things -the sound of music – karene sangat “healing”. Saya menyanyikannnya jika saya sedang sedih, sedang down dan jika mendengarkan/menyanyikan lagu ini entah kenapa saya mendapatkan kembali semangat saya. 2/. Rayuan Pulau Kelapa – lagu ini selalu membuat saya terharu dan membangkitkan rasa cinta saya pada tanah air yang sedemikian dalam. I love my Indonesia. 3/ Welcome to My Paradise – Steve and The Coconut, karena mengingatkan saya akan Bali, kampung halaman saya – where the sky so blue, where the sunshine so bright..

11. What is your favourite quote? | Kutipan favourite kamu apa? “your mind is like a parachut, it only works if it is open” – Anthony J. D’Angelo.

 

Jawaban saya atas 11 pertanyaan dari Pak Rahmat (Rindu Tanah Basah)

1. Sejak kapan Anda nge-blog dan di mana? Saya ngeblog sejak Desember 2010. Ya di blog ini : https://nimadesriandani.wordpress.com/
2. Apa manfaat nge-blog menurut Anda?Banyak ya. Mulai dari melampiaskan hobby nulis, berbagi cerita dan pengalaman, hingga mencari teman di dunia maya.
3. Apa impian terbesar anda? Saya ingin kembali tinggal di kampung, memiliki peternakan dengan fasilitas teknologi yang memadai.
4. Tempat mana yang paling ingin anda kunjungi untuk berlibur? Saya selalu ingin pulang kampung (Bali) jika punya cuti liburan.
5. Siapa orang yang ingin sekali anda jumpai?Bapak dan ibu saya – sayang sekali beliau sudah wafat.

6. Siapa orang yang paling berjasa dalam hidup anda? Bapak & Ibu saya.

7. Kenangan apa yang paling membekas di hati anda? Dengan Bapak – obrolan-obrolan yang bermakna  dengan beliau (biasanya tentang filosofi, kehidupan dan keTuhanan) saat diajak kerja di ladang,memetik bunga cengkeh atau memancing bersama di sungai.  Dengan ibu- petuah-petuah tentang ethos kerja, bisnis dan menangani permasalahan sehari-hari saat diajak menjemur padi bersama agar kering dan  bisa digiling dan dijadikan beras atau saat disuruh membantu mengulek bumbu di dapur.
8.Apa judul buku atau film yang paling berkesan bagi Anda?jawaban sama seperti di atas tentang buku.
9. Makanan apa favorit kamu ?Sate Lilit – masakan Bali.
10. Tempat mana yang paling indah dan wajib kita kunjungi? Menurut saya tempat yang indah itu di kampung saya di Kintamani -Bangli, Bali. Yuk berkunjung!
11.Apakah pekerjaan anda sesuai dengan disiplin ilmu yang anda ambil ketika sekolah dulu? Jika tidak apakah anda menyesalinya ?Tidak sesuai. Saya tidak terlalu menyesalinya, karena buat saya kecintaan saya terhadap hewan (alasan saya kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan) sama sekali tidak hilang dan tidak terganggu oleh cara saya mendapatkan uang untuk melanjutkan hidup (pekerjaan saya sebagai seorang pemasar).  Saya bangga menjadi seorang dokter hewan yang bisa memasarkan. Dan sebaliknya saya bangga menjadi seorang pemasar yang menguasai ilmu kedokteran.

 

 

Cekakak Jawa, Bertandang Ke Ladang Kacang.

Standard

Cekakak Jawa 8Orang bilang, mujur terkadang datang tanpa diundang. Nah, sungguh beruntung, mujur itu datang kembali pada saya. Ini masih di Sukabumi di rumah ibu mertua saya. Masih di belakang rumahnya. Masih dalam rangka saya  menunggu jemuran pakaian mengering.

Saya memandang lepas ke belakang. Berjarak sekitar 400 meter dari tempat saya berdiri, di sana ada sebidang lahan yang ditanami kacang. Tumbuhnya sangat subur. Daunnya rimbun, hijau royo-royo. Batangnya membelit tiang-tiang bambu yang dipancangkan. Sungguh damai hati ini memandangnya. Indonesia tanah airku yang memang benar-benar subur!.

Sedang berpikir-pikir tentang betapa suburnya tanah di sini, seekor burung berwarna biru  tampak datang  terbang dari kejauhan dan siuuuuuuut…ia menclok di salah satu tiang penyangga pohon kacang itu. Pas di sisi yang kelihatan dari arah saya berdiri. Walaupun jaraknya jauh. Tapi mata saya masih lumayan bisa menangkap gerak-geriknya. Darah saya benar-benar terasa tersirap. Sungguh tak pernah saya duga, ternyata saya masih bisa melihatnya di sini.

Itu burung Cekakak Jawa!. Sangat jelas kelihatan paruhnya yang besar berwarna merah menyala. Demikian juga dengan kakinya. Merah terang sangat jelas dari kejauhan. Lalu tubuhnya, dada dan perut serta punggungnya berwarna biru terang metalik. Sayapnya berwarna biru muda yang sangat cerah. Lehernya merah kecoklatan dan kepalanya berwarna coklat.

Benar-benar seperti mimpi. Saya mengucek-ucek mata saya. Sulit mempercayai apa yang saya lihat. Tapi saya memang masih melihatnya terbang dan hidup di alam bebas. Sebelumnya saya ingin sekali bertemu burung ini di alam bebas setelah barangkali 35 tahun saya tak pernah melihatnya sedang terbang mengejar mangsa. Terakhir kali saya melihatnya terbang bebas ketika saya masih kanak-kanak.  Berikutnya hanya melihatnya di Kebun Binatang atau di Taman Burung.

Burung itu tampak terdiam lama tidak melakukan apa-apa. Hanya sekali-sekali menengokkan kepalanya, lalu pandangannya lurus kembali ke depan. Diam mematung seolah sedang berpikir. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Saya mengambil kamera dan memotretnya. Sayang karena jaraknya sangat jauh, foto yang saya dapatkan tidak sejelas foto Burung Raja Udang Meninting yang sudah sempat saya ceritakan sebelumnya.

Cekakak Jawa 3Burung Cekakak Jawa alias Javan Kingfisher (Halcyon cyanoventris), masih sekeluarga dengan jenis burung Raja Udang /Kingfisher yang lain. Hanya saja, burung Cekakak Jawa ini  lebih suka berburu serangga seperti belalang dan capung, sedangkan saudaranya Raja Udang lebih suka berburu ikan dan udang. sehingga para ilmuwan mengelompokkan Cekakak Jawa ini dalam group Halcyonidae (Tree Kingfishers), sementara Raja Udang Meninting ke dalam group Alcedinidae (River Kingfishers).

Burung ini termasuk berukuran sedang, sekitar 25cm- lebih besar dari burung Raja Udang Meninting. Jika terbang, kita bisa melihat ujung sayapnya yang putih bersih indah sekali.

Namun sayang sekali, burung berbulu indah  ini populasinya juga semakin menurun dari tahun ke tahun.

Anggrek Liar Di Batang Bunga Soka.

Standard

Anggrek liar 1Saya menemukan anggrek baru! Species baru! Setidaknya bagi saya. Karena sebelumnya saya tidak pernah melihat jenis anggrek ini dimanapun dalam hidup saya.

Itu terjadi pada suatu pagi, ketika saya memergoki anak saya yang kecil sedang mencoba mengait-ngait batang bunga Soka di halaman rumah ibu mertua saya di Sukabumi dengan sebilah bambu agar batangnya merunduk. “Pengen melihat sarang burung, Ma. Ada telornya nggak?” katanya ketika saya menegur mengapa ia melakukan itu. Tentu saja saya melarang ia melakukannya. “Jangan dikait-kait begitu. Nanti sarangnya jatuh. Kan  kasian anak-anak burung itu”  kata saya.

Di pohon bunga Soka itu memang ada dua buah sarang burung pipit. Setahu saya induk burung itu sudah mengeram di sarang itu sejak dua bulan yang lalu. Karena waktu itu saya sempat memotretnya di tengah hujan.  “Pengen lihat. Sebentar saja” bujuk anak saya. Saya lalu mendekati pohon Bunga Soka yang ada sarang burungnya  itu sambil berpikir, apakah jika saya letakkan kursi di bawah pohon itu anak saya akan bisa mengintip ke dalam sarang burung atau tidak.

Sedang menimbang-nimbang begitu, tiba-tiba pandangan saya terhenti di batang utama  bunga Soka itu. Sebatang anggrek tampak sedang berbunga. Cantik sekali. Warna mahkota bunganya putih seputih anggrek bulan dengan sapuan warna kuning tipis di pangkal mahkotanya. Tapi bentuknya panjang-panjang dan langsing berjumlah 5 buah.  Lidah dan putiknya berwarna merah tua bintik-bintik di atas putih.  Ukuran bunganya sangat mini.  Jika saya ukur,  paling banter  hanya sekitar 3 cm. Hampir seukuran anggrek merpati. Saya tidak tahu anggrek apa itu. Bunganya lumayan banyak juga.

Mencoba menebak-nebak sendiri. Kalau saya lihat pohon dan daunnya, kelihatan bahwa anggrek ini mestinya dari keluarga Phalaenopsis. Karena daunnya lebar dan tebal. Tumbuh dari pangkalnya. Persis seperti daun dan pohon anggrek bulan. Setidaknya sekeluarga dengan anggrek bulan. Tapi bunganya sangat jauh berbeda.

Saya lalu memperhatikan tangkai bunganya. Tidak sama dengan Anggrek Bulan. Bentuknya berbeda. Pendek dan kompak. Kadang malah terlihat seperti sisik binatang melata.  Setiap tangkai bunga hanya mengeluarkan sebuah bunga. rasanya saya pernah melihat anggrek dengan cara perbungaan seperti ini.Entah anggrek apa.Saya tak berhasil mengingatnya. Akhirnya saya coba-coba googling.  Sampai sekarang masih buntu!.

Kemungkinan saudaranya yang terdekat adalah Phalaenopsis cornu-cervi. Cuma semua jenis Phalaenopsis cornu-cervi yang saya lihat warnanya coklat, kuning atau belang (saya belum pernah melihat ada yang berwarna putih), dan bentuk mahkotanya juga relatif lebih lebar, bukan langsing dan panjang seperti ini.

Tentunya ini jenis baru. Saya tunjukkan ke ibu mertua saya barangkali beliau pernah melihat anggrek liar ini sebelumnya? Beliau hanya menggeleng dan mengatakan bahwa baru pertama kalinya melihat anggrek itu tumbuh di sana. Begitu juga suami saya dan kakak-kakak ipar saya. Tak ada yang tahu. Anak saya yang tadinya tertarik pada sarang burung,sekarang ikutan penasaran.

Bunga Anggrek  apa itu? New species?” tanyanya. Saya mengiyakan “Penemuan baru.  New Species” kata saya.  Lalu ia bertanya lagi., darimana asalnya mengapa ia ada di pohon bunga Soka di halaman rumah kita?. Saya menjawab “Barangkali di bawa burung. Bijinya ditengah hutan menempel di kaki burung. Lalu burung itu terbang dan menclok di pohon ini. Akhirnya jatuhlah biji anggrek itu dan menempel di batang pohon bunga Soka” kata saya mengira-ngira.  “Lah..kalau dibawa burung dari hutan ke sini, berarti bukan New Species dong!  Berarti anggrek ini sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya di hutan” protes anak saya. ya ya..bener juga sih. Barangkali memang bukan new species dalam artian sebenarnya.  Mungkin hanya New Species to me! – saja. Karena saya belum pernah  tahu dan belum pernah melihat  sebelumnya.

Kalau saya memberi nama,  barangkali namanya akan menjadi Phalaenopsis cornu-cervi albus, karena warnanya putih.  Atau barangkali Phalaenopsis cornu-cervi stellata, karena bentuknya seperti bintang. Weleh! Ini sifat sok tahu saya mulai kambuh!.

Apakah diantara sahabat pembaca ada yang tahu apa nama anggrek liar ini? Mohon bantuannya untuk mengidentifikasi. Terimakasih sebelumnya.

 

Burung Raja Udang Meninting.

Standard

Raja Udang MenintingSaya pikir ini sebuah mujizat yang datang untuk saya! Ketika saya berdiri di bagian belakang rumah  untuk memeriksa jemuran pakaian, saya melihat sebuah benda biru bergerak melesat terbang dan hinggap di kawat tembok tetangga saya diSukabumi. Sayapun memasang kacamata saya baik-baik untuk melihat benda apakah gerangan itu.

Astaga! Seekor burung Raja Udang yang sangat elok rupanya. Warna kepalanya biru terang metalik, bergaris-garis. Demikian juga dengan sayap dan ekornya.  Di sayapnya yang  berwarna biru terang ada binting-bintik biru yang lebih muda. Punggungnya berwarna biru muda. Pipi, kerongkongan, dada dan perutnya berwarna jingga kemerahan. Ada sedikit sapuan warna putih di belakang lehernya.   Paruhnya berwarna merah jingga. Kakinya yang pendek juga berwarna merah. Sementara matanya hitam. Yang lucu adalah bentuk kepalanya menonjol ke  belakang  mirip jambul burung pelatuk.

Raja Udang Meninting atau disebut juga dengan Blue Eared Kingfisher (Alcedo meninting), adalah burung pemakan ikan berukuran kecil, sekitar 15-16 cm yang merupakan anggota dari keluarga Alcedinidae, yakni burung Raja Udang Sungai. Sangat suka tinggal di daerah persawahan atau dekat sungai guna berburu ikan. Terbangnya sangat cepat.Demikian juga jika sedang menyambar ikan atau udang dari sungai.

Bagimana burung ini bisaberada sangat dekat dengan tempat saya berdiri? Di belakang rumah, terdapat sawah dan sebuah kolam ikan yang airnya sudah sangat susut karena lahan itu mau dikeringkan untuk perumahan. Jadi rupanya burung ini datang untuk mencari makan di sana.

Saya merasa terpesona, karena bisa melihat burung ini ternyata masih ada. Dulu waktu kecil, beberapa kali saya pernah melihatnya terbang di sawah dekat rumah saya di Bali.  Belakangan ini sudah sangat jarang melihatnya.  Saya pikir, tentu burung ini sekarang statusnya sudah termasuk  burung yang jarang untuk bisa dijumpai.

Kalau tidak salah saya melihat dalam buku Birds of Indonesia yang ditulis oleh Morten Strange, bahwa burung ini memiliki 20% kemungkinan akan punah dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, jika kita tidak melakukan tindakan penyelamatan apa-apa.  Saya merasa sangat beruntung bisa melihatnya kali ini dan menuliskannya di sini. Senang bisa memberikan konfirmasi, bahwa saya telah melihatnya masih ada berkeliaranan di wilayah Sukabumi.

Garangan, Kehidupan Liar Di Belakang Rumah.

Standard

MusangAkhir pekan ini, saya sedang menengok mertua di Sukabumi. Rumah kami sebenarnya bisa dibilang terletak di kota, karena lokasinya tak begitu jauh dari lapangan kotamadya maupun kantor pusat pemerintahan.

Di belakang rumah terdapat tanah  yang kosong yang lumayan luas. Bekas sawah yang dikeringkan yang akan dijadikan perumahan. Sayang sekali. Biasanya saya suka duduk-duduk di lantai atas sambil melepaskan pandangan saya ke sawah-sawah itu. Atau kadang-kadang saya bermain-main dengan anak saya ke sana. Melihat ikan, kodok, belalang, burung dan sebagainya. Dan jika kelak sawah itu telah menjadi perumahan, tak ada ada lagi yang bisa saya pandang kecuali atap dan tembok-tembok bangunan. Apa boleh buat. Saya tidak bisa menghentikan lajunya perkembangan kota.

Sekitar pukul sembilan pagi, saya melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak di tengah gulma yang sekarang menyemak di tengah sawah yang tak berpadi itu.Jaraknya sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri. Seekor binatang seukuran kucing namun lebih panjang dan langsing tampak menyeberang cepat. Ekornya tampak panjang berwarna kemerahan. Ia lalu bersembunyi di dalam sebuah lubang di semak gulma itu. Rupanya di sana rumahnya. Saya melihat sebenarnya  tanah sawah itu basah, karena air dari got sawah tetap mengalir ke sana, walaupun sawah itu tidak lagi ditanami padi.

Saya melihat ke arah lubang tempatnya bersembuyi. Kelihatan ia mengintip saya dari balik rerumputan yang menutupi lubang itu. Mimik mukanya sangat lucu. Matanya bulat tak berkedip. Seolah-olah ingin tahu tindak tanduk saya. Lama ia berbuat begitu. Karena saya tidak melakukan apa-apa, iapun sesekali menoleh ke arah lain, barangkali untuk memastikan bahwa tidak ada manusia lain yang melihatnya selain saya sendiri. Laalu ia menoleh lagi ke saya dengan tatapan bola matanya yang bulat dan berwarna coklat terang. Ha ha..Saya jadi ingin tertawa dibuatnya.

Walaupun saya juga ingin tahu, tapi saya  memang tidak berniat mengganggunya. Jadi saya biarkan saja ia mengintip saya, sebelum akhirnya ia bosan lalu masuk jauh ke dalam lubangnya. Sayang saya tak punya kesempatan memotretnya full seluruh tubuhnya.  Karena pada saat ia terlihat penuh badannya, saya sedang tidak membawa kamera.

Itulah Musang Garangan atau sering juga disebut dengan Garangan Jawa atau Javan Mongoose (Herpertes javanicus). Binatang berukuran kecil ini merupakan salah satu keluarga Herpestideae,binatang pemangsa yang suka berburu tikus di sawah. Saya pikir, jika  misalnya binatang ini ditimbang paling banter beratnya cuma 1 kg.  Saya sangat terkesan akan warnanya yang sangat merah. Terutama ekornya yang berbulu tebal.

Sebenarnya Pak Tani diuntungkan juga dengan adanya Garangan ini. Selain makan tikus, Garangan juga suka memakan kodok, ular, burung, dan sebagainya. Giginya tajam memang didesain untuk memangsa binatang-binatang itu. Binatang ini sangat tangkas dan pemberani. Saking tangkasnya, ia bahkan diinformasikan sangat ahli dan beani melawan ular kobra hidup-hidup.

Menurut beberapa orang, garangan ini memang kerapkali berkeliaran terutama pada malam hari. Dan bahkan suka mengganggu ayam orang di kandangnya.

Kehidupan liar!

Siapa yang bilang bahwa kita harus pergi ke dalam hutan atau ke Kebun Binatang agar bisa melihat kehidupan liar? Ternyata tidak juga. Sebenarnya kita bisa melihat kehidupan liar tak jauh dari tempat kita berada.