Tumbuh Di Tempat Yang Salah.

Standard

LabuSaya menemukan sekantong biji labu. Entah sudah berapa lama umurnya sejak saya simpan pertama kali. Saking tuanya saya sendiri juga tidak terlalu yakin apakah biji -biji labu itu masih menyimpan benih kehidupan atau tidak. Karenanya saya coba menebarnya beberapa biji di pot-pot Adenium milik suami saya. Bukan untuk apa apa. Hanya memastikan apakah biji bijian ini masih bisa hidup atau tidak. Beberapa saat kemudian, saya melihat ternyata biji biji itu memang tumbuh. Bahkan cukup subur. Daunnya hijau segar. Pucuknya pun bertumbuh dengan cepat. Saya merasa sangat senang sekali. Hanya saja karena kesibukan, saya tidak memperhatikan tanaman itu lagi.

Suatu kali suami saya bertanya dengan heran, “Pohon apa ini?” tanyanya menunjuk ke pohon labu itu yang sekarang mulai menjalar dari pot adenium itu. Oo! Saya langsung tercekat. Itu tanaman labu. Dan saya yang menabur bijinya di situ. Suami saya terdiam sejenak lalu bertanya kepada saya “Bukannya tanaman ini nanti jadi besar dan merambat ya?” Saya tahu kemana arah pembicaraannya. Ia pasti kurang setuju karena saya mengganggu tanaman adenium kesayangannya dengan menabur bibit labu di sana. Yang kedua, suatu saat ia pasti akan memberikan saya dua pilihan: cabut pohon labu itu dari pot adenium dan buang. Atau…pindahkan ke tempat lain yang lebih cocok. Ya tanaman itu butuh tanah dan rambatan yang luas. Saya tidak punya saat ini.  Ia tumbuh di tempat yang salah. Di pot kecil adenium milik suami saya. Tidak cukup baginya untuk tumbuh.  Sekarang saya menjadi serba salah. Dicabut sayang, soalnya tanamannya kepalang tumbuh subur dan menarik juga. Wahai! Lihatlah indah dan hijaunya daun-daunnya. Sayang sekali. Tapi kalau dibiarkan tumbuh di sana juga tidak memungkinkan. Karena akan semakin besar dan membutuhkan rambatan yang benar.  Selain tentu  ia akan mengganggu pertumbuhan tanaman adenium itu.

Malam ini saya jadi kepikiran dengan pohon labu itu. Apa terpaksa saya pindahkan saja ke pinggir kali ya. Ia kepalang tumbuh di tempat yang salah. Harusnya saya lebih hati-hati sejak dari awal. Memikirkan dengan baik tempat yang akan saya gunakan untuk menabur benih.  Juga menyianginya sebelum ia bertumbuh semakin besar dan menimbulkan masalah. Walah..repotnya!.

Terkadang dalam hidup kita juga perlu berlaku serupa. Kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita tebar. Benih perasaan, benih pemikiran, benih perkataan dan benih perbuatan. Karena semua benih-benih yang ada dalam perasaan,  pikiran dan perkataan serta perbuatan kita itu bisa tumbuh dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Kita perlu mencari tempat yang cocok dimana kita bisa menebar benih-benih itu dengan baik dan benar. Bukan asal sembarang tebar atau tabur. Karena jika tidak, bisa jadi ia akan tumbuh seperti pohon labu di pot adenium itu. Tumbuh di tempat yang salah. Dicabut sayang karena kepalang tumbuh dengan sehat dan bahkan subur. Tapi dibiarkan juga salah, karena akan menjadi terlalu besar dan merambat sehingga mengganggu tanaman lain.

Contoh nyatanya, misalnya dalam memilih pekerjaan. Terkadang karena sesuatu dan lain hal, akhirnya kita memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang tidak jelas juntrungannya. Kita tidak cukup mengetahui latar belakang, motivasi pemiliknya dan visi ke depan dari perusahaan itu. Kita asal masuk saja,bekerja dengan giat dan penuh semangat yang menggebu-gebu, merencanakan ini dan itu, hingga kecintaan kita pada pekerjaan itu berlipat-lipat ….namun tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba kita mendapatkan pemberitahuan bahwa perusahaan akan ditutup, karena  owner tidak tertarik lagi untuk berinvestasi di bisnis itu. Lah? Nasib kita bagaimana dong? sagat mirip dengan kasus pohon labu yang kepalang tumbuh lalu harus menghadapi fakta harus dicabut karena habitatnya tidak tepat lagi. Itu adalah salah satu kejadian yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan di sekitar kita.

Contoh lain lagi misalnya, seorang remaja yang menabur perasaan suka dan sayangnya pada seseorang. Ia perlu memperhatikan dan memikirkan sejak dini,  sejak masih berupa benih-benih perasaan, apakah tepat cintanya itu ditaburkan pada orang itu? Idealnya tentu kelak  ia berharap bahwa orang itu akan menjadi pasangan hidupnya. Kita perlu melihat baik-baik habitat dimana rasa sayang dan cinta kita akan kita tumbuh dan kembangkan. Apakah sudah pada orang yang tepat? Bagimana jika perasaan cinta itu kepalang tumbuh subur dan belakangan baru kita sadari ternyata tidak tumbuh pada orang yang tepat? Misalnya, omong kosong…ternyata orang itu sudah punya pasangan? Tentu repot, bukan?

Itu hanyalah contoh-contoh dari beberapa hal  dalam kehidupan nyata yang mungkin terjadi serupa dengan pohon labu yang tumbuh di tempat yang kurang tepat. Barangkali masih banyak lagi hal sejenis dalam kehidupan kita?

Saya jadi berpikir. Mungkin ada baiknya saya lebih  memperhatikan dan memikirkan kembali  baik-baik segala hal yang akan saya lakukan ke depannya, sehingga kelak saya tidak perlu harus galau lagi mengambil keputusan yang menyedihkan seperti halnya malam ini saya harus mengambil keputusan akan nasib pohon labu  di pot adenium ini.

12 responses »

  1. kalau keceplosan atau tindakan spontan itu kadang2 masih nggak bisa dicegah deh mbak, krn tanggapan orang atas sikap kita juga bisa beda2
    dampaknha itu yg suka baru disesali kemudian

  2. Menarik, dari pohon labu bisa dianalogikan dengan perilaku kita sehari-hari. Makasih telah berbagi pemikirannya di sini mbak. Pagi-pagi dapat pelajaran filsafat yang tidak rumit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s