Pinggir Kali & Kasih Sayang Burung Bondol.

Standard

Pohon matiHi! Kali kecil belakang rumah, apa khabar?

Rasanya sudah agak beberapa saat saya tidak bercerita tentang kehidupan di pinggir kali di belakang rumah saya.  Sebenarnya memang karena aktifitas saya menengok tepi kali memang agak berkurang. Tentu ada penyebabnya.

Ceritanya bermula sejak beberapa bulan menjelang puasa. Para petani di pinggiran Jakarta tentu sibuk mulai menabur benih buah timun suri dan blewah untuk dipanen dan dijual saat bulan puasa tiba. petani sibuk menanam – tentu itu sesuatu yang bagus bukan? Lalu apa hubungannya dengan dunia pinggir kali belakang rumah saya? Seseorang rupanya  memanfaatkan lahan kosong  di seberang kali untuk bertanam timun suri. Lahan kosong yg biasanya  ditumbuhi alang-alang dan pepohonan tinggi itu, akhirnya diolah. Sayangnya cara pengolahannya kurang bersahabat dengan alam. Ia menebang beberapa perdu, membakar alang-alang dan sebagai akibatnya, pohon akasia besar di dekatnyapun ikut terbakar dan akhirnya mati. Tak terperikan kegalauan hati saya. Tentu saja saya hanya bisa bersedih melihat pohon akasia  itu mati, dan tak mampu berbuat apa-apa karena lahan kosong itu memang bukan milik saya.

Sejak itu,populasi burung  di tepi kali terasa menurun sangat drastis. Ada burung, ada pohon. Jika  pohon berkurang, maka populasi burungpun berkurang pula. Itulah sebab musababnya mengapa saya jadi jarang bermain ke pinggir kali lagi. Namun demikian, tentu saja sesekali saya masih suka menengok dan mengintip barangkali bisa menemukan biawak. Lubangnyapun terlihat kosong dan tidak ada lagi jejaknya. Saya khawatir biawakpun sudah ditangkap orang. Sesekali saya masih menemukan Burung Terkwak  berjalan berjingkat-jingkat mencari makanan di lumpur.  Burung Tekukur, burung Kipasan dan burung Kedasih tak terdengar bunyinya. Saya berharap mereka hanya bermigrasi ke tempat lain. Dan bukan habis karena ditangkap orang.   Berharap suatu saat mereka pulang kembali.

Namun beberapa ekor Burung Cerukcuk masih terlihat menclok di dahan pohon akasia yang mati itu – walaupun jumlahnya tidak sebanyak biasanya. Suara Ciblek dan Prenjak masih terdengar sesekali dari pohon Kersen. Demikian juga burung Madu dan Burung Cabe.

Anak anak Burung Bondol HajiNah siang ini saya menengok ke belakang. Melihat 3 ekor burung kecil bertengger tenang di dahan pohon Petai Cina. Burung apa itu? Tidak begitu jelas. Saya segera mengambil kacamata minus saya dan melihat anak-anak burung berwarna coklat coklat krem. Wah..rupanya anak-anak burung Bondol Haji (Lonchura maja). Belum begitu pintar terbang. Bulu tubuhnya sebenarnya juga belum merata.

sedikit informasi,anak burung  Bondol Haji memiliki warna yang berbeda dengan induknya. Jika induknya memiliki sayap  berwarna coklat kemerahan dan kepala putih bersih mirip topi Pak Haji, anak-anak burung Bondol Haji tidak memiliki warna puih sedikitpun. Warnanya kombinasi antara warna coklat tua dengan coklat terang. Mirip warna cookies. Sehingga orang awam bisa keliru menyangkanya jenis burung yang berbeda.

Sambil berteduh dari sengatan panas matahari yang terik, sayapun mengamati tingkah laku anak-anak burung itu. Tiba-tiba suaranya ribut. Rupanya induknya datang. Anak-anak burung itu mengangakan mulutnya minta disuapi. Pasangannya juga kelihatan datang.Mereka berdua mengasuh anak-anaknya dengan sangat sabar. Saya menonton dengan penuh keingintahuan.

Induk Burung BondolHaji dan anak-anaknyaKasih sayang orang tua kepada anaknya, bukan hanya dimiliki oleh manusia saja. Binatangpun memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya. Saya tidak tahu kapan induk burung ini sempat makan. Karena ia kelihatan sibuk bolak balik mengambilkan biji biji rumput untuk makanan anaknya. Baginya, asal perut anak-anaknya kenyang itu jauh lebih penting.

Induk burung itu juga rupanya bukan hanya mencarikan makanan buat anak-anaknya. Namun juga mengajarkan dan menuntun anak-anaknya agar berani meloncat dari satu dahan ke dahan yang lainnya. ia memberi contoh bagaimana cara terbang jarak pendek. Lumayan.  Menarik juga. Induk burung itu juga kelihatan sangat waspada dan melihat ke arah saya dengan pandangan curiga. Saya hanya berdiam diri saja dan berkata kepadanya dalam hati saya “Saya hanya ingin menonton saja. Bukan mengganggu” . Karena saya tidak melakukan gerakan apapun juga, induk burung itu kelihatan lebih tenang. Tak berapa lama kemudian, lalu mereka terbang.

Anak-anak burung itu bermain-main sendiri di dahan pohon petai cina. Tapi lama kelamaan mungkin menjadi bosan juga. Selain panas. Saya lihat mereka bergeser ke pangkal sebuah cabang dan bertengger berdesakan di situ. Mau ngapain sih? Saya penasaran. ooh..rupanya mereka mengantuk.  Mau berteduh.

MengantukTernyata jika mengantuk burung-burung itu mirip manusia juga. Ada tiga posisi tidur. Mata merem, kepala menoleh ke samping. Atau mata merem, menyenderkan bahu dan kepalanya di bahu saudaranya yang juga mengantuk. Atau bisa juga ganti posisi, duduk tegak  sambil memeramkan matanya.

Yang duduk tegak benar-benar seperti manusia. Kepalanya merunduk, merunduk lagi, lebih merunduk lagi dan semakin merunduk sampai hampir jatuh ke depan. Lalu anak burung itu kaget sendiri.  Eiiitss! Hati-hati jangan sampai jatuh! Saya membayangkan bagaimana jika mereka tertidur dan jatuh karena lepas cengkraman kakinya.

Anak burung itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menahan kantuk. Tapi kelihatannya ia tak kuasa menahan kantuknya. Aduuuh..matanya berat. Ia  malah tertidur lagi. Kepalanya dari tegak, merunduk, merunduk, semakin merunduk,  lalu saking merunduknya hampir jatuh lagi dan kaget!. Ha ha. Saya tertawa geli dalam hati. Asli! Sangat mirip dengan kelakuan manusia kalau lagi terkantuk-kantuk di bus kota. Kaget  takut kalau-kalau ada tukang copet.

Hiburan yang menyenangkan sambil berteduh dari panas yang terik matahari di pinggir kali.

8 responses »

  1. Ha ha ha . . . kebayang sih bagaimana lucunya anak burung itu ngantuk, apalagi kalau sampai jatuh. Aku pernah sekali memperhatikan anak monyet ngantuk, dan itu betul-betul sampai jatuh. Aku sampai ngakak dan akibatnya monyet-monyet itu buyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s