Bertengkar Yang Sehat: Turunkan Suara, Kuatkan Argumentasi.

Standard

TerkwakPernah suatu ketika, saya sedang bermain di pinggir kali di belakang rumah saya. Tampak dua ekor Burung Terkwak terbang dan menclok di atas tembok sungai. “Kwak kwok kwok kwok….kwaaaakkkk”. Mereka bercakap-cakap dengan suara kencang mirip suara orang sedang beradu mulut. Saya tertarik untuk mengamatinya. Burung yang kelihatannya sepasang itu terlibat perang mulut. Tak mengerti apa yang mereka pertengkarkan, saya menduga mereka sedang bertengkar urusan “arah mana yang akan ditempuh”.Ke timur atau ke barat? Yang betina kelihatan sangat ribut dan ingin ke barat.   Saya hanya bisa menduga-duga saja  .Ah…seandainya saya mengerti bahasa burung!.

Terkwak 1

Beberapa kali saya lihat burung betina itu mencoba jalan ke arah barat sendiri, menerobos melewati yang jantan. Yang jantan kelihatannya kurang menyetujui. Jadi mereka ribut. Adu suara. Yang jantan menaikkan volume suaranya. yang betina tak mau kalah. Ia menaikkan nada suaranya menjadi tinggi dan melengking.

Terkwak 5Lalu entah apa yang menjadi keputusan mereka, kemudian yang betina mengambil inisiatif berjalan duluan ke arah barat. Mau tak mau yang jantan menyepakati. Merekapun berjalan ke arah barat dengan kompak.

Terkwak 2

Beberapa saat kemudian, entah mengapa mereka ribut lagi. Suaranya sangat kencang. Lagi-lagi seperti suara orang bertengkar.

Terkwak 4Akhirnya mereka  berbalik lagi ke arah ke timur. Wah..ha ha..saya merasa geli menontonnya.Sangat mirip tingkah laku manusia. Bukankah kita manusia  juga terkadang bertengkar?

Bertengkar! Alias adu mulut. Tentu semua dari kita pernah mengalamainya bukan?  Entah itu bertengkar dengan pasangan, saudara, teman,bawahan atasan, rekan kerja  dan sebagainya? Kalau tidak belakangan ini, barangkali di saat-saat yang lalu? Atau bahkan di masa kanak-kanak? Bertengkar berebut bola atau boneka dengan teman sepermainan?

Bertengkar adalah hal yang sangat manusiawi. Karena setiap manusia dianugerahi pikiran, perasaan, latar belakang serta sudut pandang masing-masing yang belum tentu sama satu dengan lainnya yang menciptakan keinginan, pemahaman dan pandangan yang bereda-beda. Perbedaan keinginan, pandangan maupun pemahaman inilah yang kerap kali memicu pelatuk pertengkaran. Setiap pihak ingin agar apa yang ia inginkan, apa yang menjadi pemahaman dan pandangannya unggul dibandingkan dengan lawan bicaranya. Tidak ada yang mau ngalah. Itulah yang namanya bertengkar.

Ada banyak gerakan fisik yang biasa kita lakukan saat bertengkar. Menaikan volume suara kita? Meningkatkan nada suara kita? Meningkatkan jumlah kata yang kita keluarkan? Mirip dengan apa yang dilakukan si Burung Terkwak? Membelalakkan mata? Mengerenyitkan dahi? Menurunkan sudut bibir? Apalagi?  Namun ketika saya pikir kembali, diantaranya tidak ada yang benar-benar berguna untuk meyelesaikan masalah dengan baik. Yang ada malah meningkatkan tension dan sakit kepala.

Sebenarnya tidak ada perselisihan yang bisa diselesaikan dengan bentakan dan nada suara yang tinggi. Demikian juga dengan mimik dan kalimat sinis. Tak ada yang mampu membantu dengan baik.  Sebaliknya, bentakan, nada suara yang tinggi dan kencang, serta mimik dan ucapan yang sinis hanya menambah parah perselisihan. Karena penampakan fisik seperti itu hanya menyulut kekesalan hati lawan bicara kita.

Turunkan volume suara, kuatkan argumentasi.

Adakah hal yang bisa kita lakukan untuk membantu kita menyelesaikan perselisihan dengan cara yang lebih baik? Bertengkar dengan sehat? Saya mencoba berpikir-pikir.

Saya pikir salah satu cara yang baik untuk menyelesaikan pertengkaran adalah dengan cara menurunkan volume suara kita dan menyampaikan argumentasi yang baik dan sportif, ketimbang volume suara yang besar, tinggi, banyak serta ngawur dan tanpa dasar maupun fakta.

Volume suara yang rendah, membantu lawan bicara  untuk meredakan emosinya. Karena volume suara rendah memberi petunjuk bahwa sang pemilik suara tidak sedang di posisi yang aggresif. Tidak menyerang. Hal ini akan membuat lawan bicara menjadi lebih tenang. Atau  bahkan ikut menurunkan volume suaranya juga hingga ke level percakapan biasa. Jika suara kita tinggikan dan perbesar volumenya, maka lawan bicara akan menyangka kita sedang di fase agresif dan menyerang. Sehingga respon yang kita dapat, adalah lawan bicara akan memasang posisi menyerang balik atau minimal bertahan. Yang keluar biasanya adalah kalimat-kalimat sinikal setajam silet, yang perih dan menyakitkan. Jadi, yang pertama perlu kita lakukan adalah menurunkan segera volume dan nada suara kita dari besar dan tinggi menjadi kecil dan rendah.

Langkah ke dua, agar apa yang kita inginkan, yakini dan pahami diakui dan disetuji oleh lawan bicara kita, maka kita perlu menyampaikan argumentasi yang baik, kuat dan mendasar. Tanpa demikian, tentu lawan bicara kita sulit untukmenerimanya dengan baik. Kalaupun pada akhirnya  mau mengakui dan menyetujui, sebenarnya itu sama saja dengan memaksakan pendapat kepada orang lain.

Kita perlu mengasah kemampuan berargumentasi dengan baik dan sportif. Argumentasi yang kuat jika disampaikan dengan cara yang baik dan tepat, membuat lawan bicara lebih memahami sudut pandang kita dengan lebih baik. Karena apa yang kita sampaikan bukanlah sesuatu yang ‘ngasal’ dan tanpa dasar.Tetapi sesuatu yang ‘reasonable’dan layak didengar. Cara yang paling sederhana tentu saja dengan memanfaatkan jembatan yang disusun oleh kata-kata tanya. Apa?Siapa? Mengapa? Kapan? Dimana? Bagaimana? Jika perlu, bahkan dengan menggali lebih dalam setiap kata tanya itu sebanyak 5x hingga kita benar-benar bertemu dengan akar permasalahan yang ingin kita sampaikan dan kita yakini benar.

Menyampaikan sebuah pendapat dengan berakar pada issue yang mendasar dan kuat serta implikasinya, memberikan kemungkinan pada lawan bicara kita untuk memahami lebih baik, mempertimbangkan ulang pendapatnya sendiri dan akhirnya menyetujui pendapat kita.   Argumentasi yang kuat, meningkatkan peluang  kita untuk memenangkan perselisihan pendapat dengan baik dan sehat.

Nah bagaimana jika kita sudah menyampaikan argumentasi kita, namun ia tetap tidak menerimanya dan kita kehabisan kata-kata untuk meningkatkannya lagi? Jika kita sudah tak mampu berargumentasi dengan lebih baik lagi guna meyakinkannya, jelas itu adalah pertanda dimana kita yang harus mengalah.  Segera sepakati argumentasinya. Tidak ada gunanya melanjutkan pertengkaran, kecuali jika  apa yang ingin ia lakukan adalah sesuatu yang melanggar hukum dan kesusilaan.   Jika tidak, terimalah dengan lapang dada. Datanglah kembali untuk membicarakan topik itu, hanya jika kita memiliki argumentasi yang lebih baik lagi. Jika tidak, janganlah pernah ungkit-ungkit lagi.

Mari perkuat setiap argumentasi kita!

 

10 responses »

  1. Terkesima dengan eloknya foto2 Jeng Dani, pun kepekaan batin menangkap ‘pertengkaran’ pasangan burung terkwak, lalu tertunduk…Suksma, untuk pembelajaran dari cekcok terkwak.
    Salam

  2. Hahah.. Lucu.. Burung-burungnya berantem tapi perang mulut doank.. Bisa aja sih Mbak, dapet fotonya.. Wakakakakkk..😀

    Ah.. Aku kalok uda ada yang keras suaranya, naek jugak lah emosi ku.. *anak Medan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s