Tentang Keraguan.

Standard

KolamkuSaya sedang mengamat-amati serangga di cabang Pohon Bintaro di depan rumah, ketika terdengar suara cipratan air kolam.  Saya menengok sebentar. Ternyata suara dari gerakan-gerakan anak-anak ikan mas yang berkumpul dan bercanda di permukaan air berebut oksigen. Ikan-ikan itu terlihat menarik. Warnanya yang merah jingga terlihat sangat cemerlang, kontras dengan warna air kolam yang mulai sedikit keruh. Kebetulan pompa air sedang agak rusak, jadi perputaran air kolam tidak maksimal.

Suara kecipak air karena ikan-ikan kecil itu bukan hanya menarik perhatian saya. Tapi juga kucing liar yang  diadopsi anak saya. Ia  tampak berdiri di depan kolam memandang ke arah ikan-ikan. Apa yang akan dilakukan oleh si kucing ? Karena penasaran, saya memutuskan untuk mengamat-amati kelakuan kucing itu sambil menyandarkan punggung di pagar dan mengurangi gerakan saya agar si Kucing tidak merasa terganggu.

Kucing

Ia berdiri di depan kolam. Matanya lurus ke depan ke arah ikan-ikan yang sedang berenang tanpa berkedip sedikitpun. Saya pikir ia ngiler melihat ikan-ikan itu. Kucing biasanya doyan ikan. Dan saya membayangkan otak kriminal kucing itu sedang bekerja keras bagaiamana caranya menangkap calon mangsanya itu.  Lalu perlahan ia menaikkan kedua kaki depannya ke dinding kolam yang rendah. Menonton gerakan-gerakan ikan dengan penuh perhatian. Lama ia berdiri dengan posisi seperti itu. namun entah apa sebabnya, tiba-tiba ia menarik mundur kembali ke dua kakinya dan berdiri kembali di paving block depan kolam. Tampak seolah sedang berpikir.  Entah apa yang ada di dalam pikiran kucing itu.

Kucing 1

Tak seberapa lama kemudian ia mengangkat kembali ke dua kaki depannya dan melongokkan lagi kepalanya dengan penuh perhatian. Sungguh saya geli melihat kelakuan si kucing. Ia tampak sedemikian ngiler terhadap ikan dan sama sekali tidak “ngeh”akan apa yang terjadi di sekitarnya. Saya rasa ia akan segera menyergap ikan-ikan dipermukaan air itu. Namun tak kunjung ia lakukan juga.Lama saya perhatikan, ia tetap berada di posisi itu. Hanya menonton dengan sikap ancang-ancang mau meloncat. Keplanya sedikit dimajukan ke depan, atau ditarik sedikit kebelakang. Di ulang lagi.  Rupanya ia ragu. Terlihat dari raut wajahnya yang tak pasti. Iapun menurunkan kembali ke dua kaki depannya.  Duduk ladi di bawah. Lalu menaikkan kedua kakinya lagi. Terus turun lagi. Demikian terjadi berulang-ulang.Membuat saya semakin penasaran. Ttak kunjung ia berani juga.

Kucing 3

Hingga akhirnya tibalah saatnya barangkali ia menetapkan hatinya. Ia menaikkan ke dua kaki depannya, lalu disusul dengan kedua kaki belakangnya. Mata lurus ke depan dan posisi siap menyergap.  Saya menunggu dengan tegang. Satu…dua….tiga….empat…. tidak terjadi apa-apa.  Eh… tiba-tiba kucing itu membalikan badannya dan turun. Ngibrit!. Loh? Kok nggak jadi? Kok malah turun?

Kucing 4

Sekarang saya melihat  kegalauan di wajahnya. Ia cuma duduk bengong di dekat pot teratai dan memandang ke sisi  samping kolam. Apayang terjadi? Merasa penasaran,akhirnya saya mendekat. Oooh… rupanya ia takut pada Kura-Kura. Di kolam kami, saat ini tinggal 2 ekor kura-kura bernama Galapago & Sicilia.  Padahal tentu saja kura-kura jinak  itu tidak akan menyerang kucing.  Kura-kura itupun saya lihat hanya anteng-anteng saja di situ. Entah kenapa kucing itu kok keder duluan.  Barangkali karena ukuran kura-kura itu lumayan gede juga. Kucing itu jadi ragu-ragu dalam bertindak. Ragu bertindak yang membuat upaya kucing itu  jadi gagal berantakan. Ragu terhadap keberanian dan kemampuannya sendiri hanya gara-gara melihat kura-kura yang mungkin ia sangka akan menyerangnya atau setidaknya menjegal usahanya dalam menangkap ikan. Keraguan itulah yang pada akhirnya membawa kegagalan bagi kucing ini.

“KERAGUAN DALAM BERTINDAK, MENGURANGI PELUANG KITA UNTUK SUKSES”

Memikirkan kalimat itu,  kok rasanya sangat familiar ya?  Apakah ada yang merasa familiar juga dengan kalimat itu? Yap! Saya rasa kalimat ini tidak hanya berlaku untuk Kucing saja.  Berlaku juga untuk kita manusia. Kita sering gagal, akibat kita tidak terlalu yakin akan apa yang kita lakukan. Akibat perasaan ragu-ragu yang mengganjal.

Kita tidak yakin apakah jalan yang kita tempuh sudah merupakan yang jalan yang tepat atau tidak. Kita tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil sudah yang terbaik diantara pilihan yang ada atau tidak. Dan sebagainya. Sehingga sambil menjalankannya, kita masih membayangkan jalan lain atau option lain yang kita pikir seharusnya masih bisa kita pertimbangkan dan pilih. Kita merasa ragu-ragu. Pikiran kita terpecah. Akibatnya kita menjadi kurang fokus dalam eksekusi. Dengan sendirinya, pekerjaan yang dilakukan tanpa fokus tentu hasilnya tidak sebaik jika kita melakukannya dengan tingkat fokus yang lebih tinggi.

Akan menjadi sangat berbeda ketika kita yakin akan apa yang kita lakukan adalah hal yang tepat atau terbaik. Pikiran kita menjadi jauh lebih simple. Dan tidak ada alternatif  lain yang harus kita pikirkan lagi, sehingga pikiran kita benar-benar terfokus dalam menjalankannya. Pikiran dan perasaan kita tercurah seluruhnya untuk menjalankan keputusan itu.Sebagai akibat dari fokus, tentu hasil pekerjaan kita juga akan lebih baik.

Hal lain yang kadang membuat kita ragu adalah kurangnya pemahaman kita akan hal-hal yangberkaitan dengan keputusan yang kita jalankan.   Serupa dengan kura-kura jinak di kolam itu. Hanya gara-gara ukurannya yang besar, kucing itu salah impresi mengira kura-kura itu ganas dan akan menyerangnya. Akibatnya ia ngibrit dan menghentikan usahanya untuk menangkapikan. Ia tidak memperhatikan bahwa sebenarnya kura-kura itu sangat jinak dan bersahabat.  Selain itu pandangan mata kura-kura juga tidak begitu cemerlang. Tidak secemerlang mata kucing. Kalaupun ia melihat kucing itu menangkap ikan di kolam, ia tak akan bisa berbuat apa-apa juga. Jika ia paham, tentu ia tidak akan sekhawatir itu.

Serupa dalam  kehidupan kita, jika kita merasa ragu akan sesuatu, barangkali ada baiknya kita teliti dan pahami dengan baik hal-hal yang membuat kita menjadi ragu. Apakah benar apa yang membuat kita ragu itu adalah hal yang memang seharusnya kita khawatirkan? Atau jangan-jangan hanya sesuatu yang tampaknya saja sulit, tampaknya saja besar padahal sebenarnya  kecil, dan mudah ?

Dengan demikian, hanya jika apa yangkita khawatirkan itu memang benar sesuatu yang besar dan sulit, setidaknya keraguan kita kini lebih terjawab dan berubah menjadi sebuah kepastian.

Saya harap saya bisa  lebih yakin dalam setiap pilihan hidup dan keputusan yang telah dan akan saya ambil.

 

17 responses »

  1. Peragu salah satu sifatku Mbak Dani. Sadar bahwa ini kurang baik bagi perkembangan, berusaha menganulirnya dengan logika. Tapi ya masih sering saja ragu ketimbang mantap dalam memutuskan sesuatu. Ih saya seperti kucing liar itu ya hehehe

  2. Sepertinya kucing malu diikutin paparazi melulu🙂 trus dia takut kalo ikannya dia makan ntar yang punya marah:mrgreen: Btw yang pasti setiap mampir disini saya pulang bawa oleh-oleh berharga dari tulisan Bu Dani. Terima kasih🙂

  3. Kucingnya cakep Bu *naksir*🙂
    Ragu membuat kucing kehilangan kesempatannya mendapatkan ikan segar, tapi mungkin dia juga sudah mempertimbangkan semua kemungkinan lain selain kura-kura, tau kalau majikannya sama *tipe yang suka mencari alasan nih*.

  4. Yaa ampuuun… kucingnya lucu banget. Kupingnya sampe nekuk gitu :))

    Wah, kalimat itu familer banget, Mbak. Biasanya aku ragu karena nggak terlalu paham dengan pilihan-pilihan yg harus aku pilih…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s