Tegalan Yang Tersisa.

Standard

ladangSalah seorang Satpam di gerbang depan perumahan bercerita bahwa di sekitar tempat tinggalnya masih banyak sawah,sehingga masih banyak jenis burung liar yang berkeliaran. Saya terpesona mendengarnya. Sawah? Di Bintaro?Lahan pertanian yang sangat sulit saya lihat belakangan ini. Karena sebagian besar sudah dirombak jadi areal perumahan. Satpam itu juga terlihat memiliki pengetahuan yang luas tentang burung-burung yang banyak berkeliaran di sekitar Bintaro. Dan tahu banyak mengenai sejarah daerah itu sebelum dirombak dan dijadikan perumahan. Tentu saja saya percaya, karena ia memang lahir sebagai penduduk Betawi asli di situ. Karena saya juga sangat tertarik akan kehidupan burung-burung liar, maka saya senang ngobrol dengannya. Suatu kali suami saya bertanya apakah kami boleh bermain ke rumahnya? Ingin melihat sawah dan melihat-lihat burung. Ia mempersilakan kami datang.

Demikianlah,maka pada akhir pekan kami janjian akan ke sana. Karena kebetulan kami libur dan pak Satpam-pun sedang libur, habis jaga malam. Anak saya yang kecil ingin ikut. Sayang hujan turun sangat deras. Sehingga kami baru bisa berangkat pukul 3 sore ketika hujan mulai reda. Tidak terlalu sulit mencari rumahnya.

Seperti halnya kebanyakan rumah penduduk Betawi, halamannya masih cukup luas untuk memelihara ayam. Namun karena hujan, halamannya jadi becek Di sekelilingnya masih banyak pepohonan hijau yang tinggi. Ada beberapa ekor burung Cerukcuk dan burung Madu tampak terbang. Lalu setelah itu saya melihat lagi seekor burung Tekukur. Saya bisa melihat, populasi burung bebasnya kelihatan lumayan banyak. Kami dikenalkan dengan ibu, istri dan anaknya.

Mengobrol sebentar lalu diajak berangkat ke sawah yang letaknya di sebelah rumahnya. Sedikit meloncati bekas pagar yang rendah, dan lahan yang ditanami pohon bambu, lalu tibalah di kami di sawah. Ooh..rupanya bukan sawah tanaman padi seperti yang ada dalam pikiran saya. Daripada Sawah, mungkin lahan ini sebenarnya lebih tepat kalau disebut dengan Tegalan. Karena sebagian besar lahannya kering, ditanami singkong dan pepaya. Walaupun di sana-sini saya lihat juga ada lahan yang dibedeng-bedeng ditanami bayam dan kangkung dan disekelilingnya dibuat parit untuk penyiraman.  Ada bagian lain dari lahan itu yang masih berbentuk rawa kecil. Ia bercerita masih sering menemukan burung ayam-ayaman atau burung mandar di situ. “Larinya sangat cepat. Saya belum pernah bisa menangkapnya” katanya.

Tegalan itu sangat becek. Saya berjingkat-jingkat berjalan berusaha meminimalisir jumlah lumpur yang menempel di sandal yang saya gunakan.  Seorang bapak tua terlihat sedang berjongkok  mencabuti bayam di tengah gerimis. Ia menggunakan capil lebar. Satpam berkata bahwa orang tua itu adalah babenya. Ia mencabut sayuran untuk dipasarkan keliling di kampung itu dengan sepeda. Entah kenapa hati saya merasa trenyuh,melihat orang tua seumur itu masih bekerja dengan tekun.  Saya jadi terbayang sepeda dengan dua buah keranjang besar yang tadi saya lihat di rumah mereka. Cukup sering saya melihat engkong-engkong Betawi yang sudah renta berkeliling menjajakan hasil panennya, entah itu sayur mayur, singkong, pisang atau nangka. Namun baru kali ini saya melihatnya bekerja di ladang dan memetik sayurannya sebelum dijajakan esok hari berkeliling kampung.

Saya melirik ke hasil panennya sore itu.Kelihatan tidak seberapa. Paling banter hanya sekitar 15- 18 ikat bayam. Dan mungkin sekitar 15-18 ikat kangkung juga.   Akhirnya saya berkata, bahwa saya ingin membeli hasil panennya hari itu. Setelah dihitung ternyata memang ada 15 ikat masing-masing. Saya akan ambil semuanya, selain untuk saya masak di rumah, juga bisa saya bagi-bagikan kepada para tetangga saya.

Pak satpam berkata, bahwa lahan itu dulunya adalah milik babenya. Namun sekarang kepemilikannya sudah pindah kepada Bintaro Jaya. Namun karena belum digunakan, pihak Bintaro masih mengijinkan para petani di situ untuk mengelola lahannya. Kakek itupun bercerita, bahwa tanah itu dilepas sudah lama sekali. Puluhan tahun yang lalu. “Waktu itu harganya masih seribu lima ratus rupiah per meter” katanya. Saya tidak terbayang harga tanah saat ini di Bintaro. Tentunya tidak akan dijual. Kalaupun dijual, sudah pasti dalam bentuk properti seperti rumah ataupun ruko yang bernilai miliaran rupiah.

Saya memandang lahan-lahan luas yang masih belum dimanfaatkan oleh pihak developer. Lahan-lahan yang tersisa. Lalu rumah-rumah penduduk Betawi asli yang berusaha bertahan dari pergerakan roda  pembangunan.

Gelap merangkak mengisi sore. Ada banyak suara burung. Namun sangat sulit untuk melihatnya. Saya pikir kami datang tidak pada saat yang tepat untuk memantau burung. Mungkin lain kali sebaiknya saya datang lagi saat lahan tegalan kering tidak ada hujan, dan lebih bagus lagi di pagi hari. Kami memutuskan untuk pulang.

Pak Satpam memberikan oleh-oleh tambahan kepada kami. Singkong dan pepaya yang ia baru petik. Pantes saja tadi ia sempat menghilang sebentar. Lalu anak saya juga ingin membeli anak ayam. Waduuuh! Banyak juga bawaan kami. Saya membayarkan sejumlah uang yang menurutnya terlalu banyak. Tapi sesungguhnya saya tahu,  bahwa nilai uang itu tidak melebihi dari jumlah uang yang harus saya keluarkan jika saja saya membeli sayur mayur, singkong dan pepaya itu di Supermarket. Belum plus anak ayamnya.

Terlebih lagi,  persaudaraan yang tulus yang mereka tawarkan kepada kami sekeluarga bukanlah hal yang bisa dibeli dengan uang. Tiada tara harganya.

4 responses »

  1. Kangkungnya seger banget, Mbak.. Iss jadi pengen makan tumis kangkung nih. Heheh..😀
    Iya, ngga akan ada yang bisa menilai berapa harga persaudaraan yang tulus ya, Mbak. Apalagi di zaman sekarang, yang semuanya serba duit..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s