Seekor Anak Kelelawar Yang Jatuh Di Halaman.

Standard

Pul sinoge/Jukut timbul, basang gede/Bruakang, bruakang/ Sate lembat/ Jempiit nganceng/Bikul melaibang tum/ Kejeng-kejeng di kumisne/”

terjemahan:

Pul sinoge/Sayur kluwih, perut gendut/Digubrak-gubrak, digubrak-gubrak /Sate lembat – sejenis sate lilit yang terbuat dari campuran kelapa dan daging ayam atau ikan/Kelelawar kecil  macet diam tak bergerak/Tikus mencuri pepes/Bergerak -gerak kaku pada kumisnya/

Anak KelelawarIni cerita beberapa minggu yang lalu.

Petang hari, saat  makan malam. Anak kucing liar yang baru diadopsi anak saya tampak memainkan sebuah benda kecil berwarna hitam di halaman rumah. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan benda apa itu, sampai kemudian anaknya si Mbak yang kecil  bertanya “apa itu?’.  Sayapun menengok. Ooh rupanya seekor Jempiit alias kelelawar kecil. Kecil sekali. Mungkin sebenarnya bukan kelelawar jenis kecil, tapi lebih cocoknya kelihatan seperti anak kelelawar. Karena kelelawar ini kelihatannya belum begitu jago terbang.

Anak-anak saya tidak ada yang berani memegang anak kelelawar itu, karena belum mendapatkan isyarat aman dari saya. penyebabnya adalah karena  sebelumnya saya selalu memperingatkan pada mereka agar jangan pernah  sembarangan memegang binatang liar yang tidak kita kenal sebelumnya, terutama binatang yang suka menggigit seperti monyet, anjing, kucing dan kelelawar – karena bisa saja mereka mengidap rabies, mana kita tahu.

Melihat binatang mungil tak berdaya dan tanpa pertolongan itu, cepat-cepat saya menyelamatkannya dari cakaran kuku kucing. Anak kelelawar itu kelihatan sangat ketakutan. Habis diteror sama kucing. Nafasnya tampak memburu. Kasihan sekali. Saya memperhatikannya sekilas.  Setahu saya, kelelawar sekecil ini biasanya masih digendong oleh induknya sambil terbang mencari makan.  Kenapa ia ada di halaman rumah?Apakah jatuh? kemana induknya? Saya mendongak.  Mencoba mencari-cari induknya di udara. tapi tak terlihat sebuah kepakan sayap kelelewarpun di langit malam itu.

Akhirnya kelelawar itu saya bawa masuk. Sambil berpikir apa yang akan saya lakukan. Dipelihara? Atau dilepasliarkan kembali? Rasanya serba salah. Dipelihara, saya tidak punya waktu mengurusnya. Selain itu belum tentu saya akan berhasil menjaganya agar tetap hidup hingga ia siap terbang kembali ke alam. Kalau dilepaskan, takutnya ia jatuh dan diuber-uber kucing lagi. Melihat saya memegang anak kelelawar itu dengan santai, anak sayapun mulai berani menyentuhnya.

Awalnya saya letakkan di atas bantal kursi. Ia tampak diam. Namun ketika saya tinggalkan sebentar,  ia sudah bergerak.Rupanya ia suka memanjat. Akhirnya saya letakkan di tirai jendela. Tapi ia tampak diam saja bergelayut.

Sehabis mandi, saya melihat ke halaman depan rumah dan ke jalan. Ada dua ekor kelelawar dewasa yang terbang berputar putar di bawah lampu jalanan.Barangkali sedang berburu nyamuk. Apakah itu induknya? Atau hanya sekedar dua ekor kelelawar yang tak ada hubungan kekerabatan dengan kelelawar kecil itu? Karena takut mati jika saya diamkan di dalam rumah, akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan anak kelelawar itu dan meletakkannya di daun Kadaka di halaman depan rumah. Siapa tahu memang itu induknya.

Namun ternyata melepaskan anak kelelawar itu tak semudah yang saya bayangkan. Sesaat ketika saya letakkan, anak kelelawar itu diam saja. Lalu ketika saya tinggalkan, pelan-pelan ia memanjat naik di daun Kadaka yang panjang. Sesekali bercericit. Saya mengintip dari balik jendela. Merasa senang dan berharap induknya menangkap kode suara yang ia keluarkan. Tapi tak berapa lama kemudian tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh ke lantai halaman. Aduuuh …kasihannya! Untung badannya ringan.

Saya mengambil anak kelalawar itu dan mengembalikannya ke daun Kadaka. Ia memanjat lagi dengan riangnya. Agak lama duduk di situ. Barangkali berpikir bagaimana caranya belajar terbang. Lalu ia turun perlahan di balik daun. Mengaitkan jari kakinya di daun lalu bergelantung dan mencoba mengembangkan sayapnya. Satu..dua… hya! jatuh lagi. Untung mendaratnya di daun kadaka lain yang ada di bawahnya. Namun anak kelelawar itu memang tidak ada lelahnya. Ia malah memanjat lagi. Naik dan bergelantung ke bawah… dan jatuh lagi ke lantai. Kembali saya menolongnya. Mengangkat dan meletakkannya di daun kadaka lagi.

Demikian berkali-kali. Semakin lama kelihatannya semakin kuat ia membentangkan sayapnya untuk terbang. Tapi saya tidak bisa berada di sana untuk membantunya menaikkan ke daun kadaka terus menerus. Akhirnya karena sudah malam, dan ia tampak diam saja di ujung daun Kadaka yang panjang, anak kelelawar itu saya tinggal mandi saja.  Setelah mandi saya lihat lagi, ternyata ia sudah tidak kelihatan. Saya periksa setiap helai daun kadaka itu, tapi tidak ketemu. Barangkali jatuh. Sayapun periksa semua lantai halaman. Tidak ada juga. Kemana ya? Hati saya jadi tidak enak. Takutnya anak kelelawar itu kenapa -kenapa. Semoga tidak dimakan kucing.  Tapi kucing kami sedang ada di halaman belakang.   Atau kucing tetangga?  Aduuuh.. pikiran saya jadi kemana-mana.

Akhirnya saya teringat kepada dua ekor kelelawar dewasa yang sebelumnya terbang berputar-putar di bawah lampu jalanan.  Sudah tidak kelihatan juga.  Kemana ya mereka? Apakah pergi membawa anak kelelawar itu? Atau berlalu demikian saja tanpa perduli pada kelelawar kecil itu? Entahlah.

Saya menarik nafas panjang-panjang. Malam terasa lebih gelap. Sebaiknya saya masuk. Tidak ada gunanya saya memikirkannya terlalu lama. Saya telah menyerahkannya kembali kepada alam.  Apakah akhirnya ia selamat atau justru mengalami nasib naas? Biarlah alam yang mengatur mekanismenya.

 

10 responses »

  1. Saya berharap semoga anak kelelawar itu baik-baik saja dan bisa melanjutkan hidupnya. Saya terharu mbak baca cerita ini. Mbak baik banget sama hewan ya…. :’)

  2. Salut sama Mbak yg begitu perhatian sama binatang kecil ini…
    Betul, baiknya dikembalikan kpd alam untuk anak kelelawar itu hidup bebas dan bertahan…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s