Bangli: Be Jair Bagong.

Standard

Be Jair BagongBangli adalah satu-satunya Kabupaten di Bali yang tidak memiliki laut. Namun demikian, Bangli memiliki Danau Batur yang sangat luas dengan populasi ikan mujairnya yang melimpah. Akibatnya jika kita mampir ke Bangli dan merasa lapar, mungkin akan sulit menemukan rumah makan yang menghidangkan masakan ikan laut alias “Seafood” . Sebagai gantinya kita akan lebih mudah menemukan rumah makan yang menghidangan masakan ikan danau.

Salah satu masakan ikan danau yang sangat terkenal di Bangli adalah “Be Jair Menyatnyat”. Disebut demikian karena Ikan Mujair ini dimasak dengan cara digoreng terlebih dahulu lalu dimasukkan  kedalam bumbu “Suna-cekuh” (bawang putih-Kencur) dan dimasak hingga airnya menguap semua dan kering. Nyat -nyat dalam bahasa Bali berasal dari kata ” enyat” yang artinya ‘asat’ alias kehabisan air.  Wanginya sungguh membuat kita harus menelan ludah berkali-kali. Dimakan bersama pelecing kangkung, sambel matah dan kacang tanah goreng…Wah, mantap!!!!.

Be Jair Bagong 1

Dimana kita bisa mendapatkan masakan Ikan Mujair Menyatnyat ini? Nah ini cerita saya…

Kebetulan minggu yang lalu saya sempat pulang kampung. Teman-teman mengajak saya untuk makan siang bersama. “Makan Be Jair Bagong aja” katanya. Ah ya! Saya ingat di sana saya bisa makan Ikan Mujair Menyatnyat dan minuman “Loloh Cemcem” yang merupakan minuman traditional Bangli. Kebetulan dua hal itu merupakan favorit saya. Tentu saja saya sangat setuju. Buat saya yang jarang-jarang pulang kampung,  semua masakan traditional kampung halaman yang khas dan sulit saya temukan di Jakarta akan sangat saya rindukan. Pasti tidak menolak kalau diajak. Maka berangkatlah kami beramai-ramai ke sana.

Seingat saya, warung makan itu selalu ramai. Tidak heran, karena memang masakannya sangat enak. Sangat mirip dengan rasa masakan dari bibi-bibi, uwak ataupun nenek saya di kampung halaman saya di Songan,Kintamani. Sangat cocok dengan lidah saya. Jadi sebenarnya Be Jair Menyatnyat bukanlah masakan asing, namun justru masakan turun temurun di dapur-dapur penduduk di Bangli. Tapi jika kita menyebut Be Jair Menyatnyat di Bangli, maka orang akan menunjukkan rumah makan Bagong kepada kita. Be Jair = Bagong. Dan Bagong= Be jair.

Bahkan ketika beramai-ramai saya ikut acara menabur ikan di Danau Batur, seusai menebar benih ikan, saya mendengar seorang alumni berteriak kepada anak-anak ikan itu “Da daaaaa! Sampai jumpa di Bagong!” ucapnya sambil tertawa-tawa, diikuti oleh riuh rendah tawa dari teman-teman lainnya. Yang lainpun ikut mengucapkan salam yang sama ” Sampai Jumpa kembali di Bagong” kepada anak-anak ikan itu. Mereka mengucapkan selamat tinggal, namun sekaligus bercanda bahwa nanti mereka akan bertemu lagi, di….warung makan Bagong! Dan tentunya sudah dalam keadaan terhidang sebagai “Be jair menyatnyat”.

Sebagai seorang pemasar, tentunya yang pertama muncul di permukaan kepala saya adalah ” Wow!” . Betapa kuatnya koneksi dan  brand recognition “Bagong” itu sebagai rumah makan ikan Mujair. Seolah berlaku pepatah ‘ Ingat Jair,  ingat Bagong’. atau sebaliknya “Ingat Bagong, Ingat Jair”

BagongMengingat itu, sebenarnya saya penasaran. Pengen sekali mendengar dari pemiliknya langsung bagaimana ia membangun brand-nya hingga menjadi iconik begini untuk kota Bangli. Dan sungguh sangat kebetulan, saya bertemu dengan Pak Bagong – sang pemillik warung makan itu.

Pak Bagong sebenarnya memiliki nama asli I Wayan Sukamara. Beliau merintis usaha ini sejak tahun 2004. Saat itu beliau baru saja usai menjalani masa bakti sebagai anggota DPRD di Kabupaten Bangli. Pak Bagong bercerita, saat menjadi anggota DPRD itu, beliau sempat mengikuti study banding ke Jawa Barat dan mengagumi bagaimana ikan air tawar di sana bisa disajikan dengan bangga di restaurant-restaurant. Sedangkan di Bangli yang memiliki danau luas dengan ikan yang melimpah, tidak ada seorangpun yang tertarik melirik bisnis ini. Pak Bagong mengusulkan kepada Pemda untuk lebih meningkatkan fokus pembudidayaan dan management dari ikan danau ini.

Ketika periode pemilihan berikutnya, Pak Bagong tidak lagi ikut mencalonkan diri.  Beliau memutuskan untuk membuka warung makan ikannya sendiri. Saat itu belum ada rumah makan yang memfokuskan masakannya pada ikan danau di Bangli. Jadi Warung Bagong adalah warung pertama yang memiliki positioning itu. Tidaklah heran jika orang ingat warung Bagong sebagai warung Ikan Mujair di Bangli. Wah.. saya jadi teringat Hukum pertama dari The 22 Immutable Laws of Marketing yang ditulis oleh Al Ries & Jack Trout pada jaman dulu. Hukum kepemimpinan yang mengatakan bahwa rahasia keberhasilan pemasaran terletak pada merk yang masuk pertama dalam ingatan pembeli.

Bagaimana ia bisa mempertahankan merk rumah makannya tetap di ‘top of mind” dari masyarakat sekitar sebagai rumah makan Be Jair? Pak Bagong tampak santai saja. Ia tidak merasa terancam dengan kehadiran rumah makan- rumah makan lain yang juga ikut menyajikan Be Jair.”Masakan bisa sama, tapi citarasa pasti berbeda” katanya dengan pasti. Perbedaan itu menurut Pak Bagong tentu diakibatkan oleh beberapa hal.  Pertama dari kwalitas ikannya. Ikan dari Danau Batur memiliki citarasa yang berbeda dengan ikan dari sungai atau sawah. Ikan dari Danau Batur terasa gurih dan sama sekali tidak ada bau lumpur.  Sedangkan ikan dari tempat lain masih terasa bau lumpurnya- jelasnya. Kedua, cara memasaknya pun berbeda. Pak Bagong memiliki teknik khusus dalam memasak ikan untuk memastikan cita rasa ikan ini tidak menguap ke udara. Ia yakin itu yang memberinya “point pembeda” dengan masakan ikan mujair dari rumah makan yang lain. Sekali lagi, differensiasi selalu penting dalam pemasaran.

Saya mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Kisah Pak Bagong dan Warung Be Jair Menyatnyat-nya, memberi saya penyegaran kembalidalam pemahaman dunia pemasaran.

13 responses »

  1. Ikan merupakan makanan kesukaan saya Jeng
    Ikan mujair juga sering saya santap sejak kecil hingga kini
    Apalagi jika digoreng atau dibakar lalu dipenyemet dengan sambal di cobek, sadap nian
    Terima kasih artikelnya
    Salam hangat dari Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s