Tukang Bubur Dan Motor Yang Rusak.

Standard

Tukang BuburHari Minggu pagi. Kebetulan cuaca cerah. Tidak ada hujan dan tidak terlihat ada mendung yang menggelantung di langit. Saya keluar rumah untuk berjalan pagi, dan berencana sekalian melihat-lihat dan mampir di tukang sayur. Belum banyak orang di jalan. Hanya di depan ruko kelihatan cukup banyak orang berlalu-lalang. Barangkali karena hari libur, sebagian besar tetangga masih memilih untuk berlama-lama di tempat tidur ketimbang harus bergegas keluar rumah.

Saya berjalan terus menyusuri jalan utama perumahan sambil menikmati kecantikan bunga-bunga yang ditanam oleh para tetangga. Hingga tiba di blok yang paling ujung, saya berbelok ke kanan. Jalanan sangat sepi. Nyaris tidak ada seorangpun terlihat di jalan itu. Tapi persis di depan sebuah rumah kosong, saya lihat tukang bubur yang sering keliling perumahan sedang sibuk sendiri di pinggir jalan. Ia sedang menuang sesuatu kedalam got. Oops???!!!##. Sedang ngapain ya dia? Apa yang dituangnya? Dan mengapa dituang? Sayapun mendekat.

Hai! Sedang ngapain itu?“tegur saya terheran-heran. Tukang bubur melihat saya.”Motor saya mogok, Bu. Nggak bisa hidup sama sekali. Mana bubur ini masih penuh lagi. Saya tidak sanggup menuntun motor mati dengan muatan seberat ini. Jadi saya buang saja buburnya biar nggak berat“katanya dengan wajah galau sambil meletakkan panci panas itu kembali ke tanah. Tampak asap panas mengepul dari panci yang sekarang kosong.Ooh! kasihan sekali tukang bubur ini.

Sepagi ini, orang-orang di kompleks perumahan ini belum banyak yang bangun. Boro-boro membeli bubur. Tidak heranlah kalau buburnya masih penuh. Dua panci gandeng, di kiri dan kanan motornya. Tukang bubur itu kelihatan sangat berputus-asa. Wajahnya kusut. Aduuuh..kasihannya. Saya berpikir sejenak. Apa ya yang harus dilakukan agar tukang bubur ini bisa berjualan normal kembali?

Jangan dibuang lagi” kata saya mencegah, ketika ia kembali mengangkat panci bubur satunya lagi untuk dibuang isinya ke got. “Mendingan barang dagangan ini dititipkan dulu di sekitar sini. Bawa motornya saja ke bengkel. Nanti kalau sudah selesai ambil lagi buburnya ke sini” saran saya.

Itulah masalahnya Bu. Saya sedang nggak punya uang untuk ke bengkel. Tapi nuntun bubur seberat ini berkeliling-keliling perumahan saya juga nggak kuat“katanya sambil menunduk menahan kesedihan hatinya. Ia biasa keliling menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah.  Bagi seorang tukang jualan keliling, motor adalah asset yang sangat penting dalam menunjuang operasi penjualannya. Tingkat kesuksesan dirinya dalam memasarkan sangat tergantung dari seberapa banyak jumlah pelanggan yang berhasil dikunjunginya, lalu dari semua pelanggan itu berapa yang mau membeli, dari setiap yang membeli berapa piring/mangkok jumlah pembeliannya, dan dikalikan dengan berapa harga per piring/magkoknya. Nah… tanpa motor tentu ia akan kesulitan menemui pelanggannya. Ia bisa gagal di faktor terdepan gara-gara motornya rusak. Beda dengan tukang bubur yang mangkal yang tak harus pergi kemana-mana untuk menemui pelanggannya.

Saya jadi miris melihatnya. “Tapi tahu di mana bengkel motor yang terdekat dari sini?“tanya saya. “Tahu sih, Bu“.

Saya sarankan ia untuk coba jalan dan tuntun motornya (dan barang dagangannya) ke depan ruko saja. Jaraknya tidak terlalu jauh. Di sana lebih rame dan banyak orang berlalu lalang untuk membeli sayur dan bahan lauk pauk lain. Berjalan hingga ke depan ruko peurmahan dengan muatan yang setengahnya sudah dibuang, mungkin masih bisa ia lakukan.  Jika mangkal di sana untuk satu hari ini saja dan nggak usah keliling-keliling perumahan, mungkin masih ada yang mau membeli buburnya. Dan ia bisa  dapat uang untuk ke bengkel. Dari pada buburnya dibuang ke got, pikir saya. Sebagian dari pelanggannya itu mungkin saja ada yang berbelanja sayur ke depan ruko.

Ia tampak ragu. Mungkin memikirkan tukang bubur lain yang mangkal di sana yang mungkin akan keberatan. Pesaing!. Saya menangkap keraguannya. Tapi sebenarnya ia bisa bilang pada tukang bubur yang mangkal di sana, bahwa begini ini cuma sekali ini saja. Hanya hari ini. Karena sedang apes. Dia pasti bisa ngertilah. Wajar dan manusiawi. Lagipula kan jenis buburnya juga beda. Penggemarnya beda. Nggak akan mengganggu pelanggannya dia

Akhirnya ia mempertimbangkan saran saya dan mengangkat barang dagangannya kembali. Saya teringat kalau saya ada membawa sedikit uang untuk berbelanja di tukang sayur. Uang itu saya berikan kepadanya saja. Tak jadi mampir di tukang sayur. Walaupun tak seberapa, tapi barangkali bisa membantunya untuk  membayar ongkos pulang kembali ke Bekasi.

Melihat kejadian itu saya jadi teringat salah satu pesan yang sering disampaikan pihak Kepolisian “Jangan lupa memeriksa kendaraan anda dan memastikan kelayakannya sebelum anda bepergian”. Memang benar banget ya. Jangan ambil resiko di jalan raya jika kendaraan anda sedang kurang sehat. Apalagi jika jarak tempuh perjalanan kita sangat jauh. Bekasi – TangSel. Tapi ya memang desakan ekonomi kadang-kadang membuat seseorang terpaksa harus melakukan sesuatu dengan mengabaikan resiko yang mungkin terjadi. Demikianlah hidup.

Semoga tukang bubur itu bisa mengatasi persoalannya dengan baik.

6 responses »

  1. Terharu saya membaca tulisan Mbak ini. Teringat beberapa tukang bubur di Sukabumi yang sudah sepuh, namun tetap menjalankan usahanya demi menghidupi keluarganya…
    Salut dgn apa yg Mbak lakukan kpd tk bubur ini…

    Salam,

  2. Duh.. Aku terharu bacanya, Mbak Dani.. :’

    Kasian banget ya Bapak Tukang Buburnya.. Mudah-mudahan rejekinya dilimpahruahkan oleh Tuhan.. Aamiiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s