Kecintaan Terhadap Bendera Merah Putih.

Standard

Bendera merah PutihMasih dalam kaitan 17 Agustus, hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Tahun ini di kompleks perumahan tempat saya tinggal tidak terjadi kemeriahan yang luar biasa. Biasanya dari tahun ke tahun di tempat ini dilakukan banyak lomba-lomba, karnaval, pertunjukan barongsai, bazaar dan sebagainya. Namun tahun ini terasa anyep nyepnyep tanpa ada kegiatan yang berarti. Barangkali karena perumahannya sudah lama, para penghuninya sudah berkurang semangatnya untuk mengorganisir acara. Paling banter akhirnya hanya memasang umbul-umbul “Dirgahayu Republik Indonesia” dan memasang bendera di depan pintu halamannya masing-masing.

Tapi tidak apalah. Tidak mengikuti perayaan, bukan berarti kecintaan saya terhadap tanah air menjadi berkurang. Saya memandang bendera yang saya pasang di depan rumah dengan tiang yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak ada angin benderanya hanya tampak kuncup.  Tidak mau berkibar-kibar sama sekali. Dengan latar belakang tembok-tembok dan rumah  tetangga. Sama sekali tidak terlihat langit  biru  yang jernih sebagai latar belakangnya.

Saya membayangkan melihat bendera yang dipasang dengan tiang tinggi di lapangan kabupaten yang banyak angin, sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Ibu Sud dalam lagunya “Bendera Merah Putih“.

Bendera Merah Putih/Bendera Tanah Airku

Gagah dan jernih tampak warnamu/Berkibaran di langit yang biru

Bendera Merah Putih/Bendera bangsaku

Nah..dalam lagu ini disebutkan bahwa sang Merah Putih tampak gagah dan jernih warnanya dengan latar belakang warna langit yang biru, bukan?  Namun, lagi-lagi, walaupun bendera saya tidak berkibar-kibar di langit yang biru, tapi kecintaan saya terhadap bendera Merah Putih juag tidak berkurang sedikitpun.

Sambil bersenandung lagu “Bendera  Merah Putih”  saya jadi teringat akan lagu ciptaan Ibu Sud yang lain yang juga bercerita tentang bendera Merah Putih yang berjudul  “Berkibarlah Benderaku

 

“Berkibarlah benderaku/Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia/Kau Tetap Pujaan Bangsa

Siapa berani menurunkan kau/Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih nan perwira/Berkibarlah slama-lamanya.

 

Kami rakyat Indonesia/Bersedia setiap masa

Mencurahkan segenap tenaga/Supaya kau tetap cemerlang

Tak goyang jiwaku menahan rintangan/Tak gentar rakyatmu berkorban

Sang merah putih yang perwira/Berkibarkah Slama-lamanya”

Saya sangat salut akan Ibu Sud dengan ciptaan-ciptaannya.  Di dalam lagu-lagu tentang bendera ini, Sang Saka Merah Putih diposisikan sangat tinggi dan sakral di hati rakyat Indonesia. Sehingga jika terjadi sesuatu yang mengganggu misalnya berani menurunkan bendera ini begitu saja dari tanah air, maka serentak rakyat Indonesia akan membelanya.  Meresapi makna lagu ini memang membuat semangat kebangsaan dan kecintaan kita terhadap Merah Putih semakin berkobar.

Nah itu kalau kita lihat semangat di tingkat nasional. Kalau di daerah bagaimana? Saya rasa sama saja. Setidaknya kalau di Bali, saya tahu kecintaan terhadap Bendera Merah Putih inipun dituangkan dalam lagu berbahasa daerah.  Terus terang saya tidak tahu siapa penciptanya, yang jelas lagu ini sering dinyanyikan di sekolah-sekolah  ataupun dalam pertunjukan traditional, misalnya sebagai salah satu lagu yang dinyanyikan oleh para Janger/Kecak.

Judul lagunya ” Merah Putih, Benderan Tityange”

“Merah Putih benderan tityange/Mekibaran di langite terang galang

Nika lambang jiwan rakyat Indonesia/Merah bani medasar atine suci

Pusaka adi leluhur jaya sakti/Merah putih, benderan tityange”

 

terjemahan”

“Merah putih bendera saya/berkibar di langit yang terang benderang/

Itu lambang dari jiwa rakyat Indonesia/ Merah berani berdasar hati yang suci

Pusaka terbaik dari leluhur yang jaya dan sakti/Merah putih, bendera saya’

Isinya serupa, tentang pujian terhadap bendera kita.  Nah demikianlah kecintaan para pendahulu kita terhadap Merah Putih. Mengagumkan bukan? Saya rasa masih ada banyak lagi lagu  yang bercerita tentang  atau setidaknya menyebut bendera kita ini.

Yuk,  semakin kita cintai sang Merah Putih kita!

 

 

7 responses »

  1. 17 Agustus kemarin saya sempat mengikuti perayaan HUT Kemerdekaan di Lapang Merdeka Sukabumi, mbak. Rasanya ini upacara yang baru kembali saya ikuti setelah lepas dari SMA. Setelah lulus SMA tidak pernah lagi saya mengikuti upacara perayaan kemerdekaan.

    Dan, prosesi pengibaran bendera merah putih dgn diiringi lagu kebangsaan sengguh bikin saya merinding. Rasanya koq syahdu banget…

    Dirgahayu Republik Indonesia…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s