Bandung: Mengunjungi Museum Geologi.

Standard

Salah satu tempat wisata lain di Bandung yang menarik perhatian anak saya adalah Museum Geologi. Nah..kalau ke sini,bukan hanya anaknya saja yang semangat, tapi juga ibunya. Ticket masuk ke Museum yang didirikan pada jaman Belanda itu ternyata sangat murah. Hanya Rp 2 000 per orang bagi Mahasiswa/Pelajar. Serta Rp 4 000 bagi pengunjung umum yang non Mahasiswa/pelajar. Sangat murah dibanding ilmu dan informasi yang kita dapatkan. Selain murah, ticketnya juga kelihatannya tercatat dengan baik, sehingga terhindar dari kebocoran. Oleh karenanya saya rasanya sangat  bersedia untuk ikut mempromosikan kepada khalayak ramai betapa menguntungkannya mengunjungi museum ini. Ayo! Ayo! Kita ramai-ramai mengunjungi Museum Geologi!.

Tambah senang lagi, karena ketika saya tanya kepada petugas, apakah saya boleh membawa kamera masuk? Apakah saya boleh mengambil foto-foto? Petugas mengijinkannnya!.

Sepintas mengenai Museum Geologi, Bandung.

Museum GeologiMenurut informasi yang saya dapat di dinding Museum, gedung museum yang semula bernama Geologisch Laboratorium ini didirikan oleh lembaga Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1928 di Jalan Diponegoro Bandung yang  pada jaman itu bernama Rembrandt Straat, Bandung. Sang arsitek bernama Ir Menalda van Schouwenburg. Pembangunan gedung ini dilakukan selama 11 bulan dari tahun 1928 hingga diresmikan tgl 16 Mei 1929 – bertepatan dengan adanya Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik yang ke 4 di Bandung. Menurut catatan, menghabiskan dana sekitar 400 gulden. Waduuh…berapa ya kira-kira kalau diuangkan ke rupiah jaman sekarang?

Lalu ketika pendudukan Jepang, museum ini diambil alih oleh Jepang. Saya melihat ada beberapa foto-foto para surveyor yang dilatih oleh Jepang. Lalu berikutnya saya melihat foto kunjungan Presiden Sukarno pada tahun 1959. Dan terakhir direnovasi dan diremikan kembali oleh ibu Megawati pada tahun 2000. Jadilah museum seperti yang bisa kita lihat saat ini.

Sejarah Kota Bandung.

Situ bandungBagian yang paling menarik adalah ketika menonton film bagaimana sejarah kota Bandung jika dilihat dari sisi geologis. Seperti banyak tempat lainnya di Indonesia, darah Pasundan jaman dulunya pernah merupakan wilayah laut dalam yang kemudian naik ke permukaan. Bukti-bukti tentang itu sangat jelas ditunjukkan oleh adanya  bukit-bukit karang dan fosil-fosil moluska di beberapa area di Jawa Barat.  Dan pada jaman dulu,  Bandung merupakan sebuah dataran rendah berbentuk cekungan yang dikelililingi gunung-gunung berapi, dimana sungai Citarum purba mengalir ke laut. Namun ketika Gunung Sunda purba meletus sekitar 135 000 tahun yang lalu, material hasil letusannya itu rupanya membendung aliran sungai Citarum purba, sehingga air sungai menggenang dan terbentuklah Situ Bandung.  Sangat menarik mengetahui bahwa kota Bandung dahulunya adalah sebuah danau yang cukup luas.

Banyak peradaban purba ditemukan di tepian Sungai Bandung, seperti misalnya di DagoPakar, Lembang, Cicalengka, Banjaran, Soreang, Guwa Pawon, Cililin, Rancaekek. Saya melihat ada banyak artefak yang dipajang d Museum itu berupa beliung persegi, serpih, bilah, perkutor dari batu andesit.  Namun bukti keberadaan kearangka manusia baru ditemukan nyata ada di Guwa Pawon yang berada di kawasan Kars Rajamandala, Padalarang, Kabupaten Bandung.

Lalu kemana danau Bandung itu pergi? Bagaimana ia bisa lenyap? Rupanya pada sekitar 16 000 tahun yang lalu air danau ini perlahan merembes dan mengalir melewati rekahan pada material penyumbat, sehingga daerah cekungan danau itupun mengering dan meninggalkan aliran sungai Citarum yang dikenal saat ini. Daerah cekungan inilah yang kemudian dihuni oleh penduduk dan menjadi kota Bandung. Hmm… menarik ya.

Kehidupan Purba Yang Membatu. 

Gajah purbaFossils!. Semuanya tentu paham bahwa fossils adalah sisa-sisa mahuk hidup seperti binatang, tumbuhan maupun organisme dari masa lampau yang membatu.  Nah, tentunya jika kita masuk ke Museum Geologi ini kita akan banyak sekali menemukan fossils. Salah satu yang sangat menarik adalah fossils gajah  purba (Elephas hysudrindicus) yang dipajang di lobby masuk museum. Gajah ini luar biasa besar dan tinggi, nyaris mencapai langit-langit ruangan – yang barangkali tingginya 4 meter lebih. Dan fossils gajah ini ternyata ditemukan di Dusun Sunggun, desa Mendalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Wah! Dulunya ada gajah di Jawa! Bukan hanya di Sumatera saja rupanya.  Dan begitu kita perhatikan lebih jauh lagi, ternyata gajah-gajah itu memang berkampung halaman di Jawa, bahkan sejak jaman Plesistosen. Ditemukan banyak sekali fossils gajah baik itu gigi, rahang,tulang paha dan sebagainya.  Ada fossils gajah asia ( Elephas maximus) yang ditemukan di Cipeundeuy -Padalarang , ada fossils gajah purba Stegodon dan bahkan ada juga fossils gajah yang berasal dari jaman Plesitocene yang disebut dengan Sinomastodon bumiayuensis.

Selain fossils gajah,kita juga bisa melihat fossils ular Phyton retilculatus pertama yang ditemukan di Indonesia. Lokasi penemuannya adalah di Ciharuman, Bandung. Panjangnya lebih dari 5 meter dengan diameter sekitar 30cm.  Lalu kita juga bisa menemukan fossils binatang-binatang lain seperti Harimau Solo (Felis tigris soloensis),  Panthera tigris di Trinil, kura-kura purba dari jaman Peistocene yang ditemukan di Trinil dan binatang-binatang lainnya.

Kita juga bisa melihat sisa-sisa tanaman, seperti fossils daun pakis ataupun fossils kayu dipajang di sana. Semuanya membuat kita berpikir bahwa betapa tuanya umur bumi kita dan isinya ini.

Lalu di ruangan yang berada di sayap kiri,kita bisa melihat berbagai jenis sisa-sisa binatang laut ,mulai dari kulit kerang raksasa (Tridacna gigsa) yang ditemukan di Padalarang – yang membuat kita berpikir, bahwa pada suatu masa di jaman dulu, wilayah Padalarang pernah merupakan wilayah laut dalam yang sekarang terangkat ke permukaan. Lalu ada amonite, berbagai jenis kulit kerang, siput dan lokan yang dikelompokkan berdasarkan habitatnya dan ketinggian wilayahnya seperti kelompok muara dan rawa, sungai dan danau, hutan bakau,paparan dangkal, paparan intermedier dan sebagainya. Tapi yang belakangan saya lihat itu membuat saya ragu, karena saya pikir sebenarnya itu adalah kulit kerang jaman sekarang ya, kelihatannya bukan semuanya fosils.

Lalu kalau kita masuk ke ruangan lain lagi – masih di lanta1, kita akan menemukan jejak-jejak kehidupan manusia purba seperti yang pernah diajarkan di bangku sekolah dulu. Ada berbagai macam replika tengkorak manusia purba dari berbagai belahan dunia di sana. Tentunya saya ingin melihat terutama yang ditemukan di sana. Saya bisa melihata adanya tengkorak Homo erectus yang ditemukan di Sragen, Homo modjokertensis yang ditemukan di Modjokerto, homo sapiens wadjakensis yang ditemukan di Wadjak, Tulungagung , homo erectus soloensis yang ditemukan di Ngandong.

Sangat beruntung saya bisa membawa anak-anak langsung melihat semuanya itu di Museum. Teringat jaman dulu saya bersekolah di Bangli, sebuah kota kecil di tengah pulau Bali – semua informasi ini hanya saya dapatkan dari pelajaran sekolah dan barangkali sedikit dari media yang tersedia pada saat itu.

 

 

11 responses »

  1. Ah Museum Geologi ya, aku juga suka banget berkunjung ke sini nih Mbak, khususnya di lantai dasar itu yang banyak memamerkan fosil dan juga peninggalan-peninggalan purbakala lainnya. Kalau di lantai atasnya aku kurang tertarik. Anak-anak juga lebih suka mengeksplor lantai dasar ini.

  2. ini museum pertama yg kukunjungi mbak, masih kelas 5 SD saat itu dan belum pernah datang lagi.. udah lama juga nggak ke Bandjng sig..
    memang Museum ini jadi salah satu museum terbaik di negara kita ..

  3. Bayar tiket masuk kayaknya baru2 aja Mbak, setelah lantai atas dirombak dan jadi lebih bagus. Sebelumnya malah gratis. Salah satu museum favorit anak saya, tiap lewat pasti mampir. Selain letaknya mudah dijangkau, luas pula baik di dalam ruangan maupun halamannya. Anak2 bisa bebas lari2.

    Foto2 di taman fosilnya ngga Mbak, yang di halaman sebelah kiri.

  4. dulu pernah ke sini pas studi tur SMP. dan memang, saya banyak belajar sejarah lewat museum ini.😀
    oh iya bun, mungkin ga ya, kata “bandung” berasal dari “Bendungan”, kan dulunya berupa danau.:mrgreen:

  5. Wuah… Murah amat tiket masuknya, Mbak.. Mana lah ilmu yang ada di sana jauh lebih ‘mahal’ dari uang tiketnya ya… Mauuuu banget ke sana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s