Monthly Archives: November 2014

Kisah Burung Perkutut Dan Supir Taksi.

Standard

Perkutut 1Burung Perkutut oleh banyak orang dipercaya membawa keberuntungan. Perkutut Katuranggan – konon istilahnya.  Orang bilang itu hanya sebuah mitos. Saya pikir, setidaknya bagi penangkar burung  dan penjualnya tentu saja burung ini membawa rejeki – wong namanya juga barang dagangan.  Kalau dijual ya ngasilin duitlah ya. Keuntungan dari hasil jual beli itulah rejekinya.

Saya sendiri  tidak suka memelihara burung. Tapi saya suka mengamati burung di alam bebas sebagaimana halnya binatang liar lainnya. Tanpa mengait-ngaitkannya dengan mitos bahwa binatang ini membawa rejeki atau malah pembawa sial. Tapi  jika ada yang bercerita mitos tentang binatang tertentu, biasanya saya ikut menyimak.  Menjadi pendengar yang baik. Salah satunya adalah cerita  yang diceritakan kembali oleh salah seorang kawan kepada saya. Ini cerita kawan saya, lho!.

Kawan saya berlibur bersama suaminya di sebuah kota di Jawa Tengah. Mereka naik taxi menuju Hotel tempat mereka menginap. Di perjalanan, suaminya menyapa sang supir taxi yang terlihat sangat kalem dan pendiam.

“Sudah lama narik taksi, Mas?” tanya suaminya. Sang supir taksi mengatakan ia baru menarik taksi. Lalu pekerjaan sebelumnya apa dong? Ditanya seperti itu tiba-tiba sang supir taksi menangis sesenggukan. Kawan saya dan suaminya heran, bingung dan merasa tidak enak, lalu meminta maaf karena telah membuat supir taksi itu sedih karena pertanyaannya. Supir taksi itu bukannya berhenti menangis. Malah tangisannya semakin menjadi-jadi.  Pertama kalinya mereka  mengalami kejadian seperti ini. Supir taksi menangis tersedu-sedu saat ditanya apa pekerjaannya sebelum menjadi supir taksi. Maksud meraka hanya untuk ngobrol dan mencairkan suasana. Namun ternyata pertanyaan itu sangat sensitive bagi sang supir taksi.

Kawan saya akhirnya meminta supir taksi agar menepikan kendaraannya. Istirahat sejenak dan memberikan kesempatan kepada sang supir taksi untuk melepaskan kesedihannya. Sang supir taksi pun menangis tersedu-sedu. Kawan saya lalu  memberikan supir taksi itu minum agar ia lebih tenang.

Setelah  tenang, supir taksi itu bercerita  bahwa sebelumnya ia adalah seorang kontraktor bangunan yang sukses. Hidup bahagia dengan seorang istri dan anak-anak yang sangat dicintainya.Namun sekarang usahanya sudah bangkrut dan ia menderita hanya gara-gara seekor burung. Hah? Hanya  gara-gara seekor burung?  Bagimana ceritanya?  Saat kawan saya bercerita, saya menyangka mungkin kontraktor ini menggunakan modal usahanya untuk berbisnis burung dan usahanya itu bangkrut. Ceritanya ternyata jauh dari dugaan saya.

Supir taksi itu bercerita, bahwa suatu kali  ia membeli seekor burung perkutut dengan harga yang cukup mahal. Karena saat itu ia cukup sukses secara finansial, maka harga burung itu tidak menjadi masalah baginya. Dibawalah burung itu ke rumah dan dipeliharanya.  Tak berapa lama setelah itu, seorang anaknya sakit lalu meninggal.  Usahanyapun mengalami kemunduran.  Ia merasa sangat sedih atas kepergian anaknya.Tak lama kemudian, istrinya juga sakit lalu meninggal. Usahanya semakin lama semakin mundur. Hingga terakhir, anaknya yang lain pun ikut sakit dan juga meninggal. Tinggallah ia seorang diri. Dan usahanya yang semakin mundur akhirnya mengalami kebangkrutan. Ketika semuanya sudah hilang dan habis, dan ia berada diambang putus asa, seseorang memberitahu padanya bahwa semua malapetaka yang ia alami itu disebabkan oleh “sesuatu” yang dipeliharanya dirumah.  Iapun mencoba mengingat -ingat, apa itu? Ia tidak memelihara apa-apa, kecuali seekor Burung Perkutut yang dipeliharanya sejak setahun terakhir.

Saking penasarannya, ia menelusuri siapakah pemilik burung ini sebelumnya. Menurutnya ia menemukan bahwa ternyata si pemilik burung yang sebelumnyapun juga mengalami nasib buruk yang serupa dengan dirinya.  Keluarganya habis dan usahanya bangkrut. Dan walaupun ia telah menjual burungnya itu ke orang lain, tetap tidak bisa mengembalikan kesialannya itu. Setelah mengetahui kejadian dan nasib buruk si pemilik burung yang sebelumnya itu, maka iapun akhirnya memutuskan untuk melepas burung itu ke alam bebas.  Dan melanjutkan hidupnya kembali dari nol dengan menjadi supir taksi hingga saat ini.

Kawan saya terheran-heran mendengar cerita itu. Demikian juga saya ketika kawan saya itu menceritakannya kembali kepada saya. Aneh dan sulit dipercaya ya? Banyak pertanyaan menggelantung di kepala saya.  Apa ya benar itu kejadian nyata? Memang anak-anak dan istri supir taksi itu sakit apa? Sayang kawan saya lupa menanyakannya. Lalu kenapa usahanya mundur dan mengalami kebangkrutan? Apakah karena sebelumnya ia melakukan pekerjaan dengan kwalitas yang kurang bagus?  Atau kehabisan modal karena miss -management?  Mungkin penyebabnya  sebenarnya tak ada hubungannya dengan burung itu? Barangkali cuma kebetulan saja? Jadi dianggap membawa sial? Atau burung itu membawa strain virus flu burung yang mematikan? Tapi harusnya ia mati duluan ya sebelum menulari manusia ya? Ah..saya tak mampu memecahkannya.

Tapi menurut kawan saya, supir taksi itu benar-benar percaya dan yakin bahwa penyebab kesialan yang menimpanya itu adalah burung yang pernah dipelihara itu.  Ia pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menghibur supir taksi itu dan memberinya kalimat-kalimat yang menyemangati agar supir taksi itu lupa akan kesedihannya.  Jika seseorang telah sangat percaya akan sesuatu, tentu sulit untuk merubahnya agar menjadi tidak percaya. Demikian juga bagi yang tidak percaya untuk merubahnya menjadi  percaya – tentu bukan pekerjaan mudah.

Saya juga ikut berdoa semoga supir taksi itu cepat keluar dari kesedihannya dan bisa kembali bangkit semangatnya dalam menjalani fragmen kehidupannya yang baru lagi.

Dan saya pikir selalu  lebih baik melepas burung itu ke alam bebas, terlepas apakah burung itu dianggap membawa sial atau membawa berkah. Burung adalah milik alam, maka biarkanlah ia kembali ke alamnya.

 

 

Advertisements

Ngemasin Mati! Sebuah Ekspresi Kejujuran Dan Pengorbanan.

Standard

Gelang emas “Ngemasin mati!” Ungkapan itu  baru saya dengar kembali setelah bertahun-tahun tak pernah terlintas di kepala saya. Saat itu saya sedang bernaung dari teriknya matahari di atas desa Trunyan di tepi Danau Batur. Saya duduk di sebuah bale-bale bambu. Saat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang berasal dari dusun Pedahan  yang duduk di sebelah saya, sebuah pengumuman terdengar kencang dalam bahasa Bali yang mengatakan bahwa ” Seorang anak telah menghilangkan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk  hati (biasanya terlepas kaitannya dan jatuh). Barangsiapa yang menemukannya, harap segera mengembalikannya ke pos desa (tentunya untuk dikembalikan lagi kepada si anak yang menghilangkannya itu)“.

Awalnya saya hanya mendengarkan pengumuman itu sepintas lalu saja. Kalung atau gelang emas jatuh adalah hal yang biasa. Karena anak-anak selalu bermain dan tak jarang berlari-lari sehingga mungkin saja pengaitnya lepas dan akhirnya jatuh tanpa sepengetahuannya.  Terjadi juga pada saya saat kanak-kanak. Tapi biasanya tak lama kemudian seseorang akan menemukannya dan mengembalikannya. Jadi, kehilangan perhiasan rasanya bukan perkara besar.

Ibu Pedahan yang duduk di dekat saya itu bergumam. “Kalau ada yang menemukan, harus segera mengembalikan. Jika tidak tentu akan ngemasin mati’ katanya dalam bahasa Bali versi Pedahan yang terdengar sangat njelimet di telinga saya. Tapi kurang lebih saya mengertilah maksudnya.

Hmm.. Ngemasin Mati!

Entah sudah berapa tahun saya tidak pernah mendengar istilah “Ngemasin Mati” itu. barangkali sejak saya tinggal di Jakarta. Tapi ya itu memang  bener! Itulah kepercayaan masyarakat di Bali, bahwa jika seseorang menemukan emas dan tidak mengembalikannya kepada yang berhak, maka orang itu akan terkutuk oleh emas itu sendiri dan membayarnya dengan kematian.

Ngemasin mati” merupakan istilah yang umum diucapkan di Bali, untuk mengatakan keberanian seseorang melakukan sebuah perbuatan yang beresiko kematian, alias mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak layak dilakukan. Die for crime!.  Mati gara-gara emas!.  Kepercayaan itu sedemikian kuat, sehingga tentunya tidak ada orang yang mau menukar nyawanya yang sangat berharga hanya demi sepotong perhiasan emas yang  walaupun mahal tentu harganya sangat tidak sepadan dengan harga nyawanya sendiri. Jadi, ketika seseorang sangat apes menemukan emas milik orang lain, tentu ia akan berusaha secepatnya menyerahkannya kepada pihak yang berwenang agar segera dikembalikan lagi kepada pemiliknya, sebelum mala petaka datang menghampirinya.  Atau jika ia malas untuk repot-repot, maka emas itu hanya akan dilewatinya saja tanpa berani disentuh, agar ia terbebas dari resiko harus repot berurusan dengan petugas adat setempat dan mencari-cari siapa gerangan pemiliknya.

Jadi kalau kita lihat dari asal muasal istilah “Ngemasin Mati” ini, (ngemasin =nge+emas+in mati), sangat erat kaitannya dengan cara para tetua jaman dulu mendidik anak-anaknya agar berlaku jujur. Tidak mengambil hak orang lain yang memang bukan haknya. Pantang!.

Kemudian istilah ngemasin mati inipun  terkadang diaplikasikan kepada hal lain yang serupa,namun diluar “menemukan emas”.  Misalnya ” Eda bes wanen ngungkabang keropak kerise nto, nyanan bisa ngemasin mati”  maksudnya, “Jangan pernah berani membuka peti tempat keris itu, takutnya malah beresiko kematianmu”. Inti pesannya adalah jangan pernah melakukan perbuatan tertentu yang sebaiknya jangan kau lakukan (perbuatan yang dianggap negative/merusak), karena beresiko bahaya sangat tinggi. Entah itu membuka peti benda pusaka, memasuki rumah orang lain tanpa ijin, dan lain-lain.

Berikutnya istilah ini diaplikasikan juga untuk  perbuatan “mempertaruhkan nyawa” lain, yang tidak terbatas hanya pada perbuatan negative saja (menemukan emas yang bukan miliknya, namun tak mau mengembalikannya), namun juga termasuk perbuatan positive. Contohnya pada  kalimat “Memen ceninge nak kanti ngemasin mati dugus ngelekadang pianakne, sangkala jani sing dadi cening bani buin degag teken I meme“.Maksudnya, “Ibumu sampai mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan dirimu, oleh karenanya janganlah berani-berani dan durhaka  kepada  Ibu“. Tentu saja dalam hal ini istilah “ngemasin mati” konteksnya sangat positive. Pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Karena pada jaman dulu, mengandung dan melahirkan anak, adalah sebuah upaya yang memang beresiko kematian bagi sang ibu – terutama barangkali pada jaman dahulu ilmu kedokteran dan kebidanan belum secanggih sekarang.

Hal positive lain misalnya ditunjukkan dalam phrase “ Eda adi sangsaya teken tresnan Bline kaping adi. Trenan Bline nak mula sujati. Bli tusing takut ngemasin mati”  maksudnya “ Janganlah dinda meragukan cintaku terhadap dinda. Cintaku sungguh murni. Dan aku tidak khawatir jika harus mengorbankan nyawa karenanya”.  Nah itu adalah upaya sungguh -sungguh sang pria untuk membujuk gadis pujaan hatinya. Ia bahkan tidak takut berkorban nyawa demi cintanya.  Dalam hal ini masyarakat tidak memandang ungkapan “ngemasin mati’ ini sebagai perbuatan negative. Malah positive. Pengorbanan seorang lelaki demi cinta! Sangat diapresiasi.

Jadi, setelah saya pikir-pikir kembali, ungkapan “Ngemasin Mati” ini sesungguhnya memiliki makna tentang kejujuran, yang berikutnya juga berkembang dalam makna tentang kesungguhan hati dan pengorbanan.  Senang mengingat istilah ini kembali.

Yuk, kita cintai Bahasa daerah kita !

Ricci Cup XV: Mendorong Anak Untuk Berprestasi…

Standard

aldoSepulang kerja, saya menemukan anak saya yang kecil sangat sibuk. Biola, kardus, spidol, lem dan gunting bertebaran di lantai. “Lagi ngapaian, nak?” tanya saya pengen tahu dan melihat ke gambar Biola yang ia buat di atas kardus. Anak saya tidak menyahut seketika. Tangannya meneruskan garis dari spidol yang ia bentuk menjadi gagang biola dan matanya sesekali melirik biola sungguhan yang tergeletak di depannya. Saya berdiri menunggu. “Lagi bikin biola mainan, Ma” jawabnya ketika garisnya selesai. Saya menonton ia bekerja.

Lalu ia mulai menggunting. Saya pikir ia mengalami kesulitan, karena wajahnya meringis. Kardus itu agak tebal dan terlalu keras untuk tangannya yang mungil. “Mari Mama bantuin menggunting” saya menawarkan bantuan. Awalnya anak saya tidak mau menyerah pada kardus itu, tapi akhirnya ia menerima tawaran saya untuk membantunya meneruskan menggunting. Ia sendiri beralih membuat mahkota kepala dengan antena yang mirip antena belalang. Setelah saya selesaimenggunting, ia mulai menempel. Akhirnya jadilah biola dari kardus seperti yang ia design. Ha..lumayan bagus juga. “Untuk apa biola mainan ini?” tanya saya ingin tahu.

Anak saya bercerita kalau ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut Story Telling Competition dalam memperebutkan Ricci Cup XV. Dan ia butuh beberapa alat pendukung untuk pentasnya nanti. Ha?! Story Telling?? Mewakili Sekolah pula??

Anak saya yang kecil ini  berbahasa Inggris dengan baik, namun mata pelajaran Bahasa Inggris bukanlah favoritnya.  Agak berbeda dengan kakaknya yang memang sangat suka belajar Bahasa asing.  Sehingga ketika ia mengatakan terpilih mewakili Sekolahnya dalam kompetisi Story Telling, saya sendiri agak heran.  “Kapan?” tanya saya. “Dua hari lagi. Tapi besok aku di camp, untuk ikut acara sekolah yang lain. Jadi tidak sempat membuat persiapan ini lagi” katanya.

Aduuuh. Kok mendadak begini ya? “Ya.Memang baru juga dikasih tahu Ibu Guru“katanya. Entah kenapa saya merasa was-was. Bagaimana anak saya akan melakukannya ya? Saya belum pernah melihatnya berlatih. Cerita apa yang akan dibawakannya? Bagaimana ia akan mengatur alur ceritanya? Volume suaranya? Mimiknya? Kostumenya? Dan sebagainya?  Aduuuh. Tapi saya harus mendukung anak saya untuk bertarung dengan baik. Karena menurut saya, kompetisi merupakan ajang yang sangat baik untuk mengasah kemampuan anak. Kompetisi memberikan kesempatan buat anak untuk menjajal kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan anak-anak lain setingkatnya, sehingga ia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kompetisi juga akan melatih jiwanya menjadi lebih sportif.

Saya lalu memintanya mencoba melakukan Story Telling di depan saya terlebih dahulu. Ingin tahu kesiapannya. Ia pun beraksi. Gaya berceritanya sangat jenaka. Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya dengan sangat lancar. Sambil memperagakan adegan demi adegan antara sang Belalang dan Sang Semut silih berganti diikuti mimik mukanya yang sangat kocak. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh ia seorang dalang yang baik.  Ooh..jadi ceritanya tentang “The Ants and The Grasshopper“.

Kini saya mengerti mengapa ia dipilih oleh gurunya untuk mewakili Sekolahnya ke ajang kompetisi. Ia bisa mengekspresikan peranan setiap character dengan cukup baik dan dengan Bahasa Inggris yang fasih.  Saya hanya memintanya untuk mempertajam nada suara antara character satu dengan yang lainnya.Selebihnya saya lihat semuanya sudah cukup bagus.  “Semoga menang!”, tentu saja itu harapan saya.  Saya ingin anak saya bangga dengan apa yang ia capai. Bangga akan prestasinya. Bangga akan dirinya sendiri. Dan bangga itu tidak sama dengan sombong.

Tibalah pada hari H-nya!.

Hari dimana dilangsungkan Ricci Cup XV untuk memperebutkan piala-piala di kompetisi Story Telling, Speech dan Solo Vocal. Diikuti oleh murid-murid perwakilan berbagai Sekolah di Jakarta. Anak saya yang besar bertugas menjadi MC acara Speech Contest di tingkat SMP. Ia bangun lebih cepat dari biasanya dan bergegas berangkat sekolah.  Karena kesibukan kantor yang tidak bisa saya alihkan, sayang sekali saya tidak bisa datang, walaupun jauh-jauh hari anak saya sudah memberi kode ” Parents can come”. Jadi saya hanya memberinya semangat saja.

Andri

Anak saya yang besar ini sudah cukup sering dipercayakan sekolahnya menjadi MC berbahasa Inggris. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin ia tidak akan mengalami demam panggung lagi. Walaupun dalam acara ini tentu tamu-tamu, para undangan dan peserta kontes datang dari berbagai Sekolah. Semoga ia bisa me’manage’ dirinya sendiri.  Selain itu, menjadi MC dengan menjadi peserta kompetisi tentu tingkat ketegangannya berbeda.  Kali ini anak saya yang besar tidak ikut berkompetisi apapun juga. Hanya menjadi MC saja.  Jadi sedikit agak lebih santai. So…good luck, Nak! Semoga bisa melakukan job dengan baik dan sukses membawa nama baik Sekolah.

Halnya anak saya yang kecil, rupanya ia bertanding di ruang kelas yang lain. Bukan di ruang di mana kakaknya menjadi MC. Akibatnya sang kakak juga tidak sempat melihat adiknya beraksi di panggung. Syukurnya,  Ibu gurunya berbaik hati merekam anak  saya saat ber’Story Telling ” di atas panggung, lalu memberikan rekamannya kepada kami. Lumayan! Jadi saya bisa melihat aksi anak saya saat berlomba. Tampak bagus dan ia terlihat pede dengan aksinya. Ada 35 orang peserta yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta.

Hari Senin, keluarlah pengumumannya. Horeee!!!!. Saya mendapat kabar dari gurunya,  ternyata anak saya berhasil menggondol Juara I dalam kontes Story Telling itu. Wah, hebat!.   Sungguh saya tidak menyangka sebelumnya, ia akan menjadi pemenang pertama dalam pertandingan antar sekolah ini. But he did it!. Ia mendapatkan piagam dan berhasil menggondol piala untuk sekolahnya. Melihat usaha, kreativitas dan kemampuannya, saya pikir ia memang layak mendapatkannya. He deserves for the best!.

Tentu saja saya bangga kepada kedua anak saya. Baik yang menjadi MC maupun yang mengikuti kompetisi Story Telling. Keduanya menunjukkan prestasinya dengan baik.

Kompetisi, mendorong anak untuk berprestasi!

 

 

 

Kegembiraan Pagi Burung-Burung Di Sekitarku.

Standard

Hi! Dunia pinggir kali belakang rumah, apa khabar?

Rasanya belakangan ini saya banyak bepergian meninggalkan rumah dan jadi kangen juga pada kedamaian pagi kehidupan liar tepi kali belakang rumah. Walaupun hujan mulai turun sedikit-sedikit, namun jejak musim kemarau belum membuat air kali menjadi penuh. Tepi kali masih agak kering, tapi  kehidupan di dalamnya kelihatan masih tetap exist.

CerukcukSeekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)  hinggap di atas tembok perumahan. Menarik perhatian saya,  karena berada dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat saya berdiri. Ia berkicau dengan merdunya. Seolah sedang bercengkrama dengan sinar pagi.

Cerukcuk 2Tak seberapa lama seekor Burung Cerukcuk lain hinggap sambil membawa makanan di paruhnya. Sobekan buah Coccinia yang sudah matang memerah, yang ia cabik dari pohonnya yang merambat di kawat tembok kali. Ia mendekat dan memamerkan makanan yang didapatnya pagi itu, seolah berkata kepada temannya “Mengapa  kau tak nikmati juga anugrah alam yang merah merekah ini?”

Cerukcuk 3

Melihat temannya makan dengan nikmat, maka burung Cerukcuk yang pertamapun ikut menclok di rambatan pohon Coccinia, lalu makan di sana.

Cerukcuk 1

Saya menggeser posisi saya berdiri agar bisa melihat burung itu dengan lebih jelas. Ia sibuk mencabik-cabik buah Coccinia yang matang. Kulitnya sobek dan memperlihatkan biji dan isinya yang berwarna jingga kemerahan. Rasanya tentu sangat manis.  Betapa riangnya mereka mencari makan di pagi hari. Sementara temannya yang sudah menghabiskan makanannya kini kembali berkicau riang. Ah.. rasa gembira itu  ikut menjalar ke dalam hati saya.

Cerukcuk 4

Saya terus memperhatikan tingkah lakunya hingga ia kenyang dan akhirnya  mereka terbang entah kemana. Kembalilah besok, wahai burung-burung!

Alam memberikan kelimpahan makanan bagi burung-burung dengan gratis. Alam memberikan kelimpahan kegembiraan bagi burung-burung dengan gratis.Alam juga memberikan kelimpahan kebahagiaan bagi hati saya  yang  melihat kegembiraan burung-burung itu… juga dengan gratis.

Betapa alam sesungguhnya mencintai kita manusia. Sekarang tergantung bagaimana kita memaknainya…

 

 

Menengok Sepintas Kesenian Rakyat Banyuwangi.

Standard

GandrungIni cerita tercecer dalam perjalanan saya ke Banyuwangi beberapa saat yang lalu. Setelah keluar dari Bandara Blimbing Sari dan melewati persawahan yang hijau penuh dengan populasi burung-burung sawah yang menarik perhatian saya, akhirnya saya memasuki kota Bayuwangi.  Hari masih pagi. Teman saya menawarkan pilihan apakah saya mau beristirahat dan sarapan pagi di Hotel sambil menunggu waktu, atau mau ikut dengannya menjemput beberapa orang teman  di Stasiun Kereta Api. Mereka baru datang dari kota-kota lain. Daripada istirahat dan ngopi-ngopi di Hotel, saya lebih memilih untuk ikut saja sambil melihat-lihat suasana.

Ketika kembali dari Stasiun kami melewati sebuah jalan yang sangat ramai. Banyak orang dan mobil parkir di sekitarnya. Terdengar suara musik traditional. Wah! Sangat kebetulan.Sayapun berhenti sejenak dan mendekati tempat keramaian itu. Rupanya ada Kesenian Jaranan, barangkali  dalam rangka memperingatai Hari ABRI.  Karena saya lihat ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu tentara ada di sekitar area itu dan juga duduk di bangku tamu undangan.

Ada seorang penari Gandrung sedang menari sambil bernyanyi. Saya sangat senang melihat liak liuk gerakan tarinya. Sang penari mengenakan kain merah dan selendang merah, dengan penutup dada berwarna hitam yang dihiasi ornamen etnik yang cantik.  Demikian juga mahkota kepalanya dihiasi dengan ornamen-ornamen. Ia terus menari dan menyanyi diiringi suara musik Banyuwangi yang terdengar unik di telinga saya. Kakinya selalu ditutupi dengan kaus kaki berwarna putih. Musiknya didominasi oleh suara gangsa, kendang, suling. Sangat  indah.

Ada banyak ragam Kesenian Banyuwangi.Sebagian diantaranya memiliki kemiripan dengan Kesenian Bali. Demikian pula musiknya. Sangat dinamik. Ada banyak unsur yang serupa. Barangkali karena memang bertetangga ya. Walaupun demikian banyak juga yang berbeda,sehingga saya menjadi sangat ingin tahu. Selain Gandrung yang baru saha habis beraksi, saya juga melihat ada Kesenian Barongan dengan beberapa jenis Barong.

 

 

Ketika saya sedang asyik menonton, tiba-tiba salah seorang Ibu Tentara itu mendekati saya dan memperkenalkan dirinya. Namanya Ibu Serma Dewi SH. Beliau mengajak saya ngobrol dengan ramah dan mempersilakan saya duduk di bangku undangan. Hah? tentu saja saya malu. Saya bukan siapa-siapa. Bukan undangan. Bukan tentara. Bukan pula pejabat. Saya hanya seorang rakyat yang kebetulan lewat dan tertarik mampir ingin mengetahui serta memotret-motret tentang Kesenian Banyuwangi ini.

Rupanya beliau ini adalah  Pembina Sanggar Kesenian Gempar Budoyo yang sedang manggung itu. Pantesan kok seragam pemain gamelannya loreng semua, mirip tentara. Ibu Dewi bercerita bahwa sebagai salah satu bentuk kemanunggalan ABRI dengan rakyat, mereka membina anak-anak susah dan kurang mampu agar menjadi lebih mandiri, termasuk dalam hal berkesenian. Dalam hal ini ABRI mewadahinya dalam bentuk Sanggar Kesenian. Wah..upaya yang sangat bagus dan mulia ya.  Saya merasa salut dengan upaya para Ibu dan bapak tentara ini membina rakyat yang  kurang mampu namun berbakat dalam kesenian. Kesenian Banyuwangi hidup di daerah asalnya sendiri. Tetap cemerlang di tengah bentuk kesenian tradisional yang memudar diserbu oleh perkembangan jaman yang membawa unsur-unsur peradaban lain.

Saya pikir, walau bagaimanapun gencarnya perubahan jaman dan kesenian asing  menginvasi sebuah kelompok masyarakat, namun saya sangat yakin Kesenian traditional itu akan tetap ada dan lestari, hanya  jika masyarakat pemiliknya tetap melakoninya.

Sebenarnya masih sangat ingin berdiri di situ dan menonton lebih banyak lagi.  Sayang, matahari sangat cepat naik.Sebentar lagihari menjadi siang. . Dan saya harus segera pamit karena harus segera menunaikan pekerjaan saya.

Bandara Ngurah Rai Denpasar: Mengenang Bali Lewat Cartoon.

Standard

Sangat senang melihat bandara-bandara di kota-kota di Indonesia mulai berbenah dan jadi cantik bersih layaknya bandara di luar. Mulai dari bandara yang di Makasar,  yang di Medan, yang di Surabaya  hingga yang di  Denpasar. Untuk Bandara Ngurah Rai yang di Denpasar ini, walaupun sudah bolak balik pulang saat bandara sedang dibetulkan, begitu jadi dan semua sekat-sekat daruratnya dibongkar eh..saya malah pangling sendiri. Ketika pulang saya turun di Kedatangan Internationalnya, rasanya ke tempat parkir hanya pendek sekali jaraknya. Tapi ketika harus berangkat lagi, saya masuk dari pintu Keberangkatan Domestik, kok tempatnya jauuuuh dan berbelok-belok. Saya sendiri bingung dan merasa tulalit. Agak lama saya mikir, baru saya ngeh, rupanya area Domestik sekarang bertukar tempat dengan area International. Dan tentunya sudah banyak perombakan juga. Oooh… pantas saja.

Tapi saya senang,  terutama karena sekarang bandara terasa sangat bersih, dingin dan terang benderang.  Semuanya terasa baru. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah pilar-pilar di aula persis di depan  masuk. Pilar-pilar penyangga itu dihiasi dengan panel-panel yang bergambar cartoon. Karena saya menyukai karya-karya lukisan, gambar, cartoon dan sejenisnya, maka sayapun mendekat dan mengamatinya satu per satu.

Rupanya cartoon-cartoon ini adalah karya BOG-BOG, Bali Cartoon Magazine – majalah kartun bulanan yang sangat terkemuka di Bali.

Airport Ngurah Rai Cartoon 1

Cartoon ini bercerita tentang situasi sehari-hari di Bali. Tentang keriuhan susananya. Dan bagaimana Bali menggeliat diantara adat istiadat, pariwisata dan perkembangan teknologi informasi. Semuanya digambarkan oleh Bog-Bog dengan konyol yang mengundang senyum saya. Di tepi pantai misalnya  digambarkan para wisatawan sedang sibuk dengan kegiatan berliburnya. Ada yang berjemur dengan santai, sedangkan pasangan di sebelahnya  saking asyiknya hingga tak sadar kakinya kecapit kepiting dan saat berteriak, ternyata payung mataharinya pun ikut ngejeplak dan menjepitnya sendiri. .ha ha. Di sebelahnya tampak orang penakut yang mencoba memberanikan diri bermain”bungy-jumping”, sementara wisatawan lain juga tampak sedang berselancar. Sementara tak jauh dari satu tampak sebuah Pura sedang ada upacara. Orang-orang digambarkan sedang beriringan membawa banten di atas kepalanya pergi ke pura. Tapi kalau kita perhatikan, ternyata di dekatnya ada juga wanita yang membawa …..tas golf beserta  stick-nya di atas kepalanya. ha ha. Di sini juga kita melihat Pecalang yang sedang  berjaga dengan pentungan dan kain polengnya. Lelaki yang sibuk dengan ponselnya berupaya menggaruk Dollar. Orang bermain layang-layang, sapi yang menganggur di sawah karena tugasnya sudah digantikan oleh mesin. Juga lahan yang makin menyempit yang membuat penduduk sekarang menjemur pakaiannya di tempat ketinggian. Yah.. itulah potret Bali.

Airport Ngurah Rai Cartoon 3

Setelah melihat gambar itu saya berpindah untuk melihat cartoon Bog-Bog yang lainnya.  Ha ha..di sini saya melihat delegasi kesenian Barong yang akan bepergian ke luar dan tentunya Barongpun tidak luput dari pintu Scan ya. Repot sekali tampaknya. Tapi karena harus, ya… Barongpun harus lolos scan terlebih dahulu sebelum naik pesawat.

Airport Ngurah Rai Cartoon 6

Di pilar berikutnya Bog-Bog menggambarkan kebiasaan orang Bali melakukan upacara “melaspas” segala peralatan/tempat yang baru akan digunakan. Tujuan dari upacara ini adalah untuk berterimakasih kepadaNYA bahwa telah diberkahi rejeki sehingga mampu memiliki tempat/peralatan baru yang siap digunakan dan memohon agar diberikan keselamatan dalam penggunaannya. Itu berlaku untuk apa saja.Misalnya jika seseorang membuat rumah baru, membeli motor baru, membeli mobil baru dan tentunya juga jika ada ….pesawat baru. Di sini digambarkan orang-orang sedang mengupacarai pesawat Bog Airways. Sementara pemuka agama sedang melakukan doa di lapangan pacu, para wisatawan terheran-heran dan sibuk memotret dan mengabadikan kegiatan itu.  Ah! Ada-ada saja.

Airport Ngurah Rai Cartoon 7

Cartoon berikutnya masih cerita di seputaran bandara. Bog-Bog berkisah tentang kesukaan pria Bali akan Ayam Jago. Saking sukanya, kemanapun ia pergi si Ayam Jago harus ikut serta. Nah masalahnya kalau dibawa ke bandara, tentu sang Ayam harus juga melewati X-ray scanners untuk memastikan bahwa di dalam tubuh ayam iu tidak diselundupkan benda-benda yang berbahaya bagi penumpang lain. erlihat sang pria pemilik ayam merasa stress khawatir ayamnya akan berakhir menjadi ayam goreng jika melewati tunnel X-ray itu. Ha ha..lucu juga.

Airport Ngurah Rai Cartoon 5

Di pilar yang lain  juga menceritakan tentang siuasi sehari hari di Bali. Kota yang sibuk dan persawahan yang masih tenang namun juga sudah mulai termodernisasikan disertai kegiatan wisata rafting  yang juga merambah sungai-sungai di pedalaman.

Rupanya pillar-pillar itu memiliki panel 2 sisi. Di mana di sisi sebelahnyapun ada gambar cartoonya juga. Semuanya membuat saya tersenyum. Sampai di sini saya berhenti.

Saya pikir cartoon adalah seni yang sangat kontekstual. Jika orang tidak pernah melihat faktanya, tidak pernah mengalaminya,tidak pernah datang ke tempat itu dan tidak mengerti latar belakang budayanya, tentu akan sulit  untuk memahami konteksnya. Sehingga apa yang tergambar lucu bagi orang-orang tertentu yang mengenal Bali dengan baik, belum tentu dianggap lucu bagi orang yang baru mengenal Bali dan tidak memahami konteks yang diceritakan oleh penutur dan penggambarnya. Tapi setidaknya bagi orang yang sudah pernah ke Bali, minimal sebagian dari yang diceritakan oleh cartoon di atas mungkin bisa dipahami. Dan ketika langkah kaki para wisatawan ini menghilang di balik pintu pesawat dan membawa mereka pulang kembali ke kota maupun ke negaranya masing-masing, setidaknya cartoon-cartoon ini akan ikut membantu mereka untuk mengenang Bali. Saya menoleh ke Cartoon itu lagi yang seolah  berkata ” Jangan lupa pulang kembali ke Bali!“. Bog-Bog Cartoon Magazine ikut membantu orang lain tersenyum dan senang ketika mengenang Bali.

Tepat ketika saya akan mengakhiri tulisan ini, entah kenapa dengan sangat kebetulan tiba-tiba sahabat saya Jango Paramartha, sang cartoonist sekaligus pendiri dan boss dari BOG-BOG, Bali Cartoon Magazine yang karyanya baru saja saya bahas dan tulis di atas, tiba-tiba nongol di Time Line FaceBook saya hanya untuk say hello dan berkomentar atas sebuah status yang saya tuliskan di Face Book.

jango 1

Padahal sebelumnya ia tidak tahu kalau saya sedang menulis tentang karya-karyanya yang dipampang di Bandara Ngurah Rai itu. Padahal sebelumnya saya memang berniat untuk memberitahukan soal tulisan saya ini setelah saya publish. Tapi rupanya ia nongol duluan. Sangat kebetulan. Sangat kebetulan!. Saya kaget dan senang, tentu saja… Akhirnya kamipun mengobrol juga tentang hal lain. Wah..kok kebetulan sekali ya?.Nah sekarang barangkali saya perlu memberitahukan kepadanya tentang tullisan saya ini kepadanya.

Sukses untuk Bandara Ngurah Rai! Sukses juga untuk Bog-Bog Magazine!. Sukses untuk Jango Paramartha!