Push To The Limit.

Standard

burung cerukcukPernahkah teman-teman ikut latihan baris berbaris? Saya pernah. Tentu saja dulu, waktu saya masih kecil.

Suatu kali saya ikut latihan baris berbaris, karena akan ada Lomba Gerak Jalan antar sekolah dalam rangka perayaan 17 Agustus. Latihannya dilakukan setiap  jam 3 sore di jalanan umum. Karena tinggi badan saya tidak seberapa, tentu saja saya tidak bisa berbaris di depan. Boro-boro dipercayakan menjadi komandan barisan. Saya hanya ikut sebagai anggota yang berbaris agak di belakang, walaupun bukan yang paling belakang.  Siaaappp, grakkk!. Majuuuuuu, jalannn!!!. Saat latihan itu di jalanan,   kami melewati seorang pria berbaju biru tua yang berdiri di pinggir jalan dan melihat kami dengan pandangan mata kosong.  Saya melirik ke pria itu dan berakata dalam hati “Waduuuh..pasien Rumah Sakit Jiwa yang lepas! Mudah-mudahan ia tidak melihat saya dan menjadikan saya sasaran”.

Catatan: Masa kecil saya habiskan di kota Bangli, dimana berlokasi sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) terbesar yang ada di Bali.  Dengan daya tampung lebih dari 400 orang pasien, Rumah Sakit ini menangani berbagai pasien yang mengalami gangguan kejiwaan dari berbagai penjuru, bukan saja dari kota-kota lain di Bali, namun juga dari luar pulau Bali.  Saat itu beredar rumors di kalangan teman-teman sekelas saya kalau ada pasien RSJ yang lepas dan suka mengejar-ngejar anak kecil. Saya tidak tahu kebenarannya. Seragam pasien RSJ pada jaman itu  berwarna biru tua. Jadi jika melihat orang aneh berseragam biru tua, dengan cepat pikiran saya mengarah pada Orang gila.

Saya berusaha tetap fokus berbaris,namun tak berapa lama terjadi kehebohan. Teman-teman yang berbaris di belakang saya berteriak “ Orang gila! Orang gila!” semuanya pada berlarian. Saking takutnya,saya berlari sekencang-kencangnya. Sekencang yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan diri. Lari, lari dan terus lari. Melewati teman-teman saya yang berlari di depan saya. Melewati orang-orang yang berjalan di pinggir. Saya tidak perduli lagi kiri dan kanan. Pokoknya berlari dan terus berlari sejauh mungkin. Setelah jauh, barulah saya menoleh. Ternyata tidak ada orang lain yang berlari secepat dan sejauh saya. Mereka hanya berlari lambat dan berhenti tak jauh dari barisan kami membubarkan diri. Lho?! Saya heran sendiri.

Setelah itu guru saya bertanya mengapa saya berlari sekencang itu. Saya jawab karena saya takut dikejar orang gila. Guru saya tertawa dan menjelaskan bahwa  orang gila itu baik-baik saja, dan ia hanya hidup dalam dunia dan pemikirannya sendiri.   Orang gila itu tidak mengejar ataupun berniat membahayakan kita, jadi tidak perlu merasa takut.  Orang gila itu membutuhkan persahabatan dari kita, bukan sikap memusuhi atau menjauhi.  Ooh..saya jadi merasa sangat malu.

Namun gara-gara kejadian itu, guru saya mengidentifikasi saya sebagai seorang pelari cepat. Berikutnya saya disuruh latihan lari  untuk mewakili sekolah saya dalam memenangkan piala dalam lomba Lari Sprint 100 meter di Pekan Olah Raga antar Sekolah.

Jika saya kilas balik kejadian konyol di masa kecil itu, memberi saya pemikiran bahwa jika kita sedang berada dalam keadaan kepepet, maka kita akan memaksa diri kita, mendorong diri kita sebanyak-banyaknya, sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya hingga ke titik batas yang bisa kita lakukan. Push to the limit!.  Baik saya maupun guru saya tidak ada yang pernah tahu sebelumnya kalau saya ternyata bisa berlari secepat itu. Hanya karena kepepet, maka potensi berlari  yang ada di dalam diri saya bisa keluar dengan baik. Walaupun tentu saja kemampuan saya bukanlah sprinter tingkat nasional, setidaknya saya pernah mengeluarkan kemampuan berlari saya dengan baik di pertandingan antar sekolah.

Tanpa kita sadari,  bahwa jika kita membawa diri kita berada di posisi yang terpaksa dan tidak punya pilihan lain, ternyata membuat kita menjadi berusaha sekeras-kerasnya untuk melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jika tidak demikian, kita tidak pernah tahu hingga dimana potensi diri kita bisa kita kembangkan.

Saya pikir, itu hanyalah sebuah contoh kecil yang diambil dari kehidupan saya bahwa manusia itu memiliki sesuatu di dalam dirinya yang sesungguhnya bisa ia kembangkan dengan baik, jika ia mau mendorong dirinya sendiri untuk melakukannya dan melatihnya. Tidak dengan maksud untuk menyombongkan kemampuan diri saya sendiri (karena kenyataannya setelah dewasa saya tidak pernah lagi melatih diri berlari, dan jika sekarang saya disuruh berlari sudah tentu ngos-ngosan dan megap-megap karena saking tidak pernahnya berolah raga – jadi apa yang harus saya sombongkan juga…he he), tetapi saya  hanya ingin mengajak kita semua merenungkan “potensi diri” yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Apakah benar apa yang telah kita capai saat ini adalah sudah yang terbaik dari poetnsi yang kita miliki? Apakah sebenarnya kita juga memiliki potensi-potensi yang lain yang tidak kita ketahui, hanya karena kita belum pernah me’push’ kemampuan kita hingga ke level yang optimal?  Saya yakin setiap orang pasti memiliki potensi penting dalam dirinya masing-masing. Namun apakah pada saat ini sudah didorong dengansebaik-baiknya atau belum? Itu yang masing-masing dari kita yang perlu menjawabnya.

Yuk kita tengadahkan wajah. Tegakkan leher sejenjang-jenjangnya. Tatap langit yang tinggi.  Bersama-sama kita coba cari dan dorong segala potensi yang ada di dalam diri kita agar bisa keluar dan mencapai level yang optimal!.

Selamat menyongsong Hari Senin!.

11 responses »

  1. Sepakat Mbak, kadang dalam suatu kondisi tertentu dalam kata lain”kepepet” secara tidak sadar kita mengeluarkan semua kemampuan yang kita miliki yang dibawah alam sadar tidak pernah kita sadari.

    iiih… aku ampe ngakak baca lari sekencang itu diuber orang gila… wuaaaa,.. aku juga takut

  2. waaah.. aku dikejar orang gila juga pas lagi main basket di sekolah.., kita kabur ngumpet di rumah orang

    iya bener mbak.., apa ya kemampuanku yg belum kupakai maksimal.. belum terbayang deh

  3. Terkadang ada halanagn kecil yang membuat kita dengan sengaja menahan diri untuk melakukan yang terbaik, dan analogy orang gila yang mengejar seperti sesuatu yang membuat kita mengeluarkan “rasa kepepet” itu yang mendorong kita melakukan yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s