I’m Leaving On A Jet Plane…

Standard

???????????????????????????????Kecelakaan pesawat terbang yang berturut-turut dalam waktu yang tak terlalu jauh membawa kedukaan yang mendalam di hati kita semua. Tidak itu saja, kecelakaan itu juga membuat hati kita ketar ketir khawatir setiap kali memikirkan harus bepergian. Demikianlah yang terjadi pada anak saya. Ketika saya mengabarkan bahwa saya akan pergi sebentar ke Malaysia untuk urusan kantor, tiba-tiba anak saya yang kecil membelalak kaget, seperti tersetrum aliran listrik.  “Tidakkkk! Mama nggak boleh pergiiiii!“katanya histeris sambil memeluk saya. “Mengapa?” tanya saya heran.

Tentu saja heran, karena ini bukanlah perjalanan saya pertama kali. Bepergian seperti ini sudah menjadi bagian dari tugas rutin di kantor saya. Secara berkala saya memang harus bepergian dan meninggalkannya di rumah untuk beberapa hari. Ia biasa ditinggal. Jadi seharusnya sudah tidak kaget lagi. Tapi kali ini ia benar-benar histeris. Rupanya berita tentang kecelakaan pesawat itu benar-benar membawa trauma dan menghantui pikirannya. Ia tidak mau naik pesawat, bahkan ketika liburan pun ia tidak mau diajak pulang ke Bali hanya gara-gara takut naik pesawat. Padahal sebelumnya ia sangat suka diajak bepergian dan menikmati jika diajak naik pesawat terbang.

Malam harinya, sebelum saya berangkat. Ia minta saya menemaninya tidur. Ia memeluk saya erat-erat. Matanya berkaca-kaca dan memohon dengan amat sangat supaya saya jangan pergi. Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan?. Saya jadi ikut terbawa perasaan. Sebenarnya jauh di dalam hati saya juga tidak ingin bepergian. Takut juga. Tapi tentu saja saya tidak bisa begitu. Saya bekerja sebagai professional dan dibayar untuk itu. Tentu saja saya harus melakukan tugas kantor, memenuhi  tanggung jawab dan kewajiban saya secara professional juga. Masak saya harus menolak pergi hanya karena dirundung kekhawatiran. Tidak bisa begitu. Saya mencoba menjelaskan hal itu kepada anak saya.Ia mengerti. Tapi penjelasannya saya tampaknya tidak membantu meredakan ketakutannya barang sedikitpun. Ia bahkan semakin memperat pelukannya. Menciumi pipi saya berkali-kali. Saya sungguh tidak berdaya, apa yang harus saya katakan kepada anak saya untuk membujuknya dan menghilangkan rasa khawatirnya.

Akhirnya saya usap-usap punggungnya dan mengajaknya berdoa agar apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Setelahnya ia memejamkan matanya. Tapi saya tahu ia tidak tidur. Pasti pikirannya berkelana kemana-mana. Tangannya masih erat memeluk tubuh saya. Saya menyadari betapa ia mencintai  dan sangat takut kehilangan saya, ibunya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajaknya berbicara tentang kematian. Mungkin terlalu dini untuk usianya yang masih sangat belia. Tapi saya pikir tidak ada salahnya saya ajak berbicara sekarang.

Bahwa menurut saya, kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Semua mahlukyang hidup, pada suatu saat pasti akan mati. Karena kematian sesungguhnya hanyalah sebuah phase dari lingkaran kehidupan.  Lahir, tumbuh dan berkembang, menjadi dewasa, kemudian tua dan mati. Semua mahluk mengalaminya. Lihatlah kupu-kupu, dari telor, lalu menjadi ulat, kemudian berubah menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu untuk hidup hanya beberapa hari kemudian pasti mati. Demikian juga binatang-binatang lain. Juga dedaunan. Bernas, lalu tumbuh menjadi daun muda yang berwarna hijau muda, semakin tumbuh semakin hijau, lalu layu dan menguning layu, kemudian mati dan lepas diterbangkan angin dan jatuh ke tanah menjadi humus. Demikian juga bunga-bunga dan sebagainya.Semuanya tidak ada yang luput dari tahapan kehidupan. Dan kematian adalah salah satu tahapannya. Anak saya mendengarkan dengan cermat apa yang saya katakan. Namun ia tidak berkata sepatahpun.

Kematian bisa menghampiri seseorang di manapun dan kapanpun.Tidak ada yang pernah tahu. Kematian bisa terjadi di udara, di laut ,di darat, di jalanan, di kantor, di sekolah, di rumah atau bahkan di tempat tidurpun. Ia bisa datang saat kita sakit, saat kita bepergian, saat kita sedang bersantai, saat kita tersedak.  Kalau maut memang menghampiri, ia bahkan bisa datang saat kita tertidur nyenyak. “Jadi, kalau memang kematian itu harus datang, ia akan datang. Tidak menunggu kita  untuk naik ke pesawat tertentu dengan tujuan tertentu. Nah..sekarang tidurlah.  Yakinlah mama akan selamat ke tempat tujuan juga saat pulang lagi ke rumah” kata saya mengakhiri. Anak saya mengangguk. Mencium pipi saya lalu memejamkan matanya kembali. Kini ia benar-benar tertidur.

Keesokan harinya, di perjalanan, pesawat yang saya tumpangi memang mengalami sedikit goncangan akibat cuaca yang kurang bersahabat. Mendung, hujan dan angin memang sedang merajalela. Tidak ada yang bisa saya lakukan, selain hanya memasrahkan diri dan berdoa. Dari ketinggian 11 500 meter, saya terkenang akan anak saya. Saya ingin kembali pulang ke tanah air dengan selamat, demi anak saya yang menunggu saya dengan penuh cinta. Begitu pesawat mendarat, saya segera turun dari pesawat dan berpamitan pada pramugari di  dekat pintu yang tersenyum ramah kepada saya.

Melihat senyum pramugari itu, sesuatu terasa melintas di kepala saya. Oh…kekhawatiran anak dan keluarga saya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan kekhawatiran dari keluarga pramugari ini yang memang tugasnya setiap hari di udara. Bagaimana rasanya jika saya harus bertugas di atas pesawat setiap saat? Saya tak bisa membayangkannya.  Saya benar-benar hormat dan salut atas keberanian dan ketabahan para pramugara, pramugari dan pilot beserta seluruh crew udara ini.

Lagunya Chantal Kraviazuk seolah terdengar berputar di telinga saya:

“Cause I’m leaving on a jet plane. I don’t know when I’ll be back again. Oh, babe, I hate to go….”

Buru buru saya menghubungi suami, agar memberitahukan kepada anak saya bahwa saya sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan. Barangkali bisa membuatnya lebih tenang dan senang.

8 responses »

  1. emang ya denger berita tentang kecelakaan pesawat bikin parno. tapi ya mau gimana ya… masa kalo mau travel mesti jalan kaki? hehehe
    emang mesti banyak berdoa aja ya…

  2. Memberi tahu keluarga segera setelah sampai, itu yang selalu aku lakukan kalau bepergian Mbak. Ya paling tidak sedikit mengurangi kekuatiran mereka yang menyayangi kita dan menunggu kepulangan kita kembali di tengah-tengah mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s