Burung Gelatik Yang Semakin Jarang Terlihat Di Alam.

Standard
Burung Gelatik mencari makan di rerumputan hijau.

Burung Gelatik mencari makan di rerumputan hijau.

Salah satu burung pemakan padi yang menarik perhatian saya adalah burung Gelatik. Bersama-sama dengan burung Pipit, burung Peking ataupun burung Bondol selalu dianggap hama pengganggu oleh Pak Tani. Namun sayangnya karena warna bulunya adalah terindah diantara para burung pemakan padi, maka burung Gelatik adalah yang paling banyak ditangkap sebagai hewan peliharaan manusia. Akhirnya dengan sangat sedih saya membaca informasi dari Wikipedia bahwa burung Gelatik, pada saat  ini sudah dikategorikan sebagai burung  dengan Conservation Status Vulnerable – yakni keberadaannya di alam liar mulai terancam. Sayang sekali! Padahal semasa saya kecil, sangat mudah menemukan gerombolan burung ini berbondong-bondong ke sawah. Bahkan seorang paman saya memiliki sebuah “kungkungan” (rumah burung buatan) yang diletakkan di pohon frangipani di halaman belakang selalu penuh dengan burung gelatik dan burung pipit.

Ketika mengetahui keinginan saya untuk melihat kawanan burung Gelatik di alam bebas, adik saya berkata bahwa iapun tak yakin bisa menemukan gerombolan burung ini dengan mudah di alam, mengingat areal persawahan sudah sangat jauh berkurang dan berganti dengan pemukiman penduduk. Ia lalu mencoba mengingat-ingat dimana kami masih bisa menemukan burung Gelatik bebas terbang di alam.

Keesokan harinya ia mengajak saya bermain ke Nirwana Bali Resort & Golf Club – sebuah lapangan golf yang terletak di desa Beraban, dekat Pura Tanah Lot, Tabanan. Menurutnya ia pernah melihat gerombolan burung gelatik hidup bebas di sana. Benar saja, tempat itu ternyata masih sangat berpihak bagi kehidupan burung-burung liar,termasuk diantaranya burung Gelatik. Rupanya pihak hotel/lapangan golf sangat menaruh konsern akan lingkungan sekitarnya dan memberikan perlindungan kepada burung-burung liar ini dengan sangat baik. Populasi burung Gelatik di sini cukup banyak. Saking banyaknya, burung ini pun mendekat ke bangunan golf club dan tidak begitu takut lagi dengan kehadiran manusia. Ketika melihatnya banyak berkeliaran di sana, saya serasa melihat burung gereja – karena jumlahnya serupa dengan jumlah burung Gereja yang umum  berkeliaran di halaman.

seekor burung Gelatik berteduh di dahan pohon Frangipani

seekor burung Gelatik berteduh di dahan pohon Frangipani

 

Saat saya ke sana, saya melihat sangat banyak burung Gelatik yang hidup di sana. Berloncatan terbang di pohon-pohon frangipani di dekat guest house dan juga di taman-taman bunganya. Ada yang sibuk mencari makan di rerumputan.

Burung-burung Gelatik sedang mandi di kolam, di tengah teriknya matahari.

Burung-burung Gelatik sedang mandi di kolam, di tengah teriknya matahari.

Sebagian ada juga yang sedang mandi  menyegarkan dirinya di kolam. Selain burung gelatik dewasa,banyak sekali saya melihat anak-anak burung Gelatik juga berceloteh riang di dahan-dahan pohon di bawah terik matahari.  Sibuk bercericit dan disuapi makan oleh indkunya. Mudah membedakannya dengan suara burung Gereja,karena Gelatik, sesuai dengan namanya cenderung mengeluarkan bunyi” tik, tik, tik…tik, tik, tik…”.

Seekor induk burung Gelatik sibuk mengasuh anak-anaknya.

Seekor induk burung Gelatik sibuk mengasuh anak-anaknya.

Burung Gelatik alias Java Sparrow (Padda oryzivora), adalah salah sat jenis burung pemakan biji-bijian dari keluarga Lonchura (sekeluarga dengan burung Peking). Berukuran kecil, kurang lebih sebesar burung gereja.

Memiliki warna punggung abu-abu kebiruan, kepala hitam, dengan pipi yang berwarna putih. dadanya berwarna putih,ekornya hitam. Paruhnya berwarna pink.  Dmikian juga kakinya.

Anak-anak burung Gelatik

Anak-anak burung Gelatik

Burung Gelatik muda memiliki warna yang lebih pucat dibanding yang dewasa. Warna punggungnya coklat pucat, bukan kelabu biru seperti dewasanya.  Warna hitam di kepalanya juga belum pekat. Demikian juga warna pinku paruh dan lingkaran di matanya, belum muncul pada burung Gelatik muda.

Burung ini adalah pemakan biji-bijian. Paling senang memakan padi, tetapi juga memakan biji-biji rerumputan. Di sekitar lapangan golf itu masih terlihat sedikit areal persawahan yang cukup untuk menunjang kehidupan burung-burung Gelatik ini. Selain itu, taman-taman dan tentunya lapangan golf merupakan sumber biji rerumputan yang melimpah.

Saya merasa sedikit lebih lega melihatnya.  Walaupun sebuah pertanyaan masih tetap mengganggu pikiran saya. Sampai kapan burung-burung ini akan mampu bertahan? Apakah dalam kurun waktu lima tahun mendatang statusnya bisa kembali membaik? Atau justru malah semakin terancam punah keberadaannya di alam?

Perlu kita ketahui bersama, walaupun sering diperdagangkan ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri, burung gelatik ini adalah burung asli pulau Jawa, Bali dan barangkali Madura. Jadi sudah menjadi kewajiban kita yang tinggal di wilayah ini untuk ikut berpartisipasi menyelamatkan burung Gelatik ini dari kepunahan di masa depan, misalnya dengan tidak ikut memelihara burung ini dalam kandang dan mengajak orang-orang di sekitar kita untuk melepaskannya kembali ke alam. kalau bukan kita, siapa lagi?

Yuk, kita selamatkan burung Gelatik!.

 

 

 

11 responses »

  1. mungkin karena populasinya masih banyak jadinya belum begitu diperhatikan keberadaanya,
    dulu sering jaman SD main ke sawah lihat burung ini beterbangan, sekarang sawahnya udah pada jadi rumah semua

    • mungkin merasa lebih mudah mencari makan di rumah ketimbang harus mencari sendiri di alam bebas ya Pak Chris. Seorang teman ada juga yang pernah bercerita begitu tentang anak burung bangau yang dipelihara sejak kecil. Katanya saat dilepas,eh..malah selalu balik pulang lagi dan pulang lagi..

  2. Ingat masa kecil dulu ketika smp sekolah seminari di desa tuka bali…cari sarang burung gelatik lalu anaknya diambil dan diberi makan setiap hari….lalu besar bisa jinak dilepas tidak terbang jauh…

  3. luar biasa……masih ada di alam liar, di Bali memang lebih aman dari pada di Jawa karena populasi penduduk dan perhatian masyarakt yang kurang….dulu saya pernah menangkar dan banyak sekali aku lepaskan ke alam bebas….tapi toh tetap masih tidak pernah melihat gelatik ini di daerah sekitar saya…..dan sekarang saya mau mencoba lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s