Serunya “Menyama Braya” Bersama Sahabat Bloggers.

Standard

kpdaran bloggerDiantara para blogger di tanah air, barangkali saya adalah salah seorang yang paling kurang gaul. Setiap kali melihat foto atau membaca cerita teman-teman blogger yang entah kopdaran atau mengadakan pertemuan, saya hanya bisa ngiler. “Aduuh..kapan ya saya bisa bertemu dengan mereka” bathin saya. Saya belum pernah ketemu blogger lain selain Bu Prih, blogger Salatiga yang selalu saya kagumi pemahamannya tentang budaya Jawa, selain tentunya tentang urusan kebun. Saya ingat betapa menyenangkannya bertemu dan jalan-jalan dengan beliau ke Keraton Solo saat itu.

Berikutnya saya sempat bertemu Pak Krishna, blogger yang tulisan dan foto-foto perjalanannya selalu menyedot perhatian saya. Pertemuan dengan beliau juga penuh dengan obrolan yang sangat seru dan  menyenangkan.  Terinspirasi oleh kedua pertemuan itu, jadi saya ingin sekali mendapatkan kesempatan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya lagi.

Keinginan itu akhirnya sedikit bisa tercapai ketika Budi Arnaya, blogger Jembrana  menghubungi saya  dan memberi kabar bahwa dirinya sedang ada di daerah Serpong untuk masa kurang lebih sebulan.

Sebagai bagian dari kebiasaan “Menyama Braya” di Bali,  Budi mengkonfirmasi kunjungannya ke rumah.  “Pang maan masih nengokin nyama (maksudnya: agar dapat juga menengok saudara)” itu istilahnya.  Saya sangat senang.

(Note: “Menyama braya” adalah terminologi  dalam bahasa Bali untuk sikap memupuk rasa persaudaraan dengan cara saling menyapa, saling menengok, saling menolong dan memperdulikan keadaan masing-masing, sesama saudara, kerabat atau sahabat.  

Dari sana akhirnya saya pikir kayanya lebih enak  jika sambil ngobrol kita bakar-bakar ikan rame-rame. Pasti seru! Barangkali Budi mau. Dan barangkali ada blogger lain seputaran Tangsel yang  juga bisa datang.   Siapa saja ya? Saya ingat Pak Krishna dan Mbak Evi. Terus saya ingat  sama Dani Kurniawan (sayang saat saya hubungi Dani sedang ada di Bandung. Jadi ngga bisa ikut dehh).  Sayang saya  tidak tahu siapa lagi lainnya yang  tinggal di seputaran Tangsel.

Karena malamnya saya bekerja hingga larut, hari Sabtu pagi, saya bangun kesiangan. Waduuh..janji ngajak bakar-bakar ikan, tapi belum punya arang buat membakar he he. Akhirnya ke pasar dulu mencari arang batubara (briket) dan bahan-bahan lainnya. Jadilah saya terlambat menjemput Budi di flat-nya. Janji jam sembilan, tapi akhirnya jadi molor ke jam sebelas. Untungnya Budi baik hati dan nggak pake ngambek. Pertama kali bertemu Budi, rasanya seperti menjemput adik sendiri. Sudah nggak ada basa basi lagi. Nggak pake sungkan-sungkan, langsung ngasih tugas, “ntar bantuin bakar ikannya, ya!” kata saya yang disetujui Budi. Bahkan anak saya yang kecil begitu bertemu  juga langsung ngajak Budi main bola di halaman. “Ayo,Om. jadi keepernya” . Ha ha ha.. ia idak tahu kalau Omnya lagi sakit perut.

Mbak Evi datang sekitar jam 4.   Pak Krishna menyusul tak lama kemudian. Saya senang sekali. Setelah bertahun-tahun bersahabat akrab di dunia digital (mbak Evi adalah blogger pertama yang saya kenal di dunia maya), kami baru bertemu fisik hari itu, padahal rumah kami sangat dekat satu sama lain. Rupanya hanya sekilo dua  kilo meter barangkali jaraknya. Kok belum pernah bertemu ya? Akhirnya kami ngobrol seru dan tertawa cekakak cekikik mentertawakan kebodohan kami.  Saya sangat heran. Padahal kami baru pertama kali bertemu, tapi kok rasanya mirip dengan reunian dengan teman-teman lama yang  sudah lama tak bertemu.

Yang namanya temu blogger, pasti yang dibrolin adalah seputaran dunia per’blog’an, tulis-menulis, perjalanan, pengalaman dan foto-foto.Lalu serunya apa ketemuan begini, selain ngobrol-ngobrol? Banyak kocaknya juga sih.  Nah begini ceritanya…

Sekitar pukul setengah empat, Budi nanya “Apa mau mulai bakar ikan sekarang saja?“.  Ya ya. Masuk akal juga, biar ntar kalau mereka datang, ikan sudah ada yang matang. Saya menyiapkan pembakaran  dan menuang briket batu bara. Pas nuang briket..ehhh… saya baru nyadar kalau saya belum pernah menyalakan briket batu bara. Selama ini yang menyalakan briket adalah keponakan suami yang sekarang sudah pindah tinggal di luar kota. Biasanya saya hanya tukang nyiapin bumbunya saja.. he he. Pantesan saya tidak bisa membakar briket sendiri*ah..neplok jidat!*

Coba pakai koran dibakar dulu buat mancing nyala briket. Tapi kobaran api di koran tak bertahan lama, dan briket tak kunjung menyala juga. Saya dikasih tahu, harusnya pakai minyak tanah sedikit. Waduw? Jaman begini dimana nyari minyak tanah ya?  Untungnya si Mbak yang bantuin di rumah, berinisiatif mengambilkan minyak tanah dari rumahnya sendiri.  Belakangan saya dikasih tahu, harusnya pake spiritus. Spiritus lebih mudah dicari. ooh gitu ya? He he….. tapi akhirnya ikanpun matang juga.

Lepas dari masalah pertama, lalu datang masalah yang ke dua. Lalat tiba-tiba datang entah darimana karena mencium aroma ikan. Banyak pula.  Waduuuh.. bagaimana ini? Karena nggak nyaman, akhirnya sementara saya simpan dulu ikan-ikan yang baru matang itu di dalam ruangan tertutup biar nggak dihinggapi lalat. Saat mau makan baru dikeluarin.  Anak-anak nanya, “Lah..ikannya mana?” bingung nyariin ikannya. Disimpan di ruangan! Akhirnya anak-anak membantu menyalakan lilin dan mengibas-ngibaskan kipas dan koran buat mengusir lalat. Seru!

Senengnya rame-rame di rumah ini, ya begini inilah. Mbak Evi juga bantuin ngangkatin mangkok buat dibawa ke Jineng. Menjelang makan, baru nyadar ternyata sendok garpu belum disiapkan. “Sendok mana? Sendoknya belum ada” tanya Mbak Evi. Buru-buru saya ngambil sendok nasi.’Bukan sendok nasi. Sendok makan!” Oooo ala. Sendok makan ya. Ha ha ha.. masih ketinggalan di dapur. Kelihatannya nyonya rumah kurang profesional ini. Masa sendok garpu belum disiapin. Belum siap kalau suatu saat buka resto…he he.

Walaupun penuh dengan kekurangan, tapi suasana sore itu menurut saya sungguh sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan. Apa adanya, seperti keluarga sendiri.

Yang saya catat dari pertemuan ini adalah keakrabannya.  Saya sangat senang dikunjungi sahabat-sahabat saya ini. Bagi saya kedatangan mereka ke rumah adalah kesediaan mereka menerima saya sebagaimana adanya. Lengkap dengan segala kekurangan saya.  Walaupun  gelas minum belang belontang, tinggi, rendah bercampur cangkir seadanya, yang penting minum. Walaupun membakar briketnya kurang profesional, yang penting ikannya matang. Walaupun lalat berdatangan dan mengganggu, terus dikipas-kipas, yang penting seru! Walaupun pada berdiri atau duduk di halaman, yang penting bisa ngobrol dan tertawa riang.   Ah! Sangat membahagiakan!

Orang tua  bilang,  ketika seorang teman menerima kamu apa adanya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, maka ia adalah saudaramu.

Terimakasih banyak Budi Arnaya, Mbak Evi dan Pak Krishna, semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan lainnya. Dan semoga  saya bisa bertemu dengan blogger-blogger lainnya lagi.

 

22 responses »

  1. Suksma Mbok Ade ikutan ngariung bareng dekat jineng walau sesaat lewat WA. Idem Jeng, saya juga termasuk yang sangat kurang gaul jumpa blogger. Kangen kapan jumpa ngobrol bareng lagi ya, semoga entah saat saya jenguk anak atau Jeng Dani jenguk kerjaan di Sal3.
    Salam

  2. Hahaha maaf ya Mbokdek, kita mau makan sendok tidak ada. Tamu mah kehormatannya untuk meminta…Dan terkesan sanget pada keramahan Mbak Dani sekeluarga. Makanan yang enak itu jadi tambah nikmat. Sekali lagi Makasih atas jamuannya🙂

  3. Ini dia kopdar blogger blogger luar biasa di mata saya. Saya bisa membayangkan jika seandainya ikut hadir di sana, betapa akan pulang membawa kesan sangat mendalam.
    Mudah-mudahan suatu saat ada kesempata bisa bertemu Bu Dani, Bu Evi, Bu Prih

  4. huahahahahah…pingin jadi yang terbaik buat ponakan karena ada istilah “Satu tauladan lebih bermakna dari seribu kata-kata,” maka sayapun nekad menjadi kiper terbaik. Xixixixixi dan anehnya,,sakit perut saya jadi hilang hahahahha…sugesti yang luar biasa.. hayo mbok..kita kopdaran lagi di Bali hihihi.. Saya udah di Bali nich

  5. Ketemu teman blogger, apalagi kalau sesama penyuka hobi tertentu, itu senengnya minta ampun. Sayangnya aku susah menjelaskan kepada ibukku mengenai hal itu. Ibukku lebih lega kalau teman itu teman sekolah atau teman kuliah.

    Teman internet? Siapa dia? Jangan mudah percaya! <– begini tanggapan ibu.😦

  6. Wah, saya rasanya lebih kuper daripada mbak dalam hal kopdar dengan sahanat blogger nih. Jangankan blogger lain kota, dengan blogger Sukabumi saja baru beberapa saja. Entah juga belum ada info lagi janji kopdar bersama Blogger Bekasi yang tempo hari pernah diobrolkan di twitter.
    Nah mbak, saya lebih sering kopdar malahan dengan teman-teman twitter sekarang ini.

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s