Monthly Archives: August 2014

Kodras, Si Burung Bentet Bali.

Standard

Burung KodrasKetika mengamat-amati kelompok burung Kutilang yang sangat ramai dan heboh kicauanya di dekat areal parkir International Ngurah Rai  Airport di Denpasar, adik saya tiba-tiba berseru “ Wow! Lihat itu ada Burung Kodras!” katanya.  Seketika saya memalingkan perhatian saya dari rombongan Kutilang itu. Yang mana burung Kodras?

Burung Kodras 2

 

Adik saya menunjuk ke sebuah ranting pohon dan saya tak bisa melihat apa yang ia tunjuk.  Saya tau di sekitar ranting itu ada seekor burung bersembunyi, tapi awalnya saya mengira itu adalah  salah seekor Kutilang. Sepintas lalu kelihatan warnanya putih, hitam dengan tunggir berwarna kekuningan. Mirip Kutilang. selain itu ia juga bertengger di mana rombongan Kutilang juga berada.

Burung Kodras 1

Hanya ketika burung itu terbang dan menclok di salah satu ranting yang kering dan bebas dari kerimbunan dedaunan, barulah saya bisa melihat dengan jelas Burung Kodras yang dikmaksudkan oleh adik saya itu.

Burung Kodras 3

Kodras adalah Bahasa Bali untuk nama Burung yang dikalangan pedagang burung di Jakarta dikenal dengan nama Burung Bentet atau Burung Pentet atau Shrike (Lanius scach). Ada juga yang mengatakan bahwa Kodras adalah Burung Bentet lokal Bali. Tubuhnya berwarna putih kotor, dengan  sapuan warna coklat karat di punggung sisi samping ke bawahnya. Kepalanya berwarna hitam.  Ekornya panjang berwarna hitam dengan beberapa bagian berwarna putih. Sayapnya juga berwarna hitam dan putih, yang jika sedang bertengger sempurna akan terlihat dari belakang seperti  hiasan graphic hitam di punggungnya. Matanya berwarna hitam. Paruhnya berwarna hitam  agak bengkok ke bawah pada ujung paruh atasnya.  Demikian juga kakinya berwarna hitam.

Burung Kodras berukuran sedang. Kelihatan dari paruhnya yang membentuk kait, tentulah burung ini sejenis burung predator. Makanannya adalah serangga yang banyak berterbangan di udara.

Top 5 Burung Liar Di Sekitar Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Standard

Suatu kali saat akan kembali ke Jakarta, saya diantar oleh adik bungsu saya ke airport agak lebih cepat daripada jadwal penerbangan seharusnya. Karena masih ada waktu selama lebih dari sejam, daripada menunggu dan bengong di bandara, adik saya menyarankan bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar airport. Kelihatannya hijau dan cukup banyak tanaman. Siapa tahu bisa melihat burung-burung liar menclok dari satu dahan ke dahan yang lain diantara pohon-pohon itu.  Saya setuju.

Benar saja kata adik saya. Ternyata bandara menyimpan beberapa species burung yang menarik untuk dilihat. Di luar burung gereja, inilah diantaranya

1. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

CerukcukBurung Cerukcuk  adalah burung dari keluarga burung Bulbul yang terhitung tinggi populasinya di Bali dan di tempat-tempat lain di Indonesia. Demikian juga di area sekitar bandara Ngurah Rai ini. Cukup mudah menemukan  Burung Cerukcuk berkeliaran, karena kicauannya yang sangat merdu dan bervariasi serta hobinya terbang berpasang=pasangan.

2. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Kutilang

Burung Kutilang yang masih merupakan saudara dekat dari Burung Cerukcuk ini, terlihat sangat banyak di sekitar bandara Ngurah Rai.  Kita bisa menemukannya di pohon-pohon tinggi, perdu, di pagar, di kawat,  atau di atas atap bangunan. Bahkan saya melihat suatu kali ada lebih dari 15 ekor kutilang menclok di atas salah satu atap bangunan di bandara.  Saya merasa sangat takjub, karena sebelumnya saya belum pernah melihat populasi yang Kutilang sepadat ini di suatu tempat.

Kutilang 1

Lihatlah betapa riangnya ia bermain-main di atas atap  bangunan.  Seolah tidak takut akan gangguan manusia manusia sekitarnya dan suara pesawat udara yang menderu-deru di atasnya. Saking banyaknya orang awam bisa salah mengira itu burung geraja.

Sangat berterimakasih kepada pihak Desa Adat yang sangat memperhatikan keberlangsungan hidup dan melindungi burung-burung ini tetap berkeliaran di alam bebas.

3. Burung Tekukur (Stretopelia chinensis).

Tekukur

Menarik melihat burung ini karena jumlahnya lumayan banyak berkeliaran di seputar taman-taman di bandara Ngurah Rai. Menclok di tiang-tiang listrik,di atap bangunan, tembok bangunan dan di mana-mana. Sangat damai dengan lingkungannya, burung ini terlihat anteng saja terbang rendah di sekitar areal tempat parkir.

2. Burung Punaan (Treron capellei)

 

Burung Punai

Burung ini bertengger di puncak pohon yang sangat tinggi dan  jaraknya cukup jauh dari tempat saya berdiri. Sehingga sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan gambar yang jelas.  Bahkan awalnya saya sulit mengidentifikasi burung apa itu. Tidak jelas. Saya hanya yakin itu pasti dari keluarga merpati, tekukur ataupun deruk. Beruntung saya bersama adik saya yang matanya lebih cemerlang dan  lebih sering mengidentifikasi jenis burung ini.  “Itu punaan!” kata adik saya dengan cepat dan yakin.  Saya membidikkan kamera saya dan kemudian men’zoom’ hasilnya. Saya setuju, bahwa ini memang burung Punaan.
Burung Punaan alias Burung Punai besar (Treron capellei) memiliki bulu yang didominasi warna hijau dengan kombinasi jingga atau kemerahan di bagian dadanya. Makanannya buah-buahan dan biji-bijian.  Saya melihat bberapa ekor tampak terbang di dahan yang tinggi.

5. Burung Madu Sriganti (Nectarina jugularis).

Burung Madu

Seperti halnya di wilayah lain di Indonesia, burung pemakan madu dari bunga-bunga benalu, bunga pepaya, bunga dapdap atau bunga-bunga lain ini  banyak bertebaran di areal bandara. senang mendengarkan nyanyiannya di tengah hari yang jernih.

 

Tentang Keraguan.

Standard

KolamkuSaya sedang mengamat-amati serangga di cabang Pohon Bintaro di depan rumah, ketika terdengar suara cipratan air kolam.  Saya menengok sebentar. Ternyata suara dari gerakan-gerakan anak-anak ikan mas yang berkumpul dan bercanda di permukaan air berebut oksigen. Ikan-ikan itu terlihat menarik. Warnanya yang merah jingga terlihat sangat cemerlang, kontras dengan warna air kolam yang mulai sedikit keruh. Kebetulan pompa air sedang agak rusak, jadi perputaran air kolam tidak maksimal.

Suara kecipak air karena ikan-ikan kecil itu bukan hanya menarik perhatian saya. Tapi juga kucing liar yang  diadopsi anak saya. Ia  tampak berdiri di depan kolam memandang ke arah ikan-ikan. Apa yang akan dilakukan oleh si kucing ? Karena penasaran, saya memutuskan untuk mengamat-amati kelakuan kucing itu sambil menyandarkan punggung di pagar dan mengurangi gerakan saya agar si Kucing tidak merasa terganggu.

Kucing

Ia berdiri di depan kolam. Matanya lurus ke depan ke arah ikan-ikan yang sedang berenang tanpa berkedip sedikitpun. Saya pikir ia ngiler melihat ikan-ikan itu. Kucing biasanya doyan ikan. Dan saya membayangkan otak kriminal kucing itu sedang bekerja keras bagaiamana caranya menangkap calon mangsanya itu.  Lalu perlahan ia menaikkan kedua kaki depannya ke dinding kolam yang rendah. Menonton gerakan-gerakan ikan dengan penuh perhatian. Lama ia berdiri dengan posisi seperti itu. namun entah apa sebabnya, tiba-tiba ia menarik mundur kembali ke dua kakinya dan berdiri kembali di paving block depan kolam. Tampak seolah sedang berpikir.  Entah apa yang ada di dalam pikiran kucing itu.

Kucing 1

Tak seberapa lama kemudian ia mengangkat kembali ke dua kaki depannya dan melongokkan lagi kepalanya dengan penuh perhatian. Sungguh saya geli melihat kelakuan si kucing. Ia tampak sedemikian ngiler terhadap ikan dan sama sekali tidak “ngeh”akan apa yang terjadi di sekitarnya. Saya rasa ia akan segera menyergap ikan-ikan dipermukaan air itu. Namun tak kunjung ia lakukan juga.Lama saya perhatikan, ia tetap berada di posisi itu. Hanya menonton dengan sikap ancang-ancang mau meloncat. Keplanya sedikit dimajukan ke depan, atau ditarik sedikit kebelakang. Di ulang lagi.  Rupanya ia ragu. Terlihat dari raut wajahnya yang tak pasti. Iapun menurunkan kembali ke dua kaki depannya.  Duduk ladi di bawah. Lalu menaikkan kedua kakinya lagi. Terus turun lagi. Demikian terjadi berulang-ulang.Membuat saya semakin penasaran. Ttak kunjung ia berani juga.

Kucing 3

Hingga akhirnya tibalah saatnya barangkali ia menetapkan hatinya. Ia menaikkan ke dua kaki depannya, lalu disusul dengan kedua kaki belakangnya. Mata lurus ke depan dan posisi siap menyergap.  Saya menunggu dengan tegang. Satu…dua….tiga….empat…. tidak terjadi apa-apa.  Eh… tiba-tiba kucing itu membalikan badannya dan turun. Ngibrit!. Loh? Kok nggak jadi? Kok malah turun?

Kucing 4

Sekarang saya melihat  kegalauan di wajahnya. Ia cuma duduk bengong di dekat pot teratai dan memandang ke sisi  samping kolam. Apayang terjadi? Merasa penasaran,akhirnya saya mendekat. Oooh… rupanya ia takut pada Kura-Kura. Di kolam kami, saat ini tinggal 2 ekor kura-kura bernama Galapago & Sicilia.  Padahal tentu saja kura-kura jinak  itu tidak akan menyerang kucing.  Kura-kura itupun saya lihat hanya anteng-anteng saja di situ. Entah kenapa kucing itu kok keder duluan.  Barangkali karena ukuran kura-kura itu lumayan gede juga. Kucing itu jadi ragu-ragu dalam bertindak. Ragu bertindak yang membuat upaya kucing itu  jadi gagal berantakan. Ragu terhadap keberanian dan kemampuannya sendiri hanya gara-gara melihat kura-kura yang mungkin ia sangka akan menyerangnya atau setidaknya menjegal usahanya dalam menangkap ikan. Keraguan itulah yang pada akhirnya membawa kegagalan bagi kucing ini.

“KERAGUAN DALAM BERTINDAK, MENGURANGI PELUANG KITA UNTUK SUKSES”

Memikirkan kalimat itu,  kok rasanya sangat familiar ya?  Apakah ada yang merasa familiar juga dengan kalimat itu? Yap! Saya rasa kalimat ini tidak hanya berlaku untuk Kucing saja.  Berlaku juga untuk kita manusia. Kita sering gagal, akibat kita tidak terlalu yakin akan apa yang kita lakukan. Akibat perasaan ragu-ragu yang mengganjal.

Kita tidak yakin apakah jalan yang kita tempuh sudah merupakan yang jalan yang tepat atau tidak. Kita tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil sudah yang terbaik diantara pilihan yang ada atau tidak. Dan sebagainya. Sehingga sambil menjalankannya, kita masih membayangkan jalan lain atau option lain yang kita pikir seharusnya masih bisa kita pertimbangkan dan pilih. Kita merasa ragu-ragu. Pikiran kita terpecah. Akibatnya kita menjadi kurang fokus dalam eksekusi. Dengan sendirinya, pekerjaan yang dilakukan tanpa fokus tentu hasilnya tidak sebaik jika kita melakukannya dengan tingkat fokus yang lebih tinggi.

Akan menjadi sangat berbeda ketika kita yakin akan apa yang kita lakukan adalah hal yang tepat atau terbaik. Pikiran kita menjadi jauh lebih simple. Dan tidak ada alternatif  lain yang harus kita pikirkan lagi, sehingga pikiran kita benar-benar terfokus dalam menjalankannya. Pikiran dan perasaan kita tercurah seluruhnya untuk menjalankan keputusan itu.Sebagai akibat dari fokus, tentu hasil pekerjaan kita juga akan lebih baik.

Hal lain yang kadang membuat kita ragu adalah kurangnya pemahaman kita akan hal-hal yangberkaitan dengan keputusan yang kita jalankan.   Serupa dengan kura-kura jinak di kolam itu. Hanya gara-gara ukurannya yang besar, kucing itu salah impresi mengira kura-kura itu ganas dan akan menyerangnya. Akibatnya ia ngibrit dan menghentikan usahanya untuk menangkapikan. Ia tidak memperhatikan bahwa sebenarnya kura-kura itu sangat jinak dan bersahabat.  Selain itu pandangan mata kura-kura juga tidak begitu cemerlang. Tidak secemerlang mata kucing. Kalaupun ia melihat kucing itu menangkap ikan di kolam, ia tak akan bisa berbuat apa-apa juga. Jika ia paham, tentu ia tidak akan sekhawatir itu.

Serupa dalam  kehidupan kita, jika kita merasa ragu akan sesuatu, barangkali ada baiknya kita teliti dan pahami dengan baik hal-hal yang membuat kita menjadi ragu. Apakah benar apa yang membuat kita ragu itu adalah hal yang memang seharusnya kita khawatirkan? Atau jangan-jangan hanya sesuatu yang tampaknya saja sulit, tampaknya saja besar padahal sebenarnya  kecil, dan mudah ?

Dengan demikian, hanya jika apa yangkita khawatirkan itu memang benar sesuatu yang besar dan sulit, setidaknya keraguan kita kini lebih terjawab dan berubah menjadi sebuah kepastian.

Saya harap saya bisa  lebih yakin dalam setiap pilihan hidup dan keputusan yang telah dan akan saya ambil.

 

Mencicipi Masakan Lombok.

Standard

Ke Lombok, tentu tidak lengkap tanpa menikmati kulinernya. Demikianlah ketika saya dan seorang teman kebetulan ada urusan di  Lombok. Sebenarnya saya agak buru-buru, namun seorang sahabat saya drh I Ketut Wetrana yang tinggal di Lombok berkata bahwa tidak adil jika saya ke Lombok tapi tidak sempat menemuinya. Saya pikir ada benarnya juga. Sudah sangat lama saya tidak bertemu dengan sahabat semasa kuliah yang sudah seperti saudara sendiri itu.  Mungkin ada baiknya saya menemuinya di perjalanan ke bandara. Ia meminta saya mampir di sebuah rumah makan khas Lombok -sayang saya lupa namanya.  Ia akan menunggu di sana.

Masakan Lombok

Masakan Lombok

Sesuai dengan janji, di perjalanan saya pun mampir bersama dengan 2 orang teman saya. Rupanya kolega saya itu sudah memesankan makanan untuk kami nikmati sore itu. Makanan Lombok tentu saja.  Satu paket yang terdiri atas sekitar 11 jenis. Mulai dari Ayam panggang, Lebui, Ikan Bakar, Tengkong, Pelecing Kangkung, Beberok Terong, Ikan dibumbu kuah, pepes ikan, ikan teri kacang, telor dadar, hingga tahu dan tempe. Waduuuh! Walaupun porsi masing-masing jenis masakan itu tidak terlalu besar untuk kami berempat, namun yang jelas jenisnya itu banyak sekali. Jadi keseluruhannya,judulnya…makanannya banyak sekali.

Melihat masakan itu, saya merasa kembali ke alam pedesaan. Sangat alami, apalagi dinikmati di saung lesehan beralaskan bambu di rumah makan yang terlihat sangat asri dengan pemandangan sawah dan kolam kangkungnya.

Masakan Lombok terkenal pedas dan enak. Itu barangkali sebabnya kenapa pulau itu disebut dengan Pulau Lombok. Barangkali karena cabenya yang memang selalu menghiasi masakannya. Jenis masakan yang terhidang itu mungkin sudah familiar bagi sebagian orang,namun bagi sebagian orang lain lagi barangkali belum tahu. Nah inilah sebagian dari jenis masakan Lombok yang saya sukai.

1. Lebui.

lebui

Lebui adalah Kacang Hitam yang di dalam Bahasa Balinya disebut dengan  Undis, atau dalam Bahasa Jawanya disebut dengan Gude. Cara yang umum memasak Lebui adalah dengan menjadikannya Sayur Kuah alias Sop, dengan bumbu traditional bawang merah dan putih, kunyit, jahe,lengkuas, kencur, garam,cabe dan daun lengkuas. Sayur bisa ditambah dengan daun-daunan hijau seperti bayam ataupun kacang panjang, tergantung selera. Kuahnya biasanya hitam. Menurut saya, sayur Lebui ini enak sekali.

2/. Tengkong.

Tengkong

Tengkong adalah Jamur dalam Bahasa Lombok. Jamur yang dihidangkan dimasak tumis. Namun Tumis Jamur alias Tengkong ini sangat enak. Saya cukupsering menumis Jamur Tiram seperti ini, tapi biasanya rasanya lebih hambar dibanding ini. Lagi-lagi saya tidak tahu apakah penyebabnya karena cabe Lombok itu memang beda dan lebih enak dari tempat lain? Saya tidak tahu. Yang jelas Tengkong ini sangat enak dan bumbunya meresap, terutamabagi penggemar masakan pedas.

3/. Pelecing Kangkung.

Pelecing

Nah kalau yang ini sih kelihatannya sudah banyak yang tahu. Pelecing Kangkung adalah masakan sehari-hari di Bali dan Lombok. Walaupun demikian Pelecing Kangkung di kedua pulau itu memiliki gaya yang berbeda-beda.  Pelecing adalah sayuran yang direbus dengan bumbu pedas. Bahan utamanya biasanya kangkung, lalu ditambah dengan sayuran lain seperti rebusan kacang panjang dan tauge,lalu ditabur dengan urap kelapa dan sambal merah (atau kadang sambal kacang pedas)  plus kacang tanah.

4/. Beberok Terong.

Beberok Terong

Beberok terong adalah masakan asli Lombok,dengan bahan dasar Terong mentah yang dipotong-potong (kadang dicampur dengan kacang panjang mentah yang diiris-iris) dan diberi bumbu pedas dan tomat. Walaupun tidak sama persis (baik bahan-bahannya maupun bumbunya), namun tingkat kementahannya mengingatkan saya akan masakan “Jukut Serombotan” kalau di Bali.

Jenis masakan lainnya tidak saya bahas di sini, karena saya pikir bahwa masakan-masakan yang lain itu (seperti misalnya ayam panggang, tahu tempe atau telor dadar,dsb) juga umum di daerah-daerah lain di Indonesia.

Saya menikmati masakan-masakan itu, sambil mengobrol kiri kanan dengan sahabat saya itu. Obrolan tentang keluarganya, pasiennya, kasus-kasus kesehatan hewan yang dihadapinya hingga berbagai jenis operasi  untuk membantu upaya peningkatan kesehatan hewan yang dilakukannya sehari-hari. Sebenarnya kalau saja punya waktu luang, saya ingin sekali mengunjungi Klinik tempat prakteknya. Ingin mendengar lebih banyak lagi cerita-cerita darinya.  Namun sayang memang, waktu saya sangat terbatas.

Akhirnya sehabis makan, buru-buru saya pamit agar tak ketinggalan pesawat karena hari sudah mulai gelap. Tentunya tidak lupa mengucapkan terimakasih atas makanannya yang menurut saya sangat enak.  Lain kali saya juga  ingin mampir kembali ke rumah makan itu.

 

 

Kecintaan Terhadap Bendera Merah Putih.

Standard

Bendera merah PutihMasih dalam kaitan 17 Agustus, hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Tahun ini di kompleks perumahan tempat saya tinggal tidak terjadi kemeriahan yang luar biasa. Biasanya dari tahun ke tahun di tempat ini dilakukan banyak lomba-lomba, karnaval, pertunjukan barongsai, bazaar dan sebagainya. Namun tahun ini terasa anyep nyepnyep tanpa ada kegiatan yang berarti. Barangkali karena perumahannya sudah lama, para penghuninya sudah berkurang semangatnya untuk mengorganisir acara. Paling banter akhirnya hanya memasang umbul-umbul “Dirgahayu Republik Indonesia” dan memasang bendera di depan pintu halamannya masing-masing.

Tapi tidak apalah. Tidak mengikuti perayaan, bukan berarti kecintaan saya terhadap tanah air menjadi berkurang. Saya memandang bendera yang saya pasang di depan rumah dengan tiang yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak ada angin benderanya hanya tampak kuncup.  Tidak mau berkibar-kibar sama sekali. Dengan latar belakang tembok-tembok dan rumah  tetangga. Sama sekali tidak terlihat langit  biru  yang jernih sebagai latar belakangnya.

Saya membayangkan melihat bendera yang dipasang dengan tiang tinggi di lapangan kabupaten yang banyak angin, sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Ibu Sud dalam lagunya “Bendera Merah Putih“.

Bendera Merah Putih/Bendera Tanah Airku

Gagah dan jernih tampak warnamu/Berkibaran di langit yang biru

Bendera Merah Putih/Bendera bangsaku

Nah..dalam lagu ini disebutkan bahwa sang Merah Putih tampak gagah dan jernih warnanya dengan latar belakang warna langit yang biru, bukan?  Namun, lagi-lagi, walaupun bendera saya tidak berkibar-kibar di langit yang biru, tapi kecintaan saya terhadap bendera Merah Putih juag tidak berkurang sedikitpun.

Sambil bersenandung lagu “Bendera  Merah Putih”  saya jadi teringat akan lagu ciptaan Ibu Sud yang lain yang juga bercerita tentang bendera Merah Putih yang berjudul  “Berkibarlah Benderaku

 

“Berkibarlah benderaku/Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia/Kau Tetap Pujaan Bangsa

Siapa berani menurunkan kau/Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih nan perwira/Berkibarlah slama-lamanya.

 

Kami rakyat Indonesia/Bersedia setiap masa

Mencurahkan segenap tenaga/Supaya kau tetap cemerlang

Tak goyang jiwaku menahan rintangan/Tak gentar rakyatmu berkorban

Sang merah putih yang perwira/Berkibarkah Slama-lamanya”

Saya sangat salut akan Ibu Sud dengan ciptaan-ciptaannya.  Di dalam lagu-lagu tentang bendera ini, Sang Saka Merah Putih diposisikan sangat tinggi dan sakral di hati rakyat Indonesia. Sehingga jika terjadi sesuatu yang mengganggu misalnya berani menurunkan bendera ini begitu saja dari tanah air, maka serentak rakyat Indonesia akan membelanya.  Meresapi makna lagu ini memang membuat semangat kebangsaan dan kecintaan kita terhadap Merah Putih semakin berkobar.

Nah itu kalau kita lihat semangat di tingkat nasional. Kalau di daerah bagaimana? Saya rasa sama saja. Setidaknya kalau di Bali, saya tahu kecintaan terhadap Bendera Merah Putih inipun dituangkan dalam lagu berbahasa daerah.  Terus terang saya tidak tahu siapa penciptanya, yang jelas lagu ini sering dinyanyikan di sekolah-sekolah  ataupun dalam pertunjukan traditional, misalnya sebagai salah satu lagu yang dinyanyikan oleh para Janger/Kecak.

Judul lagunya ” Merah Putih, Benderan Tityange”

“Merah Putih benderan tityange/Mekibaran di langite terang galang

Nika lambang jiwan rakyat Indonesia/Merah bani medasar atine suci

Pusaka adi leluhur jaya sakti/Merah putih, benderan tityange”

 

terjemahan”

“Merah putih bendera saya/berkibar di langit yang terang benderang/

Itu lambang dari jiwa rakyat Indonesia/ Merah berani berdasar hati yang suci

Pusaka terbaik dari leluhur yang jaya dan sakti/Merah putih, bendera saya’

Isinya serupa, tentang pujian terhadap bendera kita.  Nah demikianlah kecintaan para pendahulu kita terhadap Merah Putih. Mengagumkan bukan? Saya rasa masih ada banyak lagi lagu  yang bercerita tentang  atau setidaknya menyebut bendera kita ini.

Yuk,  semakin kita cintai sang Merah Putih kita!

 

 

Kemerdekaan & Ke-Indonesia-an Kita.

Standard

TertiupTujuh Belas Agustus tahun ini jatuh pada hari Minggu. Oleh karenanya, walaupun Minggu, anak-anak tetap bangun pagi karena harus mengikuti Upacara Bendera di Sekolah. Saya sendiri tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa untuk memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini. Hanya memasang bendera merah putih di pintu depan, sisanya hanya menonton di TV dan Youtube. Ceklak ceklik mulai dari menonton Upacara di Istana Merdeka, hingga melihat upacara yang dilakukan Pak Prabowo Subianto di Cibinong.  Saya juga menonton ulang pidato kenegaraan terakhir Pak Susilo Bambang Yudhoyono  yang sangat mengesankan yang membuat saya merasa terharu.

Terutama pada pesan beliau bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bagi kita di abad dua puluh satu ini bukanlah “Menjaga Kemerdekaan” lagi,  tapi  “Menjaga keIndonesiaan”. Karena seperti yang beliau sampaikan,bahwa  tidak ada gunanya menjadi semakin makmur dan modern, namun kehilangan yang amat fundamendal dan terbaik dari bangsa yaitu Pancasila, ke-Bhinnekaan, semangat persatuan, toleransi, kesantunan, pluralisme, dan kemanusiaan. Saya sangat memikirkan bagian kalimat itu.

Saya pikir apa yang disampaikan beliau itu sangat, sangat benar adanya. Dan saya rasa itu penting untuk direnungkan oleh kita semua.

Seperti misalnya saya. Datang dari generasi yang bukan memperjuangkan kemerdekaan, karena sejak lahir sudah beruntung -menemukan Indonesia memang sudah merdeka. Jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya memperjuangkan kemerdekaan. Saya tidak merasakan secara langsung penderitaan dan pengorbanan para pejuang kita di masa lampau. Walaupun bisa membayangkannya baik dari cerita orang tua, guru di sekolah maupun dari bacaan.  Namun yang terbaik yang bisa saya lakukan hanya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita itu.

Bertahun-tahun pesan-pesan 17 Agustusan yang biasa saya terima adalah bagaimana caranya “Mengisi Kemerdekaan” – lalu kita diajak semua untuk mengisinya dengan pembangunan. Baik pembangun fisik, pembangunan pengetahuan dan prestasi maupun pembangunan spiritual.  Atau kalau tidak, pesan 17 Agustusan yang lain adalah  bagaimana “Menjaga Kemerdekaan” – lalu kita diajak untuk lebih mandiri, berusaha mengurangkan ketergantungan pada pihak luar, lagi-lagi dengan meningkatkan prestasi dan kwalitas diri sebagai anak bangsa.

Namun semakin ke sini, memang perkembangan ke-Indonesia-an kita semakin memprihatinkan. Element-element yang fundamental dan terbaik dari bangsa kita terasa tergerogoti sedikit demi sedikit.  Adu mulut soal SARA cukup mudah kita temukan di media sosial. Itu mencerminkan kebencian dan kekurang-mauan untuk menghargai dan menghormati sesama anak bangsa yang berbeda. Saling caci dan saling maki hanya gara-gara berbeda pilihan partai ataupun calon presiden. Terasa sangat runcing dan membakar. Saya sering merasa sedih melihat dan membaca kenyataan itu. Namun itu memang terjadi. Dimana letak kesantunan kita sebagai bangsa yang beradab? Entah kemana pula perginya toleransi dan rasa persatuan serta pemahaman akan pluralisme bangsa kita? Mengapa dengan sengaja kita membuat diri kita sendiri terkotak-kotak? Membiarkan diri kita dipisahkan oleh perbedaan suku, agama, ras atau bahkan pilihan partai politik atau calon presiden yang diperbesar-besarkan?

Bukankah para tetua kita dulu telah berjanji untuk menjunjung negara kesatuan Republik Indonesia ini? Dengan kesadaran penuh mereka telah meletakkan ego masing-masing yang timbul akibat dari perbedaan-perbedaan suku,agama, ras dan sebagainya, demi menegakkan persatuan Indonesia? Mereka telah mengikrarkan “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan yang menyatukan perbedaan-perbedaan kita.  Tidak bisakah kita membawa kembali semangat persatuan kita itu? Mengembalikan apa yang disitilahkan oleh Pak SBY sebagai “Ke-Indonesia-an” kita? Bangga terhadap kekayaan budaya, adat istiadat, bahasa daerah ataupun agama yang kita anut adalah wajar. Namun ketika semua itu tiba pada urusan berbangsa, hendaknya  kita tetap mengedepankan Persatuan kita, sebagaimana apa yang dilakukan oleh para leluhur kita.

Walaupun saya tahu banyak juga diantara kita yang masih berpihak terhadap “Ke-Indonesiaan” kita, namun semakin jelas seperti yang disampaikan oleh Pak SBY, bahwa  memang yang diperlukan oleh kita saat ini adalah bagaimana “Menjaga ke-Indonesia-an” dengan segala ragam element dasar penting yang kita miliki. Agar jangan sebagai bangsa kita semakin berpikiran sempit dan terkotak-kotak, lalu rapuh dan terpecah-pecah serta saling menjauh satu sama lain. Mirip bunga Dandelion tua yang  bijinya terbang menjauh satu  persatu karena ditiup angin. Tentunya kita tidak mau tercerai berai begitu, bukan?

Seperti yang saya sampaikan di atas, saya sangat terkesan akan pidato Pak SBY yang terakhir ini. Dari apa yang disampaikan beliau dalam pidatonya, saya juga melihat bahwa Pak SBY  adalah sosok yang sangat santun dan bijaksana. Permintaan maafnya, kesediaannya untuk membantu siapapun presiden berikutnya kelak – entah Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo sama saja- dan hal-hal lain yang beliau sampaikan dalam pidatonya benar-benar menunjukkan kwalitas beliau sebagai seorang negarawan sejati.

Karena ini adalah pidato kenegaraan terakhir Pak SBY dalam akhir masa baktinya sebagai Presiden Indonesia, saya sebagai salah seorang rakyat Indonesia lewat tulisan ini  sekaligus  juga ingin mengucapkan terimakasih atas kepemimpinannya yang sukses dalam membawa Indonesia lebih maju. Dan yang paling penting lagi, adalah dalam situasi negara yang aman tanpa kerusuhan, sehingga rakyat bisa melakukan aktifitasnya sehari-hari dengan tenang.

Dirgahayu Republik Indonesia!

 

 

 

 

 

 

 

Menonton Anime Festival Asia – Indonesia 2014 di JCC.

Standard

AnimeAnime! Kata itu seolah menjadi magnit bagi ribuan remaja di Jakarta. Remaja mana di Jakarta (dan mungkin di hampir semua kota-kota di Indonesia) yang tidak suka film animasi ala Jepang ini? Rasanya sulit untuk mengatakan tidak ada.  Bisa saya lihat kenyataannya di Jakarta Convention Center siang tadi. Ruangan pameran itu sungguh sangat sesak dijejali para remaja penggemar Anime yang datang untuk melihat-lihat stand, atau melihat pertunjukan di Stage maupun menonton Anisong Mega Anime Music Festival  di Anime Festival Asia yang diselenggarakan di sana sejak tanggal 15 hingga 17 Agustus 2014.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu paham dunia Anime. Jikapun ditanya tentang komik atau film kartun  Jepang yang saya kenal dengan cukup baik,  paling-paling cuma Natuto Shippuden, Doraemon atau Pokemon. Cuma karena anak saya meminta ijin untuk pergi  menonton Festival ini sendiri saya jadi mikir. Apa sebaiknya saya temani saja ya? Walaupun anak saya mengatakan “Ini Festival Anime,Ma! Aku khawatir mama akan bosan kalau ikut. Lebih baik aku pergi sendiri.Aku mau ketemu temanku di sana” katanya. Mungkin benar juga sih. Selain itu barangkali anak saya  mulai meningkat remaja dan ia ingin pergi atau bertemu dengan teman-temannya tanpa direcokin ortunya.

Anime 1Tapi di sisi lain, memikirkan besar dan sesaknya JCC, saya khawatir juga untuk melepas anak saya pergi sendiri walaupun diantar dan didrop di sana. Selain itu adiknya juga pengen ikut.Saya tidak yakin apakah ia bisa menjaga adiknya juga selain menjaga dirinya sendiri di tengah hiruk pikuk pengunjung pameran itu?   Sedang gundah gulana itu, tiba-tiba seorang ibu tetangga menelpon apakah bisa menitipkan anaknya yang juga sahabatnya anak-anak, pengen banget ke Anime Festival Asia karena kebetulan ia sedang tidak bisa mengantar. Saya menyetujui dan memutuskan untuk ikut pergi menemani anak-anak ke sana.

Benar dugaan saya.Pengunjung JCC sungguh sangat membludak. Untuk masuk saja perlu antri yang panjang hingga ke tempat yang panas. Begitu masuk, ruangan yang biasanya berAC dingin banget itu sudah dijejali oleh para remaja sehingga terasa panas.  Kami melihat-lihat dari satu stand ke stand yang lain. Namun jangan dikira mudah. Hanya untuk melihat standpun cukup susah, dan harus memastikan diri berada di pinggir di barisan yang dekat dengan stand. Jika berjalan di tengah, dijamin tidak akan bisa melihat apa-apa, karena di kiri kanan depan belakang kita pemandangannya ditutupi pengunjung lain yang berdesakan.  Lalu apa yang dilihat di sana?

Ada banyak sih, tapi tidak semuanya saya kenal. Yang jelas ada stand Gundam. Robot-robot  berkaki dua yang bentuknya menyerupai manusia. Saya hanya ikut melihat-lihat saja tanpa memahami duduk perkara ataupun ceritanya.  Yang dipamerkan barangkali seri-seri terbaru Gundam – saya kurang tahu Ada Hi-Gundam Ver.ka, lalu ada Nightingale terus ada Z’Gok – namun saya tidak paham siapa dan bagaimana masing-masing karakter itu.

Lalu disebuah stand yang lain ada dipamerkan para karakter Anime -anime termasuk di dalamnya ada Cecilia Alcott yang berambut kuning dengan headband berwarna biru dari komik Infinite Stratos. Di tempat yang lain ada tokoh-tokoh Sailor Moon dengan kuncir kuning panjangnya  dan Sailor-sailor lainnya, para serdadu yang cantik jelita dan sebagainya karakter wanita yang hampir semuanya digambarkan dengan sangat jelita dan sexy, dengan dandanan yang umumnya rok pendek dengan kaos kaki panjang hingga ke paha dan rambut panjang yang gemulai.

Lalu saya juga melihat stand yang memamerkan karakter-karakter Super Saiyan dari Dragon Ball seperti Vegeta, SonGoku,dll. Juga ada Doraemon dan Nobita. Lalu beberapa tokoh Pokemon seperti Blastoise, Charizard , dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lain yang saya tidak tahu.

Seperti biasanya,  selain stand-stand yang memamerkan karakter dan menjual merchandise Anime, yang sangat menarik untuk dilihat adalah banyaknya Cosplay – yakni anak-anak remaja yang menggunakan costum meniru tokoh-tokoh kesayangan mereka.  Ada yang meniru tokoh tokoh Naruto, seperti Akatsuki, Jiraiya dan sebagainya, juga tokoh-tokoh Anime lain Asuna, Kirito dan lain-lain. Semuanya tampak senang dan pede saja berjalan hilir mudik di area pameran. Kebetulan siang itu juga ada penampilan Cosplay di Stage.

Saya juga sempat menonton acara di stage sebentar dan cukup tertarik mendengarkan talk show yang menghadirkan Shinichiro Kashiwada, producer dari Sword Art Online  – salah satu Anime yang sukses mendatangkan penggemar. Pembicaraan seputaran informasi Anime Premiere dari Sword Art Online II yang  sudah dilakukan di beberapa negara seperti USA, Jerman, Perancis, Hongkong, Korea, di Taiwan dan tentunya di Jepang (di Indonesia belum). Selain producersnya sendiri, juga didatangkan artis pengisi suara Yui, yakni Kanae Ito. Bagi penggemar Anime Sword Art, tentu paham bahwa Yui adalah anak angkat dari Kirito dan Asuna di online games. Kanae Ito  yang cantik dan imut ini juga berperan mengisi suara banyak sekali tokoh anime lain, misalnya Sena Kashiwazaki di Boku wa Tomodachi dan lain-lain.  Kehadirannya tentu saja mendapatkan tepuk tangan yang sangat riuh dari penonton. Selain itu saya juga melihat kedatangan Eir Aoi penyanyi Anisong (Anime Song).

Satu hal yang sangat saya kagumi dari acara ini, adalah kepiawaian para producers Anime ini dalam memasarkan dan membangun merk-merknya, sehingga konsumennya bukan hanya sekedar membeli namun tergila-gila akan karakter-karakter ini. Acungin jempol yang banyak deh!.

 

 

 

Ini Dia Si Jali-Jali…

Standard

“Ini dia si jali-jali/Lagunya enak-lagunya enak merdu sekali/

Capek sedikit tidak perduli, sayang/ Asalkan dia, asalkan dia senang di hati…”

 

Jali jaliKebanyakan orang Indonesia  familiar dengan lagu Betawi yang indah dan jenaka itu. Saya sangat sering mendengarnya. Dan sering menyanyikannya ketika bermain ondel-ondelan dengan anak-anak saat mereka masih kecil. Tapi setelah mereka besar, tentu saja saya menjadi lebih jarang bermain ondel-ondelan lagi dengan mereka. Dan lagu Si jali-jali itupun mulai  jarang terdengar lagi di rumah, karena penyanyinya sibuk dengan urusan lain lagi.

Saya ingat pernah suatu kali anak saya bertanya,  Jali-Jali itu apa, Ma? Nama orang? Ha ha! Bang Jali, dong.. Bukan! kata saya. Lalu menjelaskan bahwa Jali-Jali itu adalah sejenis tanaman padi-padian yang  bijinya bisa dibikin bubur.  Rasanya enak juga.

Tapi ada juga jenis Jali-Jali yang bijinya keras ” Waktu kecil, bijinya yang tua  mama suka ambilin di pematang sawah buat bikin kalung dan gelang. Ceritanya itu manik-manik” kata saya. Anak saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya si jali-Jali itu. Saya ingin menunjukkannya dari internet, tapi selalu kelupaan.

Jali jali 1Ketika kapan hari sempat bermain di sawah yang tak terurus di belakang rumah, saya merasa senang karena melihat ada banyak pohon Jali-Jali ( Coix lacryma jobi) di sana.  Seseorang tentu telah menanamnya di sini dan meninggalkannya begitu saja saat sawah ini dibeli oleh pihak developer.

Tiba-tiba teringat akan pertanyaan anak saya waktu kecil . Jadi saya bisa menunjukkan pada anak saya. “Ini lho yang namanya tanaman Jali-Jali!” – walaupun barangkali ia sudah melupakan pertanyaannya itu. Anak saya terlihat mencoba mengingat-ingat, dimana barangkali ia pernah mendengar kata Jali-jali disebutkan. Lalu saya mengingatkan akan lagu Betawi itu. Barulah ia ingat kembali.

Kalu diperhatikan buah Jali-Jali ini menarik juga tampaknya. Bentuknya  mirip tetesan air mata yang terbalik. Oooh.. barangkali itu sebabnya, mengapa di dalam nama Bahasa Latyn-nya ada disebut kata Lacryma  (Lacrimal gland = kelenjar air mata) . Ha ha penyakit sok tahu saya mulai kambuh.

Tapi sungguh, buah tanaman ini sangat menyerupai tetes air mata. Warnanya hijau saat masih muda. kemudian berubah menjadi ungu dan akhirnya memutih dan mengeras. Pada ujung bakal buahnya muncul bunganya yang bertangkai dan terangguk-angguk di tiup angin senja.  Daunnya mirip daun jagung berukuran mini.

Champignon & Cheese On Potatoes Ala Jineng.

Standard
Champignon & Cheese On Potatoes Ala Jineng.

Champignon Cheese On Potatoes.Gara-gara membeli 2 pak Jamur Champignon di Supermarket, jadi harus meras otak lagi dong – mau dimasak apa lagi ya? sebelumnya sebagian sudah dimasak untukmembuat “ Champignon Bites“.  Masih ada sisa 1 pak lagi. Syaratnya tentu harus yang Enak dan terlihat Keren, biar anak-anak mau mencoba dan suka.  Apa yang enak menurut anak-anak? Pasti tak jauh-jauh dari keju dan kentang.  Nah idenya kali ini adalah membuat tumisan jamur champignon, lalu ditabur di atas kentang panggang/kentang rebus lalu ditutup dengan lelehan keju.  Kita kasih judul “Champignon Cheese On Potatoes”.

Bahan-bahannya adalah : kentang ukuran besar, daging ayam, jamur champignon, tomat, bawang bombay, bawang putih, keju cepat leleh – bisa kombinasi cheddar dan mozarella, garam, gula, merica bubuk, minyak untuk menumis.

cara membuat:

1/ Bersihkan dan rebus  kentang hingga matang. Angkat dan sisihkan setelah matang.

2/ Cincang kasar  jamur champignon dan dada ayam. Iris tomat, bawang bombay, bawang putih.

3/ Panaskan penggorengan, tumis jamur champignon, daging ayam cincang, irisan tomat, bawang bombay dan bawang putih. Tambahkan gula, garam dan merica sesuai selera. Aduk hingga matang.

4/. Belah ketang menjadi 2 bagian. masukkan ke dalam wadah tahan panas. Bisa juga menggunakan mangkok aluminium.

5/ Tambahkan tumisan jamur dan ayam di atas kentang.

6/ Tutup  dengan irisan keju.  Kukus hingga matang. Atau masukkan ke dalam oven selama 10 menit dengan api 170ºC, hingga keju meleleh dan matang.

Anak-anak pasti suka!. Enak juga  juga buat bekal anak-anak ke sekolah.

Bikin yuk!.

 

 

Seekor Anak Kelelawar Yang Jatuh Di Halaman.

Standard

Pul sinoge/Jukut timbul, basang gede/Bruakang, bruakang/ Sate lembat/ Jempiit nganceng/Bikul melaibang tum/ Kejeng-kejeng di kumisne/”

terjemahan:

Pul sinoge/Sayur kluwih, perut gendut/Digubrak-gubrak, digubrak-gubrak /Sate lembat – sejenis sate lilit yang terbuat dari campuran kelapa dan daging ayam atau ikan/Kelelawar kecil  macet diam tak bergerak/Tikus mencuri pepes/Bergerak -gerak kaku pada kumisnya/

Anak KelelawarIni cerita beberapa minggu yang lalu.

Petang hari, saat  makan malam. Anak kucing liar yang baru diadopsi anak saya tampak memainkan sebuah benda kecil berwarna hitam di halaman rumah. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan benda apa itu, sampai kemudian anaknya si Mbak yang kecil  bertanya “apa itu?’.  Sayapun menengok. Ooh rupanya seekor Jempiit alias kelelawar kecil. Kecil sekali. Mungkin sebenarnya bukan kelelawar jenis kecil, tapi lebih cocoknya kelihatan seperti anak kelelawar. Karena kelelawar ini kelihatannya belum begitu jago terbang.

Anak-anak saya tidak ada yang berani memegang anak kelelawar itu, karena belum mendapatkan isyarat aman dari saya. penyebabnya adalah karena  sebelumnya saya selalu memperingatkan pada mereka agar jangan pernah  sembarangan memegang binatang liar yang tidak kita kenal sebelumnya, terutama binatang yang suka menggigit seperti monyet, anjing, kucing dan kelelawar – karena bisa saja mereka mengidap rabies, mana kita tahu.

Melihat binatang mungil tak berdaya dan tanpa pertolongan itu, cepat-cepat saya menyelamatkannya dari cakaran kuku kucing. Anak kelelawar itu kelihatan sangat ketakutan. Habis diteror sama kucing. Nafasnya tampak memburu. Kasihan sekali. Saya memperhatikannya sekilas.  Setahu saya, kelelawar sekecil ini biasanya masih digendong oleh induknya sambil terbang mencari makan.  Kenapa ia ada di halaman rumah?Apakah jatuh? kemana induknya? Saya mendongak.  Mencoba mencari-cari induknya di udara. tapi tak terlihat sebuah kepakan sayap kelelewarpun di langit malam itu.

Akhirnya kelelawar itu saya bawa masuk. Sambil berpikir apa yang akan saya lakukan. Dipelihara? Atau dilepasliarkan kembali? Rasanya serba salah. Dipelihara, saya tidak punya waktu mengurusnya. Selain itu belum tentu saya akan berhasil menjaganya agar tetap hidup hingga ia siap terbang kembali ke alam. Kalau dilepaskan, takutnya ia jatuh dan diuber-uber kucing lagi. Melihat saya memegang anak kelelawar itu dengan santai, anak sayapun mulai berani menyentuhnya.

Awalnya saya letakkan di atas bantal kursi. Ia tampak diam. Namun ketika saya tinggalkan sebentar,  ia sudah bergerak.Rupanya ia suka memanjat. Akhirnya saya letakkan di tirai jendela. Tapi ia tampak diam saja bergelayut.

Sehabis mandi, saya melihat ke halaman depan rumah dan ke jalan. Ada dua ekor kelelawar dewasa yang terbang berputar putar di bawah lampu jalanan.Barangkali sedang berburu nyamuk. Apakah itu induknya? Atau hanya sekedar dua ekor kelelawar yang tak ada hubungan kekerabatan dengan kelelawar kecil itu? Karena takut mati jika saya diamkan di dalam rumah, akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan anak kelelawar itu dan meletakkannya di daun Kadaka di halaman depan rumah. Siapa tahu memang itu induknya.

Namun ternyata melepaskan anak kelelawar itu tak semudah yang saya bayangkan. Sesaat ketika saya letakkan, anak kelelawar itu diam saja. Lalu ketika saya tinggalkan, pelan-pelan ia memanjat naik di daun Kadaka yang panjang. Sesekali bercericit. Saya mengintip dari balik jendela. Merasa senang dan berharap induknya menangkap kode suara yang ia keluarkan. Tapi tak berapa lama kemudian tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh ke lantai halaman. Aduuuh …kasihannya! Untung badannya ringan.

Saya mengambil anak kelalawar itu dan mengembalikannya ke daun Kadaka. Ia memanjat lagi dengan riangnya. Agak lama duduk di situ. Barangkali berpikir bagaimana caranya belajar terbang. Lalu ia turun perlahan di balik daun. Mengaitkan jari kakinya di daun lalu bergelantung dan mencoba mengembangkan sayapnya. Satu..dua… hya! jatuh lagi. Untung mendaratnya di daun kadaka lain yang ada di bawahnya. Namun anak kelelawar itu memang tidak ada lelahnya. Ia malah memanjat lagi. Naik dan bergelantung ke bawah… dan jatuh lagi ke lantai. Kembali saya menolongnya. Mengangkat dan meletakkannya di daun kadaka lagi.

Demikian berkali-kali. Semakin lama kelihatannya semakin kuat ia membentangkan sayapnya untuk terbang. Tapi saya tidak bisa berada di sana untuk membantunya menaikkan ke daun kadaka terus menerus. Akhirnya karena sudah malam, dan ia tampak diam saja di ujung daun Kadaka yang panjang, anak kelelawar itu saya tinggal mandi saja.  Setelah mandi saya lihat lagi, ternyata ia sudah tidak kelihatan. Saya periksa setiap helai daun kadaka itu, tapi tidak ketemu. Barangkali jatuh. Sayapun periksa semua lantai halaman. Tidak ada juga. Kemana ya? Hati saya jadi tidak enak. Takutnya anak kelelawar itu kenapa -kenapa. Semoga tidak dimakan kucing.  Tapi kucing kami sedang ada di halaman belakang.   Atau kucing tetangga?  Aduuuh.. pikiran saya jadi kemana-mana.

Akhirnya saya teringat kepada dua ekor kelelawar dewasa yang sebelumnya terbang berputar-putar di bawah lampu jalanan.  Sudah tidak kelihatan juga.  Kemana ya mereka? Apakah pergi membawa anak kelelawar itu? Atau berlalu demikian saja tanpa perduli pada kelelawar kecil itu? Entahlah.

Saya menarik nafas panjang-panjang. Malam terasa lebih gelap. Sebaiknya saya masuk. Tidak ada gunanya saya memikirkannya terlalu lama. Saya telah menyerahkannya kembali kepada alam.  Apakah akhirnya ia selamat atau justru mengalami nasib naas? Biarlah alam yang mengatur mekanismenya.