Lokatmala, Komunitas Budaya Dan Batik Sukabumi.

Standard

Fonna Melania & AndriHari itu saya sungguh mujur. Gara-gara mampir ke sebuah rumah tetangga yang sedang panen buah pala di halamannya, mata saya tertarik pada sebuah spanduk kecil bertuliskan “Komunitas Iket Sunda”. Sejenak saya berpikir tentang ikat kepala yang dipakai secara traditional di wilayah priangan. Selain itu saya juga membaca kata “Lokatmala” di depan rumah ini tadi. Aha! Naluri saya mengatakan ada banyak hal yang akan menarik perhatian saya di rumah itu.

Sang tuan rumah yang baru saya kenal saat itu juga mempersilakan saya masuk dengan sangat ramah. Sayapun masuk dan clangak clinguk melihat baju-baju batik di pajang di ruang depannya. Lalu ada seperangkat gamelan Sunda dan kain -kain batik yang baru jadi ataupun setengah jadi. Mencoba menebak tempat apakah gerangan ini? Mirip studio. Saya diajak ke ruang tengah. Rupanya ada orang yang sedang membatik. Terus terang saya baru tahu kalau di Sukabumi ada orang yang membuat  batik. Saya pikir orang membatik hanya di Pekalongan dan Cirebon.

Candramawat, Kucing Keren Milik Nini Anteh.

CandramawatDi ruang tengah itu dibentang sebuah batik tulis yang sangat menarik sekali. Berwarna hitam dengan motif berwarna krem dan kekuningan. Terlihat sangat elegant.”Motif apa ini?” tanya saya. Sang Tuan dan Nyonya rumah yang memperkenalkan namanya sebagai Andri dan Fonna Melania bercerita kepada saya bahwa batik itu mengangkat cerita tentang Candramawat, kucing kesayangan Nini Anteh.

Bagi yang belum tahu cerita rakyat Sunda yang popular di Sukabumi ini, bisa saya ringkas sedikit, bahwa Nyi Anteh adalah seorang dayang-dayang kerajaan yang memiliki kecantikan luarbiasa. Ia mengabdi kepada puteri raja yang sangat disayangi dan dihormatinya. Namun karena kecantikannya itu, Sang Pangeran lebih tertarik dan jatuh cinta kepada Nyi Anteh ketimbang kepada Sang Puteri. Untuk menghindari masalah dan agar tidak menyakiti hati Sang Puteri, akhirnya Nyi Anteh berdoa agar bisa ke bulan. Doanya didengar, akhirnya Nyi Anteh tinggal di bulan bersama kucing kesayangannya yang bernama Candramawat. Menurut dongeng ini, itulah sebabnya mengapa di saat-saat tertentu jika kita melihat bulan, kita bisa melihat bayangan Nini Anteh dan kucingnya di permukaan bulan.  Hmm..cerita yang sangat menarik.

Sang senimanpun menciptakan motif kucing Candramawat ini dari cerita rakyat itu.

Leungli, Sahabat Si Puteri Rangrang.

LeungliSaya melihat-lihat lagi karya batik yang lain. Ada batik tulis dengan motif ikan yang sangat indah dan menarik. Saya lalu bertanya apakah ini ada ceritanya juga? Ya. Fonna mengangguk dan menjelaskan bahwa batik itupun diangkat dari cerita rakyat, yakni tentang seekor ikan yang bernama Leungli. Juga cerita rakyat Sunda yang sangat populer di Sukabumi. Tentu saja saya tertarik untuk mendengar.

Ringkas ceritanya begini; pada jaman dulu ada 7 orang bersaudara. Yang bungsu bernama Puteri Rangrang. Puteri bungsu ini sangat diirikan dan dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Satu-satunya sahabatnya adalah seekor ikan mas bernama Leungli. Ikan ini diselamatkan olehnya dan dipeliharanya sejak kecil hingga besar. Sedemikian indahnya persahabatan antara Leungli dengan Puteri Rangrang, bahkan jika ingin memanggilnya, Puteri Rangrang selalu melantunkan lagu khusus.

Suatu hari ketika Puteri Rangrang sedang pergi, kakak-kakaknya yang jahat mengambil ikan itu dan sengaja memasaknya untuk menyakiti hati Puteri Rangrang. Merekapun berpestapora dan membuang tulang-tulang ikan itu. Puteri Rangrang mencari-cari Leungli dan tak berhasil menemukannya. Lalu sadar kalau Leungli sudah dimakan oleh kakak-kakaknya. Akhirnya dengan sangat sedih ia mengumpulkan tulang-tulang ikan itu dan menguburnya baik-baik. Dari kuburan ikan itu, tumbuhlah sebatang pohon yang berbuah emas permata dan berlian. Hal ini terdengar oleh Pangeran kerajaan yang kemudian menemui Puteri Rangrang. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Leungli  dan air adalah dua element yang terexpressi di batik itu. Sungguh indah. Saya terpesona oleh kepiawaian Fonna dan Andri dalam mengangkat elemen-elemen sastra Sunda ke dalam design batiknya.

Melihat-lihat motif batik itu, dan mendengarkan apa yang dituturkan oleh pasangan seniman itu, barulah saya sadar. Bahwa pasangan ini bukan hanya sekedar menambah penghasilan dengan menciptakan kreasi batik, namun jauh di atas itu mereka adalah seniman-seniman yang bangga akan budaya daerahnya sendiri dan bekerja keras berupaya mengangkat dan menghidupkan kembali budayanya yang makin lama makin hilang tergerus perkembangan jaman.

GamelanBersama-sama teman seniman yang lain mereka mendirikan komunitas “Lokatmala” yang memiliki arti bunga Edelweiss, bunga abadi dari  Gunung Gede-Pangrango. Selain itu Lokatmala bisa juga diartikan sebagai tasbih penyucian. Di komunitas ini mereka tidak hanya mengerjakan batik dengan motif khas Sukabumi, namun juga menghidupkan kembali budaya Sunda Sukabumi  jaman dulu melalui kesenian tari dan musik traditional. Mereka juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk seniman lain atau siapa saja yang ingin bersama-sama mengajar atau berlatih menari Sunda. Ooh..pantes saja saya melihat perangkat gamelan di sana.

Mereka membatik dengan tujuan untuk mengangkat budaya daerah dan juga sekaligus untuk membantu menghidupi kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka menumbuhkan kembali rasa cinta kepada kebudayaan traditional yang menjadi warisan leluhur. Selain itu mereka juga tergabung dalam Komunitas Iket Sunda yang peduli dan berusaha melestarikan pemakaian iket kepala warisan leluhur itu.

Budaya dan Kesenian daerah adalah hal yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan sebuah masyarakat bahkan negara” pendapat pasangan itu. Saya tercenung mendengarnya. Tapi kemudian saya paham maksudnya. Kecintaan dan rasa kepemilikan masyarakat akan budaya dan kesenian daerahnya sendiri, akan membantu meningkatkan rasa kebanggaan sebagai bangsa. Masyarakat yang paham, cinta dan menjalankan budaya dan kesenian daerahnya sendiri adalah masyarakat yang sangat teguh dan tidak mudah diombang-ambingkan ataupun digerus oleh gelombang kebudayaan bangsa lain dan perkembangan jaman.

Lihatlah Jepang atau Korea! bagaimana mereka bisa beradaptasi atau bahkan memimpin perkembangan namun tetap membawa kebudayaannya sendiri. tetap cinta akan keseniannya sendiri. Mereka tidak tergoyahkan”. Ia memberi contoh. Saya mengangguk setuju. “Jangan sampai saking sibuknya dengan budaya Korea, kita sendiri lupa dengan budaya Sunda. Boleh belajar dan mengenal budaya lain. Itu perlu. Tapi pada akhirnya kita harus kembali kepada budaya kita sendiri. Hal ini hanya mungkin terjadi jika kita kenal, paham dan cinta terhadap budaya kita sendiri terlebih dahulu. Ibaratnya rumah – jika kita tidak tahu di mana rumah kita, kemana kita akan pulang?”. 

Leluhur kita mewariskan sedemikian banyaknya kearifan-kearifan dan kebiasaan yang baik. Sebaiknya kita kenali, kita ambil dan teruskan segala yang baik-baik milik kita sendiri itu sebelum kita mengenali dan memahami kearifan bangsa lain.

Wah..luarbiasa. Saya sangat salut pada mereka berdua.

Berbincang dengan pasangan yang terlihat sangat kompak ini sungguh sangat menyenangkan. Saya sangat beruntung bisa berkenalan dengan mereka.  Dua orang seniman yang mengabdikan dirinya untuk mengangkat budaya Sunda khususnya Sukabumi.

 

4 responses »

  1. Wah, Mbak akhirnya ketemu juga dgn dua sahabat saya Kang Andri dan Ceu Fonna. Saya belum sempat menulis tentang Lokatmala, keduluan sama Mbak nih…

    Saya mengenal mereka berdua awalnya bertemu di Komunitas Sukabumi Coffee & Cinema Club. Biasa kami menonton bersama di hari Sabtu bertempat di salah satu radio swasta di Sukabumi. Sayang belakangan ini komunitas ini vacum.

    Mereka memang dua seniman hebat. Apa Mbak diperkenalkan juga dengan komunitas tari yang Ceu Fonna giatkan?

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s