Kisah Pagi – Seekor Anak Kucing Liar Yang Ketinggalan Induknya.

Standard

Anak kucing1Pagi ini cuaca cerah. Saya berjalan pagi keluar perumahan dengan anak saya yang kecil. Menyusuri perkampungan yang dihuni oleh penduduk asli Betawi. Di sebuah tikungan kami berhenti sejenak. Seekor anak kucing mengeong dan mendekat. “Anak kucing!” seru anak saya kegirangan. Tampangnya sangat lucu dan menggemaskan. Kelihatan agak kurus. Kasihannya. Dimana induknya ya?  Anak kucing itu mengeong-ngeong terus dan menciumi kaki anak saya. Anak saya berjongkok dan mengelus-elus kepala anak kucing itu.

Bawa aja  kucingnya pulang!!” seru seorang Bapak dari halaman rumahnya. Anak saya meminta persetujuan ingin membawanya pulang.  Saya berpikir sejenak. “Memang kucing ini punya siapa, Pak?” tanya saya. “Kagak ada yang punya. Liar. Ngerusuh bae!” katanya.

Sebenarnya sayapun ingin membawanya pulang, tapi tidak semudah itu. Di rumah sudah ada kucing liar lain yang diadopsi anak saya sebelumnya. Suami saya pasti tidak akan setuju ada kucing liar lain lagi di rumah.  Selain itu induknya mungkin akan mencari-cari. “Jangan!” kata saya. “Nanti induknya mencari” kata saya lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Anak kucing itu mengikuti langkah kaki kami. Kakinya yang kecil-kecil sibuk berlari mengikuti dan mencoba mendahului. “Awas keinjek kucingnya Ma” seru anak saya. Saya berhenti. Anak kucing itu ikut berhenti.  Saya berjalan lagi, anak kucing itu ikut berlari lagi mendahului saya. Saya berhenti lagi. Iapun ikut berhenti juga. Demikian  berkali-kali. Waduuh! Repot juga nih kalau begini.  “Kasihan kucingnya. Pasti kecapean” anak saya menggendongnya sambil berjalan. “Jangan!” kata saya. “Itu sama dengan membawanya pulang” kata saya. “Biarkan saja dia jalan. Barangkali dia tahu di mana induknya” kata saya. Akhirnya anak kucing itu mengikuti kami terus.

Tak lama kemudian, ada seekor kucing dewasa melintas. Anak kucing itu tampak tertegun melihat kucing dewasa  itu. “Apa itu induknya ya?“.Kelihatannya bukan sih. Wajahnya sangat jauh berbeda. Mumpung anak kucing itu sedang bengong melihat kucing dewasa, saya menggunakan kesempatan untuk meninggalkannya di sana. Anak saya protes. “Wah..kasihan! Jangan ditinggal. Nanti dia tersesat” kata anak saya khawatir. “Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk bertemu induknya” kata saya. Saya yakin induknya berada tak jauh di sekitar sini. Anak saya tampak tidak yakin. Wajahnya murung. Ketika berikutnya ia melihat seekor anak kucing liar yang sangat kurus dan kotor, ia berkata kepada saya “Nah..ini yang aku takut. Kalau kita nggak bawa pulang, anak kucing itu nanti pasti kaya gini jadinya“.

Saya lalu memberi pengertian kepada anak saya. Bahwa jumlah mahluk hidup yang menderita kelaparan itu sangat banyak. Bukan hanya kucing, tapi mahluk lain juga termasuk manusia. Kita memang perlu menolong semampu kita. Tetapi saat ini, kemampuan kita terbatas. Tidak mungkin kita mengumpulkan semua kucing kelaparan itu dan memeliharanya di rumah. Karena rumah kita kecil dan kemampuan kita memberi makan juga terbatas. Selain itu, sebelum didomestikasi manusia, kucingpun dulunya memang binatang liar yang hidup di alam bebas. Jadi kita tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Syukurnya anak saya mulai tampak mengerti permasalahannya. Akhirnya ia mulai melupakan anak kucing itu.

Tiba di tepi sungai yang merupakan hulu dari sungai di belakang rumah saya, saya mengajak anak saya untuk berhenti dan melihat-lihat. Air sungai tampak beriak dengan suaranya yang menyejukkan telinga. Pertanda kalau di bagian ini, sungai sangat dangkal. Sementara di bagian hilirnya yang lebih dalam, air sungai tampak lebih tenang. Sambil menyusuri aliran sungai, sayapun menjelaskan pengaruh kedangkalan sungai dengan riak yang ditimbulkannya.  “Air beriak tanda tak dalam” kata saya mengutip pepatah lama itu. Kami mengamati dua ekor anak biawak yang berenang terbawa arus. Senang sekali melihatnya. Setelah sempat khawatir kalau biawak di sungai ini habis karena diburu orang, setidaknya sekarang saya melihat ada 2 ekor anaknya berenang pagi ini. Sayang saya sedang tidak membawa kamera. Anak saya yang tahu kalau saya menaruh perhatian sangat besar pada kehidupan satwa liar di tepi sungai, mencoba mengabadikannya dengan kamera hape. Sayang kwalitasnya tidak begitu bagus.

Puas bermain di tepi sungai, saya mengajak anak saya menyeberang jembatan. Melihat-lihat sebentar dari atas jembatan, lalu berbelok ke ladang-ladang sayur di tepi sungai itu. Mengobrol dengan seorang petani yang baru saja usai membersihkan ladangnya. Obrolan ngalor-ngidul mulai dari urusan panen sayuran bayam yang bisa dilakukan dalam waktu dua puluh hari,  urusan tanah garapan yang makin menyempit, urusan ternak kambing dan penyakitnya hingga urusan maling ternak yang tak kenal takut. Matahari mulai meninggi. Saya pamit kepada petani itu untuk meneruskan perjalanan saya.

Di tepi sungai tempat kami masuk ke ladang tadi, ada onggokan sampah. Saya melihat seekor induk kucing dengan 2 ekor anaknya sedang mengais-ngais makanan di sana. Wajahnya sama dengan anak kucing yang ingin diadopsi anak saya tadi pagi. Saya mendekat. Induk kucing itu nampak sangat awas dan curiga.Mungkin dia pikir saya akan mengganggu anaknya. Tak berapa lama, anak kucing kecil yang tadinya mengikut kami  datang tergopoh-gopoh. ya ampuuun…jauh juga ia berjalan.  Ooh..rupanya ia menyusul induknya ke sini. “Tuhhh kan?Akhirnya ia berhasil menemukan induk dan saudara saudaranya” kata saya lega. Anak sayapun tampak lega.

Alam selalu menyediakan pemecahan masalah bagi mereka yang sepenuh hati mencarinya. Bahkan untuk kucing liar sekalipun.

 

8 responses »

  1. Kasihan ya Mba anak kucing yang tersesat gitu. Di rumah orang tua saya sering banget datang anak kucing sendirian. Terpisah dari induknya sepertinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s