Batik Sukabumi, Motif, Filosofi Dan Pewarna Alam.

Standard

Batik SukabumiKetika mendengar nama Batik Sukabumi disebut, tentu penasaran dong. Apa itu Batik Sukabumi? Apa bedanya dengan batik-batik yang lain, misalnya batik Cirebon, atau batik Pekalongan atau batik Jogja dan sebagainya? Apakah ada motif tertentu atau pakem-pakem tertentu  yang menjadi ciri khasnya? Pertanyaan itu mendapat respon yang baik ketika saya berkesempatan ngobrol dengan pasangan pencinta budaya Sunda,  Fonna Melania dan Andri dari komunitas Lokatmala  -yang kebetulan juga pengrajin batik.

Menurutnya, yang dimaksudkan dengan Batik Sukabumi bisa dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni:1/. Batik yang menggunakan motif-motif khas Sukabumi, diciptakan dan dikerjakan  di Sukabumi. 2/. Batik yang dibuat dengan motif-motif khas Sukabumi tapi dikerjakan di luar daerah Sukabumi, misalnya Cirebon, Pekalongan dll.

Lalu apa motif khas batik Sukabumi yang membuatnya berbeda dengan batik daerah lain? Dari sana saya mendapat penjelasan bahwa motif batik yang diakui secara resmi sebagai motif khas Sukabumi sebenarnya ada 4 yaitu Pala, Paku Jajar, Pisang Kole dan Bunga Lily.  Mengapa motif-motif itu dianggap motif khas? Alasannya sangat simple, karena tanaman-tanaman itu sangat melimpah keberadaannya di Sukabumi.  Apakah alasan itu cukup unik untuk membuat sebuah batik bisa diklaim sebagai Batik khas Sukabumi? Bukannya tanaman itu juga ada banyak di tempat lain di Indonesia? Jika orang di daerah lain juga membatik dengan menggunakan motif itu, tentu ke-khasan Batik Sukabumi akan berkurang. Karena tidak unik lagi.

MembatikJauh sebelum pertanyaan ini muncul di benak saya, rupanya Fonna sudah memikirkannya. Dibutuhkan alasan yang jauh lebih mendasar jika ingin menggunakan element sebagai motif khas. Untuk itulah ia berusaha menggali hal-hal yang lebih mendasar dan spesifik kaitannya dengan budaya lokal Sukabumi ataupun hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Sukabumi, untuk diangkat ke dalam design batiknya guna meningkatkan ke”genuin’an dan kekhasannya.

Salah satunya ia bercerita tentang keberadaan dua buah Kendi di depan Masjid Agung yang menjadi salah satu landmark kota Sukabumi. Kendi itu memiliki kaitan sejarah dengan peristiwa heroik Bojong Kokosan. Sat itu sebelum para pejuang berangkat ke medan perang guna mempertahankan wilayahnya dari serbuan Belanda, mereka dimandikan terlebih dahulu dengan air dari 2 kendi itu yang sebelumnya sudah didoakan oleh ulama. Dan diciprat dengan menggunakan bunga wijaya kusuma. Sehingga ia terpikir untuk mengangkat element Kendi, Bunga Wijaya Kusuma dan Air dalam design batiknya. Karena element-element ini lebih spesifik dan  bisa dikaitkan dengan sejarah Sukabumi.

Kendi, bisa dikaitkan dengan kendi di depan Masjid Agung dan kisah Bojong. Demikian juga dengan Bunga Wijaya Kusuma. Selain itu Bunga Wijaya Kusuma juga menjadi symbol bagi sesuatu yang mekar,wangi dan cemerlang menerangi kegelapan. Dan Air, sangatlah erat dengan Sukabumi dan sejarahnya.  Secara umum Sukabumi memang memiliki sangat banyak air, sawah dan sungai sungai yang jernih. Kita tahu bahkan Balai Besar Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar berada di kota ini. Bahkan kalau diperhatikan ada jalan di Sukabumi yang bernama Ciwangi alias Air Harum  (Ci=Air, Wangi = harum). Mereka yakin akan keberadaan mata air wangi ini di sekitar hulu jalan Ciwangi sekarang. Itulah sebabnya mengapa ada gang yang diberi nama Gang Tirtha.

Manuk JulangHal lain yang ia sempat gali lagi adalah cerita-cerita rakyat dan legenda lama yang menyebar di kalangan masyarakat Sukabumi. Contohnya adalah Manuk Julang. Manuk Julang adalah kata dalam bahasa Sunda untuk Burung Enggang. Manuk Julang ini diyakini sebagi burung yang memiliki ethos kerja yang sangat tinggi. Konon burung ini akan berusaha terus mencari makanan/air dan tidak akan berhenti sampai ia dapat. Ia bahkan bersedia mati terbang dalam usahanya mencari sesuatu, ketimbang harus istirahat saat ia belum menemukan apa yang ia cari. Symbol Julang Ngapak (burung Julang yang sedang merentangkan sayapnya) misalnya bisa kita temukan digunakan dalam salah satu Iket Sunda ataupun diterapkan pada atap rumah Sunda traditional jaman dulu.

Nah, Manuk Julang inipun ia masukkan ke dalam element designnya. Sama halnya dengan design kucing Candramawat yang ia ambil dari cerita Nini Anteh dan   Ikan Leungli dari cerita Puteri Rangrang. Wah..kaya dan kreatif sekali idenya ya? Saya pikir apa yang ia lakukan sangat masuk akal. Mengaitkan sejarah, cerita rakyat dan filosofinya ke dalam element design untuk meng’enhance’ kekhasannya dan keterhubungannya dengan Sukabumi.

pala DesignLalu apa yang ia lakukan dengan motif-motif yang sudah dipatentkan sebagai motif khas Sukabumi? Ia tidak kehabisan akal. Melihat bagaimana buah pala utuh bulat lengkap dengan daunnya tidak selalu compatible dengan setiap design,maka ia membery style pada buah pala itu. “Bagaimana coba jika ujug-ujug ada buah pala pada design yang bercerita tentang air dan ikan? Buah pala lengkap pula dengan daunnya? Nggak nyambung kan?” katanya. Oleh karena itu ia membuat versi stylirasi yang lebih masuk akal dan lebih nyambung. Ketimbang buah pala utuh, ia mengambil biji dan selaput bijinya (fuli) yang memang terlihat jauh lebih cantik dan lebih nyambung kemana-mana. Bahkan kalau diletakkan berdekatan dengan motif airpun sekarang terasa tetap nyambung saja.

Pewarna alam.

Pewarna alamBudaya membatik sudah sangat tua di daerah Priangan. Bedanya, jika di Jawa menggunakan wax alias lilin untuk membantu proses penghambatan warna, di Sunda digunakan ketan.  Sedangkan pewarna jaman dulu tentunya diambil dari alam sekitarnya. Fonna berusaha melakukan proses membatik sedekat mungkin dengan apa yang dilakukan nenek moyang jaman dulu. Untuk beberapa batik tulisnya, Fonna juga menggunakan bahan-bahan pewarna alam yang dibuat dari daun pala, daun melinjo, daun alpukat, jengkol dan sebagainya. ternyata banyak juga ya bahan pewarna alam ini. Dan hasilnya ternyata sangat cantik.Warnanya kelihatan kalm dan teduh. Dan tentunya pewarna alam ini jauh lebih aman dan sebenarnya lebih mudah dicari dari lingkungan di sekitar kita. Back to Nature!.

Ia sangat menyukai batik dan menikmati pekerjaannya. Menurutnya nilai batik itu ada pada prosesnya. “Membatik adalah sebuah proses. Kalau kita tidak bisa menghargai prosesnya, ya gunakan saja kain printing” .

9 responses »

  1. Matur suksma Jeng Dani, baru ngeh batik Sukabumi dan makin percaya setiap daerah punya motif khasnya. Sepakat sekali, menikmati batik ada pada keindahan proses panjangnya, teknik dan tradisi berpadu.

  2. Wah tulisan ini sangat bermanfaat bu, informatif dan menarik. Terus menulis, bu, kabarkan dan ceritakan hal-hal lain yang menarik juga.

    • Terimakasih Pak Nas sudah berkunjung dan meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Ya Pak. Saya akan terus menulis. Selalu ingin membagi kekaguman saya terhadap hal-hal menarik dan inspiratif serta orang -orang hebat yang saya kagumi sepanjang perjalanan hidup saya – termasuk Pak Nas salah satunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s