Monthly Archives: August 2014

Champignon Bites Ala Jineng.

Standard
Champignon Bites Ala Jineng.

Chicken Champignon BitesMenjadi ibu rumah tangga penuh selama liburan, membuat kita menjadi lebih kreatif  di dapur ketimbang biasanya. Selain masak makanan kesukaan anak-anak dan suami, tentu kita juga punya waktu untuk bereksperimen di dapur. Coba ini. Coba itu. Gagal? Nggak apa-apa. Namanya juga coba-coba. Tapi kalau sukses dan habis dimakan anak-anak, atau bahkan minta tambah… wah senangnya bukan alang kepalang.

Salah satu resep coba-coba karangan sendiri di musim liburan kemarin adalah Champignon Bites. Judulnya dibuat begitu biar kedengerannya keren aja sih.  Tapi intinya ini adalah camilan iseng-iseng dengan bahan utama Jamur Champignon, yang dicampurdengan  daging ayam cincang dan sedikit sayuran yang ada di kulkas.

Bikinnya agak repot sih sebenarnya, karena perlu melakukan beberapa tahap memasak, seperti menumis, lalu mengukus dan terakhir menggoreng. Tapi ya…. namanya  juga eksperimen, tetap saja dilakonin dengan semangat.

Nah..bagi penggemar Jamur, barangkali ada yang mau coba resep ini juga?

Bahan-bahan: jamur champignon, dada ayam dicincang, sebutir telor, wortel, daun bawang, seledri, tomat, bawang bombay,  bawang putih, garam,gula,merica, sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/ Cuci bersih jamur champignon. Lepaskan dan pisahkan tudungnya dari batangnya. Cincang batang jamur dan sebagian tudungnya. Sisakan sebagian, misalnya 12 buah tudung sebagai cangkang untuk wadah hasil cincangan.

2/Berihkan dan cincang dada ayam.

3/ Potong kecil-kecil wortel, bawang bombay, bawang putih serta daun bawang seledri.

4/Panaskan minyak dalam penggorengan, tumis daging ayam cincang, jamur cincang, wortel, bawang bombay, bawang putih, dan seledri. Tambahkan garam, gula dan merica sesuai selera.

5/Angkat hasil tumisan yang sudah matang, masukan sebutir telor ayam – aduk aduk hingga rata.

6/ Balikan tudung jamur Champignon sehingga terlihat seperti mangkuk penampung. Isi dengan tumisan yang sudah dicampur telor. Kukus hingga matang.

7/ Angkat, lalu digoreng.Atau bisa juga disimpan di kulkas dan goreng saat dibutuhkan.

Ini enaknya dimakan sebagai teman minum teh sambil duduk-duduk di bawah Jineng  (lumbung- Bahasa Bali) sambil menikmati udara sore bersama keluarga. Enak juga jika dijadikan lauk.

Coba, yuk!.

Advertisements

Tulis Gidat.

Standard

Andani 1Ini cerita yang tercecer ketika beberapa minggu yang lalu saya sempat bermain ke Museum Geologi Bandung. Ketika melihat-lihat di ruangan fosil Phitecantrophus erectus dan teman-temannya itu, saya sempat berdiri cukup lama memperhatikan bagian dahi dari tengkorak-tengkorak yang ada di situ. Anak saya bertanya,  ” Sedang melihat apa, Ma?” saya hanya menunjuk ke fosil fosil itu tanpa memberi penjelasan apa-apa. Soalnya ceritanya panjang, jadi agak repot menjelaskannya saat itu.

Anak saya tampak  merasa tidak nyaman melihat tengkorak-tengkorak itu, lalu pergimeninggalkan saya yang masih memandangi tengkorak  Homo erectus itu. Karena ada banyak juga pengunjung lain di ruangan itu, saya tidak terlalu merasa takut. Anggap saja sedang praktikum di Lab Anatomi (sebenarnya sempat juga sih menengok kiri kanan, dan siap siap kabur jika tak ada pengunjung lain.. he.. he..).

Sebenarnya saat melihat-lihat fosil itu, saya sedang teringat akan ungkapan ” TULIS GIDAT” – sebuah istilah dalam Bahasa Bali yang  jika diterjemahkan langsung alias letterlijk ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ” TULISAN DI DAHI”.  Tetapi arti sebenarnya dari ungkapan itu sebenarnya adalah “Takdir  kehidupan yang harus dijalani”. kalau kita hendak mengatakan “suratan takdir’ dalam bahasa Bali biasanya kita mengatakan “tulis gidat”.

Contoh pemakaiannya misalnya dalam kalimat ” Ooh..I Ketut  nak mula pantes dadi Bupati. Nak suba tulis gidatne buka keketo“. terjemahan :  Ooh..Si Ketut memang sudah sepantasnya menjadi Bupati. Karena  takdirnya memang sudah begitu“. Atau misalnya dalam kalimat lain “Jeg buung  tiyang nganten ngajak ia. Enggalan ia nganten jak nak len. Miribang suba tulis gidat tiyange buka kene“. terjemahannya”Saya batal menikah dengannya. Ia keburu menikah dengan orang lain.Mungkin memang sudah takdir saya begini“. sangat jelas bahwa Tulis Gidat orang pertama yang dibicarakan adalah baik.Sementara Tulis Gidat orang yang ke dua kelihatannya kurang baik.

TULIS GIDAT! Darimana asal usul ungkapan ini ? Saya diceritakan oleh para tetua jaman dulu, bahwa konon di setiap tulang dahi manusia, selalu ada script atau  tulisan (entah dalam huruf apa – yang jelas kita tidak bisa membacanya) yang konon bercerita tentang nasib yang akan kita jalani selagi hidup di dunia. Tentang bagaimana kita lahir, tentang siapa saja saudara kita , teman-teman kita, siapa pasangan hidup kita, bagaimana kita bertemu, bagaimana kita sukses dan sebagainya dan sebagainya. Nah..dari cerita itulah ungkapan “TULIS GIDAT” bermuasal.  Jadi karena semua takdir kita sudah tertulis di tulang dahi kita, apapun yang kita alami di dunia ini ya kita harus terima dan jalani dengan tabah dan tawakal. Tulis Gidat bisa mencakup sesuatu  takdir yang bagus, bisa juga kurang bagus.

Dan orangtua juga selalu mengingatkan kepada anak-anak, bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk melakukan perbuatan baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Jadi hanya jalani saja hidup ini dengan sebaik baik yang bisa kita lakukan. Walaupun kita kurang beruntung ataupun nasib buruk menimpa kita, tetap harus kita jalani dengan baik. Jika kita jatuh, maka jatuhlah dengan baik, lalu bangkit lagi dengan cara yang baik. Jika kita kalah, kalahlah dengan baik. Akui kemenangan orang lain dengan ksatria. Tak ada yang harus disesali atau dijadikan beban pikiran, jika semuanya telah kita lakukan dengan cara yang baik dan benar.   Karena semua apa yang menimpa kita itu sudah takdir yang tertulis di gidat alias dahi kita. (Sekali lagi, bahwa semuanya itu konon lho ya).

Gara-gara teringat ungkapan TULIS GIDAT itulah saya jadi memperhatikan tulang dahi dari tengkorak fosil-fosil itu. Saya pengen melihat langsung, apakah benar ada semacam tanda-tanda  mirip tulisan begitu pada tulang dahi manusia yang disebut dengan istilah TULIS GIDAT. Sayangnya kebanyakan tulang fosil itu sudah hancur. Atau kalau tidak,  fosil itupun hanya merupakan replika saja yang tentu kehilangan detailnya. Jadi saya tidak bisa melihat adanya tulisan di sana. Ada juga retakan yang mirip script asing pada sebuah kepala Homo erectus, tapi itu bukan pada bagian gidat-nya, tapi justru pada bagian tempurung kepalanya.  Apakah barangkali nenek moyang kita dulunya terinspirasi oleh alur retakan pada tengkorak itu yang memang mirip aksara antah berantah itu,sehingga keluarlah istilah Tulis Gidat itu.

Lalu,apakah saya orang yang percaya pada Tulis Gidat? . Bisa saya bilang kalau saya ada percaya juga pada yang namanya suratan takdir (takdir dalam pehamanan yang lebih luas daripada hanya sekedar tulisan fisik pada tulang dahi). Walaupun saya lebih percaya bahwa hingga level tertentu, usaha dan upaya kita untuk menentukan nasib juga sangat besar peranannya. Jika kita memang sudah habis-habisan berusaha, bekerja dengan baik dan benar, dengan keras dan smart…nah sisanya itulah baru takdir yang memegang peranan.

 

 

Pinggir Kali & Kasih Sayang Burung Bondol.

Standard

Pohon matiHi! Kali kecil belakang rumah, apa khabar?

Rasanya sudah agak beberapa saat saya tidak bercerita tentang kehidupan di pinggir kali di belakang rumah saya.  Sebenarnya memang karena aktifitas saya menengok tepi kali memang agak berkurang. Tentu ada penyebabnya.

Ceritanya bermula sejak beberapa bulan menjelang puasa. Para petani di pinggiran Jakarta tentu sibuk mulai menabur benih buah timun suri dan blewah untuk dipanen dan dijual saat bulan puasa tiba. petani sibuk menanam – tentu itu sesuatu yang bagus bukan? Lalu apa hubungannya dengan dunia pinggir kali belakang rumah saya? Seseorang rupanya  memanfaatkan lahan kosong  di seberang kali untuk bertanam timun suri. Lahan kosong yg biasanya  ditumbuhi alang-alang dan pepohonan tinggi itu, akhirnya diolah. Sayangnya cara pengolahannya kurang bersahabat dengan alam. Ia menebang beberapa perdu, membakar alang-alang dan sebagai akibatnya, pohon akasia besar di dekatnyapun ikut terbakar dan akhirnya mati. Tak terperikan kegalauan hati saya. Tentu saja saya hanya bisa bersedih melihat pohon akasia  itu mati, dan tak mampu berbuat apa-apa karena lahan kosong itu memang bukan milik saya.

Sejak itu,populasi burung  di tepi kali terasa menurun sangat drastis. Ada burung, ada pohon. Jika  pohon berkurang, maka populasi burungpun berkurang pula. Itulah sebab musababnya mengapa saya jadi jarang bermain ke pinggir kali lagi. Namun demikian, tentu saja sesekali saya masih suka menengok dan mengintip barangkali bisa menemukan biawak. Lubangnyapun terlihat kosong dan tidak ada lagi jejaknya. Saya khawatir biawakpun sudah ditangkap orang. Sesekali saya masih menemukan Burung Terkwak  berjalan berjingkat-jingkat mencari makanan di lumpur.  Burung Tekukur, burung Kipasan dan burung Kedasih tak terdengar bunyinya. Saya berharap mereka hanya bermigrasi ke tempat lain. Dan bukan habis karena ditangkap orang.   Berharap suatu saat mereka pulang kembali.

Namun beberapa ekor Burung Cerukcuk masih terlihat menclok di dahan pohon akasia yang mati itu – walaupun jumlahnya tidak sebanyak biasanya. Suara Ciblek dan Prenjak masih terdengar sesekali dari pohon Kersen. Demikian juga burung Madu dan Burung Cabe.

Anak anak Burung Bondol HajiNah siang ini saya menengok ke belakang. Melihat 3 ekor burung kecil bertengger tenang di dahan pohon Petai Cina. Burung apa itu? Tidak begitu jelas. Saya segera mengambil kacamata minus saya dan melihat anak-anak burung berwarna coklat coklat krem. Wah..rupanya anak-anak burung Bondol Haji (Lonchura maja). Belum begitu pintar terbang. Bulu tubuhnya sebenarnya juga belum merata.

sedikit informasi,anak burung  Bondol Haji memiliki warna yang berbeda dengan induknya. Jika induknya memiliki sayap  berwarna coklat kemerahan dan kepala putih bersih mirip topi Pak Haji, anak-anak burung Bondol Haji tidak memiliki warna puih sedikitpun. Warnanya kombinasi antara warna coklat tua dengan coklat terang. Mirip warna cookies. Sehingga orang awam bisa keliru menyangkanya jenis burung yang berbeda.

Sambil berteduh dari sengatan panas matahari yang terik, sayapun mengamati tingkah laku anak-anak burung itu. Tiba-tiba suaranya ribut. Rupanya induknya datang. Anak-anak burung itu mengangakan mulutnya minta disuapi. Pasangannya juga kelihatan datang.Mereka berdua mengasuh anak-anaknya dengan sangat sabar. Saya menonton dengan penuh keingintahuan.

Induk Burung BondolHaji dan anak-anaknyaKasih sayang orang tua kepada anaknya, bukan hanya dimiliki oleh manusia saja. Binatangpun memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya. Saya tidak tahu kapan induk burung ini sempat makan. Karena ia kelihatan sibuk bolak balik mengambilkan biji biji rumput untuk makanan anaknya. Baginya, asal perut anak-anaknya kenyang itu jauh lebih penting.

Induk burung itu juga rupanya bukan hanya mencarikan makanan buat anak-anaknya. Namun juga mengajarkan dan menuntun anak-anaknya agar berani meloncat dari satu dahan ke dahan yang lainnya. ia memberi contoh bagaimana cara terbang jarak pendek. Lumayan.  Menarik juga. Induk burung itu juga kelihatan sangat waspada dan melihat ke arah saya dengan pandangan curiga. Saya hanya berdiam diri saja dan berkata kepadanya dalam hati saya “Saya hanya ingin menonton saja. Bukan mengganggu” . Karena saya tidak melakukan gerakan apapun juga, induk burung itu kelihatan lebih tenang. Tak berapa lama kemudian, lalu mereka terbang.

Anak-anak burung itu bermain-main sendiri di dahan pohon petai cina. Tapi lama kelamaan mungkin menjadi bosan juga. Selain panas. Saya lihat mereka bergeser ke pangkal sebuah cabang dan bertengger berdesakan di situ. Mau ngapain sih? Saya penasaran. ooh..rupanya mereka mengantuk.  Mau berteduh.

MengantukTernyata jika mengantuk burung-burung itu mirip manusia juga. Ada tiga posisi tidur. Mata merem, kepala menoleh ke samping. Atau mata merem, menyenderkan bahu dan kepalanya di bahu saudaranya yang juga mengantuk. Atau bisa juga ganti posisi, duduk tegak  sambil memeramkan matanya.

Yang duduk tegak benar-benar seperti manusia. Kepalanya merunduk, merunduk lagi, lebih merunduk lagi dan semakin merunduk sampai hampir jatuh ke depan. Lalu anak burung itu kaget sendiri.  Eiiitss! Hati-hati jangan sampai jatuh! Saya membayangkan bagaimana jika mereka tertidur dan jatuh karena lepas cengkraman kakinya.

Anak burung itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menahan kantuk. Tapi kelihatannya ia tak kuasa menahan kantuknya. Aduuuh..matanya berat. Ia  malah tertidur lagi. Kepalanya dari tegak, merunduk, merunduk, semakin merunduk,  lalu saking merunduknya hampir jatuh lagi dan kaget!. Ha ha. Saya tertawa geli dalam hati. Asli! Sangat mirip dengan kelakuan manusia kalau lagi terkantuk-kantuk di bus kota. Kaget  takut kalau-kalau ada tukang copet.

Hiburan yang menyenangkan sambil berteduh dari panas yang terik matahari di pinggir kali.

Yesterday When I Was Young…

Standard

Lily KuningSeorang sahabat bercerita bagaimana ia merawat ayahnya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Selain merawat secara fisik, ia juga merasa perlu merawat ayahnya secara psikis. Ayahnya mulai pikun. Kerap kali bercerita tentang kejayaannya di masa lalu. Berkali-kali diceritakannya, seolah-olah putrinya itu belum pernah mendengarkan. Padahal cerita yang sama telah diceritakan kepadanya belasan kali. Beliau lupa. “Ya aku tetap mendengarkan saja. Di umur segitu, yang paling penting ada orang yang  mau mendengarkan” ceritanya kepada saya.  Saya mengangguk-angguk menyetujui. Serasa sangat familiar dengan cerita itu.

Bapak saya semasa hidupnya juga sering menceritakan masa lalunya berulang-ulang kepada saya.  Mungkin karena dulunya beliau adalah seorang ketua partai politik di daerah, pembicaraannya memang lebih banyak ke soal partai -partai, pemilihan kepala daerah, sidang DPR dan sebagainya.  Sehingga walau tidak ada seorangpun  anaknya yang terjun ke dunia politik, pembicaraan mengenai politik terasa sangat familiar di keluarga kami. Biasanya saya juga selalu mendengarkan dengan baik, walaupun telah mendengarnya berulang-ulang kali. Dan sebenarnya …..sudah hapal ceritanya!. Jika ditulis barangkali bisa menjadi sebuah novel tentang politik. Walaupun tentunya memimpin sebuah partai politik di masa lalu bisa jadi jauh berbeda dengan memimpin partai politik di masa sekarang.

Begitu juga dengan ibu mertua saya. Sangat hobby bercerita tentang betapa menyenangkannya hidup diperkebunan di masa lalu *Dulunya bapak mertua saya  adalah kepala perkebunan yang pindah dari satu perkebunan teh ke perkebunan teh lain di Jawa Barat. Saya sendiri tidak kenal bapak mertua saya, karena beliau sudah wafat ketika saya menikah*. Cerita yang sama diulang-ulang terus.  Saking seringnya  ibu mertua bercerita hal yang sama, kakak-kakak ipar saya yang kebosanan jadi sering memanfaatkan  saya  “Dik Dani saja yang duduk dekat mami, ya.  Kan mantu paling kecil harus sabar dan setia mendengarkan cerita ibu mertua. Kita sudah hapal semuanya.” katanya sambil tertawa dan ngeloyor pergi. Tinggallah saya yang menjadi pendengar setianya.

Mendengar cerita saya yang serupa tapi tak sama dengan cerita ayahnya itu, teman saya lalu berkata bahwa barangkali hampir semua orang tua seperti itu. Bisa jadi sih.  Lalu ia membuat teori baru bahwa “Jika kita melihat seseorang sering menceritakan masa lalunya berulang-ulang, itu adalah tanda-tanda bahwa ia telah memulai proses penuaan” katanya.  Hah?

Lah….sebenarnya saya juga cukup sering menceritakan masa lalu saya.  Senang saja! Karena menurut saya ada banyak hal menarik yang saya alami dan lalui di masa lalu.Walaupun tentu saja ada banyak cerita pahit dan sulit juga sih. Apakah itu memang berarti bahwa saya sudah menulai proses penuaan?  Teman saya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan saya itu.  Tawanya membuat saya memikirkan kalimatnya itu.

Benarkah semua orang di usia saya memikirkan hal yang sama? Mulai diingatkan tentang betapa indahnya kehidupan di masa lalu? Barangkali tergantung dari masa lalu orang itu sendiri. Jika kebetulan masa lalunya menyenangkan, tentu dengan senang hati ia akan mengenangnya. Namun jika masa lalunya penuh kegetiran, barangkali orang malas juga mengingat-ingatnya kembali.

Walaupun saya tidak memiliki masa lalu yang jaya, saya tetap mengakui bahwa di masa lalu hidup saya terasa indah dan lebih ringan. Saya merasa lebih berani menjalaninya ketimbang sekarang. Ketika muda, saya tidak pernah memandang persoalan hidup seberat apa yang saya pikirkan pada saat ini. Saya mengambil keputusan kontroversial yang sangat berani dengan begitu saja tanpa memikirkan betapa berat resikonya.  Saya mempermainkan kehidupan, seperti angin mempermainkan nyala api lilin yang kecil. Saya hanya melihat peluang dan hanya sedikit memikirkan rintangan.

Walaupun jika saya pikirkan kembali di saat ini, semua yang telah saya jalani dimasa lalu bukanlah  hal yang mudah dan ringan juga. Banyak resiko dan bahaya yang telah saya tempuh.  Dan seandainya saya disuruh untuk mengulang kembali melakukan hal yang sama sekali lagi, barangkali saya tidak akan berani melakukannya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa ketika muda kita lebih berani mengambil resiko ketimbang sekarang?  Kita mencicipi segala yang disajikan oleh kehidupan dengan lebih berani.Sementara sekarang? Apa yang mebuatnya menjadi berbeda?

Saya pikir itu sangat erat kaitannya dengan ‘mind-set’ kita. Ketika kita muda, kita belum banyak terekspose dengan kegagalan dan kegetiran hidup. Sehingga kita bahkan tidak punya ide, bagaimana rasanya gagal dan menderita. Semua yang ada hanya  keinginan untuk mencoba. Semuanya terasa enteng. Semua yang kita lihat hanyalah peluang.  Peluang. Dan peluang.

Sebaliknya, jika kita telah mengalami banyak kegetiran hidup, maka otak kita akan berusaha mengantisipasi, jangan sampai kita gagal atau menderita lagi. Antisipasi ini membuat kita jadi berpikir jauh lebih panjang. Lebih berhati-hati. Dan lebih parahnya lagi, semakin takut untuk mencoba. Semakin kehilangan keberanian. Dan akhirnya semakin tidak produktif. Karena semua yang kita lihat hanyalah hambatan. Hambatan. Dan hambatan.

Jika usia tak bisa kita tolak kehadirannya, apakah barangkali sebenarnya kita bisa memperpanjang ke”muda”an mental kita?.  Misalnya dengan cara merombak sudut pandang kita yang tadinya  memandang apa-apa lebih banyak dari sisi ” hambatan’nya, sekarang mesti kita ganti agar bisa memandang segala sesuatu dari sisi’ peluang’ yang ada.Pertanyaan itu menggelayut di pikiran saya….

Lamat-lamat suara Julio Iglesias yang menyanyikan lagu lawas ” Yesterday when I was young” seperti berputar kembali di telinga saya.

Yesterday, when I was young/ So many happy songs were waiting to be sung,

 So many wayward pleasures lay in store for me/ And so much pain my dazzled eyes refused to see…