Monthly Archives: January 2015

Kisah Pagi – Seekor Anak Kucing Liar Yang Ketinggalan Induknya.

Standard

Anak kucing1Pagi ini cuaca cerah. Saya berjalan pagi keluar perumahan dengan anak saya yang kecil. Menyusuri perkampungan yang dihuni oleh penduduk asli Betawi. Di sebuah tikungan kami berhenti sejenak. Seekor anak kucing mengeong dan mendekat. “Anak kucing!” seru anak saya kegirangan. Tampangnya sangat lucu dan menggemaskan. Kelihatan agak kurus. Kasihannya. Dimana induknya ya?  Anak kucing itu mengeong-ngeong terus dan menciumi kaki anak saya. Anak saya berjongkok dan mengelus-elus kepala anak kucing itu.

Bawa aja  kucingnya pulang!!” seru seorang Bapak dari halaman rumahnya. Anak saya meminta persetujuan ingin membawanya pulang.  Saya berpikir sejenak. “Memang kucing ini punya siapa, Pak?” tanya saya. “Kagak ada yang punya. Liar. Ngerusuh bae!” katanya.

Sebenarnya sayapun ingin membawanya pulang, tapi tidak semudah itu. Di rumah sudah ada kucing liar lain yang diadopsi anak saya sebelumnya. Suami saya pasti tidak akan setuju ada kucing liar lain lagi di rumah.  Selain itu induknya mungkin akan mencari-cari. “Jangan!” kata saya. “Nanti induknya mencari” kata saya lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Anak kucing itu mengikuti langkah kaki kami. Kakinya yang kecil-kecil sibuk berlari mengikuti dan mencoba mendahului. “Awas keinjek kucingnya Ma” seru anak saya. Saya berhenti. Anak kucing itu ikut berhenti.  Saya berjalan lagi, anak kucing itu ikut berlari lagi mendahului saya. Saya berhenti lagi. Iapun ikut berhenti juga. Demikian  berkali-kali. Waduuh! Repot juga nih kalau begini.  “Kasihan kucingnya. Pasti kecapean” anak saya menggendongnya sambil berjalan. “Jangan!” kata saya. “Itu sama dengan membawanya pulang” kata saya. “Biarkan saja dia jalan. Barangkali dia tahu di mana induknya” kata saya. Akhirnya anak kucing itu mengikuti kami terus.

Tak lama kemudian, ada seekor kucing dewasa melintas. Anak kucing itu tampak tertegun melihat kucing dewasa  itu. “Apa itu induknya ya?“.Kelihatannya bukan sih. Wajahnya sangat jauh berbeda. Mumpung anak kucing itu sedang bengong melihat kucing dewasa, saya menggunakan kesempatan untuk meninggalkannya di sana. Anak saya protes. “Wah..kasihan! Jangan ditinggal. Nanti dia tersesat” kata anak saya khawatir. “Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk bertemu induknya” kata saya. Saya yakin induknya berada tak jauh di sekitar sini. Anak saya tampak tidak yakin. Wajahnya murung. Ketika berikutnya ia melihat seekor anak kucing liar yang sangat kurus dan kotor, ia berkata kepada saya “Nah..ini yang aku takut. Kalau kita nggak bawa pulang, anak kucing itu nanti pasti kaya gini jadinya“.

Saya lalu memberi pengertian kepada anak saya. Bahwa jumlah mahluk hidup yang menderita kelaparan itu sangat banyak. Bukan hanya kucing, tapi mahluk lain juga termasuk manusia. Kita memang perlu menolong semampu kita. Tetapi saat ini, kemampuan kita terbatas. Tidak mungkin kita mengumpulkan semua kucing kelaparan itu dan memeliharanya di rumah. Karena rumah kita kecil dan kemampuan kita memberi makan juga terbatas. Selain itu, sebelum didomestikasi manusia, kucingpun dulunya memang binatang liar yang hidup di alam bebas. Jadi kita tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Syukurnya anak saya mulai tampak mengerti permasalahannya. Akhirnya ia mulai melupakan anak kucing itu.

Tiba di tepi sungai yang merupakan hulu dari sungai di belakang rumah saya, saya mengajak anak saya untuk berhenti dan melihat-lihat. Air sungai tampak beriak dengan suaranya yang menyejukkan telinga. Pertanda kalau di bagian ini, sungai sangat dangkal. Sementara di bagian hilirnya yang lebih dalam, air sungai tampak lebih tenang. Sambil menyusuri aliran sungai, sayapun menjelaskan pengaruh kedangkalan sungai dengan riak yang ditimbulkannya.  “Air beriak tanda tak dalam” kata saya mengutip pepatah lama itu. Kami mengamati dua ekor anak biawak yang berenang terbawa arus. Senang sekali melihatnya. Setelah sempat khawatir kalau biawak di sungai ini habis karena diburu orang, setidaknya sekarang saya melihat ada 2 ekor anaknya berenang pagi ini. Sayang saya sedang tidak membawa kamera. Anak saya yang tahu kalau saya menaruh perhatian sangat besar pada kehidupan satwa liar di tepi sungai, mencoba mengabadikannya dengan kamera hape. Sayang kwalitasnya tidak begitu bagus.

Puas bermain di tepi sungai, saya mengajak anak saya menyeberang jembatan. Melihat-lihat sebentar dari atas jembatan, lalu berbelok ke ladang-ladang sayur di tepi sungai itu. Mengobrol dengan seorang petani yang baru saja usai membersihkan ladangnya. Obrolan ngalor-ngidul mulai dari urusan panen sayuran bayam yang bisa dilakukan dalam waktu dua puluh hari,  urusan tanah garapan yang makin menyempit, urusan ternak kambing dan penyakitnya hingga urusan maling ternak yang tak kenal takut. Matahari mulai meninggi. Saya pamit kepada petani itu untuk meneruskan perjalanan saya.

Di tepi sungai tempat kami masuk ke ladang tadi, ada onggokan sampah. Saya melihat seekor induk kucing dengan 2 ekor anaknya sedang mengais-ngais makanan di sana. Wajahnya sama dengan anak kucing yang ingin diadopsi anak saya tadi pagi. Saya mendekat. Induk kucing itu nampak sangat awas dan curiga.Mungkin dia pikir saya akan mengganggu anaknya. Tak berapa lama, anak kucing kecil yang tadinya mengikut kami  datang tergopoh-gopoh. ya ampuuun…jauh juga ia berjalan.  Ooh..rupanya ia menyusul induknya ke sini. “Tuhhh kan?Akhirnya ia berhasil menemukan induk dan saudara saudaranya” kata saya lega. Anak sayapun tampak lega.

Alam selalu menyediakan pemecahan masalah bagi mereka yang sepenuh hati mencarinya. Bahkan untuk kucing liar sekalipun.

 

Advertisements

Genangan Air dan Dunia Di Dalamnya.

Standard

Genangan Air2Musim hujan!. Selalu memberi nuansa yang berbeda pada alam di sekeliling kita. Rerumputan mulai meninggi mencapai lutut. Daun-daun menghijau. Udara terasa lebih bersih, lebih sejuk dan lebih segar dari biasanya. Jika hujan reda, saya senang berjalan-jalan menikmati suasana sehabis hujan.

Seperti pagi ini. Saya berjalan di sekeliling perumahan. Udara terasa sangat bersih, barangkali karena debu-debu dan asap kendaraan yang biasanya mengambang di udara kini tersapu dan diendapkan hujan kembali ke tanah. Namun ada banyak genangan air dimana-mana. Tentu saja bekas hujan dini hari tadi. Saya melangkah berjingkat melewatinya. Sesekali harus melompati genangan agar sepatu kain saya tidak basah terciprat air. Saat melompati salah satu genangan air yang cukup besar, tiba-tiba saya tersadar akan bayangan pohon dan langit yang terpantul dari genangan air yang jernih itu. Ooh..alangkah indahnya! Saya terpesona.

Genangan air itu memantulkan bayangan pohon palem yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Agak di sudut sana, terlihat bayangan awan putih yang bergumpal dengan latar belakang langit yang biru. Semuanya sama dengan keadaan alam yang sebenarnya, hanya dalam posisi terbalik. Pohon-pohon yang harusnya mencuat ke atas, ini malah mencuat ke bawah. Genangan air ini sangat mirip dengan cermin alam yang bening. Ia merefleksikan  apapun yang ada di atas dan sekitarnya. Wow! Rupanya alam pun suka bercermin dan melihat dirinya sendiri.  Saya tersenyum sendiri memikirkan itu.

Lalu saya melihat lagi ke genangan -genangan air yang lainnya. Ya! Semua genangan air itu, baik genangan besar maupun genangan kecil memantulkan bayangan alam sekitar tanpa kecuali. Hanya saja, semakin bening air genangannya, kwalitas pantulannya semakin baik. Beberapa genangan kelihatan keruh, barangkali karena sudah diinjak orang ataupun dilindas oleh ban kendaraan yang melintas. Bayangannya agak butek dan tidak sejelas hasil pantulan di genangan air yang bening.

Alam merasa perlu melakukan refleksi diri. Demikian juga kita. Ada gunanya bagi kita untuk sesekali meluangkan waktu guna melihat kembali diri sendiri dan segala attribut yang menemani diri kita. Perasaan kita. Pikiran kita. Segala Perkataan kita dan juga Perbuatan kita. Yang namanya manusia, tentu kita tidak pernah luput dari kekurangan-kekurangan.

Genangan Air keruhDengan melakukan refleksi diri, kita bisa melihat bayangan kita sendiri. Apakah bayangan diri kita terlihat indah, terang dan bersih? Ataukah kotor dan terlihat kusam dan lusuh? Jika kusam, kotor dan lusuh, dimanakah noda yang kotor itu banyak mengumpul dan perlu kita bersihkan? Setidaknya kita tahu dimana letak kotoran itu sehingga jika kita berniat membersihkannya, kita tahu di bagian mana kita harus membersihkannya.

Hati kita sendiri laksana air. Semakin jernih, semakin menghasilkan kwalitas pantulan yang semakin baik.  Jika hati kita bening, akan lebih mudah bagi kita untuk melihat bayangan diri kita sendiri. Lebih mudah bagi kita untuk mengetahui, bagian mana dari atribut dalam diri kita yang bersih dan bagian mana yang banyak bernoda. Di dalam hati yang bersih, dunia terlihat terang benderang dan jelas, laksana bayangan di genangan air yang jernih.

Sebaliknya jika hati kita sendiri keruh, sulit bagi kita untuk melihat bayangan dengan baik. Walaupun bayangan tetap ada, namun semuanya terlihat sama saja, tidak terlalu jelas bedanya antara bagian diri kita yang bersih dan yang bernoda. Sehingga kita tidak tahu bagian mana yang perlu dibersihkan. Bahkan mungkin tidak tahu apakah perlu dibersihkan atau tidak, karena kita tak mampu melihat dan membedakannya dengan jelas. Di dalam hati yang kurang bersih, dunia terlihat kusam dan kurang jelas, laksana bayangan di genangan air yang keruh.

Akhirnya saya tiba di penghujung jalan. Sebuah genangan air yang paling besar saya lihat di sana. Rupanya tempat itu relatif lebih rendah dari area sekitarnya. Jadi air dalam volume yang cukup banyak terjebak di sana. Karena tak banyak orang berlalu lalang di sana, air genangan itu terlihat jernih. Saya melongokkan kepala saya ke dalam genangan air itu. Melihat bayangan pohon-pohon bambu diselingi pohon palma. Sangat hijau meneduhkan. Sementara bayangan matahari yang baru menanjak naik ke langit yang biru dihiasi bercak-bercak awan putih terlihat mengintip di sudut dari balik sebatang pohon palma. Beberapa ekor burung kecil tampak terbang melintas di atasnya. Alangkah indahnya dunia di dalam genangan air ini. Melihat ke dalamnya terasa seperti sedang berada di dalam negeri dongeng. Sangat teduh, namun tetap terasa hangat dan tanpa beban.

Seekor Kupu-Kupu Di Sarang Laba-Laba.

Standard

Tentang Semangat dan Daya Juang.

 

Kupu kupu deliasAda banyak sekali kupu-kupu beterbangan pagi ini. Berwarna warni dengan berbagai ukuran. Kuning, putih, coklat, jingga, biru, hijau, hitam dan sebagainya. Ada yang sibuk mengisap sari bunga-bunga liar, ada yang hinggap di daun pohon mangga ataupun di batang rerumputan. Saya senang melihatnya. Rupanya hujan yang lebat beberapa minggu terakhir ini membuat biji-biji rerumputan bangkit dari tidur panjangnya di dalam tanah. Rumput benggala mulai menanjak tinggi nyaris diatas lutut saya. Tampak sangat segar menghijau. Tentu saja membuat ngiler kupu-kupu untuk meletakkan telornya di sana.

Ada sesuatu yang bergerak di dahan pohon. Saya mendekat. Tampak seekor kupu-kupu Delias sedang terjebak di sarang laba-laba. Ia bergerak-gerak dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari sarang laba-laba lengket yang menjeratnya. Aduuh..kasihannya. Alangkah malang nasib kupu-kupu cantik ini. Saya mengulurkan tangan, berniat untuk melepaskan kupu-kupu itu dari jebakan sang Laba-laba. Sedetik kemudian pikiran saya berubah.

Laba laba1Sang pemilik sarang berdiri di situ dan melihat ke arah saya dengan pandangan matanya yang tajam.  Saya membalas tatapan matanya. Entah kenapa tiba-tiba saya merasa sedang dihakimi oleh mahluk kecil itu.  Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk melepaskan kupu-kupu itu. Sayapun menarik tangan saya kembali. Tentu saja bukan karena saya takut pada laba-laba itu. Tapi karena saya tiba-tiba teringat bahwa alam memiliki mekanismenya sendiri untuk mengatur keseimbangannya. Saya tak perlu mencampurinya.

Jika seandainya saya menolong kupu-kupu itu, apakah benar saya telah berbuat baik?Barangkali ya bagi kupu-kupu itu. Tapi bagaimana dengan laba-laba itu? Tentu saja sulit bagi saya untuk mengklaim bahwa diri saya telah berlaku adil terhadap kedua mahluk hidup itu. Laba-laba itu telah bersusah payah memintal benang, bekerja keras tanpa henti untuk membangun sarangnya yang lengket. Tentu saja dengan maksud untuk mencari makan. Mencari makan dengan caranya sendiri, yakni dengan menjebak mangsanya ke dalam  sarang yang dibangun dari hasil kerja kerasnya. Jika saya lepaskan kupu-kupu itu, tentu saya telah berbuat tidak adil terhadap laba-laba itu.

Menyadari semuanya akhirnya saya hanya berdiri termangu di depan sarang laba-laba itu. walaupun rasanya ngeri memikirkan apa yang akan terjadi dengan kupu-kupu Delias itu. Ia meronta dan meronta terus. Bergerak gerak tanpa henti. Gerakannya sangat gesit. Namun rupanya sarang itu terlalu lengket dan kuat untuk sayapnya yang sudah mulai rapuh dan sobek. Sebentar lagi tentu ia akan kelelahan. Pada akhirnya ia akan berhenti bergerak dan menyadari tak ada gunanya meronta lagi. Hanya akan membuang-buang energi. Ia akan berhenti dalam keletihan. Dan akhirnya memasrahkan diri menjadi santapan laba-laba itu. “Betapa menyedihkannya drama kehidupan ini akan berakhir di depan mata saya”,bathin saya.

Detik demi detik berlalu. Menit demi menitpun lewat. Kupu kupu itu tetap bergerak dan meronta. Dan saya tetap berdiri termangu dalam kebodohan saya. Alangkah gesitnya kupu-kupu ini. Gerakannya cepat dan sangat bertenaga. Saking cepatnya kupu kupu itu meronta-ronta, saya bahkan tak mampu melihat gerakannya dengan detail. Beberapa saat kemudian saya sadari rupanya beberapa benang dari sarang laba-laba yang menjeratnya ternyata ada yang putus. Itu membuat gerakan kupu-kupu itu semakin kuat dan… tassssss..! Saya terpesona.

Tiba-tiba saya melihat kupu-kupu itu terbang bebas membubung tinggi ke udara. Naik makin tinggi dan semakin tinggi. Sedikitpun ia tak mau menengok ke belakang atau ke bawah, seolah tidak ingin mengingat peristiwa buruk itu kembali. Kepakan sayapnya sungguh pasti dan yakin,walaupun sayapnya sobek. Beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan untuk hinggap dan beristirahat di dahan pohon mangga yang tinggi. Hmmm….hhh! Saya menarik nafas lega. Kupu-kupu itu telah berhasil menolong dirinya sendiri keluar dari jebakan bahaya maut.

Daya juang yang tinggi! Tanpa mengenal rasa letih dan putus asa. Berjuang dan berjuang terus demi hidup. Betapa tangguhnya kupu-kupu itu.  Saya merasa sangat kagum. Walaupun bahaya mengancam nyawanya, ia tampak tidak gentar dan terus berjuang menghadapinya. Walaupun sayapnya sobek, namun sama sekali ia tidak menjadi putus asa karenanya. Itu yang bisa saya tangkap dari apa yang telah ditunjukkan oleh kupu-kupu itu kepada saya.

Rasanya, dalam hidup kitapun mengalami banyak sekali masalah. Ada masalah kecil, ada masalah yang besar. Dan diantaranya bahkan mungkin ada juga yang mengancam keberlangsungan hidup kita. Jika saja saya memiliki semangat dan daya juang sebaik kupu-kupu kecil ini, barangkali saya akan bisa mengatasi masalah-masalah yang saya hadapi dengan jauh lebih baik.

Semangat yang tinggi membantu kita untuk tetap berusaha dan mencari akal serta mengerahkan segala daya upaya kita yang terbaik untuk mencapai apa yang ingin kita capai. Sementara daya juang yang tinggi membantu kita untuk bertahan dari rasa takut, rasa hawatir dan keinginan untuk menyerah serta mencegah kita berputus asa.

Semoga kita semua selalu diberkahi semangat dan daya juang yang baik guna menghadapai setiap pemasalahan yang kita alami dalam kehidupan. Selamat berakhir pekan, teman-teman!.

When The Games Are Too Easy…

Standard

Candy CrushSaya sedang ngobrol dengan anak saya  urusan games yang banyak bertebaran di dunia digital. Anak saya menyarankan untuk menginstall applikasi tertentu untuk memudahkan jika ingin bermain games ini dan itu. Saya tertawa. Ah! Nggaklah!.Walaupun suka juga bermain games di waktu-waktu luang, tentu saja saya tidak terlalu sering bermain games seperti anak-anak yang tak pernah bisa lepas dari gadgetnya.

Sejak mengenal dunia komputer di awal tahun 90-an, saya memang sudah sangat menyukai games. Salah satu games yang sangat menyedot perhatian saya saat itu adalah Games tentang petulangan Manusia Purba – sayang saya lupa nama gamesnya. Rasanya asyik aja mengikuti perjalanan manusia purba itu mencari makan dan mempertahankan hidupnya dari waktu ke waktu, di dalam gua, di hutan rimba, di salju dan sebagainya – serasa saya sendiri yang sedang mengalaminya. Lalu ada lagi games tentang tukang sihir yang baik dengan background masa lalu. Seinget saya judulnya Crescent Moon.Tapi setelah saya coba googling ternyata judul itu merujuk pada games yang lain – Wah..berarti saya salah mengingat. Saya juga bermain Country Story, Cake Mania, Happy Aquarium, Candy Crush, Farm Heroes,Garden Mania, dan sebagainya.  Tapi Games yang paling saya sukai saat ini adalah games tentang dunia kupu-kupu yang berjudul Flutter. Intinya saya menyukai games-games yang ringan dan bukan ‘action’. Saya tidak menyukai games yang membuat kepala tegang, misalnya yang bersifat racing atau pertarungan. Karena itu melelahkan. Dan buat saya intinya bermain games itu adalah mengisi waktu luang dengan menyenangkan.

Untuk anak-anak, waktu mereka masih kecil-kecil saya sendiri yang menyeleksi dan ikut melihat games-games yang dimainkaannya. Saya melarang anak -anak saya memainkan atau menonton games yang ada adegan sadis atau memperlihatkan sesuatu yang tidak mendidik. Tapi saya membiarkan anak-anak memainkan games racing atau pertarungan yang sportif. Dengan berjalannya waktu, mereka sendiri yang memilih games yang dimainkannya. Saya hanya sesekali melakukan random check dan terus memberinya pengarahan agar pintar-pintar memilih games yang baik. Dan tentunya harus bisa me’manage” waktu, kapan waktunya bermain, kapan waktunya harus stop dan belajar, makan, ataupun mandi. Dengan begitu anak-anak bisa santai dan merasa bebas mendiskusikan gamesnya dengan saya. Belakangan, pada kenyataannya anak-anak lebih canggih dalam urusan games dibanding orang tuanya.

Demikian juga yang terjadi pada percakapan kali ini. Ketika saya mengatakan ada beberapa games yang  menurut saya sangat mudah, saya hanya menggunakan ‘light thinking” untuk memainkannya. Anak saya tertawa dan tidak menyetjui 100% perkataan saya.

Memang ada games games yang cukup mudah. Tapi jika games itu terlalu mudah, kecil kemungkinan bahwa games itu memang benar-benar mudah.  “Ada kemungkinan mama tidak mem’push’ otak mama bermain sampai ke batas yang optimal. Bermain hanya sekedar melewati setiap phase dari games. Bukan memikirkan cara terbaik untuk menang dengan skor terbaik di setiap phase games itu” katanya menebak. Kedengarannya di telinga saya seperti setengah menuduh.  Wekkk..

Tapi rasanya memang iya juga. Ada benarnya,walaupun tidak persis begitu. Tentu saja saya  bermain dan berusaha memenangkan skor yang terbaik di setiap phase games. Tapi..apakah saya sudah menaruh usaha dan pemikiran yang optimal untuk mengantongi skor terbaik di setiap phase games itu? Nah itu mungkin yang perlu dipertanyakan. Kelihatannya memang belum sih.  Jadi barangkali itulah yang dimaksudkan oleh anak saya bahwa games yang mudah itupun sebenarnya tidak mudah jika kita benar-benar berusaha mendapatkan the best score.

Anak saya lalu menonton saya bermain Candy Crush Saga- salah satu games yang saya pikir tergolong ringan. Berusaha matching bentuk dan warna permen yang sama, untuk membebaskan permen dari kristal, atau menurunkan buah-buahan,keluar dari jebakan coklat dan sebagainya. Setelah satu episode berakhir, anak saya berkata “Kupikir mama bermain untuk nge-match permen secara lokal saja. Untuk apa yang akan terjadi saat ini saja. Not anticipating the future..” katanya sambil menunjuk apa yang terjadi jika ketiga permen match, lalu bergerak turun, tentunya akan ada pergerakan permen-permen yang lain ke posisi dibawahnya. Jika saja saya mengantisipasi pergerakan permen yang akan datang, tentu score yang saya dapatkan akan bertambah besar.  “See???!!!!“kata anak saya membuktikan kebenaran theorinya.

Saya memang berhasil melewati phase games itu dengan baik dan mudah, tapi apakah benar itu score terbaik yang bisa saya dapatkan? Jika kita ingin menang dengan skor terbaik, sebenarnya kita memang perlu berinvestasi waktu dan pemikiran di setiap langkah yang akan kita ambil dalam games itu. Mengantisipasi apa yang akan terjadi berikutnya, sehingga kita bisa memaksimalkan kemenangan dan meminimalisir kekalahan atau kerugian. Jadi, apa yang terlihat mudah, sebenarnya  sama sekali tidak mudah juga. Saya pikir, pemikiran anak saya benar adanya. Anticipating future trends! Itulah sebenarnya yang perlu dilakukan..

Wah…saya pikir ada perlunya juga saya  memperhatikan ‘future trend’ dalam urusan lain. Jika sesuatu terasa terlalu mudah dalam hidup ini, barangkali bukan karena hidup itu memang mudah, tapi barangkali karena kita memang belum menetapkan target yang optimal sesuai dengan kemampuan kita di sana. karena dalam setiap phase kehidupan, rasanya saya sudah menjalaninya dengan baik. Tapi apakah memang sudah dengan “best effort” yang maksimal yang bisa saya lakukan? Rasanya memang masih tanda tanya besar.

Selamat pagi, teman-teman!

Tukang Bubur Dan Motor Yang Rusak.

Standard

Tukang BuburHari Minggu pagi. Kebetulan cuaca cerah. Tidak ada hujan dan tidak terlihat ada mendung yang menggelantung di langit. Saya keluar rumah untuk berjalan pagi, dan berencana sekalian melihat-lihat dan mampir di tukang sayur. Belum banyak orang di jalan. Hanya di depan ruko kelihatan cukup banyak orang berlalu-lalang. Barangkali karena hari libur, sebagian besar tetangga masih memilih untuk berlama-lama di tempat tidur ketimbang harus bergegas keluar rumah.

Saya berjalan terus menyusuri jalan utama perumahan sambil menikmati kecantikan bunga-bunga yang ditanam oleh para tetangga. Hingga tiba di blok yang paling ujung, saya berbelok ke kanan. Jalanan sangat sepi. Nyaris tidak ada seorangpun terlihat di jalan itu. Tapi persis di depan sebuah rumah kosong, saya lihat tukang bubur yang sering keliling perumahan sedang sibuk sendiri di pinggir jalan. Ia sedang menuang sesuatu kedalam got. Oops???!!!##. Sedang ngapain ya dia? Apa yang dituangnya? Dan mengapa dituang? Sayapun mendekat.

Hai! Sedang ngapain itu?“tegur saya terheran-heran. Tukang bubur melihat saya.”Motor saya mogok, Bu. Nggak bisa hidup sama sekali. Mana bubur ini masih penuh lagi. Saya tidak sanggup menuntun motor mati dengan muatan seberat ini. Jadi saya buang saja buburnya biar nggak berat“katanya dengan wajah galau sambil meletakkan panci panas itu kembali ke tanah. Tampak asap panas mengepul dari panci yang sekarang kosong.Ooh! kasihan sekali tukang bubur ini.

Sepagi ini, orang-orang di kompleks perumahan ini belum banyak yang bangun. Boro-boro membeli bubur. Tidak heranlah kalau buburnya masih penuh. Dua panci gandeng, di kiri dan kanan motornya. Tukang bubur itu kelihatan sangat berputus-asa. Wajahnya kusut. Aduuuh..kasihannya. Saya berpikir sejenak. Apa ya yang harus dilakukan agar tukang bubur ini bisa berjualan normal kembali?

Jangan dibuang lagi” kata saya mencegah, ketika ia kembali mengangkat panci bubur satunya lagi untuk dibuang isinya ke got. “Mendingan barang dagangan ini dititipkan dulu di sekitar sini. Bawa motornya saja ke bengkel. Nanti kalau sudah selesai ambil lagi buburnya ke sini” saran saya.

Itulah masalahnya Bu. Saya sedang nggak punya uang untuk ke bengkel. Tapi nuntun bubur seberat ini berkeliling-keliling perumahan saya juga nggak kuat“katanya sambil menunduk menahan kesedihan hatinya. Ia biasa keliling menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah.  Bagi seorang tukang jualan keliling, motor adalah asset yang sangat penting dalam menunjuang operasi penjualannya. Tingkat kesuksesan dirinya dalam memasarkan sangat tergantung dari seberapa banyak jumlah pelanggan yang berhasil dikunjunginya, lalu dari semua pelanggan itu berapa yang mau membeli, dari setiap yang membeli berapa piring/mangkok jumlah pembeliannya, dan dikalikan dengan berapa harga per piring/magkoknya. Nah… tanpa motor tentu ia akan kesulitan menemui pelanggannya. Ia bisa gagal di faktor terdepan gara-gara motornya rusak. Beda dengan tukang bubur yang mangkal yang tak harus pergi kemana-mana untuk menemui pelanggannya.

Saya jadi miris melihatnya. “Tapi tahu di mana bengkel motor yang terdekat dari sini?“tanya saya. “Tahu sih, Bu“.

Saya sarankan ia untuk coba jalan dan tuntun motornya (dan barang dagangannya) ke depan ruko saja. Jaraknya tidak terlalu jauh. Di sana lebih rame dan banyak orang berlalu lalang untuk membeli sayur dan bahan lauk pauk lain. Berjalan hingga ke depan ruko peurmahan dengan muatan yang setengahnya sudah dibuang, mungkin masih bisa ia lakukan.  Jika mangkal di sana untuk satu hari ini saja dan nggak usah keliling-keliling perumahan, mungkin masih ada yang mau membeli buburnya. Dan ia bisa  dapat uang untuk ke bengkel. Dari pada buburnya dibuang ke got, pikir saya. Sebagian dari pelanggannya itu mungkin saja ada yang berbelanja sayur ke depan ruko.

Ia tampak ragu. Mungkin memikirkan tukang bubur lain yang mangkal di sana yang mungkin akan keberatan. Pesaing!. Saya menangkap keraguannya. Tapi sebenarnya ia bisa bilang pada tukang bubur yang mangkal di sana, bahwa begini ini cuma sekali ini saja. Hanya hari ini. Karena sedang apes. Dia pasti bisa ngertilah. Wajar dan manusiawi. Lagipula kan jenis buburnya juga beda. Penggemarnya beda. Nggak akan mengganggu pelanggannya dia

Akhirnya ia mempertimbangkan saran saya dan mengangkat barang dagangannya kembali. Saya teringat kalau saya ada membawa sedikit uang untuk berbelanja di tukang sayur. Uang itu saya berikan kepadanya saja. Tak jadi mampir di tukang sayur. Walaupun tak seberapa, tapi barangkali bisa membantunya untuk  membayar ongkos pulang kembali ke Bekasi.

Melihat kejadian itu saya jadi teringat salah satu pesan yang sering disampaikan pihak Kepolisian “Jangan lupa memeriksa kendaraan anda dan memastikan kelayakannya sebelum anda bepergian”. Memang benar banget ya. Jangan ambil resiko di jalan raya jika kendaraan anda sedang kurang sehat. Apalagi jika jarak tempuh perjalanan kita sangat jauh. Bekasi – TangSel. Tapi ya memang desakan ekonomi kadang-kadang membuat seseorang terpaksa harus melakukan sesuatu dengan mengabaikan resiko yang mungkin terjadi. Demikianlah hidup.

Semoga tukang bubur itu bisa mengatasi persoalannya dengan baik.

Sumber Kehidupan Bagi Mahluk Hidup Di Alam.

Standard

Bediri di pinggir kali. Membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta menyediakan sumber makanan yang sangat cukup bagi mahluk hidup di sekitarnya. Tanaman yang hijau berdaun subur, berbunga, berbuah dan berbiji juga berumbi. Semua menjadi sumber makanan yang melimpah untuk serangga dan mahluk hidup lain di alam. Ketika serangga dan binatang kecil melimpah, sangat cukup untuk mengganjal kelaparan para pemangsa yang lebih besar. Keseimbangan ekosistem berlangsung sedemikian stabil jika tidak ada bencana alam, hingga manusia datang dan merusak keseimbangan itu.

Manusia membabat semak dan rumput benggala, menyebabkan burung-burung pemakan biji-bijian terganggu. Manusia membakar ladang dan pohon yang mengakibatkan puluhan burung-burung menjadi tunawisma.  Manusia juga memasang jebakan, menangkapi burung dan biawak sungai, membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan yang mengakibatkan banjir bandang yang akhirnya juga mengikis tanah di pinggir kali dan merobohkan banyak pohon besar di pinggirnya. Banyak sekali hal  lain lagi yang telah dilakukan manusia, yang jika dipikirkan membuat dada saya terasa sesak, karena saya tak mampu mengatasi semua masalah itu seorang diri.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di pinggir kali yang sangat mengesankan hati saya. Bagaimana alam menyediakan makanan yang melimpah untuk para burung, sesungguhnya demikian juga Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyediakan sumber kehidupan yang melimpah bagi mahluk lainnya, termasuk kita semua. Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dan kasih sayangNYA.

Ada banyak sekali jenis makanan yang disediakan alam yang menarik burung-burung ini berdatangan atau bahkan menetap di sini.

Buah Coccinia. 

Sebelumnya saya pernah menulis tentang buah Timun Padang (Coccinia grandis) yang tumbuh merambat di pagar perumahan di pinggir kali. Tanaman ini selain bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan mentah dan enak juga disayur, rupanya juga merupakan sumber makanan favorit bagi burung-burung Cerukcuk. Tanaman yang disebut dengan nama lain Little gourd atau baby watermelon ini, berubah warna menjadi jingga lalu merah saat buahnya menua. Rasa daging buahnyapun manis, sehingga mengundang banyak burung pemakan buah datang berkunjung.  Saya sangat senang mengamati-amati burung di dekat tanaman ini.

Buah Kersen 

Buah Kersen atau buah Singapur (Muntingia calabura) adalah buah kecil-kecil yang bertangkai miripbuah cherry, sehingga kadang disebutkan salah kaprah dengan nama buah Cherry. Anak-anak sangat menyukai buah merah ranum yang terasa manis ini. Waktu kecil sayapun sangat suka memanjat pohon ini untuk mengambil buahnya. Namun ternyata bukan hanya anak-anak saja yang suka. Beberapa jenis burung juga sangat menyukainya. Setidaknya saya melihat burung ciblek, burung,burung prenjak, burung kutilang dan burung cerukcuk suka hinggap di dahan dan ranting pohon ini untuk memanen buah yang ranum.

Biji-bijian Untuk Keluarga Burung Pipit.

Rumput benggala banyak tumbuh di tepi kali. Biji-bijinya yang banyak sangat disukai oleh keluarga Burung Pipit. Saya melihat burung-burung ini datang silih berganti dan bergerombol menikmati bijinya. Atau sekedar menarik-narik dan memutus  tangkai atau daunnya untuk dijadikan bahan sarang. Ketika saya datang, burung-burung ini terbang menjauh. Namun tak lama kemudian datang kembali dengan teman-temannya. Senang sekali melihatnya menikmati kehidupan pagi.

Buah Pepaya Dan Burung pemakan Buah.

Tanaman pepaya kadang tumbuh sendiri karena kita membuang biji-bijinya di tepi sungai. Kalau beruntung tanaman ini bisa bersaing dengan baik melawan rerumputan dan gulma di sekitarnya. Tumbuh, berbunga dan berbuah. Tentu saja manusia bisa menikmatinya juga. Namun jika tidak ada yang memetik, burung-burung pemakan buahpun berdatangan ikut berpesta pora. Senang juga hati rasanya bisa  mengintipnya sedang mematuk buah pepaya.

Serangga dan Burung Pelatuk.

Di cabang atau ranting pohon yang mati, banyak tempayak dan serangga hidup di sana. Walaupun mati, pepohonan tetap menjadi penyumbang makanan bagi burung-burung pemakan serangga. Seperi burung Pelatuk kecil alias Caladi Tilik ini. ia selalu rajin datang setiap hari. Jika terdengar suara “terrrrr…terrrr…” saya langsung mendongak ke cabang pohon yang mati ini. Di sana pasti ada burung Pelatuk yang sedang makan atau bercanda dengan temannya.

Bunga Benalu Dan Bunga Lamtoro.

Bukan hanya buah dan biji-bijian, bnga-bungaan juga menjadi sumber makanan menarik bagi burung-burung. Lihatlah burung-burung pemakan madu ini, seperti misalnya Burung Madu ataupun burung Cabe.  Setiap pagi sangat sibuk mencari makan di bunga-bunga benalu yang hidup di pohon mangga, di bunga pohon pepaya ataupun di bunga-bunga pohon lamtoro.

Saya sangat senang melihat-lihat kembali photo-photo ini. Karena selalu mengingatkan saya kembali bahwa sumber penghidupan dan rejeki itu telah disediakan bagi mahluk hidup secukupnya. Tergantung bagaimana kita berusaha mencarinya saja. Seperti burung-burung di pinggir kali ini. Selalu mendapatkan rejeki yang cukup tanpa pernah ada yang mati kelaparan.

 

Katak Pohon Di Halaman Rumahku.

Standard

Katak PohonSore menjelang malam berada di halaman belakang rumah terasa asik. Selain menikmati desau angin di ranting-ranting tanaman, juga mendengarkan suara musik alam. Katak-katak bernyanyi riang saling bersahutan. Suaranya terdengar nyaring dan merdu di telinga. Teman-teman saya yang kebetulan sedang bermain ke rumah banyak juga yang memperhatikan suara katak-katak itu. Kelihatannya ada beberapa ekor, sehingga terdengar mirip orkestra. Saya mendengar suara yang cukup nyaring di sebelah tempat saya berdiri.  Saya menengok. Terlihat seek0r katak sedang duduk di batang pohon frangipani. Saya mendekat. Wow! Bukan seekor. Tapi dua ekor. Yang seekor lagi yang rupanya sang katak jantan, digendong di atas punggung betinanya. Ukurannya lebih kecil. Nyaris 1/3 ukuran betinanya.

Katak Pohon 1Saya mengambil kamera dan mencoba memotretnya dalam kegelapan senja. Mungkin karena merasa tergangu oleh kilatan cahaya  kamera saya, kodok itupun berpindah ke pot lotus yang ada airnya. Setengah tubuhnya berada di permukaan air dan mencoba memanjat ke bibir paso air. Kelihatan sangat lucu dan cantik pemandangannya, karena di sebelahnya sekuntum bunga Kamboja Bali yang gugur terlihat mengambang di permukaan air.

Katak Pohon 2

Katak Pohon Coklat atau kadang disebut juga dengan Katak Pohon Bergaris, Golden Tree Frog (Polypedates leucomystax), sebenarnya bukanlah binatang yang asing. Karena cukup sering saya melihatnya berkeliaran di halaman rumah, terutama saat musim hujan. Saya jarang mengamatinya, tapi saya ingat pernah melihat jenis katak ini diperjualbelikan sebagai binatang peliharaan yang menarik.

Katak Pohon 3Tampangnya lucu. Secara umum ia tampak lebih langsing ketimbang jenis katak yang lain. Badannya berwarna coklat dengan garis-garis motif di punggungnya. Demikian pula di pahanya. Namun leher dan dada hingga ke perutnya terlihat polos tanpa bercak dengan warna lebih pucat. Matanya besar dan belo, berwarna hitam dengan iris berwarna keemasan.

Katak Pohon aktif pada malam hari terutama pada musim hujan.Makanannya adalah serangga yang juga aktif keluar pada malam hari, seperti jangkrik dan laron.  Seperti namanya, katak ini sangat suka memanjat pohon.Itulah sebabnya mengapa ia disebut dengan katak pohon. Kalau kita perhatikan, ujung jari kakinya terlihat berbeda dengan katak biasa. Membulat mirip cakram, berguna sebagai bantalan pelekat saat binatang kecil ini memanjat batang tanaman.

Yuk kita lihat, ada binatang apa saja di sekitar rumah kita!.

Tumbuh Di Tempat Yang Salah.

Standard

LabuSaya menemukan sekantong biji labu. Entah sudah berapa lama umurnya sejak saya simpan pertama kali. Saking tuanya saya sendiri juga tidak terlalu yakin apakah biji -biji labu itu masih menyimpan benih kehidupan atau tidak. Karenanya saya coba menebarnya beberapa biji di pot-pot Adenium milik suami saya. Bukan untuk apa apa. Hanya memastikan apakah biji bijian ini masih bisa hidup atau tidak. Beberapa saat kemudian, saya melihat ternyata biji biji itu memang tumbuh. Bahkan cukup subur. Daunnya hijau segar. Pucuknya pun bertumbuh dengan cepat. Saya merasa sangat senang sekali. Hanya saja karena kesibukan, saya tidak memperhatikan tanaman itu lagi.

Suatu kali suami saya bertanya dengan heran, “Pohon apa ini?” tanyanya menunjuk ke pohon labu itu yang sekarang mulai menjalar dari pot adenium itu. Oo! Saya langsung tercekat. Itu tanaman labu. Dan saya yang menabur bijinya di situ. Suami saya terdiam sejenak lalu bertanya kepada saya “Bukannya tanaman ini nanti jadi besar dan merambat ya?” Saya tahu kemana arah pembicaraannya. Ia pasti kurang setuju karena saya mengganggu tanaman adenium kesayangannya dengan menabur bibit labu di sana. Yang kedua, suatu saat ia pasti akan memberikan saya dua pilihan: cabut pohon labu itu dari pot adenium dan buang. Atau…pindahkan ke tempat lain yang lebih cocok. Ya tanaman itu butuh tanah dan rambatan yang luas. Saya tidak punya saat ini.  Ia tumbuh di tempat yang salah. Di pot kecil adenium milik suami saya. Tidak cukup baginya untuk tumbuh.  Sekarang saya menjadi serba salah. Dicabut sayang, soalnya tanamannya kepalang tumbuh subur dan menarik juga. Wahai! Lihatlah indah dan hijaunya daun-daunnya. Sayang sekali. Tapi kalau dibiarkan tumbuh di sana juga tidak memungkinkan. Karena akan semakin besar dan membutuhkan rambatan yang benar.  Selain tentu  ia akan mengganggu pertumbuhan tanaman adenium itu.

Malam ini saya jadi kepikiran dengan pohon labu itu. Apa terpaksa saya pindahkan saja ke pinggir kali ya. Ia kepalang tumbuh di tempat yang salah. Harusnya saya lebih hati-hati sejak dari awal. Memikirkan dengan baik tempat yang akan saya gunakan untuk menabur benih.  Juga menyianginya sebelum ia bertumbuh semakin besar dan menimbulkan masalah. Walah..repotnya!.

Terkadang dalam hidup kita juga perlu berlaku serupa. Kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita tebar. Benih perasaan, benih pemikiran, benih perkataan dan benih perbuatan. Karena semua benih-benih yang ada dalam perasaan,  pikiran dan perkataan serta perbuatan kita itu bisa tumbuh dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Kita perlu mencari tempat yang cocok dimana kita bisa menebar benih-benih itu dengan baik dan benar. Bukan asal sembarang tebar atau tabur. Karena jika tidak, bisa jadi ia akan tumbuh seperti pohon labu di pot adenium itu. Tumbuh di tempat yang salah. Dicabut sayang karena kepalang tumbuh dengan sehat dan bahkan subur. Tapi dibiarkan juga salah, karena akan menjadi terlalu besar dan merambat sehingga mengganggu tanaman lain.

Contoh nyatanya, misalnya dalam memilih pekerjaan. Terkadang karena sesuatu dan lain hal, akhirnya kita memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang tidak jelas juntrungannya. Kita tidak cukup mengetahui latar belakang, motivasi pemiliknya dan visi ke depan dari perusahaan itu. Kita asal masuk saja,bekerja dengan giat dan penuh semangat yang menggebu-gebu, merencanakan ini dan itu, hingga kecintaan kita pada pekerjaan itu berlipat-lipat ….namun tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba kita mendapatkan pemberitahuan bahwa perusahaan akan ditutup, karena  owner tidak tertarik lagi untuk berinvestasi di bisnis itu. Lah? Nasib kita bagaimana dong? sagat mirip dengan kasus pohon labu yang kepalang tumbuh lalu harus menghadapi fakta harus dicabut karena habitatnya tidak tepat lagi. Itu adalah salah satu kejadian yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan di sekitar kita.

Contoh lain lagi misalnya, seorang remaja yang menabur perasaan suka dan sayangnya pada seseorang. Ia perlu memperhatikan dan memikirkan sejak dini,  sejak masih berupa benih-benih perasaan, apakah tepat cintanya itu ditaburkan pada orang itu? Idealnya tentu kelak  ia berharap bahwa orang itu akan menjadi pasangan hidupnya. Kita perlu melihat baik-baik habitat dimana rasa sayang dan cinta kita akan kita tumbuh dan kembangkan. Apakah sudah pada orang yang tepat? Bagimana jika perasaan cinta itu kepalang tumbuh subur dan belakangan baru kita sadari ternyata tidak tumbuh pada orang yang tepat? Misalnya, omong kosong…ternyata orang itu sudah punya pasangan? Tentu repot, bukan?

Itu hanyalah contoh-contoh dari beberapa hal  dalam kehidupan nyata yang mungkin terjadi serupa dengan pohon labu yang tumbuh di tempat yang kurang tepat. Barangkali masih banyak lagi hal sejenis dalam kehidupan kita?

Saya jadi berpikir. Mungkin ada baiknya saya lebih  memperhatikan dan memikirkan kembali  baik-baik segala hal yang akan saya lakukan ke depannya, sehingga kelak saya tidak perlu harus galau lagi mengambil keputusan yang menyedihkan seperti halnya malam ini saya harus mengambil keputusan akan nasib pohon labu  di pot adenium ini.

Tahun Baru, Batu Kilometer Perjalanan Hidup Kita.

Standard

Selamat Tahun Baru 2015Tahun berakhir dan berganti dengan yang baru. Orang-orang merayakannya dengan penuh suka cita. Pesta pesta, bunyi terompet dan kembang api berwarna warni di mana-mana. Saya membayangkan waktu bergerak linear.  Sangat panjang!.

Beruntung manusia menciptakan satuan tahun untuk menghitung rentang waktu keberadaan dan peradabannya. Satuan waktu untuk berhenti sejenak dan memberi tanda sebuah perjalanan manusia dalam waktu. Mirip dengan batu kilometer yang dipasang orang di pinggir pinggir jalan darat antar kota antar provinsi. Setiap kali kita melintasi batu Kilometer, yang terlintas dalam benak kita adalah berapa panjang dan lama perjalanan yang sudah kita tempuh? Dan entah berapa panjang dan berapa lama lagi yang akan kita tempuh?

Bagus bagi kita untuk beristirahat sejenak, untuk menengok kembali ke belakang, apa apa saja yang telah kita alami sepanjang perjalanan hidup yang telah kita tempuh.  Apakah jalanan kita mulus beraspal halus dan di hotmix? Atau kita telah melampaui jalanan terjal, menanjak menurun, berbatu-batu  penuh onak dan duri? Bagus untuk memikirkan apakah kita sudah melalui jalan yang benar dan terbaik sesuai dengan apa rencana kita? Atau justru kita tersesat di semak-semak dan tak tentu arah? Tidak tahu mata angin da tidak jelas akan tujuan perjalanan kita? Apa apa saja yang telah kita pikirkan, katakan ataupun perbuat sepanjang perjalanan itu guna mengatasi dan merespon situasi jalanan di depan kita?. Apakah yang kita lakukan adalah sesuatu yang membantu memuluskan perjalanan kita? Atau malah menyusahkan dan membuat kita semakin tersesat dan salah arah?

Berdiri sejenak dan menarik nafas di batu kilometer perjalanan sangat membantu kita untuk merefleksikan kembali semua hal-hal itu. Mengingat ingat kembali yang pernah terjadi, baik yang sukses maupun yang gagal, yang baik maupun yang kurang baik dan sebagainya. Menganalisanya, memilah dan memilih mana-mana yang akan kita teruskan dan gunakan lagi di perjalanan ke depan. Dan mana- mana yang akan kita buang dan jangan ulangi lagi di kemudian hari.

Berdiri sejenak di batu kilometer perjalanan juga memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir ulang kedepan. Membersihkan pikiran kita, mempertegas kembali tujuan yang ingin kita capai, dan jalan mana yang akan kita tempuh. Juga segala kemungkinan peluang dan hambatan yang akan terjadi jika kita memilih jalur itu. Walaupun kadang kadang badai bisa saja datang menghadang tanpa pemberitahuan. Nmaun secara umum, jika kita telah memikirkannya dengan baik,  setidaknya ada kesempatan bagi kita untuk memikirkan strategy apa yang harus kita persiapkan dan lakukan agar perjalanan yang kita tempuh bisa berhasil dengan lebih baik dibanding waktu-waktu sebelumnya.

Karena hidup adalah sebuah perjalanan yang panjang, mari kita buat perjalanan ke depan ini menjadi sangat menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan.

Selamat Tahun Baru 2015, teman-teman!.