Tentang Kejujuran Uang Receh.

Standard

pink-lotus2Kemarin pagi, sambil jalan ke kantor saya sempat mampir di sebuah minimarket  untuk mengambil sedikit sisa uang buat belanja dapur hingga akhir bulan. Seusai mengambil uang, saya sekalian membeli 2 botol minuman Vitamin C  dan sekaleng teh bunga Chrysant. Karena takut kesiangan, saya terburu-buru membayar ke kasir.  Total harganya Rp 16 100. Saya merogoh sejumlah uang dari dompet dan mengangsurkannya kepada kasir.

Ketika menghitung uang yang saya bayarkan kepadanya,  saya melihat perubahan pada wajah dan mata kasir itu. Ia terlihat seperti kaget. Sejenak kasir itu tampak terdiam dan berhenti bergerak. Matanya tertuju pada uang saya yang sekarang ada ditangannya. Perubahan ekspresinya itu membuat saya jadi penasaran dan ikut melihat ke arah uang di tangan mas kasir itu. Ooh.. rupanya saya kelebihan membayar!. Ada empat uang lima ribuan,selembar uang ribuan dan sekeping logam ratusan.. Semuanya ada Rp 21 100. Jadi kelebihan lima ribu rupiah.  Itu rupanya yang membuat si mas kasir tertegun dan berubah ekspresinya.

Salah membayar !. Beberapa kali saya melihat kejadian salah membayar terjadi pada pelanggan Supermarket lain juga. Kelebihan atau kekurangan. Umumnya kasir akan menegur jika uang kita kurang, atau mengembalikan jika uang kita lebih. Karena cukup seringnya melihat kejadian seperti itu, sayapun hanya menunggu saja. Saya pikir ia akan segera mengatakan bahwa uang saya kelebihan Rp 5 000 dan akan segera mengembalikannya kepada saya. Tapi ternyata, alih-alih mengembalikan kelebihannya, si mas kasir itu malah memasukkan semua uang itu ke laci mesin kasir, memberi struk belanjaan kepada saya dan berkata ” Uangnya pas ya, Bu?”.

“Hah?! Bukannya uang saya tadi kelebihan lima ribu ya?” tanya saya spontan.  Mendengar pertanyaan saya, kasir itu berkata “O ya, benar Bu” lalu ia mengembalikan uang saya yang lima ribu rupiah itu. Wajahnya tampak memerah. Terlihat agak malu.

Sambil berjalan keluar dan masuk ke kendaraan saya jadi memikirkan kelakukan kasir itu. Mungkin ada yang berkata, hadeh..duit lima ribu saja kok dipermasalahkan. Bagi saya masalahnya bukan soal nominalnya yang lima ribu rupiah itu- karena uang bisa saya cari dengan baik selama saya masih mampu bekerja. Dan terus terang saya juga bukan orang yang mengutamakan uang dalam hidup saya. Tapi saya menyorot soal kejujurannya dalam hal keuangan. Kok bisa ya? Saya sungguh terperanjat akan kelakuan mas kasir itu.  Sama sekali tidak menyangka kalau ia akan melakukan perbuatan tidak jujur seperti itu. Sangat sayang!

Malam hari menjelang tidur, saya sengaja menceritakan hal ini kepada anak saya agar ia mendapatkan gambaran, betapa nilai kejujuran sangat penting bagi saya dan keluarga. Anak saya yang mendengar cerita saya tentang itu mencoba menetralisir, “Barangkali ia tidak nyadar kalau uangnya Mama kelebihan, Ma!“. katanya.

Itu sesuatu yang tidak mungkin. Karena mama melihat sendiri bagaimana ekspresi wajahnya saat menerima uang itu. Dan ia melihat ke uang itu cukup lama sebelum memasukkannya ke laci. Jadi ia sangat sadar kalau uangnya sebenarnya lebih. Dan ia juga mengatakan itu, kok” kata saya.

Lalu saya meneruskan,  bahwa kejujuran itu harus dibangun dari hal-hal kecil. Dipupuk dari uang receh seratus rupiah.  Jika kita terbiasa dengan sikap jujur terhadap uang receh, maka kita akan terbiasa berbuat jujur dalam keuangan. Satu rupiahpun jika memang bukan milik kita, jangan pernah diambil. Kembalikan kepada yang berhak.

Sebaliknya jika kita membiarkan diri tidak jujur dengan uang receh ini, mengabaikannya, maka lama-lama kita akan terbiasa mengambil hak yang bukan menjadi hak kita. Dari uang seratus yang kita pikir tidak ada artinya, kita ambil,  lalu berikutnya menjadi seribu yang berani kita ambil, selanjutnya menjadi lima ribu, menjadi seputuh ribu, lalu seratus ribu, sejuta, puluhan juta, ratusan juta bahkan semilyar…jadilah kita koruptor. Mengambil uang yang bukan menjadi hak milik kita. “Jika kita tidak mendisiplinkan diri untuk jujur dengan uang receh,  maka ketidak jujuran mungkin kita lakukan dalam jumlah yang lebih besar di kemudian hari” kata saya kepada anak saya.

Tapi aku kan selalu mengembalikan sisa uang kalau mama suruh belanja. Aku tidak pernah mengambil satupun ” kata anak saya. Saya membenarkan, anak saya memang selalu mengembalikan uang receh sisa belanja utuh -utuh.  Tak pernah diambil sekepingpun. Lalu saya menjelaskan kepadanya,  mengapa saya menceritakan kejadian ini kepadanya, bukan untuk menuduhnya atau mencurigainya melakukan ketidak-jujuran, tetapi  hanya untuk mengingatkan saja, bahwa betapa pentingnya nilai kejujuran bagi saya dan keluarga.

Anak saya hanya terdiam lalu mencium pipi saya dan menarik selimutnya lebih ke atas. “Selamat tidur, mama..” katanya. Ia memejamkan matanya. Sambil mengusap-usap punggungnya, saya menunggunya tertidur pulas. Berharap ia akan selalu mengenang percakapan kami dan membawa nilai-nilai kejujuran selalu dalam aliran darahnya di seluruh kehidupannya ke depan.

 

 

22 responses »

  1. Cerita yang sangat mengispirasi.
    Kejujuran itu memang sangat penting untuk dipupuk sejak kecil. Saya pernah mencoba menanamkan kejujuran ke anak SMA dalam bentuk kantin kejujuran dan hasilnya rugi belasan juta selama sebulan kantin itu buka.

  2. Iya sih mbak, bukan soal nominalnya tapi berasa dizalimi gitu *halah bahasanya😀
    kemarin saya juga sempet marah-marah ke sopir angkot, karena pas berangkat tarifnya beda sama pulang, padahal jarak sama.

  3. Betullll! Bukan masalah uang 5 ribunya ya, mbak Dani.. Jujur itu kan tidak dinilai dr berapa nominal yg terlibat. Kalo aku yg ngalamin sendiri, bakal pikir2 lagi utk belanja disitu, mbak…

  4. baru kejadian sama gua juga 2 minggu lalu di gereja. kalo bubar gereja kan ada bazaar orang2 indo yang jualan makanan.
    pas beli makanan, gua ngasih duit yang tinggal selembar di dompet tanpa bener2 pay attention. gua kirain itu $20 (si esther yang masukin jadi gua gak bener2 tau nominalnya berapa).
    pas gua kasih ke orangnya, orangnya bilang kok duitnya gede amat. gua tadinya sempet mikir masa nominal $20 kok gede. trus pas dia nyari2 kembalian, gua bilang duitnya $20 kan… trus dia bilang oh iya, trus dia balikin duit dengan asumsi duit gua $20.

    gua udah curiga nih orangnya kok kayaknya gelagatnya aneh. gua confirm ke esther duit gua sebenernya berapa. ternyata bener harusnya $50. langsung gua balik lagi bilang eh ternyata duit saya $50 ya tadi. baru orangnya bilang iya, sorry ya, trus ngasih kembalian. rese banget sih pake pura2 gak tau pula awalnya…😦

  5. Sependapat dengan mbak, ini bukan masalah uang. Ini masalah kejujuran yang berimbas ke kepercayaan. Kalo si kasir sering begitu lama2 gak ada yang mau belanja di minimarketnya dia loh…

  6. Abang itu tergoda, Mbak.. Heheh..

    Alhamdulillah kasir di daerah dekat rumah ku jujur.. Sewaktu aku bayar dan keselip duit 100rb, dia dengan tersenyum menegur ku dan mengembalikan uang, malah menasihati supaya lain kali hati-hati..🙂

  7. 5rb itu lumayan loh buat naik angkot ato busway hahahaha… sebenernya emang bukan masalah nominalnya ya, tapi kejujurannya itu… kalo untuk hal kecil aja dia ga jujur, gimana untuk hal2 yg gede…

  8. Kejujuran itu dimulai dari yang kecil-kecil ya mbak Dani. Sekilas kelihatannya sepele, uang receh. Namun kala pribadi kita ditakar oleh recehan tersebut, pastinya sangat memalukan ya

  9. menakar kejujuran dengan uang receh ya,Bu..
    dan sering saya alami ketika membeli sesuatu lalu penjual mengatakan tak kembaliannya lalu diganti permen atau ditawari beli barang lainnya..
    tanpa berniat buruk sangka terhadap penjual kadang dlm hati sempat terlintas juga pertanyaan, “lha kok jualan nggak memyiapkan uang kembalian..niat dodolan po ora tho wong iki..?

  10. kunjungan perdana dan salam perkenalan, silahkan berkunjung balik, barangkali berminat saya punya banyak vcd pembelajaran anak2, sangat cocok sekali untuk mengasah kecerdasan dan kemampuan anak serta membantu mendidik ,membangun karakter dan moral anak sejak usia dini, semoga bermanfaat dan ditunggu kunjungan baliknya, mohon maaf bila tdk berkenan ^_^ terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s