Daily Archives: August 5, 2014

Champignon Bites Ala Jineng.

Standard
Champignon Bites Ala Jineng.

Chicken Champignon BitesMenjadi ibu rumah tangga penuh selama liburan, membuat kita menjadi lebih kreatif  di dapur ketimbang biasanya. Selain masak makanan kesukaan anak-anak dan suami, tentu kita juga punya waktu untuk bereksperimen di dapur. Coba ini. Coba itu. Gagal? Nggak apa-apa. Namanya juga coba-coba. Tapi kalau sukses dan habis dimakan anak-anak, atau bahkan minta tambah… wah senangnya bukan alang kepalang.

Salah satu resep coba-coba karangan sendiri di musim liburan kemarin adalah Champignon Bites. Judulnya dibuat begitu biar kedengerannya keren aja sih.  Tapi intinya ini adalah camilan iseng-iseng dengan bahan utama Jamur Champignon, yang dicampurdengan  daging ayam cincang dan sedikit sayuran yang ada di kulkas.

Bikinnya agak repot sih sebenarnya, karena perlu melakukan beberapa tahap memasak, seperti menumis, lalu mengukus dan terakhir menggoreng. Tapi ya…. namanya  juga eksperimen, tetap saja dilakonin dengan semangat.

Nah..bagi penggemar Jamur, barangkali ada yang mau coba resep ini juga?

Bahan-bahan: jamur champignon, dada ayam dicincang, sebutir telor, wortel, daun bawang, seledri, tomat, bawang bombay,  bawang putih, garam,gula,merica, sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/ Cuci bersih jamur champignon. Lepaskan dan pisahkan tudungnya dari batangnya. Cincang batang jamur dan sebagian tudungnya. Sisakan sebagian, misalnya 12 buah tudung sebagai cangkang untuk wadah hasil cincangan.

2/Berihkan dan cincang dada ayam.

3/ Potong kecil-kecil wortel, bawang bombay, bawang putih serta daun bawang seledri.

4/Panaskan minyak dalam penggorengan, tumis daging ayam cincang, jamur cincang, wortel, bawang bombay, bawang putih, dan seledri. Tambahkan garam, gula dan merica sesuai selera.

5/Angkat hasil tumisan yang sudah matang, masukan sebutir telor ayam – aduk aduk hingga rata.

6/ Balikan tudung jamur Champignon sehingga terlihat seperti mangkuk penampung. Isi dengan tumisan yang sudah dicampur telor. Kukus hingga matang.

7/ Angkat, lalu digoreng.Atau bisa juga disimpan di kulkas dan goreng saat dibutuhkan.

Ini enaknya dimakan sebagai teman minum teh sambil duduk-duduk di bawah Jineng  (lumbung- Bahasa Bali) sambil menikmati udara sore bersama keluarga. Enak juga jika dijadikan lauk.

Coba, yuk!.

Advertisements

Tulis Gidat.

Standard

Andani 1Ini cerita yang tercecer ketika beberapa minggu yang lalu saya sempat bermain ke Museum Geologi Bandung. Ketika melihat-lihat di ruangan fosil Phitecantrophus erectus dan teman-temannya itu, saya sempat berdiri cukup lama memperhatikan bagian dahi dari tengkorak-tengkorak yang ada di situ. Anak saya bertanya,  ” Sedang melihat apa, Ma?” saya hanya menunjuk ke fosil fosil itu tanpa memberi penjelasan apa-apa. Soalnya ceritanya panjang, jadi agak repot menjelaskannya saat itu.

Anak saya tampak  merasa tidak nyaman melihat tengkorak-tengkorak itu, lalu pergimeninggalkan saya yang masih memandangi tengkorak  Homo erectus itu. Karena ada banyak juga pengunjung lain di ruangan itu, saya tidak terlalu merasa takut. Anggap saja sedang praktikum di Lab Anatomi (sebenarnya sempat juga sih menengok kiri kanan, dan siap siap kabur jika tak ada pengunjung lain.. he.. he..).

Sebenarnya saat melihat-lihat fosil itu, saya sedang teringat akan ungkapan ” TULIS GIDAT” – sebuah istilah dalam Bahasa Bali yang  jika diterjemahkan langsung alias letterlijk ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ” TULISAN DI DAHI”.  Tetapi arti sebenarnya dari ungkapan itu sebenarnya adalah “Takdir  kehidupan yang harus dijalani”. kalau kita hendak mengatakan “suratan takdir’ dalam bahasa Bali biasanya kita mengatakan “tulis gidat”.

Contoh pemakaiannya misalnya dalam kalimat ” Ooh..I Ketut  nak mula pantes dadi Bupati. Nak suba tulis gidatne buka keketo“. terjemahan :  Ooh..Si Ketut memang sudah sepantasnya menjadi Bupati. Karena  takdirnya memang sudah begitu“. Atau misalnya dalam kalimat lain “Jeg buung  tiyang nganten ngajak ia. Enggalan ia nganten jak nak len. Miribang suba tulis gidat tiyange buka kene“. terjemahannya”Saya batal menikah dengannya. Ia keburu menikah dengan orang lain.Mungkin memang sudah takdir saya begini“. sangat jelas bahwa Tulis Gidat orang pertama yang dibicarakan adalah baik.Sementara Tulis Gidat orang yang ke dua kelihatannya kurang baik.

TULIS GIDAT! Darimana asal usul ungkapan ini ? Saya diceritakan oleh para tetua jaman dulu, bahwa konon di setiap tulang dahi manusia, selalu ada script atau  tulisan (entah dalam huruf apa – yang jelas kita tidak bisa membacanya) yang konon bercerita tentang nasib yang akan kita jalani selagi hidup di dunia. Tentang bagaimana kita lahir, tentang siapa saja saudara kita , teman-teman kita, siapa pasangan hidup kita, bagaimana kita bertemu, bagaimana kita sukses dan sebagainya dan sebagainya. Nah..dari cerita itulah ungkapan “TULIS GIDAT” bermuasal.  Jadi karena semua takdir kita sudah tertulis di tulang dahi kita, apapun yang kita alami di dunia ini ya kita harus terima dan jalani dengan tabah dan tawakal. Tulis Gidat bisa mencakup sesuatu  takdir yang bagus, bisa juga kurang bagus.

Dan orangtua juga selalu mengingatkan kepada anak-anak, bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk melakukan perbuatan baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Jadi hanya jalani saja hidup ini dengan sebaik baik yang bisa kita lakukan. Walaupun kita kurang beruntung ataupun nasib buruk menimpa kita, tetap harus kita jalani dengan baik. Jika kita jatuh, maka jatuhlah dengan baik, lalu bangkit lagi dengan cara yang baik. Jika kita kalah, kalahlah dengan baik. Akui kemenangan orang lain dengan ksatria. Tak ada yang harus disesali atau dijadikan beban pikiran, jika semuanya telah kita lakukan dengan cara yang baik dan benar.   Karena semua apa yang menimpa kita itu sudah takdir yang tertulis di gidat alias dahi kita. (Sekali lagi, bahwa semuanya itu konon lho ya).

Gara-gara teringat ungkapan TULIS GIDAT itulah saya jadi memperhatikan tulang dahi dari tengkorak fosil-fosil itu. Saya pengen melihat langsung, apakah benar ada semacam tanda-tanda  mirip tulisan begitu pada tulang dahi manusia yang disebut dengan istilah TULIS GIDAT. Sayangnya kebanyakan tulang fosil itu sudah hancur. Atau kalau tidak,  fosil itupun hanya merupakan replika saja yang tentu kehilangan detailnya. Jadi saya tidak bisa melihat adanya tulisan di sana. Ada juga retakan yang mirip script asing pada sebuah kepala Homo erectus, tapi itu bukan pada bagian gidat-nya, tapi justru pada bagian tempurung kepalanya.  Apakah barangkali nenek moyang kita dulunya terinspirasi oleh alur retakan pada tengkorak itu yang memang mirip aksara antah berantah itu,sehingga keluarlah istilah Tulis Gidat itu.

Lalu,apakah saya orang yang percaya pada Tulis Gidat? . Bisa saya bilang kalau saya ada percaya juga pada yang namanya suratan takdir (takdir dalam pehamanan yang lebih luas daripada hanya sekedar tulisan fisik pada tulang dahi). Walaupun saya lebih percaya bahwa hingga level tertentu, usaha dan upaya kita untuk menentukan nasib juga sangat besar peranannya. Jika kita memang sudah habis-habisan berusaha, bekerja dengan baik dan benar, dengan keras dan smart…nah sisanya itulah baru takdir yang memegang peranan.