Kemerdekaan & Ke-Indonesia-an Kita.

Standard

TertiupTujuh Belas Agustus tahun ini jatuh pada hari Minggu. Oleh karenanya, walaupun Minggu, anak-anak tetap bangun pagi karena harus mengikuti Upacara Bendera di Sekolah. Saya sendiri tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa untuk memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini. Hanya memasang bendera merah putih di pintu depan, sisanya hanya menonton di TV dan Youtube. Ceklak ceklik mulai dari menonton Upacara di Istana Merdeka, hingga melihat upacara yang dilakukan Pak Prabowo Subianto di Cibinong.  Saya juga menonton ulang pidato kenegaraan terakhir Pak Susilo Bambang Yudhoyono  yang sangat mengesankan yang membuat saya merasa terharu.

Terutama pada pesan beliau bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bagi kita di abad dua puluh satu ini bukanlah “Menjaga Kemerdekaan” lagi,  tapi  “Menjaga keIndonesiaan”. Karena seperti yang beliau sampaikan,bahwa  tidak ada gunanya menjadi semakin makmur dan modern, namun kehilangan yang amat fundamendal dan terbaik dari bangsa yaitu Pancasila, ke-Bhinnekaan, semangat persatuan, toleransi, kesantunan, pluralisme, dan kemanusiaan. Saya sangat memikirkan bagian kalimat itu.

Saya pikir apa yang disampaikan beliau itu sangat, sangat benar adanya. Dan saya rasa itu penting untuk direnungkan oleh kita semua.

Seperti misalnya saya. Datang dari generasi yang bukan memperjuangkan kemerdekaan, karena sejak lahir sudah beruntung -menemukan Indonesia memang sudah merdeka. Jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya memperjuangkan kemerdekaan. Saya tidak merasakan secara langsung penderitaan dan pengorbanan para pejuang kita di masa lampau. Walaupun bisa membayangkannya baik dari cerita orang tua, guru di sekolah maupun dari bacaan.  Namun yang terbaik yang bisa saya lakukan hanya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita itu.

Bertahun-tahun pesan-pesan 17 Agustusan yang biasa saya terima adalah bagaimana caranya “Mengisi Kemerdekaan” – lalu kita diajak semua untuk mengisinya dengan pembangunan. Baik pembangun fisik, pembangunan pengetahuan dan prestasi maupun pembangunan spiritual.  Atau kalau tidak, pesan 17 Agustusan yang lain adalah  bagaimana “Menjaga Kemerdekaan” – lalu kita diajak untuk lebih mandiri, berusaha mengurangkan ketergantungan pada pihak luar, lagi-lagi dengan meningkatkan prestasi dan kwalitas diri sebagai anak bangsa.

Namun semakin ke sini, memang perkembangan ke-Indonesia-an kita semakin memprihatinkan. Element-element yang fundamental dan terbaik dari bangsa kita terasa tergerogoti sedikit demi sedikit.  Adu mulut soal SARA cukup mudah kita temukan di media sosial. Itu mencerminkan kebencian dan kekurang-mauan untuk menghargai dan menghormati sesama anak bangsa yang berbeda. Saling caci dan saling maki hanya gara-gara berbeda pilihan partai ataupun calon presiden. Terasa sangat runcing dan membakar. Saya sering merasa sedih melihat dan membaca kenyataan itu. Namun itu memang terjadi. Dimana letak kesantunan kita sebagai bangsa yang beradab? Entah kemana pula perginya toleransi dan rasa persatuan serta pemahaman akan pluralisme bangsa kita? Mengapa dengan sengaja kita membuat diri kita sendiri terkotak-kotak? Membiarkan diri kita dipisahkan oleh perbedaan suku, agama, ras atau bahkan pilihan partai politik atau calon presiden yang diperbesar-besarkan?

Bukankah para tetua kita dulu telah berjanji untuk menjunjung negara kesatuan Republik Indonesia ini? Dengan kesadaran penuh mereka telah meletakkan ego masing-masing yang timbul akibat dari perbedaan-perbedaan suku,agama, ras dan sebagainya, demi menegakkan persatuan Indonesia? Mereka telah mengikrarkan “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan yang menyatukan perbedaan-perbedaan kita.  Tidak bisakah kita membawa kembali semangat persatuan kita itu? Mengembalikan apa yang disitilahkan oleh Pak SBY sebagai “Ke-Indonesia-an” kita? Bangga terhadap kekayaan budaya, adat istiadat, bahasa daerah ataupun agama yang kita anut adalah wajar. Namun ketika semua itu tiba pada urusan berbangsa, hendaknya  kita tetap mengedepankan Persatuan kita, sebagaimana apa yang dilakukan oleh para leluhur kita.

Walaupun saya tahu banyak juga diantara kita yang masih berpihak terhadap “Ke-Indonesiaan” kita, namun semakin jelas seperti yang disampaikan oleh Pak SBY, bahwa  memang yang diperlukan oleh kita saat ini adalah bagaimana “Menjaga ke-Indonesia-an” dengan segala ragam element dasar penting yang kita miliki. Agar jangan sebagai bangsa kita semakin berpikiran sempit dan terkotak-kotak, lalu rapuh dan terpecah-pecah serta saling menjauh satu sama lain. Mirip bunga Dandelion tua yang  bijinya terbang menjauh satu  persatu karena ditiup angin. Tentunya kita tidak mau tercerai berai begitu, bukan?

Seperti yang saya sampaikan di atas, saya sangat terkesan akan pidato Pak SBY yang terakhir ini. Dari apa yang disampaikan beliau dalam pidatonya, saya juga melihat bahwa Pak SBY  adalah sosok yang sangat santun dan bijaksana. Permintaan maafnya, kesediaannya untuk membantu siapapun presiden berikutnya kelak – entah Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo sama saja- dan hal-hal lain yang beliau sampaikan dalam pidatonya benar-benar menunjukkan kwalitas beliau sebagai seorang negarawan sejati.

Karena ini adalah pidato kenegaraan terakhir Pak SBY dalam akhir masa baktinya sebagai Presiden Indonesia, saya sebagai salah seorang rakyat Indonesia lewat tulisan ini  sekaligus  juga ingin mengucapkan terimakasih atas kepemimpinannya yang sukses dalam membawa Indonesia lebih maju. Dan yang paling penting lagi, adalah dalam situasi negara yang aman tanpa kerusuhan, sehingga rakyat bisa melakukan aktifitasnya sehari-hari dengan tenang.

Dirgahayu Republik Indonesia!

 

 

 

 

 

 

 

6 responses »

  1. wah setuju banget tuh menjaga keindonesiaan.. karena belakangan ini semua ciri khas indonesia udah semakin mengarah ke punah. bhinneka tunggal ika, negara hukum, negara agama yang menganut 5 agama… kok rasanya belakangan ini udah pupus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s