Ngemasin Mati! Sebuah Ekspresi Kejujuran Dan Pengorbanan.

Standard

Gelang emas “Ngemasin mati!” Ungkapan itu  baru saya dengar kembali setelah bertahun-tahun tak pernah terlintas di kepala saya. Saat itu saya sedang bernaung dari teriknya matahari di atas desa Trunyan di tepi Danau Batur. Saya duduk di sebuah bale-bale bambu. Saat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang berasal dari dusun Pedahan  yang duduk di sebelah saya, sebuah pengumuman terdengar kencang dalam bahasa Bali yang mengatakan bahwa ” Seorang anak telah menghilangkan sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk  hati (biasanya terlepas kaitannya dan jatuh). Barangsiapa yang menemukannya, harap segera mengembalikannya ke pos desa (tentunya untuk dikembalikan lagi kepada si anak yang menghilangkannya itu)“.

Awalnya saya hanya mendengarkan pengumuman itu sepintas lalu saja. Kalung atau gelang emas jatuh adalah hal yang biasa. Karena anak-anak selalu bermain dan tak jarang berlari-lari sehingga mungkin saja pengaitnya lepas dan akhirnya jatuh tanpa sepengetahuannya.  Terjadi juga pada saya saat kanak-kanak. Tapi biasanya tak lama kemudian seseorang akan menemukannya dan mengembalikannya. Jadi, kehilangan perhiasan rasanya bukan perkara besar.

Ibu Pedahan yang duduk di dekat saya itu bergumam. “Kalau ada yang menemukan, harus segera mengembalikan. Jika tidak tentu akan ngemasin mati’ katanya dalam bahasa Bali versi Pedahan yang terdengar sangat njelimet di telinga saya. Tapi kurang lebih saya mengertilah maksudnya.

Hmm.. Ngemasin Mati!

Entah sudah berapa tahun saya tidak pernah mendengar istilah “Ngemasin Mati” itu. barangkali sejak saya tinggal di Jakarta. Tapi ya itu memang  bener! Itulah kepercayaan masyarakat di Bali, bahwa jika seseorang menemukan emas dan tidak mengembalikannya kepada yang berhak, maka orang itu akan terkutuk oleh emas itu sendiri dan membayarnya dengan kematian.

Ngemasin mati” merupakan istilah yang umum diucapkan di Bali, untuk mengatakan keberanian seseorang melakukan sebuah perbuatan yang beresiko kematian, alias mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak layak dilakukan. Die for crime!.  Mati gara-gara emas!.  Kepercayaan itu sedemikian kuat, sehingga tentunya tidak ada orang yang mau menukar nyawanya yang sangat berharga hanya demi sepotong perhiasan emas yang  walaupun mahal tentu harganya sangat tidak sepadan dengan harga nyawanya sendiri. Jadi, ketika seseorang sangat apes menemukan emas milik orang lain, tentu ia akan berusaha secepatnya menyerahkannya kepada pihak yang berwenang agar segera dikembalikan lagi kepada pemiliknya, sebelum mala petaka datang menghampirinya.  Atau jika ia malas untuk repot-repot, maka emas itu hanya akan dilewatinya saja tanpa berani disentuh, agar ia terbebas dari resiko harus repot berurusan dengan petugas adat setempat dan mencari-cari siapa gerangan pemiliknya.

Jadi kalau kita lihat dari asal muasal istilah “Ngemasin Mati” ini, (ngemasin =nge+emas+in mati), sangat erat kaitannya dengan cara para tetua jaman dulu mendidik anak-anaknya agar berlaku jujur. Tidak mengambil hak orang lain yang memang bukan haknya. Pantang!.

Kemudian istilah ngemasin mati inipun  terkadang diaplikasikan kepada hal lain yang serupa,namun diluar “menemukan emas”.  Misalnya ” Eda bes wanen ngungkabang keropak kerise nto, nyanan bisa ngemasin mati”  maksudnya, “Jangan pernah berani membuka peti tempat keris itu, takutnya malah beresiko kematianmu”. Inti pesannya adalah jangan pernah melakukan perbuatan tertentu yang sebaiknya jangan kau lakukan (perbuatan yang dianggap negative/merusak), karena beresiko bahaya sangat tinggi. Entah itu membuka peti benda pusaka, memasuki rumah orang lain tanpa ijin, dan lain-lain.

Berikutnya istilah ini diaplikasikan juga untuk  perbuatan “mempertaruhkan nyawa” lain, yang tidak terbatas hanya pada perbuatan negative saja (menemukan emas yang bukan miliknya, namun tak mau mengembalikannya), namun juga termasuk perbuatan positive. Contohnya pada  kalimat “Memen ceninge nak kanti ngemasin mati dugus ngelekadang pianakne, sangkala jani sing dadi cening bani buin degag teken I meme“.Maksudnya, “Ibumu sampai mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan dirimu, oleh karenanya janganlah berani-berani dan durhaka  kepada  Ibu“. Tentu saja dalam hal ini istilah “ngemasin mati” konteksnya sangat positive. Pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Karena pada jaman dulu, mengandung dan melahirkan anak, adalah sebuah upaya yang memang beresiko kematian bagi sang ibu – terutama barangkali pada jaman dahulu ilmu kedokteran dan kebidanan belum secanggih sekarang.

Hal positive lain misalnya ditunjukkan dalam phrase “ Eda adi sangsaya teken tresnan Bline kaping adi. Trenan Bline nak mula sujati. Bli tusing takut ngemasin mati”  maksudnya “ Janganlah dinda meragukan cintaku terhadap dinda. Cintaku sungguh murni. Dan aku tidak khawatir jika harus mengorbankan nyawa karenanya”.  Nah itu adalah upaya sungguh -sungguh sang pria untuk membujuk gadis pujaan hatinya. Ia bahkan tidak takut berkorban nyawa demi cintanya.  Dalam hal ini masyarakat tidak memandang ungkapan “ngemasin mati’ ini sebagai perbuatan negative. Malah positive. Pengorbanan seorang lelaki demi cinta! Sangat diapresiasi.

Jadi, setelah saya pikir-pikir kembali, ungkapan “Ngemasin Mati” ini sesungguhnya memiliki makna tentang kejujuran, yang berikutnya juga berkembang dalam makna tentang kesungguhan hati dan pengorbanan.  Senang mengingat istilah ini kembali.

Yuk, kita cintai Bahasa daerah kita !

6 responses »

  1. Pepatah dalam bahasa daerah itu selalu menyimpan makna budi pekerti yang dalam ya Bu. Jujur itu tak sebanding dengan emas yang ditemukan apalagi kalau meyakini nyawa yang jadi taruhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s