Monthly Archives: September 2014

Bunga Merah Kacang Ucu Liar Dari Sumatera Barat.

Standard
Bunga Kacang Ucu berwarna Merah dari tepi jalan di Sumatera Barat.

Bunga Kacang Ucu berwarna Merah dari tepi jalan di Sumatera Barat.

Dalam sebuah perjalan dari arah Bukittinggi ke Padang, saya yang duduk di belakang  melihat-lihat pemandangan yang sangat menarik hati saya. Lembah dan ngarai yang berdinding batu dan tanaman. Diselingi dengan  pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk dan bangunan yang satu dua masih ada yang bertahan dengan bentuk atap tradisionalnya.  Sangat senang melihatnya.

Setelah melewati Padang Panjang dan saya pikir sekarang kami berada di wilayah Pariaman, mata saya tertuju ke semak-semak berbunga merah di pinggir jalan. Wild bush bean yang berbunga merah!. Wow!. Saya pernah melihat gambar bunga liar itu entah di mana, namun saya belum pernah melihatnya langsung di alam. bunganya sungguh cantik dan warnanya sangat menawan.

Saya ingat, saya pernah melihat bunga sejenis di tepi pantai Benoa di Bali yang saya tulis di sini sekitar dua setengah tahun yang lalu. Hanya saja, yang saya lihat di Bali itu adalah jenis yang berbunga hitam. Sebenarnya mungkin warnanya super merah gelap, namun saking gelapnya jadi terlihat berwarna hitam. Sementara yang di Sumatera Barat ini adalah jenis yang berbunga merah.

Bunga  kacang Ucu berwarna Hitam yang ditemukan di tepi Pantai Benoa di Bali

Bunga kacang Ucu berwarna Hitam yang ditemukan di tepi Pantai Benoa di Bali

Ah, seandainya saya bisa berhenti sejenak dan memotret bunga indah itu.  Ooh..betapa inginnya saya berhenti. Namun tentu saja saya tidak enak meminta teman saya yang menyetir kendaraan untuk berhenti begitu saja demi keinginan saya pribadi. Padahal kami di sana kan sedang dalam urusan pekerjaan kantor. Tentu tidak sepantasnya saya minta berhenti.  Akhirnya saya hanya diam saja.

Tepat ketika saya berpikir begitu, teman saya melambatkan kendaraannya, menyeberang dan kami berhenti di sebuah halaman rumah makan. Kiambang Raya.  “Kita berhenti dulu di sini. Sudah waktunya makan siang” kata teman saya. Ooh??!!. “Kenapa, Bu? Sudah lapar kan?” tanyanya.  Horeee!!! Saya girang bukan main. Lupa menjawab pertanyaannya, saya  minta ijin untuk menyeberang karena saya ingin memotret bunga Wild Bush Bean yang berwarna merah itu. Karena mengkhawatirkan keselamatan saya saat menyeberang, dengan mempertimbangkan lalulintas bus dan truck lintas Sumatera yang berkecepatan tinggi, seorang teman akhirnya mengikuti  saya menyeberang jalan. Dan mulai memotret motret di bawah terik matahari. Dan bunga -bunga itu memang luar biasa indah.

Bunga Kacang Ucu liar berwarna merah (Macroptilium lathyroides). Saya tidak tahu apa namanya dalam Bahasa Minang. Yang jelas tanaman ini agak kurang merambat dibanding saudara-saudaranya yang lain, dan bahkan pohonnya segikit agak bisa tegak. Namun unga dan buahnya sama denga jenis  Kacang Ucu  yang berbunga hitam.

Cantik-cantik bukan? Lihatlah warna merahnya yang menyala.  Walaupun ukurannya kecil, namun warnanya sangat memikat hati. Demikian juga bentuknya yang mirip kupu-kupu.  Terayun-ayun di tiup angin tepi jalan.

Jika saja ada orang yang serius membudidayakan kacang ucu ini, saya pikir tanaman ini sangat layak dijadikan tanaman hias .

Spirit of Wipro Run 2014 – Indonesia.

Standard

Spirit of Wipro Run 2014 5

September! Musim berlari sudah tiba. Bagi para Wiproite ( karyawan dari Wipro group) dan keluarganya di seluruh dunia, tentu saja event tahunan “Spirit of Wipro Run” merupakan ajang berlari yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya setiap tahun. Saya  sebagai salah seorang Wiproite, jauh-jauh hari sudah memberi tahu suami dan anak-anak  bahwa event ini akan datang kembali di bulan September ini, tepatnya pada hari Minggu, 21 september 2014. Jadi kalau mau ikut lomba berlari harus mempersiapkan diri.

 

Wipro run

As individuals, we are accosted by challenges, big or small, every single day.We accept them, and grow mentally and phisically with every personal running milestone we cross. Imagine this dedication demonstrated by a group in unison. The results will truly be phenomenal.

A small example of that potential is this run. Running in itself is a highly challenging and rewarding experience. The transformation that you  sense both of body and mind is real. The motivation, self confidence, and the ability to test your limits that you require to attempt a long run are not unique to it; these qualities create wonder in every sphere of life.  And therefore, “For The Long Run”

– Spirit of Wipro Run 2014.

 

 

Spirit of Wipro Run ini adalah yang ke -9, diselenggarakan di 97 kota di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri,  Spirit of Wipro Run di tahun 2014 ini adalah event yang ke-3, sejak pertama kali diselenggarakan di tahun 2012.  Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana lomba lari ini diselenggarakan hanya di Jakarta saja,  tahun ini Spirit of Wipro Run diselenggarakan di dua kota, yakni Jakarta dan Salatiga.

Di Jakarta, Spirit of Wipro Run mengambil lokasi di Taman Mini Indonesia Indah.Posisi garis start dan garis finish berada di depan Museum Nusantara TMII.   Hal lain yang juga berbeda tahun ini adalah Spirit of Wipro Run di Jakarta  bukan hanya diikuti oleh karyawan Wipro Consumer Goods saja, namun juga karyawan Wipro Technology. Sehngga jumlah peserta nyaris dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Spirit of  Wipro Run  adalah event berlari tahunan yang diselenggarakan oleh Group Wipro di seluruh dunia setiap bulan September. Event dilakukan  di 97 kota di seluruh dunia dalam rangka memaknai “Spirit of Wipro” yang merupakan semangat dan nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan keluarga besar Wipro. Yang mana nilai-nilai yang dicakup dalam “Spirit of Wipro” itu sendiri terdiri atas:

  • Intesity to Win  – semangat untuk menang dengan itikad baik, dengan cara yang baik dan benar tanpa boleh mengorbankan kejujuran dan sportifitas. Menang, namun bukan dengan menghalalkan segala cara. Melainkan dengan cara meningkatkan kemampuan team dan melakukan inovasi.
  • Act With Sensitivity – bertingkah laku dengan menggunakan kepekaan hati. Menghargai dan menghormati individu lain. Tidak menyinggung perasaan orang lain.  Berhati- hati dan bertanggungjawab atas segala hal yang kita ucapkan dan perbuat.
  • Unyielding Integrity – Mempertahankan Kejujuran/Integritas tanpa mengenal kata menyerah.Memenuhi janji dan jujur serta bersikap adil dalam setiap tindakan.

Dalam “Berlari”  kita bisa melihat contoh bagaimana Spirit of Wipro ini diterapkan bersama-sama. Bagimana para peserta mewujudkan keinginannya untuk menang dengan sportif, menghargai dan menghormati orang lain yang juga memiliki kemampuan yang baik dalam memenangkan perlombaan dan menerima keputusan yang adil dari hasil perlombaan. Namun motivasi, tingkat kepercayaan diri yang tinggi serta semangat untuk menguji ‘limit’ dari kemampuan kita, sesungguhnya memang bukan diperlukan hanya dalam kegiatan berlari saja, tapi juga sangat dibutuhkan  dalam menjalankan  aspek kehidupan yang lainnya.

 

Spirit of Wipro Run juga selalu dijadikan ajang kebersamaan komunitas Wipro bersama dengan anggota keluarganya, sahabat, supplier  dan lain-lain.

Acara dimulai pukul 07 pagi dan berakhir  11.30 . Dimulai dengan pemanasan berupa sajian Belly dance dan senam pagi pemanasan dengan iringan lagu Poco-Poco. Lari dengan 2 pilihan rute : 3 Kilometer atau 5 kilometer. Anak anak dan wanita kebanyakan memilih berlari di 3 Kilometer. Masih ada aneka lomba lain yang dilakukan, seperti tarik tambang, spinning ball dan lomba  mengambil bola dengan mata tertutup.

Rute

 

Serunya “Menyama Braya” Bersama Sahabat Bloggers.

Standard

kpdaran bloggerDiantara para blogger di tanah air, barangkali saya adalah salah seorang yang paling kurang gaul. Setiap kali melihat foto atau membaca cerita teman-teman blogger yang entah kopdaran atau mengadakan pertemuan, saya hanya bisa ngiler. “Aduuh..kapan ya saya bisa bertemu dengan mereka” bathin saya. Saya belum pernah ketemu blogger lain selain Bu Prih, blogger Salatiga yang selalu saya kagumi pemahamannya tentang budaya Jawa, selain tentunya tentang urusan kebun. Saya ingat betapa menyenangkannya bertemu dan jalan-jalan dengan beliau ke Keraton Solo saat itu.

Berikutnya saya sempat bertemu Pak Krishna, blogger yang tulisan dan foto-foto perjalanannya selalu menyedot perhatian saya. Pertemuan dengan beliau juga penuh dengan obrolan yang sangat seru dan  menyenangkan.  Terinspirasi oleh kedua pertemuan itu, jadi saya ingin sekali mendapatkan kesempatan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya lagi.

Keinginan itu akhirnya sedikit bisa tercapai ketika Budi Arnaya, blogger Jembrana  menghubungi saya  dan memberi kabar bahwa dirinya sedang ada di daerah Serpong untuk masa kurang lebih sebulan.

Sebagai bagian dari kebiasaan “Menyama Braya” di Bali,  Budi mengkonfirmasi kunjungannya ke rumah.  “Pang maan masih nengokin nyama (maksudnya: agar dapat juga menengok saudara)” itu istilahnya.  Saya sangat senang.

(Note: “Menyama braya” adalah terminologi  dalam bahasa Bali untuk sikap memupuk rasa persaudaraan dengan cara saling menyapa, saling menengok, saling menolong dan memperdulikan keadaan masing-masing, sesama saudara, kerabat atau sahabat.  

Dari sana akhirnya saya pikir kayanya lebih enak  jika sambil ngobrol kita bakar-bakar ikan rame-rame. Pasti seru! Barangkali Budi mau. Dan barangkali ada blogger lain seputaran Tangsel yang  juga bisa datang.   Siapa saja ya? Saya ingat Pak Krishna dan Mbak Evi. Terus saya ingat  sama Dani Kurniawan (sayang saat saya hubungi Dani sedang ada di Bandung. Jadi ngga bisa ikut dehh).  Sayang saya  tidak tahu siapa lagi lainnya yang  tinggal di seputaran Tangsel.

Karena malamnya saya bekerja hingga larut, hari Sabtu pagi, saya bangun kesiangan. Waduuh..janji ngajak bakar-bakar ikan, tapi belum punya arang buat membakar he he. Akhirnya ke pasar dulu mencari arang batubara (briket) dan bahan-bahan lainnya. Jadilah saya terlambat menjemput Budi di flat-nya. Janji jam sembilan, tapi akhirnya jadi molor ke jam sebelas. Untungnya Budi baik hati dan nggak pake ngambek. Pertama kali bertemu Budi, rasanya seperti menjemput adik sendiri. Sudah nggak ada basa basi lagi. Nggak pake sungkan-sungkan, langsung ngasih tugas, “ntar bantuin bakar ikannya, ya!” kata saya yang disetujui Budi. Bahkan anak saya yang kecil begitu bertemu  juga langsung ngajak Budi main bola di halaman. “Ayo,Om. jadi keepernya” . Ha ha ha.. ia idak tahu kalau Omnya lagi sakit perut.

Mbak Evi datang sekitar jam 4.   Pak Krishna menyusul tak lama kemudian. Saya senang sekali. Setelah bertahun-tahun bersahabat akrab di dunia digital (mbak Evi adalah blogger pertama yang saya kenal di dunia maya), kami baru bertemu fisik hari itu, padahal rumah kami sangat dekat satu sama lain. Rupanya hanya sekilo dua  kilo meter barangkali jaraknya. Kok belum pernah bertemu ya? Akhirnya kami ngobrol seru dan tertawa cekakak cekikik mentertawakan kebodohan kami.  Saya sangat heran. Padahal kami baru pertama kali bertemu, tapi kok rasanya mirip dengan reunian dengan teman-teman lama yang  sudah lama tak bertemu.

Yang namanya temu blogger, pasti yang dibrolin adalah seputaran dunia per’blog’an, tulis-menulis, perjalanan, pengalaman dan foto-foto.Lalu serunya apa ketemuan begini, selain ngobrol-ngobrol? Banyak kocaknya juga sih.  Nah begini ceritanya…

Sekitar pukul setengah empat, Budi nanya “Apa mau mulai bakar ikan sekarang saja?“.  Ya ya. Masuk akal juga, biar ntar kalau mereka datang, ikan sudah ada yang matang. Saya menyiapkan pembakaran  dan menuang briket batu bara. Pas nuang briket..ehhh… saya baru nyadar kalau saya belum pernah menyalakan briket batu bara. Selama ini yang menyalakan briket adalah keponakan suami yang sekarang sudah pindah tinggal di luar kota. Biasanya saya hanya tukang nyiapin bumbunya saja.. he he. Pantesan saya tidak bisa membakar briket sendiri*ah..neplok jidat!*

Coba pakai koran dibakar dulu buat mancing nyala briket. Tapi kobaran api di koran tak bertahan lama, dan briket tak kunjung menyala juga. Saya dikasih tahu, harusnya pakai minyak tanah sedikit. Waduw? Jaman begini dimana nyari minyak tanah ya?  Untungnya si Mbak yang bantuin di rumah, berinisiatif mengambilkan minyak tanah dari rumahnya sendiri.  Belakangan saya dikasih tahu, harusnya pake spiritus. Spiritus lebih mudah dicari. ooh gitu ya? He he….. tapi akhirnya ikanpun matang juga.

Lepas dari masalah pertama, lalu datang masalah yang ke dua. Lalat tiba-tiba datang entah darimana karena mencium aroma ikan. Banyak pula.  Waduuuh.. bagaimana ini? Karena nggak nyaman, akhirnya sementara saya simpan dulu ikan-ikan yang baru matang itu di dalam ruangan tertutup biar nggak dihinggapi lalat. Saat mau makan baru dikeluarin.  Anak-anak nanya, “Lah..ikannya mana?” bingung nyariin ikannya. Disimpan di ruangan! Akhirnya anak-anak membantu menyalakan lilin dan mengibas-ngibaskan kipas dan koran buat mengusir lalat. Seru!

Senengnya rame-rame di rumah ini, ya begini inilah. Mbak Evi juga bantuin ngangkatin mangkok buat dibawa ke Jineng. Menjelang makan, baru nyadar ternyata sendok garpu belum disiapkan. “Sendok mana? Sendoknya belum ada” tanya Mbak Evi. Buru-buru saya ngambil sendok nasi.’Bukan sendok nasi. Sendok makan!” Oooo ala. Sendok makan ya. Ha ha ha.. masih ketinggalan di dapur. Kelihatannya nyonya rumah kurang profesional ini. Masa sendok garpu belum disiapin. Belum siap kalau suatu saat buka resto…he he.

Walaupun penuh dengan kekurangan, tapi suasana sore itu menurut saya sungguh sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan. Apa adanya, seperti keluarga sendiri.

Yang saya catat dari pertemuan ini adalah keakrabannya.  Saya sangat senang dikunjungi sahabat-sahabat saya ini. Bagi saya kedatangan mereka ke rumah adalah kesediaan mereka menerima saya sebagaimana adanya. Lengkap dengan segala kekurangan saya.  Walaupun  gelas minum belang belontang, tinggi, rendah bercampur cangkir seadanya, yang penting minum. Walaupun membakar briketnya kurang profesional, yang penting ikannya matang. Walaupun lalat berdatangan dan mengganggu, terus dikipas-kipas, yang penting seru! Walaupun pada berdiri atau duduk di halaman, yang penting bisa ngobrol dan tertawa riang.   Ah! Sangat membahagiakan!

Orang tua  bilang,  ketika seorang teman menerima kamu apa adanya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, maka ia adalah saudaramu.

Terimakasih banyak Budi Arnaya, Mbak Evi dan Pak Krishna, semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan lainnya. Dan semoga  saya bisa bertemu dengan blogger-blogger lainnya lagi.

 

Mengamati Burung Perkutut Di Alam Bebas.

Standard

PerkututSalah satu burung yang paling banyak diburu manusia di Indonesia khususnya di Pulau Jawa adalah Burung Perkutut.  Karena Burung ini dianggap sebagai penentu ‘status’  dar pemiliknya dan juga dipercaya membawa nasib baik kepada pemiliknya. Entahlah kebenarannya.  Bisa dibilang saya sangat jarang sekali bisa menemukannya di alam liar. Saya sempat menemukannya terbang bebas di Bali, walaupun tidak semudah menemukan Tekukur. Namun selama saya tinggal di Jabodetabek, saya belum pernah melihatnya barang seekorpun terbang bebas. Semuanya hanya di dalam sangkar.  Terbayanglah bagaimana kagetnya saya ketika tiba-tiba melihat seekor burung Perkutut menclok di batang pohon Keluwih di tepi sungai di belakang rumah saya?

Awalnya saya menyangka itu anak Burung Tekukur. Karena ukuran tubuhnya yang kecil. Dan saya hanya melihatnya dari kejauhan. Sementara mata saya minus agak berat.  Tapi lama-lama saya curiga. Itu bukan anak Tekukur, karena tingkah laku hinggapnya agak berbeda. Saya segera mengambil kamera dan men-zoom hasil jepretan saya. Wah.. Perkutut!.  Perkutut dewasa. Alangkah girangnya hati saya. Perkutut di alam bebas. Baru pertama kali ini saya melihatnya di Jabodetabek. Barangkali  ia lepas dari kandang pemiliknya.Sepasang Perkutut

Lama saya menonton Burung itu yang hanya diam duduk di cabang pohon itu. hanya bergeser sedikit atau memutar posisi bertenggernya. Kelihatan seperti tak punya selera untuk terbang atau berpindah. Agak lama kemudian, seekor burung Perkutut lain muncul dan hinggap di sebelahnya. Kini saya melihat mereka sepasang. Nah..kalau sepasang begini,saya menjadi tidak yakin apakah burung ini memang burung peliharaan yang berhasil kabur ?Apakah mungkin lepas berpasangan?  Atau memang burung asli yang bebas di alam?

Keluarga Perkutut

Berikutnya hinggap dua ekor Burung Perkutut lain.  Waduuh sekarang ada empat ekor.  Tapi  yang dua ini kelihatannya adalah anak-anak burung Perkutut, karena warnanya agak lebih coklat dan sayap serta ekornya juga masih pendek. Saya rasa umur mereka baru sekitar dua tiga minggu.  Sedang diajarkan terbang oleh induknya. Sangat senang menonton tingkah laku keluarga perkutut ini.

Induk Perkutut dan anaknya

Burung Perkutut, alias Zebra Dove (Geopelia striata),sebenarnya merupakan burung yang umum di Indonesia.Namun saya pikir, kebanyakan burung yang diperjualbelikan di tukang burung adalah hasil penangkaran. Burung Perkutut termasuk burung yang lumayan jinak. Umumnya tidak terlalu merasa terganggu akan kehadiran manusia. Jika sudah menclok di sebuah cabang, ia akan cenderung berdiam diri di sana. Agak berbeda dengan kebiasaan Burung Tekukur yang biasanya lebih curigaan dan cepat terbang jika di sekitarnya ada manusia.  Di alam liar biasanya membuat sarangnya tidak terlalu tinggi. Telurnya umumnya dua butir. Anaknya berwarna sedikit kecoklatan, kepalanya berwarna putih dengan garis kecoklatan. Sedangkan yang dewasa umumnya memiliki warna kepala abu-abu kebiruan. Dada burung Perkutut berwarna coklat namun dari leher hingga ke bagian badan lainnya bergaris-garis hitam putih mirip kudan zebra. Burung perkutut memiliki ukuran tubuh yang kecil.  Makanannya adalh biji-bijian.

Saya menonton tingkah laku anak-anak dan induk burung ini hingga senja berubah menjadi gelap. Dimanakah mereka tidur? semoga tidak ada manusia jahil yang menangkapnya.

Menjahit Boneka Mini.

Standard

Pulang kantor, anak saya yang kecil sudah menunggu depan pintu. “Mama, aku ada tugas sekolah bikin boneka” kata anak saya. Ha? Bikin boneka? Sejenak agak terkejut. Bukannya itu urusan anak perempuan ya?  “Memang ada tugas jahit menjahit dari Pak Guru”  jelas anak saya. Saya tertawa akan pikiran konvensional saya. Memang kenapa kalau anak lelaki menjahit? Bukankah banyak perancang busana yang terbaik justru para lelaki? Serupa dengan memasak. Memasak adalah pekerjaan yang dikonotasikan dengan urusan perempuan. Tapi bukankah banyak chef terbaik dunia justru adalah laki-laki? “Lalu siapa yang men-drive pikiranmu, mengapa anak laki-laki tidak boleh menjahit atau memasak?” tanya saya kepada diri saya sendiri.

Sambil masih menahan tawa atas kebodohan saya,  lalu saya bertanya “Perlu bantuan apa dari mama?”. Anak saya berkata kalau saya perlu mengajarinya cara menjahit dan memberi contoh. Besok ia akan membuat sendiri bonekanya di sekolah sesuai dengan apa yang saya contohkan. Besok?. Waduuuh!. Sudah nyaris jam sepuluh malam.

Saya memeras otak sebentar.  Boneka apa yang bisa dibuat dalam waktu kira-kira sejam. Anak saya buru-buru mengambil felt, gunting, benang dan pernak pernik.”Aku pengen diajarin cara menjahit boneka kecil-kecil yang dulu sering mama bikinkan buat aku” katanya. Oh ya.. saya jadi teringat boneka-boneka mini buatan saya di jaman dulu. “Maunya boneka apa?” tanya saya. “Kelelawar atau anjing, atau ikan paus” katanya. Ok. Saya menyetujui untuk membuat contoh kelelawar, karena paling gampang. Bisa cepat.

KelelawarSaya mengambil kertas buffalo. Mengingat-ingat bentuk kelelawar sebentar, menggambar sketsa kelelawar, lalu menterjemahkannya ke dalam pola di kertas buffalo. Kelihatannya sudah masuk akal,  lalu saya menggunting pola itu pelan-pelan, dan menempelkannya di  kain felt dan mengguntingnya. Berikutnya saya mulai mengajarkan anak saya menjahit.

Untuk menjahit kita bisa menggunakan berbagai macam jenis stitch. Ada yang namanya stitch lurus, stitch rantai, stitch penuh, stitch kali, stitch feston, stitch batang, stitch bulu, dsb. Tapi kali ini saya hanya mengajarkan anak saya dua jenis stitch saja. Yakni stitch feston, untuk  menjahit pinggiran/gabungan kain felt- seperti misalnya sayap kelelawar, telinga kelelawar dsb. Lalu menjahit dengan menggunakan stitch lurus pada saat harus menggabungkan sayap kelelawar dengan badannya.   Anak saya memperhatikan dengan baik sambil sesekali mencoba melanjutkan menjahit sendiri. Saya melihat dengan awas. Hati-hati! jangan sampai jari tertusuk jarum. Tidak sampai sejam saya sudah menyelesaikan boneka kelelawar yang sesuai dengan keinginannya. Sayapnya terbentang – cukup dua dimensi saja. Hanya badannya saya sumpal sedikit bagian tengahnya dengan kapas agar lebih berisi. Anak saya tampak happy dengan apa yang sudah saya contohkan.

Lalu saya melanjutkan menggambar design untuk Paus Pembunuh, tapi mungkin karena sudah terlalu malam, anak saya tertidur. Sayapun merapikan posisi tidurnya,  menyelimuti tubuhnya dan membereskan sisa sisa kertas dan kain bekas guntingan yang tercecer.

Kelelawar 1Esok paginya ia pamit berangkat sekolah. Saya bertanya untuk memastikan, apakah ia masih ingat pelajaran menjahit dari saya.  Ia menjawab masih ingat dan pasti bisa membuatnya. Saya tersenyum dan berdoa semoga ia memang bisa.

Pulang kerja, anak saya menunjukkan hasil pekerjaannya di sekolah. Ohh…seekor kelelawar coklat dengan sayap berwarna hitam. Lebih menarik ketimbang  menggunakan satu warna saja. Warnanya kelihatan lebih masuk akal dari kelelawar buatan saya yang berwarna jingga. Bukankah warna kelelawar memang coklat kehitaman? Ah ya… anak memang harus minimal satu step lebih kreatif dibanding orang tuanya.

Barangkali diajarin Gurunya, iapun menempelkan mata boneka di wajahnya. Hi lucu juga bisa bergerak-gerak. Saya memuji hasil pekerjaannya.  Tapi ia tidak terlalu puas dengan hasilnya. Menurutnya jahitannya kurang rapi. “Tidak serapi jahitan mama” katanya. Ia juga mengeluh bahwa ada bekas lem UHU yang mengering di dekat mata kelelawarnya, karena ia sempat salah meletakkan mata dan mengangkatnya serta meletakkannya kembali di tempat yang sedikit berbeda. “Bekas lemnya jadi jelek” katanya. Saya menghiburnya. Saya pikir jahitannya cukup rapi, mengingat bahwa ia baru pertama kali menjahit. Dan ia bisa membuat lebih rapi lagi untuk berikutnya.

Paus PembunuhLalu saya menemaninya membuat boneka yang ke dua. Boneka Ikan Paus Pembunuh, alias Orca – the Killer Whale.  Lagi-lagi ia ingin membuatnya dalam dua warna. Biru dan putih. Ya. Saya pikir warna putih pada Paus Pembunuh itu adalah ciri khasnya.

Untuk membuat bonekanya menjadi lebih 3 dimensi, anak saya menyumpalkan kapas ke dalam perutnya. Lalu dijahit tutup. Nah…jadi deh. Kelihatan dengan jelas bentuk ikannya. Panjang ikan itu,  baik hanya badannya saja, maupun dengan ujung sirip ekornya. Juga bisa dilihat tinggi ikan itu, beserta ujung sirip punggungnya. Dan  tentu saja kelebaran tubuhnya, beserta sirip dadanya.

Lama-lama setelah saya pikir, saya senang dengan keputusan gurunya mengajak anak didiknya  membuat boneka.  Awalnya memang saya kurang antusias dengan tugas sekolahnya itu. Karena ya itu tadi..anak laki-laki kan nggak perlu pintar menjahit (walaupun pikiran saya itu ternyata salah). Tapi sekarang saya berpikir, menjahit boneka selain meningkatkan kreatifitas anak, juga melatih kemampuan anak untuk melihat dan berpikir 3 dimensi.  Dan itu sangat penting bagi perkembangannya. Satu step pemikiran, sebelum ia mampu meningkatkan kemampuan berpikirnya ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

 

 

 

Bertengkar Yang Sehat: Turunkan Suara, Kuatkan Argumentasi.

Standard

TerkwakPernah suatu ketika, saya sedang bermain di pinggir kali di belakang rumah saya. Tampak dua ekor Burung Terkwak terbang dan menclok di atas tembok sungai. “Kwak kwok kwok kwok….kwaaaakkkk”. Mereka bercakap-cakap dengan suara kencang mirip suara orang sedang beradu mulut. Saya tertarik untuk mengamatinya. Burung yang kelihatannya sepasang itu terlibat perang mulut. Tak mengerti apa yang mereka pertengkarkan, saya menduga mereka sedang bertengkar urusan “arah mana yang akan ditempuh”.Ke timur atau ke barat? Yang betina kelihatan sangat ribut dan ingin ke barat.   Saya hanya bisa menduga-duga saja  .Ah…seandainya saya mengerti bahasa burung!.

Terkwak 1

Beberapa kali saya lihat burung betina itu mencoba jalan ke arah barat sendiri, menerobos melewati yang jantan. Yang jantan kelihatannya kurang menyetujui. Jadi mereka ribut. Adu suara. Yang jantan menaikkan volume suaranya. yang betina tak mau kalah. Ia menaikkan nada suaranya menjadi tinggi dan melengking.

Terkwak 5Lalu entah apa yang menjadi keputusan mereka, kemudian yang betina mengambil inisiatif berjalan duluan ke arah barat. Mau tak mau yang jantan menyepakati. Merekapun berjalan ke arah barat dengan kompak.

Terkwak 2

Beberapa saat kemudian, entah mengapa mereka ribut lagi. Suaranya sangat kencang. Lagi-lagi seperti suara orang bertengkar.

Terkwak 4Akhirnya mereka  berbalik lagi ke arah ke timur. Wah..ha ha..saya merasa geli menontonnya.Sangat mirip tingkah laku manusia. Bukankah kita manusia  juga terkadang bertengkar?

Bertengkar! Alias adu mulut. Tentu semua dari kita pernah mengalamainya bukan?  Entah itu bertengkar dengan pasangan, saudara, teman,bawahan atasan, rekan kerja  dan sebagainya? Kalau tidak belakangan ini, barangkali di saat-saat yang lalu? Atau bahkan di masa kanak-kanak? Bertengkar berebut bola atau boneka dengan teman sepermainan?

Bertengkar adalah hal yang sangat manusiawi. Karena setiap manusia dianugerahi pikiran, perasaan, latar belakang serta sudut pandang masing-masing yang belum tentu sama satu dengan lainnya yang menciptakan keinginan, pemahaman dan pandangan yang bereda-beda. Perbedaan keinginan, pandangan maupun pemahaman inilah yang kerap kali memicu pelatuk pertengkaran. Setiap pihak ingin agar apa yang ia inginkan, apa yang menjadi pemahaman dan pandangannya unggul dibandingkan dengan lawan bicaranya. Tidak ada yang mau ngalah. Itulah yang namanya bertengkar.

Ada banyak gerakan fisik yang biasa kita lakukan saat bertengkar. Menaikan volume suara kita? Meningkatkan nada suara kita? Meningkatkan jumlah kata yang kita keluarkan? Mirip dengan apa yang dilakukan si Burung Terkwak? Membelalakkan mata? Mengerenyitkan dahi? Menurunkan sudut bibir? Apalagi?  Namun ketika saya pikir kembali, diantaranya tidak ada yang benar-benar berguna untuk meyelesaikan masalah dengan baik. Yang ada malah meningkatkan tension dan sakit kepala.

Sebenarnya tidak ada perselisihan yang bisa diselesaikan dengan bentakan dan nada suara yang tinggi. Demikian juga dengan mimik dan kalimat sinis. Tak ada yang mampu membantu dengan baik.  Sebaliknya, bentakan, nada suara yang tinggi dan kencang, serta mimik dan ucapan yang sinis hanya menambah parah perselisihan. Karena penampakan fisik seperti itu hanya menyulut kekesalan hati lawan bicara kita.

Turunkan volume suara, kuatkan argumentasi.

Adakah hal yang bisa kita lakukan untuk membantu kita menyelesaikan perselisihan dengan cara yang lebih baik? Bertengkar dengan sehat? Saya mencoba berpikir-pikir.

Saya pikir salah satu cara yang baik untuk menyelesaikan pertengkaran adalah dengan cara menurunkan volume suara kita dan menyampaikan argumentasi yang baik dan sportif, ketimbang volume suara yang besar, tinggi, banyak serta ngawur dan tanpa dasar maupun fakta.

Volume suara yang rendah, membantu lawan bicara  untuk meredakan emosinya. Karena volume suara rendah memberi petunjuk bahwa sang pemilik suara tidak sedang di posisi yang aggresif. Tidak menyerang. Hal ini akan membuat lawan bicara menjadi lebih tenang. Atau  bahkan ikut menurunkan volume suaranya juga hingga ke level percakapan biasa. Jika suara kita tinggikan dan perbesar volumenya, maka lawan bicara akan menyangka kita sedang di fase agresif dan menyerang. Sehingga respon yang kita dapat, adalah lawan bicara akan memasang posisi menyerang balik atau minimal bertahan. Yang keluar biasanya adalah kalimat-kalimat sinikal setajam silet, yang perih dan menyakitkan. Jadi, yang pertama perlu kita lakukan adalah menurunkan segera volume dan nada suara kita dari besar dan tinggi menjadi kecil dan rendah.

Langkah ke dua, agar apa yang kita inginkan, yakini dan pahami diakui dan disetuji oleh lawan bicara kita, maka kita perlu menyampaikan argumentasi yang baik, kuat dan mendasar. Tanpa demikian, tentu lawan bicara kita sulit untukmenerimanya dengan baik. Kalaupun pada akhirnya  mau mengakui dan menyetujui, sebenarnya itu sama saja dengan memaksakan pendapat kepada orang lain.

Kita perlu mengasah kemampuan berargumentasi dengan baik dan sportif. Argumentasi yang kuat jika disampaikan dengan cara yang baik dan tepat, membuat lawan bicara lebih memahami sudut pandang kita dengan lebih baik. Karena apa yang kita sampaikan bukanlah sesuatu yang ‘ngasal’ dan tanpa dasar.Tetapi sesuatu yang ‘reasonable’dan layak didengar. Cara yang paling sederhana tentu saja dengan memanfaatkan jembatan yang disusun oleh kata-kata tanya. Apa?Siapa? Mengapa? Kapan? Dimana? Bagaimana? Jika perlu, bahkan dengan menggali lebih dalam setiap kata tanya itu sebanyak 5x hingga kita benar-benar bertemu dengan akar permasalahan yang ingin kita sampaikan dan kita yakini benar.

Menyampaikan sebuah pendapat dengan berakar pada issue yang mendasar dan kuat serta implikasinya, memberikan kemungkinan pada lawan bicara kita untuk memahami lebih baik, mempertimbangkan ulang pendapatnya sendiri dan akhirnya menyetujui pendapat kita.   Argumentasi yang kuat, meningkatkan peluang  kita untuk memenangkan perselisihan pendapat dengan baik dan sehat.

Nah bagaimana jika kita sudah menyampaikan argumentasi kita, namun ia tetap tidak menerimanya dan kita kehabisan kata-kata untuk meningkatkannya lagi? Jika kita sudah tak mampu berargumentasi dengan lebih baik lagi guna meyakinkannya, jelas itu adalah pertanda dimana kita yang harus mengalah.  Segera sepakati argumentasinya. Tidak ada gunanya melanjutkan pertengkaran, kecuali jika  apa yang ingin ia lakukan adalah sesuatu yang melanggar hukum dan kesusilaan.   Jika tidak, terimalah dengan lapang dada. Datanglah kembali untuk membicarakan topik itu, hanya jika kita memiliki argumentasi yang lebih baik lagi. Jika tidak, janganlah pernah ungkit-ungkit lagi.

Mari perkuat setiap argumentasi kita!

 

Push To The Limit.

Standard

burung cerukcukPernahkah teman-teman ikut latihan baris berbaris? Saya pernah. Tentu saja dulu, waktu saya masih kecil.

Suatu kali saya ikut latihan baris berbaris, karena akan ada Lomba Gerak Jalan antar sekolah dalam rangka perayaan 17 Agustus. Latihannya dilakukan setiap  jam 3 sore di jalanan umum. Karena tinggi badan saya tidak seberapa, tentu saja saya tidak bisa berbaris di depan. Boro-boro dipercayakan menjadi komandan barisan. Saya hanya ikut sebagai anggota yang berbaris agak di belakang, walaupun bukan yang paling belakang.  Siaaappp, grakkk!. Majuuuuuu, jalannn!!!. Saat latihan itu di jalanan,   kami melewati seorang pria berbaju biru tua yang berdiri di pinggir jalan dan melihat kami dengan pandangan mata kosong.  Saya melirik ke pria itu dan berakata dalam hati “Waduuuh..pasien Rumah Sakit Jiwa yang lepas! Mudah-mudahan ia tidak melihat saya dan menjadikan saya sasaran”.

Catatan: Masa kecil saya habiskan di kota Bangli, dimana berlokasi sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) terbesar yang ada di Bali.  Dengan daya tampung lebih dari 400 orang pasien, Rumah Sakit ini menangani berbagai pasien yang mengalami gangguan kejiwaan dari berbagai penjuru, bukan saja dari kota-kota lain di Bali, namun juga dari luar pulau Bali.  Saat itu beredar rumors di kalangan teman-teman sekelas saya kalau ada pasien RSJ yang lepas dan suka mengejar-ngejar anak kecil. Saya tidak tahu kebenarannya. Seragam pasien RSJ pada jaman itu  berwarna biru tua. Jadi jika melihat orang aneh berseragam biru tua, dengan cepat pikiran saya mengarah pada Orang gila.

Saya berusaha tetap fokus berbaris,namun tak berapa lama terjadi kehebohan. Teman-teman yang berbaris di belakang saya berteriak “ Orang gila! Orang gila!” semuanya pada berlarian. Saking takutnya,saya berlari sekencang-kencangnya. Sekencang yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan diri. Lari, lari dan terus lari. Melewati teman-teman saya yang berlari di depan saya. Melewati orang-orang yang berjalan di pinggir. Saya tidak perduli lagi kiri dan kanan. Pokoknya berlari dan terus berlari sejauh mungkin. Setelah jauh, barulah saya menoleh. Ternyata tidak ada orang lain yang berlari secepat dan sejauh saya. Mereka hanya berlari lambat dan berhenti tak jauh dari barisan kami membubarkan diri. Lho?! Saya heran sendiri.

Setelah itu guru saya bertanya mengapa saya berlari sekencang itu. Saya jawab karena saya takut dikejar orang gila. Guru saya tertawa dan menjelaskan bahwa  orang gila itu baik-baik saja, dan ia hanya hidup dalam dunia dan pemikirannya sendiri.   Orang gila itu tidak mengejar ataupun berniat membahayakan kita, jadi tidak perlu merasa takut.  Orang gila itu membutuhkan persahabatan dari kita, bukan sikap memusuhi atau menjauhi.  Ooh..saya jadi merasa sangat malu.

Namun gara-gara kejadian itu, guru saya mengidentifikasi saya sebagai seorang pelari cepat. Berikutnya saya disuruh latihan lari  untuk mewakili sekolah saya dalam memenangkan piala dalam lomba Lari Sprint 100 meter di Pekan Olah Raga antar Sekolah.

Jika saya kilas balik kejadian konyol di masa kecil itu, memberi saya pemikiran bahwa jika kita sedang berada dalam keadaan kepepet, maka kita akan memaksa diri kita, mendorong diri kita sebanyak-banyaknya, sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya hingga ke titik batas yang bisa kita lakukan. Push to the limit!.  Baik saya maupun guru saya tidak ada yang pernah tahu sebelumnya kalau saya ternyata bisa berlari secepat itu. Hanya karena kepepet, maka potensi berlari  yang ada di dalam diri saya bisa keluar dengan baik. Walaupun tentu saja kemampuan saya bukanlah sprinter tingkat nasional, setidaknya saya pernah mengeluarkan kemampuan berlari saya dengan baik di pertandingan antar sekolah.

Tanpa kita sadari,  bahwa jika kita membawa diri kita berada di posisi yang terpaksa dan tidak punya pilihan lain, ternyata membuat kita menjadi berusaha sekeras-kerasnya untuk melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jika tidak demikian, kita tidak pernah tahu hingga dimana potensi diri kita bisa kita kembangkan.

Saya pikir, itu hanyalah sebuah contoh kecil yang diambil dari kehidupan saya bahwa manusia itu memiliki sesuatu di dalam dirinya yang sesungguhnya bisa ia kembangkan dengan baik, jika ia mau mendorong dirinya sendiri untuk melakukannya dan melatihnya. Tidak dengan maksud untuk menyombongkan kemampuan diri saya sendiri (karena kenyataannya setelah dewasa saya tidak pernah lagi melatih diri berlari, dan jika sekarang saya disuruh berlari sudah tentu ngos-ngosan dan megap-megap karena saking tidak pernahnya berolah raga – jadi apa yang harus saya sombongkan juga…he he), tetapi saya  hanya ingin mengajak kita semua merenungkan “potensi diri” yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Apakah benar apa yang telah kita capai saat ini adalah sudah yang terbaik dari poetnsi yang kita miliki? Apakah sebenarnya kita juga memiliki potensi-potensi yang lain yang tidak kita ketahui, hanya karena kita belum pernah me’push’ kemampuan kita hingga ke level yang optimal?  Saya yakin setiap orang pasti memiliki potensi penting dalam dirinya masing-masing. Namun apakah pada saat ini sudah didorong dengansebaik-baiknya atau belum? Itu yang masing-masing dari kita yang perlu menjawabnya.

Yuk kita tengadahkan wajah. Tegakkan leher sejenjang-jenjangnya. Tatap langit yang tinggi.  Bersama-sama kita coba cari dan dorong segala potensi yang ada di dalam diri kita agar bisa keluar dan mencapai level yang optimal!.

Selamat menyongsong Hari Senin!.

Sayuran Yang Relatif Agak Baru Di Dapurku.

Standard

Setiap kali berada di pasar saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat jenis sayuran yang jarang dibawa tukang sayur. Kadang-kadang malah menemukan jenis sayuran yang sebelumnya tidak pernah ada. lalu biasanya saya coba untuk memasaknya di rumah.  Ada beberapa jenis sayuran yang bagi saya tergolong baru,karena baru muncul di pasaran (setidaknya di pasar tempat saya berbelanja) paling banter 2-max 5  tahun belakangan ini.

1. Sawi Pagoda alias Wuta.

Sawi PagodaSaya tidakingat kapan pertama kali saya melihat sayuran ini. Tapi saya yakin belum terlalu lama. Barangkali setahun dua tahun yang lalu.Sawi Pagoda atau sering juga disebut dengan nama lain Wuta, kelihatannya adalah jenis sawi yang benihnya berasal dari Thailand.

Saya tertarik melihatnya karena bentuk daunnya yang indah,tertata rapi melingkar,makin lama makin tinggi, membentuk kerucut terbalik. Bentuknya itulah yang menyebabkan mengapa ia disebut dengan nama Sawi Pagoda.  Warna  daunnya hijau gelap,  sangat kontras dengan  tangkai daunnya yang berwarna putih bersih. Sungguh menawan sekali penampilannya.Saking cantiknya, rasanya sayang untuk memetiki daunnya. Saya pikir tnaman ini sangat cocok untuk hiasan meja daripada dimasak.

Tapi ketikadimasak,rupanya rasanya juga enak. Saya pikir lebih enak dari jenis sawi biasa.Lalu bagaimana cara memasaknya? Karena saya tidak tahu,ya..saya masak Ca saja. Bisa juga dimasak tumis dengan Seafood, atau buat accesories mie.

2. Daun Pepaya Jepang.

Daun Pepaya JepangNah kalau yang ini saya tahunya baru beberapa bulan terakhir saja. Gara-garanya lagi pengen masak sayuran yang jadul jadul, eh..tiba-tiba melihat daun pepaya kecil-kecil dipajang di lapak tukang sayur di Pasar  Modern Bintaro. Tukang sayurnya mengatakan bahwa itu adalah Daun Pepaya Jepang. Ohh..saya baru pertamakali melihatnya. Warna daunnya juga lucu. Rasanya warna hijau hijaunya lebih gelap dari daun pepaya biasa.

Nte pait, Teh.Tinggal ditumis ajah” katanya. Saya dipanggil “teteh’ karena tukang sayur di pasar itu kebanyakan anak-anak muda Sunda dari Leuwiliang, Bogor. hah?nggak pahit ya? Awalnya saya tidak percaya. Masak sih ada daun pepaya yang tidak pahit? Mana mungkin.

Karena penasaran, maka sayapun membelinya. Saya bersihkan, potong lebih kecil, dan tumis..memang benar tidak pahit sama sekali. Rasanya jadi mirip daun singkong,karena pahitnya hilang. Enak. Sekarang saya malah ketagihan.

3. Sawi Keriting

Sawi KeritingSawi keriting saya kenal sudah sedikit agak lebih lama dibanding 2 sayuran di atas.  Lagi lagi saya memilihnya karena tampilannya yang lucu keriwil keriwil.

Secara struktur, sawi keriting mirip dengan Sawi putih (pitcai/pitsai).  Tidak berbatang (jenis batang yg tipis hanya dibagian pangkal tangkai daun). Tangkai daunnya yang lebar dan pipih mengelompok ditengah sehingga  daunnya yang keriwil praktis lebih banyak di ujung. Hanya saja ukuran sawi keriting ini biasanya jauh lebih kecil dari sawi putih yang biasanya besar, tebal dan padat.   Warna daunnya bervariasi dari hijau pucat  kekuningan hingga hijau tua. Secara keseluruhan tampilannya sangat menarik dan menggiurkan.

Rasanya, kalau menurut saya sih lebih enak dari sai putih ya.  lebih gurih dan sedikit lebih licin. Kalua ditanya enaknya dibuat apa, saya pikir bisa untuk apa saja ya. Direbus dan dijadikan lalap terus dicocol sambel terasi  enak. Ditumis enak, buat campuran cap cay enak. begitu juga buat nemenin mie.  Cocok lah menurut saya.

4. Sawi Manis.

Sawi ManisKalau menurut saya sayuran Sawi Manis ini kelihatannya masih saudara dengan Sawi Hijau (Cai sim).  Rupanya serupa. Agak berbatang, walaupun batangnya tidak berkayu. Tangkai daunnya panjang, demikian juga daunnya.  Warna daunnya hijau standard. Ukurannya lebih kecil dari sawi hijau.

Nah apa yang membedakannya dengan Sawi Hijau? Kalau menurut saya rasanya lebih renyah dan lebih manis. Barangkali itulah mengapa ia disebut dengan nama Sawi manis.

Enaknya dimasak apa?  Sama denga jenis sawi hijau, sawi ini paling enak dipakai untuk teman makan mie.  Atau yang suka makan bakso,mungkin cocok menggunakan jenis sawi ini.

 

 

Jukut Bulung, Sayur Rumput Laut Untuk Kesehatan dan Kecantikan.

Standard

Kalau ada yang bertanya kepada saya, kira-kira masakan khas Bali apa yang akan saya jagokan sebagai masakan yang layak ditampilkan dalam festival makanan unik nusantara? Maka  salah satu yang akan saya nominasikan  adalah “Jukut Bulung”. Hah? Jukut Bulung?Apa itu? Tentu akan banyak yang bertanya-tanya.

Jukut Bulung Boni

Bulung adalah kata dalam bahasa Bali untuk “Rumput Laut” alias Sea Weed. Terminologi yang sangat umum bagi penduduk pulau kecil yang dikelilingi laut dimana-mana itu. Karena laut ada dimana-mana di setiap penjuru mata angin, maka hasil laut merupakan sumber  makanan yang sangat penting di Bali. Bukan hanya ikan, udang, kepiting atau cumi-cumi, yang umum dijadikan lauk pauk teman makan nasi, tetapi rumput laut juga memegang peranan penting sebagai sayuran yang umum kita temukan dimana-mana, terutama di daerah pesisir pantai.

Sejak berabad-abad  masyarakat Bali memetik rumput laut untuk dijadikan sayuran segar. Para wanita di Bali percaya, sayur rumput laut alias Jukut Bulung, bukan hanya menyehatkan karena mengandung berbagai jenis mineral laut,   juga dipercaya merawat kecantikan dan menjaganya agar lebih awet,  sehingga tetap terlihat muda lebih lama. Oleh karenanya, Jukut Bulung muncul sebagai salah satu sayuran traditional favorit untuk dicamil oleh para wanita di Bali, diluar Jukut Plecing Kangkung, Jukut Santok dan Jukut Seromotan.  Karena saya sudah mengunjungi cukup banyak kota di Indonesia dan tidak mudah menemukan sayuran ini dijual di pasar umum, maka saya pikir masakan ini mungkin bisa dikategorikan sebagailumayan unik keberadaannya  di Bali.

Catatan” Sebenarnya bahan mentah rumput laut pernah saya temukan (saya beli dan saya bawa ke Jakarta juga sih) dijual di sebuah pasar Traditional di Makasar beberapa tahun yang lalu.  Hanya saja saya tidak tahu bagaimana saudara kita di Makasar biasanya memasak rumput laut ini sebagai sayuran.  

Pemahaman akan betapa berharganya rumput laut ini bagi kesehatan dan kecantikan, membuat nelayan semakin semangat untuk memetik atau sengaja membudidayakan tanaman ini di pantai. Berikutnya sekaligus  menarik pihak lain untuk membeli  rumput laut yang dibudidayakan di Bali. Umumnya rumput laut ini di eksport ke Jepang untuk menunjang industri kecantikan dan obat-obatan.   Salah satu tempat di bali yang sangat terkenal dengan pembudidayaan rumput lautnya adalah Nusa Penida dan nusa-nusa di sekitarnya (Nusa Ceningan, Nusa Lembongan) dan juga di Pulau Serangan.

Ada beberapa jenis rumput laut yang dibudidayakan dan dijadikan bahan makanan, namun untuk “Jukut Bulung” ada 2 jenis rumput yang paling umum digunakan, yakni Bulung Putih dan Bulung Boni.

Bulung Putih

Bulung Putih  sangat umum dijadikan sayuran dan paling sering dijual di pasar-pasar traditional.  Kita bisa menemukannya dijual umum setiap hari dengan mudah. Warnanya putih agak krem. Bentuknya  mirip bihun. Rasanya enak, agak kenyal.

Bulung Boni

Bulung Boni, berwarna hijau dan lebih  jarang didapat. Daunnya lucu,menggemaskan.  Umumnya ada dijual di pasar-pasar saat bulan purnama. Rasanya lebih kenyal lagi dan lebih empuk dibanding Bulung Putih.

Rumput laut umumnya dimasak dengan cara direbus. Seperti makan plecing, umumnya bumbu dipisahkan dan hanya dicampur saat menjelang makan saja. Bumbunya terdiri atas 2 bagian, yakni bumbu kelapa parut dan bumbu kuah. Bumbu kelapa parut terdiri atas kelapa bakar dan Laos  yang diparut . Sedangkan untuk bumbu kuah bumbunya biasanya ulekan cabe rawit dan terasi bakar serta sedikit garam yang dicampur dengan kaldu ikan (bahasa Bali = Kuah Pindang). Cara menghidangkannya biasanya Bulung ditata di atas piring saji, ditaburi dengan bumbu kelapa parut lalu disiram dengan bumbu kuah pindang. Tampilannya agak mirip dengan sayur Urap versi laut.

Nyam nyam.. wah..jadi kangen. Pengen pulang…

Motivasi Sebagai Sebuah Pembeda.

Standard

Rujak Kuah Pindang 1Dalam sebuah kesempatan pulang kampung saya diajak menengok seorang teman yang sedang sakit oleh sahabat-sahabat saya. Rencananya kami akan berangkat bersama dan karenanya saya diminta agar berkumpul di Warung Prajna yang letaknya  di Jalan Badak Agung di kawasan Renon, Denpasar. Sayapun diantar adik saya ke sana. Beberapa teman sudah menunggu di sana.

Sambil menunggu yang lain, teman-teman menyarankan saya untuk memesan minuman atau mencoba makanan yang disajikan di sana. Seorang teman yang sudah duluan memesan mengangsurkan daftar menu ke saya.

Makanan Yang Unik.

Saya baru pertama kali ke situ. Warungnya  simple. Ada  cukup banyak jenis makanan traditional yang unik-unik ditawarkan disana. Diantaranya adalah Rujak Kuah Pindang. Sejenis Rujak Traditional Bali, yang bahan dasarnya sama dengan jenis Rujak lainnya, dibuat dari campuran irisan buah-buahan, namun yang membedakannya adalah bumbunya yang menggunakan kaldu ikan (kuah pindang). Itulah sebabnya mengapa Rujak ini disebut dengan Rujak Kuah Pindang. Tentu rasanya unik, karena campuran pedas, asam, manis dan asin khas kuah pindang. Enak dan beda! Sudah lama saya tidak makan Rujak Kuah Pindang.

Tipat Kuah set

 

Lalu teman-teman juga mendorong saya untuk mencicipi  Tipat Kuah (Ketupat Kuah) karena menurut mereka Tipat Kuah di sana enak. Wah..lagi-lagi ini makanan unik yang berbeda. Jika ketupat umum yang dikenal di Bali adalah Tipat Cantok (dibuat dari potongan ketupat,  sayuran (kangkung, tauge, kacang panjang atau bayam) diaduk dengan bumbu kacang – mirip Gado-Gado kalau di Jakarta, Tipat Kuah  memiliki perbedaan yang mencolok.  Terbuat dari potongan ketupat, ditambah dengan Jukut Cantok (sejenis sayuran berbumbu kacang mirip sayuran dalam gado-gado), Be Siap Mepelalah (ayam suir berbumbu) plus Kuah Be Siap (sejenis kuah Soto Ayam). Rasanya enak, mengingatkan rasa masa kecil. Saya suka Ketupat Kuah ini.

Sebenarnya masih ada beberapa jenis makanan yang jarang-jarang saya lihat lagi di tempat lain, seperti  Nasi Baas Barak (Nasi beras merah),Tipat Plecing,Plecing Kabyos, Bulung, dan sebagainya. Namun tentunya saya tidak bisa mencicipi semuanya sekaligus.

Pesan-Pesan Yang Menarik.

MotivasiYang menarik perhatian saya selain makanannya yang unik dan beda adalah dinding warung itu. Saya sering melihat warung-warung makan memajang testimoni para artis atau pejabat terkenal yang pernah mampir di warung itu. Itu umum. Tapi yang dipajang di warung ini adalah beberapa pesan-pesan motivasi yang menggelitik. Kebanyakan mengutip semangat Pak Andre Wongso. Misalnya di sebuah bagian dinding saya membaca :

Mulai dari diri sendiri. Kita seringkali  mencoba dan berusaha untuk mengubah dunia dan orang lain, tetapi….jauh lebih penting adalah kita mengubah dunia yang ada di dalam diri kita sendiri

Saya termenung membacanya – sangat benar apa yang dikatakannya. Seketika saya jadi ikut termotivasi untuk memperbaiki diri saya sendiri.  Lalu di bagian dinding di sebelahnya, saya melihat pesan motivasi yang lain.

Tetap Tersenyum. Kita tersenyum saat kehidupan berjalan sukses dan menyenangkan,itu hal yang biasa. Tetapi saat kehidupan kita menghadapi rintangan, tantangan dan tidak memuaskan,namun kita tetap bisa tersenyum itu baru luar biasa”

Wah.. memang benar-benar luar biasa! Masih banyak pesan -pesan motivasi yang lain lagi. Karena warung ini berbeda, sebagai seorang pemasar, tentu saja saya menjadi tertarik untuk menyimaknya lebih lanjut.  Mengapa pemiliknya memutuskan untuk menggantung pesan-pesan motivasi itudi sana? Kepada siapa pesan -pesan itu disampaikan? Apakah untuk dirinya sendiri? Ah..tentunya kepada pengunjung warung lah ya. Tapi apa relevant? Memang siapa target marketnya?

Motivasi 2Kawasan Renon merupakan kawasan perkantoran, dimana para karyawan menghabiskan jam istirahat/makan siang di warung-warung makan yang banyak bertebaran di daerah itu.  Dan tentunya kita tahu, yang namanya karyawan tentu kondisi mentalnya sangat beragam pada saat memasuki warung itu – ada yang sedang senang karena baru saja mendapatkan promosi jabatan, ada yang sedang galau karena proposalnya belum kunjung juga disetujui, ada yang sedang bersedih karena baru saja habis didamprat boss-nya, atau ada yang lagi ‘down’ karena diuber-uber cicilan utang. Macam-macamlah isi pikirannya. Dan pemilik warung ini menangkap dengan jeli, bahwa konsumen yang masuk ke warung ini dengan segala macam kegundahgulanaan, harus keluar dengan penuh semangat kembali. Dan siap kembali bekerja ke kantor dengan penuh motivasi diri.

Saya mendapatkan cerita bahwa pada awalnya, sang pemilik warung, drh Dewa Made Dwi Saputra  selalu menyelipkan pesan-pesan motivasi di dalam bungkusan makanan setiap kali ada orang yang memesan. Lama kelamaan cerita tentang warung yang memberi motivasi itu menjalar dari mulut ke mulut, sehingga makin banyaklah orang yang pengen tahu dan penasaran untuk datang dan makan di tempat itu. Hmm…cerita yang menarik!.

Sangat jelas saya melihat, bahwa pemiliknya sangat jeli untuk memanfaatkan situasi konsumen dan menjadikan “Motivasi” sebagai pembeda warungnya dengan warung-warung lain yang ada. Walaupun warungnya sederhana, namun motivasinya sangat terasa kuat.

Differentiation, selalu  merupakan salah satu faktor penting  dalam mensukseskan upaya pemasaran.