Pulang…

Standard

Danau BaturPenghujung tahun seperti ini jalanan terasa lengang dan sepi. Banyak orang mengambil cuti. Liburan entah keluar kota atau mungkin ke luar negeri. Tak pelak membuat pikiran sayapun melayang ingin ikut libur. Pulang!. Alangkah nyamannya membayangkan kata itu. Rumah yang hangat penuh dengan cinta, kasih sayang dan canda tawa  kakak adik, sepupu, keponakan. Seberapa jauhpun kaki saya melangkah, keinginan untuk pulang selalu terasa menarik saya.

Seorang sahabat bertanya kepada saya, mengapa seseorang merasa harus pulang? Rasanya hanya sebuah pertanyaan mudah. Tapi karena saya belum pernah menanyakan hal ini kepada diri saya sendiri sebelumnya, saya agak membutuhkan waktu untuk menjawabnya. Saya rasa, seperti halnya dengan saya, rasa rindu seseorang untuk pulang tentu bukan dipicu oleh rumah itu secara ‘fisik” sebagai sebuah bangunan, namun lebih karena kerinduan terhadap apa yang ada di dalam rumah itu, yakni kasih sayang, perhatian dan  cinta yang diberikan oleh seluruh anggota keluarga.  Saya ingat bagaimana orang orang rumah selalu memeluk saya dengan sayang. Bertanya ketika saya tidak memberi berita. Menghibur ketika saya kesusahan. Menunggu ketika saya sakit. Semuanya itu membuat saya merasa kalau rumah dan keluaga adalah tempat yang paling aman di dunia. Itulah yang selalu saya kenang, mengapa saya selalu merasa ingin pulang ke kampung halaman saya.

Rumah menjadi sangat dirindukan ketika kehangatan dan canda tawa penghuninya memberi pupuk yang menyehatkan bagi ladang hati dan jiwa kita. Karenanya, walau kemanapun kaki kita melangkah hati kita tetap terpaut di rumah.

Sebaliknya ketika semua kehangatan itu sirna, mengikuti hilangnya sinar mentari yang tertinggal hanyalah kebekuan, rumah tidak lagi menjadi tempat yang menarik untuk dirindukan. Tiada tawa dan canda. Tiada kasih sayang dan perhatian.

Saya ingat seorang teman pernah bercerita kepada saya, ia sangat tidak nyaman berada di rumah. Apa pasal? Menurutnya, setelah lelah dari urusan kantor yang formal, ia ingin bersantai sejenak di rumah. Membebaskan diri dari formalitas, dimana ia bisa seenaknya hanya menggunakan kaos oblong dan celana kolor tanpa ada yang perlu dikhawatirkan. Ia ingin melarikan diri dari segala kedisiplinan dan keteraturan. Bisa berantakan dan menikmati ketidak-rapian di rumah. Santai! Relax!. Nah..masalahnya, istrinya adalah seorang yang super rapi, sehingga setiap kali ia duduk atau rebahan di sofa atau di tempat tidur, istrinya buru-buru merapikan lagi, sehingga ia merasa sama sekali tidak nyaman. Saya hanya nyengir mendengar ceritanya. Bisa jadi istrinya tidak menyadari dan tidak bermaksud membuat suaminya tidak betah. Ia hanya berpikir sederhana, ingin selalu melihat rumah dalam keadaan rapi. Dan suaminya..entah kenapa pula tidak mengatakan terus terang kepada istrinya kalau ia lebih menyukai rumah yang ‘berantakan’ daripada rumah yang super rapi? Barangkali sudah..entahlah. Saya tidak bertanya lebih lanjut.

Hal-hal kecil, terkadang tanpa kita sadari membuat salah satu anggota rumah merasa tidak nyaman. Tidak merasakan kehangatan yang membuat hatinya tidak terpaut di rumah lagi. Dan  ujung-ujungnya memilih pergi dan tidak pulang ke rumah.

Nah.. kembali lagi dengan pertanyaan sahabat saya itu, jadi menurut saya..hanya rumah yang hangat dengan kasih sayang dan cinta yang membuat seseorang rindu ingin pulang.

 

 

11 responses »

  1. Setuju Mba Dani, saya jadi kasihan sama temannya dan sepertinya memang tidak disampaikan rasa keberatannya itu. Home where the heart is memang ya mba..😀

  2. Pulang ke rumah harus diartikan sebagai pulang ke tempat kehangatan keluarga. Kalau pulang ke sebuah bangunan berbentuk rumah tanpa kehangatan ya tetap akan mengganjal saja.

  3. Setuju, Mbak. Aku tipe yang sukak serak-serak tapi orang rumah pada rapi. Jadinya kenak omel. Padahal abis pulang kuliah en nunggu dosen seharian kan pengennya leyeh-leyeh😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s