Daily Archives: August 2, 2014

Yesterday When I Was Young…

Standard

Lily KuningSeorang sahabat bercerita bagaimana ia merawat ayahnya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Selain merawat secara fisik, ia juga merasa perlu merawat ayahnya secara psikis. Ayahnya mulai pikun. Kerap kali bercerita tentang kejayaannya di masa lalu. Berkali-kali diceritakannya, seolah-olah putrinya itu belum pernah mendengarkan. Padahal cerita yang sama telah diceritakan kepadanya belasan kali. Beliau lupa. “Ya aku tetap mendengarkan saja. Di umur segitu, yang paling penting ada orang yang  mau mendengarkan” ceritanya kepada saya.  Saya mengangguk-angguk menyetujui. Serasa sangat familiar dengan cerita itu.

Bapak saya semasa hidupnya juga sering menceritakan masa lalunya berulang-ulang kepada saya.  Mungkin karena dulunya beliau adalah seorang ketua partai politik di daerah, pembicaraannya memang lebih banyak ke soal partai -partai, pemilihan kepala daerah, sidang DPR dan sebagainya.  Sehingga walau tidak ada seorangpun  anaknya yang terjun ke dunia politik, pembicaraan mengenai politik terasa sangat familiar di keluarga kami. Biasanya saya juga selalu mendengarkan dengan baik, walaupun telah mendengarnya berulang-ulang kali. Dan sebenarnya …..sudah hapal ceritanya!. Jika ditulis barangkali bisa menjadi sebuah novel tentang politik. Walaupun tentunya memimpin sebuah partai politik di masa lalu bisa jadi jauh berbeda dengan memimpin partai politik di masa sekarang.

Begitu juga dengan ibu mertua saya. Sangat hobby bercerita tentang betapa menyenangkannya hidup diperkebunan di masa lalu *Dulunya bapak mertua saya  adalah kepala perkebunan yang pindah dari satu perkebunan teh ke perkebunan teh lain di Jawa Barat. Saya sendiri tidak kenal bapak mertua saya, karena beliau sudah wafat ketika saya menikah*. Cerita yang sama diulang-ulang terus.  Saking seringnya  ibu mertua bercerita hal yang sama, kakak-kakak ipar saya yang kebosanan jadi sering memanfaatkan  saya  “Dik Dani saja yang duduk dekat mami, ya.  Kan mantu paling kecil harus sabar dan setia mendengarkan cerita ibu mertua. Kita sudah hapal semuanya.” katanya sambil tertawa dan ngeloyor pergi. Tinggallah saya yang menjadi pendengar setianya.

Mendengar cerita saya yang serupa tapi tak sama dengan cerita ayahnya itu, teman saya lalu berkata bahwa barangkali hampir semua orang tua seperti itu. Bisa jadi sih.  Lalu ia membuat teori baru bahwa “Jika kita melihat seseorang sering menceritakan masa lalunya berulang-ulang, itu adalah tanda-tanda bahwa ia telah memulai proses penuaan” katanya.  Hah?

Lah….sebenarnya saya juga cukup sering menceritakan masa lalu saya.  Senang saja! Karena menurut saya ada banyak hal menarik yang saya alami dan lalui di masa lalu.Walaupun tentu saja ada banyak cerita pahit dan sulit juga sih. Apakah itu memang berarti bahwa saya sudah menulai proses penuaan?  Teman saya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan saya itu.  Tawanya membuat saya memikirkan kalimatnya itu.

Benarkah semua orang di usia saya memikirkan hal yang sama? Mulai diingatkan tentang betapa indahnya kehidupan di masa lalu? Barangkali tergantung dari masa lalu orang itu sendiri. Jika kebetulan masa lalunya menyenangkan, tentu dengan senang hati ia akan mengenangnya. Namun jika masa lalunya penuh kegetiran, barangkali orang malas juga mengingat-ingatnya kembali.

Walaupun saya tidak memiliki masa lalu yang jaya, saya tetap mengakui bahwa di masa lalu hidup saya terasa indah dan lebih ringan. Saya merasa lebih berani menjalaninya ketimbang sekarang. Ketika muda, saya tidak pernah memandang persoalan hidup seberat apa yang saya pikirkan pada saat ini. Saya mengambil keputusan kontroversial yang sangat berani dengan begitu saja tanpa memikirkan betapa berat resikonya.  Saya mempermainkan kehidupan, seperti angin mempermainkan nyala api lilin yang kecil. Saya hanya melihat peluang dan hanya sedikit memikirkan rintangan.

Walaupun jika saya pikirkan kembali di saat ini, semua yang telah saya jalani dimasa lalu bukanlah  hal yang mudah dan ringan juga. Banyak resiko dan bahaya yang telah saya tempuh.  Dan seandainya saya disuruh untuk mengulang kembali melakukan hal yang sama sekali lagi, barangkali saya tidak akan berani melakukannya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa ketika muda kita lebih berani mengambil resiko ketimbang sekarang?  Kita mencicipi segala yang disajikan oleh kehidupan dengan lebih berani.Sementara sekarang? Apa yang mebuatnya menjadi berbeda?

Saya pikir itu sangat erat kaitannya dengan ‘mind-set’ kita. Ketika kita muda, kita belum banyak terekspose dengan kegagalan dan kegetiran hidup. Sehingga kita bahkan tidak punya ide, bagaimana rasanya gagal dan menderita. Semua yang ada hanya  keinginan untuk mencoba. Semuanya terasa enteng. Semua yang kita lihat hanyalah peluang.  Peluang. Dan peluang.

Sebaliknya, jika kita telah mengalami banyak kegetiran hidup, maka otak kita akan berusaha mengantisipasi, jangan sampai kita gagal atau menderita lagi. Antisipasi ini membuat kita jadi berpikir jauh lebih panjang. Lebih berhati-hati. Dan lebih parahnya lagi, semakin takut untuk mencoba. Semakin kehilangan keberanian. Dan akhirnya semakin tidak produktif. Karena semua yang kita lihat hanyalah hambatan. Hambatan. Dan hambatan.

Jika usia tak bisa kita tolak kehadirannya, apakah barangkali sebenarnya kita bisa memperpanjang ke”muda”an mental kita?.  Misalnya dengan cara merombak sudut pandang kita yang tadinya  memandang apa-apa lebih banyak dari sisi ” hambatan’nya, sekarang mesti kita ganti agar bisa memandang segala sesuatu dari sisi’ peluang’ yang ada.Pertanyaan itu menggelayut di pikiran saya….

Lamat-lamat suara Julio Iglesias yang menyanyikan lagu lawas ” Yesterday when I was young” seperti berputar kembali di telinga saya.

Yesterday, when I was young/ So many happy songs were waiting to be sung,

 So many wayward pleasures lay in store for me/ And so much pain my dazzled eyes refused to see…

Advertisements