Keladi Dan Tentang Rasa Nikmat.

Standard

tales2Gara-gara berat badan yang berlebihan, saya mulai mendapat sedikit gangguan kesehatan. Hasil lab menunjukkan ada indikasi kesehatan yang kurang baik. Jika tidak cepat-cepat dicegah, takutnya nanti menjadi masalah serius. Saya disarankan untuk berusaha mengurangi berat badan minimal 3 kg per bulan selagi masih dini. Saya mencoba diet. Ternyata sangat sulit. Mungkin karena tidak tahu caranya yang tepat, sudah setengah mati rasanya kelaparan…eh berat badan saya hanya bisa turun 1.8 kg dalam sebulan. Sama sekali tidak sukses. Hasil lab sayapun tidak menunjukkan perkembangan yang membaik.  Dokter menganggap saya tidak serius menangani masalah saya. Untungnya beliau kepikiran untuk merujuk saya  ke dokter lain yang ahli gizi.

Dokter itu memberi saran bagaimana mengatur pola makan yang tepat dengan memperhatikan asupan karbohydrat, protein, vitamin dan mineral dengan baik, dari makanan sehari-hari. Saya mengikuti sarannya dengan senang hati.  Karena sama sekali tidak merasa kelaparan. Malah rasanya makan lebih banyak dan lebih sering dari biasanya. Hanya porsi dari jenis makanannya saja yang berubah.  Saya juga berolah raga pagi selama 1/2 jam setiap hari.

Hasilnya sungguh menakjubkan! Berat badan saya turun 4.8kg dalam 4 minggu. Walaupun masih gendut juga sih. Hasil pemeriksaan lab pun menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Darah saya mulai lebih bersih. Cholesterol saya normal, Gula saya normal, ureum saya juga normal. Saya terbebas dari nyaris semua indikasi buruk itu. Nah sekarang yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana saya bisa menjaga dan mempertahankan ini semua ke depannya.

Suatu pagi saya bertemu dengan seorang teman lama. Kamipun mengobrol seputaran kesehatan kami masing-masing. Dan saya cerita dong soal perubahan pola makan saya dan hasilnya yang menakjubkan itu. Tentang betapa hati-hatinya saya sekarang mengkonsumsi sesuatu. Semuanya saya timbang dan takar terlebih dahulu. Contohnya karbohydrat. Makan siang saya tetap makan nasi, namun hanya sekitar 100g. Pagi dan malamnya, sumber karbohydrat saya ambil dari kentang, jagung, singkong, labu, keladi, ubi dan sebagainya. Tapi yang lebih sering adalah keladi alias talas, karena itu yang banyak tersedia di tukang sayur.

Ooh..talas. Kan rasanya sangat tawar” pendapat teman saya. Ya. Saya mengiyakan. Memang sangat tawar. “Dan juga nggak enak kan?” tanyanya. Saya agak tidak sependapat dengan pernyataan keduanya. “Hm..tapi menurut saya, lama -lama keladi kampung itu terasa sangat enak” kata saya. Teman saya tertawa.”Kok bisa sih lama-lama menjadi sangat enak?” Saya tidak menjawab lagi, tapi memikirkan kata-katanya itu.

Jika pernyataan ini saya dengar beberapa waktu yang lalu, barangkali saya juga setuju, kalau keladi yang tawar rasanya dan kadang malah bikin tenggorokan gatal itu, memang relatif agak kurang enak dikonsumsi ketimbang makanan lain. Tapi sejak menjalani diet ini, sekarang saya sangat menyukai rasa keladi itu. Apa yang menyebabkan terjadinya “shifting rasa” dari kurang enak menjadi enak? Bahkan sangat enak?  Darimana persepsi tentang rasa makanan itu datang?

Ketika kita dewasa dan bekerja, kita memiliki cukup uang untuk mencoba berbagai jenis makanan. Cicip ini cicip itu. Semuanya kita coba. Yang enak-enak. Yang gurih, asin, sedap, manis, segar dan sebagainya. Dari seluruh nusantara, bahkan berbagai jenis masakan negara lainpun kita jajal.  Kita meningkatkan standard rasa enak kita menjadi lebih tinggi. Apa yang dulu enak, sekarang terasa kurang enak, karena kita sudah sering memakannya dan bosan karenanya.  Bukan karena rasa makanan itu sendiri yang berubah. Juga karena kita sudah mengenal rasa enak yang lain dari jenis makanan lain. Kita menenal berbagai jenis bumbu dan rasa yang lain. Sehingga kita mempunyai pembanding yang banyak. Makanan kampung kita pun harus berkompetisi dengan makanan lain di lidah kita.  Sehingga bisa jadi, makanan kampung kita yang sederhana menjadi tersingkir dari daftar makanan favorit kita.

Ada banyak pilihan makanan, dan ada cukup uang untuk membeli. Kombinasi itu membuat kita cenderung memilih makanan-makanan yang kita sukai saja, dan menyingkirkan yang tidak kita sukai. Bukan memilih apa yang cocok untuk kesehatan kita.

Ketika kita sakit, makanan yang boleh kita konsumsi menjadi terbatas. Tanpa gula, tanpa garam, tanpa kelapa ataupun bumbu dan hiasan lainnya. Umbi-umbian dikukus/direbus, sayuran dikukus, buah-buahan segar seperti apa adanya yang disajikan oleh alam kepada kita. Kita hanya diberi dua pilihan: Nikmati apa  adanya seperti yang tersaji atau tidak usah menikmatinya.

Jika kita memilih untuk menikmatinya, saat itulah kita menjadi lebih menghargai cita rasa asli dari makanan yang sudah dianugerahkan sehat olehNYA untuk kita konsumsi. Tiba-tiba keladi kukus yang tadinya terasa tawar dan agak gatal di tenggorokan, sekarang terasa sangat enak di lidah. Karena sekarang kita fokus hanya menikmati apa yang tersajikan di depan mata kita saja.  Tuhan mengembalikan kesadaran kita untuk berterimakasih pada makanan yang disediakan oleh alam.

Saya membayangkan, jika suatu saat saya tidak lagi mampu bekerja dan tidak lagi memiliki uang, tentu pilihan saya menjadi sangat terbatas. Ketika kita miskin, kita tidak punya pilihan apa-apa untuk kita makan. Apapun yang bisa kita dapatkan dengan cara yang baik untuk bisa dimakan hari ini adalah nikmat yang tak terkira. Kita menikmati suap demi suap makanan sederhana yang kita miliki. Kita mensyukuri teguk demi teguk air bersih yang mampu kita dapatkan. Semuanya terasa enak dan nikmat.

Jadi rasa sebenarnya adalah masalah persepsi yang ditimbulkan oleh lidah kita yang dicampuri oleh sikap kita dalam menghargai makanan tertentu pada suatu kondisi tertentu. Bukan soal  singkong atau keju. Dua-duanya sama nikmatnya ketika kita mampu berterimakasih dan bersyukur. Dan dua-duanya sama tidak enaknya ketika kita tak mampu berterimakasih dan bersyukur.

 

 

 

8 responses »

  1. kl dulu papaku bilang enaknya itu kan cuma sebatas tenggorokan, jadi nggak usah tetlalu pilih2 soal rasa yg penting manfaatnya buat tubuh..
    jadi kepengen ikut jejakmu mbak, makan talas

  2. umbi-umbian akan terasa manis ketika dikunyah. Seperti pelajaran SMP dulu bahwa karbohidrat akan berubah menjadi glukosa ketika di mulut bercampur dengan ludah. Umbi-umbian lebih terasa manisnya daripada beras atau jagung.
    Cepet banget turunnya dalam 4 minggu turun 4.8 kg

  3. jadi ingat pesan papa saya. Boleh aja lidah punya selera, tapi jangan dimanjakan. Jangan suka terlalu memilih untuk urusan makan. Karena makan itu untuk kesehatan.

    Semoga sehat selalu, Mbak🙂

  4. Hebat mbak, turun sebanyak itu dalam 4 minggu?
    Smoga sehat terus🙂
    Saya penggemar umbi-umbian rebus mbak Dani, talas, singkong, ubi jalar sampe sukun, saya suka sekali. Betul kata mbak, nikmat itu soal persepsi lidah yang diteruskan ke otak kita. Mungkin soal kebiasaan juga, kalau kita terbiasa dengan makanan yang tidak terlalu pekat rasa bumbuny, makan aneka umbi-umbian rebus dengan tambahan sedikit garam juga pasti sudah enak banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s