Kesabaran Dan Pemahaman Situasi.

Standard

MacetSaya harus berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Karena ada schedule conference call pukul 7.30 pagi. Rencana saya, jika tiba lebih pagi, sisa waktu akan saya gunakan untuk membaca materi yang akan saya diskusikan sebelum conference call. Sempat terpikir, apakah sebaiknya masuk tol saja?. Hmmm.. Belum lama ini saya sempat lewat jalan tol, tapi apes banget. Saat itu tol malah lebih macet dari jalan biasa dan saya telat nyampai ke kantor. Kali ini saya tidak mau mengambil resiko.

Akhirnya saya menempuh jalan biasa. Lewat Pondon Aren -Ciledug – Cipondoh- Poris lalu masuk Daan Mogot. Lumayan lancar hingga keluar dari pertigaan Ciledug. Selepas itu, lalu lintas ternyata sangat padat.Antrian panjang sekali, sehingga laju kendaraan lambat. Beberapa kali harus berhenti. Makin lama lalu lintas makin macet, bahkan  sebelum jembatan Kali Angke, lalu lintas berhenti bergerak. Bergerak sedikit-lalu berhenti lama. Bergerak sedikit lagi, lalu berhenti lama lagi dan seterusnya. Saya melihat jam. Tanpa terasa sudah setengah jam kami di sini. Kemacetan ini mungkin masih akan berlangsung lama. Bisa jadi kami baru akan bisa melewatinya setengah jam lagi dari sekarang.  Sisa waktu yang tadinya saya pikir ada untuk membaca materi di kantor kini hilang. Pak Supir menawarkan apakah sebaiknya kami mencari jalan alternatif lewat Pondok Bahar saja?  Saya setuju saja karena sayapun mulai merasa tidak sabar lagi.

Memasuki jalur Pondok Bahar, jalanan terasa lancar. Namun sekitar lima menit kemudian, lalu lintas di jalur inipun semakin padat. Makin lama makin padat dan …macet lagi.  Waduuh. Bagaimana ini ya?. Saya berharap agar kemacetan menjadi cair. Namun alih-alih lancar, lalu lintas malah semakin semrawut dan akhirnya macet total!. Lebih  parah lagi karena jalanan di jalur ini sangat sempit ketimbang jalur Ciledug-Cipondoh. Menit-menit berlalu. Saya tidak bisa maju dan juga tidak bisa mundur ataupun memutar. Sekarang saya sadar bahwa saya benar-benar tidak akan bisa tiba di kantor tepat pada saat call terjadi. Saya coba hubungi kantor dan menginformasikan keterlambatan saya. Akhirnya Conference Call ditunda 45 menit, karena menunggu saya datang. Aduuh..jadi nggak enak hati ini.

Lalu lintas makin buruk. Jauh lebih buruk dari yang di Ciledug tadi. Saya memutuskan untuk naik ojek saja. Pak Supir memarkir kendaraannya di depan sebuah toko yang masih tutup, lalu turun mencoba mencarikan saya tukang ojek. Tidak saya duga, ternyata sangat sulit mencari tukang ojek di daerah itu. Entah karena memang jumlahnya sedikit atau barangkali karena kemacetan, semua tukang ojek sudah menerima order dari orang lain. Pak supir tak berhasil mendapatkan satu orangpun. Setelah setengah jam lewat tanpa hasil, akhirnya ada seorang tukang ojek datang. Tapi tukang ojek ini tidak membawa helmet dan kaget jika harus mengantarkan sejauh itu ke Daan Mogot. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Saya pikir  mungkin lebih baik saya kembali ke Ciledug dan mengantri di sana lagi. Setidaknya tingkat kemacetannya tidak separah di sini.  Pak Supir mencoba memutar haluan dan sungguh tantangannya sangat berat sekali. Bukan saja karena jalanannya sangat sempit, namun juga karena ukuran kendaraan yang saya gunakan sangat jumbo. Sehingga untuk memutar haluanpun sudah menimbulkan kemacetan baru tersendiri. Orang-orang melihat kami dengan wajah tidak senang. Aduuuh…maafkan saya ya.

Akhirnya saya kembali di antrian kemacetan Ciledug.  Saya hitung-hitung, sebenarnya sudah memakan waktu 1 jam sejak saya meninggalkan hingga saya kembali lagi ke titik di Ciledug ini. Jadi sebenarnya saya telah mebuang waktu saya selama 1 jam dengan percuma. Kemacetan sedikit lebih ringan. Tapi saya tahu kalau saya bahkan tidak akan bisa memenuhi waktu yang dijanjikan. Kembali saya menelpon kalau saya belum berhasil lolos. Conference Call ditunda 15 menit lagi.

Syukurnya kali ini saya bisa melewati antrian dengan lebih cepat.lalu selepas Ciledug Indah, jalanan sangat lancar. Akhirnya saya tiba di kantor. Semua orang di ruang meeting memandang saya dengan wajah cemas bercampur kasihan. Conference call pun dimulai. Saya meminta maaf atas apa yang terjadi.

It’s OK. Don’t worry. But if I fall asleep  now, I’ll blame you, Dani…” kata sebuah suara di seberang bercanda. O ya beda waktu yang cukup tajam di beberapa negara dengan di sini. Tentu sudah semakin malam sekarang di sana.  Saya tertawa kecut. Walaupun hanya bercanda dan semuanya bisa mengerti keadaan saya, tapi saya benar-benar merasa nggak enak.

*******

Saya pikir apa yang saya alami pagi itu pada dasarnya adalah akibat dari kegamangan saya dalam pengambilan keputusan.

Pertama adalah soal kesabaran. Kadang-kadang kita kurang sabar dan telaten untuk menangani masalah yang kita hadapi dan cenderung mengambil jalan pintas yang kita pikir lebih baik untuk menyelesaikannya. Padahal jika saja kita bisa sedikit lebih sabar dan telaten, barangkali kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan lebih baik tanpa harus mencari jalan pintas yang lain. Sama dengan kesabaran saya saat menghadapi keacetan Ciledug. Saya pikir jalur pintas Pondok Bahar akan memberi saya alternative yang lebih baik. Ternyata tidak. Bahkan lebih buruk.

Kedua, adalah pemahaman situasi yang parah. Pemetaan situasi yang buruk, sering membuat kita tergelincir dalam pengambilan keputusan. Kita tidak yakin dengan strategy yang kita ambil dan tidak paham pula dengan pilihan strategy yang tersedia. Serupa dengan pemahaman saya yang rendah akan situasi kemacetan di Ciledug, sementara saya pun tidak paham akan tingkat kemacetan yang mungkin terjadi di jalur Pondok Bahar. Belakangan saya tahu ternyata di sanapun ada Sekolah dan tempat keramaian lain sementara jalannnya sangat sempit. Entah kenapa sayapun lupa untukmendengarkan informasi jalan raya dari radio atau mencoba mencari berita dari internet.

Dua hal itu – Kesabaran dan Pemahaman Situasi –  menjadi pelajaran penting bagi saya di pagi hari  ini.

5 responses »

  1. Menurut aku pemahaman situasi sehari-hari saja sih gak cukup Mbak karena kondisi yang biasanya lancar bisa saja mendadak jadi super padat karena sesuatu hal. Mungkin beberapa aplikasi di smartphone malah lebih membantu untuk merencanakan perjalanan

  2. Kata teman saya, kalau sedang ada kemacetan,nikmati saja kemacetan itu…
    Syukur sambil maen blog…
    hihihihi….

    Menurut saya memang hrs ada angkutan massal yg nyaman dan membahagiakan agar banyak warga yg tdk menggunakn kendaraan pribadinya utk bekerja…
    dipajang saja?
    hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s