Sinkronisasi Waktu.

Standard

HidanganSedang berada di rumah. Cuti. Gara gara  si Mbak pulang kampung dan anak-anak liburan di rumah. Apalagi yang saya lakukan selain berberes dan masak buat anak anak dan keluarga.  Malam kemarin rencananya saya memasak  sup cream jagung, rolade saus barbeque, goreng tofu dan bikin ca pakchoy. Saya pikir anak-anak akan senang. Karena semua masakan yang saya buat itu kesukaan mereka – kecuali sayuran. Itu mah kesukaan emaknya. Aneh juga! Sulit untuk membujuk anak-anak agar menyukai sayuran.

Pertama yang saya lakukan adalah memasak nasi dulu. Mencuci beras, lalu menyalakan rice cooker. Saya pikir  sementara saya memasak makanan-makanan ini, tentu setelah semua matang, nasi di rice cookerpun sudah matang. Demikianlah saya memasak makanan itu satu per satu. Setengah jam kemudian. Selesailah sudah semuanya!. Saya melirik ke rice cooker. Posisi indikator panas ada di “Warm” bukan di “Cook”. Berarti sudah matang. Wah…cepat sekali matang ya. Pikir saya dalam hati. Mungkin karena masaknya tidak banyak. Nah sekarang tinggal menghidangkan di meja makan dan manggil anak-anak dan suami untuk makan. “Ayo sayaaaang! Kita makan!” teriak saya dari dapur. Anak-anakpun bermunculan di dapur. Saya meminta tolong yang besar untuk membantu menyiapkan piring sendok dan garpu serta gelas untuk diletakkan di meja makan. “Oke Ma!” jawabnya dengan manis seperti biasanya. Lalu mengerjakan apa yang saya perintahkan. “Apa lagi Ma?” tanyanya. Nggak ada lagi. Semuanya sudah di meja makan.O ya..kecuali Nasi. Masih di rice cooker. “Panas! Biarlah mama saja yang ngangkat” kata saya kepada anak-anak. Merekapun menurut dan duduk manis di dekat meja makan.

Saya membuka tutup rice cooker. Astaga!!! Alangkah terkejutnya saya. Ternyata nasi sama sekali belum matang! Malah masih mentah. Masih beras!. Rupanya setelah mencolokkan kabel Rice Cooker ke listrik, saya lupa memencet tombol “Cook” untuk memberi perintah agar Rice Cooker memasak. Pantas saja status indikatornya di “Warm”. Aduuuh…bagaimana sih saya ini. Kok bisa sepikun ini. Ada dua kesalahan yang saya lakukan, pertama adalah kurang teliti alias lupa menekan tombol “Cook”, dan yang ke dua adalah tidak memfollow up kecurigaan saya, padahal saya sudah heran sendiri mengapa nasi terasa lebih cepat matang dari biasanya. Alih-alih memeriksa kondisi Rice Cooker, saya malah memanggil anak-anak untuk makan. Saya kurang men’challenge’ apa yang saya lihat dan pikirkan.

Akhirnya saya meminta maaf pada anak-anak dan meminta mereka untuk sabar menunggu selama kurang lebih setengah jam lagi. “Aduuh Mamaaa! Mamaa!” Anak-anak tertawa dan kembali ke gadgetnya masing-masing lagi. Suami saya hanya senyum-senyum saja  dari balik laptopnya  mengetahui kehebohan itu . Huaaa…malunya saya!.

Setengah jam kemudian barulah nasi siap. Walaupun cuma selisih setengah jam, namun semuanya jadi berantakan juga. Karena  sekarang jadi kurang sinkron lagi. Saat nasi matang dan masih panas, semua hidangan yang lain sudah menjadi dingin. Berkuranglah kenikmatannya!. Idealnya sih, begitu hidangan yang lain siap, nasi juga tepat pas sudah matang. Nah..itu baru mantap!.

Awalnya ide saya juga begitu sih…makanya saat diawal yang saya lakukan adalah mencuci beras terlebih dahulu, karena memasak nasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Tapi apa daya..faktor U juga rupanya sudah mulai ambil bagian… sehingga saya lupa he he.

Ingat kejadian itu, saya jadi memikirkan betapa pentingnya sinkronisasi waktu dalam setiap hal yang kita lakukan dalam hidup. Sinkronisasi waktu membantu kita mengoptimalkan segala sesuatunya sehingga kita mendapatkan nilai terbaik dari apa yang seharusnya kita dapatkan.

Contoh lain dari sinkronisasi waktu yang saya tahu banyak dilakukan oleh penduduk Betawi di lingkungan saya tinggal adalah menanam bibit timun suri pas 3 bulan menjelang bulan Ramadhan. Dengan harapan, saat timun suri ini berbuah dan matang, itu sudah pas sedang memasuki bulan Ramadhan dimana orang-orang berpuasa dan timun suri tentu banyak dibutuhkan untuk membuat campuran minuman dan es buat buka puasa. Jika menjual buah timun suri pas di bulan ini, tentu saja petani bisa menjual dalam jumlah sangat banyak dan dengan harga yang sedang pas tinggi-tingginya karena tingginya jumlah permintaan.

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dari aplikasi Sinkronisasi Waktu dalam kehidupan kita sehari-hari. Merapikan genteng atau membersihkan saluran got saat musim kemarau, dengan harapan nanti pas musim hujan tidak ada lagi genteng yang bocor atau kebanjiran gara-gara saluran air tidak lancar, selain ongkos merapikan genteng saat musim kemarau tentu tidak semahal saat musim hujan. Dan sebagainya.

Jika kita mampu mengingat-ingatnya kembali dan menerapkan sinkronisasi waktu ini dengan baik dalam setiap hal yang kita lakukan, tentu akan sangat membantu.

8 responses »

  1. hahaha. mba. jadi inget cerita mama di rumah. Kalau mama kebalikan. masak air. tinggal nonton tv. sampai airnya kosong blas. sekarang masih ada tempelan tulisan tangan mama di dapur.

    Tapi memang benar nih mba. harus sinkronisasi waktu.🙂

  2. Postingan kali ini sangat2 cocok untuk jenis pekerjaan saya di laboratorium. Inkubasi sana-sini dengan waktu yang tak boleh kurang atau lebih. Alhasil “timer” dengan berbagai macam suara alarm adalah nyanyian sehari-hari. Sinkronisasi waktu seperti yang dimaksud Bu Dani sangat bermanfaat untuk efisiensi dan efektifitas kerja. Terima kasih Bu Dani🙂

  3. Senyum sendiri saat penanak nasi warm begitu cepat, ….ingat pengalaman serupa, ooh faktor U
    Sinkronisasi waktu bagian dari manajemen waktu….Suksma Jeng Dani sharing inspiratifnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s