Pak Ogah Jalanan. Membantu atau Menyusahkan?

Standard

jalananSaya dalam perjalanan balik ke kantor dari makan siang. Beramai-ramai , nebeng teman yang membawa kendaraan. Cuaca sangat panas di luar. Debu dan uap jalanan bertebaran di udara. Lalu lintas tidak terlalu padat.Karenanya kendaraan melaju cukup cepat, akhirnya tibalah kami di putaran jalan. Seorang Pak Ogah berdiri di putaran itu, mengangkat ke dua tangannya, memanggil-manggil pengemudi untuk melaju dengan gerakan tangannya, lalu merapat ke pintu pengemudi. Teman saya  terlihat agak kikuk, lalu membuka kaca jendela mobil, memberikan uang kepada Pak Ogah itu lalu menutup kacanya kembali. Kendaraanpun melaju ke arah yang berlawanan dengan arah darimana kami datang sebelumnya.

Bagi yang dikotanya tidak mengenal istilah Pak Ogah jalanan, saya jelaskan sedikit bahwa  “Pak Ogah” yang saya maksudkan  ini adalah orang-orang (biasanya laki-laki, umur bervariasi- dari belasan tahun hingga setengah baya) yang berada di putaran jalan membantu memuluskan jalan bagi pengemudi yang ingin memutar haluan, dengan cara memberhentikan atau memperlambat arus lalu lintas yang sedang melaju. Dengan demikian, pengemudi yang  sedang memutar haluan kendaraannya bisa melakukannya dengan baik tanpa mengalami kesulitan lalu lintas yang berarti . 

Untuk jasanya ini, biasanya mereka meminta imbalan dari para pengemudi yang bersangkutan,  oleh sebab itulah mereka dinamakan dengan Pak Ogah. Diambil dari nama salah satu tokoh pengangguran di film Si Unyil yang terkenal dengan  kalimatnya “Cepek dulu dong  !” setiap kali membantu orang lain. Kadang Pak Ogah jalanan ini juga disebut  dengan istilah “Polisi Cepek”.

“Lah,  orang itu kan tidak menolong kita. Sebenarnya tidak perlu diberi uang” Celetuk seorang teman. Rupanya ia memikirkan hal yang nyaris sama dengan yang saya pikirkan. Sebenarnya Pak Ogah yang ini  memang tidak menolong sama sekali. Malah membuat ribet dan kagok teman saya yang mengemudi.

Pertama, karena kenyataannya lalu lintas relatif sepi. Tidak ada kepadatan yang berarti. Sebenarnya pengemudi bisa lewat di putaran itu dengan normal. Tanpa perlu bantuan siapapun, termasuk dari Pak Ogah.

Kedua, Pak Ogah itu berdiri di depan sisi kanan, dekat pintu supir. Ia tidak membantu mengentikan laju lalu lintas yang berada di sisi kiri. Mengapa ia berdiri di situ dan malah menghalangi lajunya kendaraan? Bukankah jika ia mau menolong seharusnya ia berdiri di pintu kiri? Agar bisa memberhentikan laju lalulintas dari arah kiri? “Karena kalau berdiri di kanan, ia takut tidak kebagian uang dari supir“kata teman saya yang lain. Hmm.. mungkin saja sih. Masuk akal juga.

Teman -teman yang lain ramai-ramai bercerita tentang pengalamannya dengan Pak Ogah yang rata-rata menurutnya tidak membantu, malah membikin ribet.  Ada yang bercerita bahwa seorang teman kami yang lain  bahkan pernah berani membentak Pak Ogah di tikungan ” Pergi kamu! Kamu tidak berguna berdiri di situ!. Bikin saya susah saja!” cerita teman saya ketika  teman kami itu nyaris menabrak orang lain gara-gara seorang Pak Ogah sibuk meminta imbalan di sisi kanan tanpa sedikitpun membantunya  mengatur kepadatan lalu lintas di sisi kiri. Saya tertawa mendengar ceritanya. Karena setahu saya rata-rata pengemudi wanita umumnya memberi uang kepada Pak Ogah, terlepas apakah sebenarnya ia dibantu atau tidak. Entah karena takut, merasa nggak enak,segan, malu , dsb jika tidak memberi uang. Kalau ada yang berani sampai membentak Pak Ogah, tentu itu sebuah prestasi.

Kesimpulannya beramai-ramai, Pak Ogah yang berdiri di sisi pintu supir memang tidak membantu. Mereka hanya mengutamakan imbalan dari pengemudi.

Lalu apakah  Pak Ogah itu sebenarnya diperlukan atau tidak? Apakah ada Pak Ogah yang memang benar-benar membantu dan berguna? Ramai-ramai teman saya menjawab bahwa Pak Ogah itu kadang dibutuhkan juga keberadaannya. Tidak semuanya menyusahkan!. Terutama pada saat tidak ada petugas polisi lalu lintas yang mengatur kepadatan (barangkali karena jumlah polisi lalu lintas terbatas, atau mereka sedang istirahat,dll). Pak Ogah sangat dibutuhkan dan bisa jadi sangat berguna.

Pak Ogah yang berdiri di sebelah pintu kiri supir, yang benar-benar bekerja memberhentikan atau memperlambat laju kendaraan yang lewat itulah yang memang benar-benar membantu. Itulah yang sebenarnya layak diberi imbalan.  Tapi masalahnya ia berdiri di pintu jauh? Lalu bagaimana pengemudi bisa memberikannya imbalan? Kecuali ia mendekat dengan cepat. Jika tidak tentu ia ditinggal oleh pengemudi yang harus bergegas memutar stir kendaraannya.  Kasihan Pak Ogahnya.

Jadi menurut teman-teman saya, yang ideal itu, di setiap tikungan yang padat dan berpotensi membuat kemacetan sebaiknya ada polisi. Atau jika tidak, dibutuhkan dua orang Pak Ogah. Pak Ogah1 fokus tugasnya adalah  membantu mengatur lalu lintas, harus berdiri di sisi jauh dari pengemudi dan tidak perlu memikirkan uang. Dan pak Ogah2 berdiri di sisi dekat pengemudi tugasnya menampung uang dari pengemudi atas  kerja yang dilakukan oleh pak Ogah1. Pada  akhir kegiatan, uang itu harus dibagi berdua sesuai dengan kesepakatan (sebaiknya Pak Ogah1 yang menerima bagian yang lebih banyak dong ya.., karena kan resikonya lebih tinggi dan pekerjaannya lebih sulit, dibanding dengan yang hanya berdiri , mengangkat tangan dan meminta uang).

Saya mengingat-ingat, di beberapa putaran jalan rasanya cukup sering juga saya melihat Pak Ogah beraksi dengan temannya. Berdua atau bertiga. Barangkali mereka telah memikirkansebelumnya  hal-hal yang dipikirkan oleh para pengemudi.

 

 

29 responses »

  1. Iya Mak Pak Ogah ada yang kayak gitu cuma asal ngibas2 tangan sama berdiri di tengah jalan. Tapi kalo Pak Ogah yang di deket rumahku sini bantu banget makanya sering kukasih uang

  2. Meskipun memang ada beberapa yang membantu tapi kebanyakan alah menyusahkan dan bikin macet Mba buat saya, huehehehe. Yamasa mereka buka lapak di bawah rambu lalu lintas dilarang puter balik dan bikin semua orang puter balik di situ. Bikin macet panjang pas jam pulang kantor di daerah Saharjo. Huehehehe….

  3. kadang membantu untuk sebagian orang, kadang menyusahkan bagi yang lain,
    tapi bagi pak ogah, itu jadi lahan mencari rezki, susah juga, yang harus tegas siapakah?

  4. kebanyakan pak ogah mendahulukan yang memberi uang🙂 tapi di pertigaan dekat rumah malah sangat membantu tapi tidak murni pak ogah melainkan tukang ojeg yang lagi mangkal membantu pengendara jika ada mobil dari arah berlawana

  5. Heu heu heu.. kadang membantu, tapi sering juga mengerikan, seperti di daerah ku tuh ada tanjakan, pak ogah menghalangi, padahal kita akan melintas nyebrang. Kebayang kan.. sereeem

  6. Kalau yang betul-betul membantu sih ya memang Pak Ogah begini cukup bermanfaat, karena aku sering lihat juga beberapa Pak Ogah yang bekerja sama dengan Polisi mengatur kelancaran lalu lintas; tapi kalau pas ketemu yang mengutamakan pemberian pengemudi tanpa memikirkan kelaancaran lalu lintas, memang betul-betul menjengkelkan

  7. Kadang pak Ogah bisa menolong memberi celah jalan bagi mobil saya untuk lewat, akan tetapi bagi pemilik mobil lain yang menunggu antri untuk diberi kesempatan lewat, pasti ngedumel alias mengomel. Kondisi ini bagai sisi dua keping mata uang yang berbeda, tergantung nasib baik atau apes saat kendaraan ramai-ramai terjebak kemacetan panjang ala kota Jakarta, bisa cepat melintas atas panduan pak Ogah atau sengaja ditahan pak Ogah berlama-lama karena konvoi kendaraan lain diberi kesempatan lewat lebih dulu.

  8. suamiku juga bilang gitu kak, keberadaan pak ogah itu bukannya ngebantu malah bikin org jadi susah buat puter balik ato belok… malah ada beberapa jalan yg tanpa dibantu dia pun kita bisa puter balik ato belok sendiri… yg kayak gitu biasanya ga dikasih duit ama suami aku…

    • Kupikir juga sebaiknya gitu ya..hanya jika dia menolong,makaperlu dibayar.karena jika kita kasih duit juga saat tidak menolong, semakin banyak yang mau berdiri di situ dan nggak ngapa-ngapain,malah bikin ribet dan kemacetan juga..

  9. Mereka hidup dengan kehidupan ‘ogah’ ini memang menjadi hal yang berada dalam dua sisi, membantu atau menyusahkan orang lain. Semoga kehidupan dan rezeki yg mereka cair kedepan juga bisa lebih terbuka dan banyaknya kendaraan timbul juga menjadi efek jera masyarakat, ada demand maka ada supply.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s