Sukabumi: Mengenal Iket Sunda.

Standard

Iket SundaMasih bagian dari obrolan saya dengan Andri dan Fonna Meilana dari Lokatmala.

Ketika awalnya saya masuk ke rumah pasangan ini karena melihat tulisan “Komunitas Iket Sunda” di dekat pintu depan rumahnya. Seketika saya ingat akan Ikat kepala Sunda yang pernah dikenakan oleh beberapa orang teman saya, antara lain Miming Jumiarto dalam profile picture-nya di Facebook.  Dan juga sahabat blogger saya yang asal Sukabumi, Kang Titik Asa. Sayapun bertanya, komunitas apakah gerangan itu? Apakah benar ada kaitannya dengan ikat kepala traditional Sunda ? Dan apakah mereka juga yang mendirikannya?

Andri menjelaskan bahwa itu adalah komunitas non kemersial dari orang-orang yang cinta  dan ingin memperkenalkan kembali serta mengembangkan iket kepala traditional Sunda. Didirikan di Bandung dan Andri mengatakan bahwa ia bukan pendirinya namun saat ini merupakan bagian dari Komunitas Iket Sunda itu juga. Dan ia lebih fokus dengan Iket Sunda yang umum digunakan di Sukabumi saja. Setiap wilayah memiliki gaya ikatnya masing-masing, yang bisa saja berbeda satu sama lain. Ya..saya teringat saat bermain ke gunung Padang, saya juga melihat para guide di situ mengenakan iket dengan gaya yang berbeda dari yang pernah saya lihat di tempat lain. Saya sangat tertarik untuk mengenalnya.

Iket Sunda Sukabumi biasanya berupa kain persegi dengan empat sudut. Dimana motifnya biasanya memiliki motif tepi yang disebut pagar dan motif di tengah-tengah yang disebut dengan modang.  Secara umum, cara/gaya mengikat iket itu bisa dibedakan menjadi Iket Buhun dan Iket Kiwari. Iket Buhun adalah Iket dengan style yang sudah  digunakan sejak jaman dulu hingga kini. Warisan leluhur.  Sedangkan Iket kiwari adalah iket yang diciptakan dan banyak digunakan di masa sekarang ini.

Menurut Andri, di Sukabumi ada 5 jenis Iket Buhun  dasar yang biasa digunakan yakni; Parekos Jengkol, Parekos Gedang, Julang Ngapak, Parekos Nangka dan Barangbang Seumplak  Sisanya yang lain adalah hasil pengembangan dari 5 jenis Iket ini. Atau jika tidak, merupakan kreasi generasi belakangan.

1/. Parekos Jengkol.

Parekos JengkolParekos dalam Bahasa Sunda artinya adalah lipatan yang dilakukan sambil memutar. Parekos Jengkol = Lipatan Jengkol.

Parekos Jengkol dipakai dengan cara melipat Iket segi empat menjadi segi tiga terlebih dahulu, kemudian melipat kembali dasar segitiga sebanyak 2 lipat, lalu memasangkannya dengan cara melilit pada kepala.  Cara memasangnya adalah dengan memastikan bagian atas kepala tertutup kain, ujung salah satu kain ditarik ke depan dan diselipkan di bawah lilitan, sehingga terlihat muncul tepat di tengah-tengah dahi . Ikatan dilakukan di bagian belakang dengan ujung ikatan dibiarkan lepas menggelantung.

Gaya Iket Parekos Jengkol ini sering kita lihat dipakai  oleh beberapa tokoh Sunda,  misalnya tokoh Cepot dalam Wayang Sunda.

 

2/. Parekos Gedang.

Parekos Gedang.Gedang dalam Bahasa Sunda berarti Pepaya. Jadi Parekos Gedang = Lipatan Pepaya. Mungkin disebut demikian karena setelah jadi, ikatan ini bentuknya mirip pepaya.

Menurut saya, Parekos Gedang ini sangat mirip cara pemakaiannya dengan Parekos Jengkol. Mulai dengan melipat kain segi empat menjadi segi tiga lalu melilitkannya di kepala dengan cara yang sama dengan Parekos Jengkol. Hanya saja ujung ikat kepala tidak ditarik sebanyak di Parekos Jengkol. Ujung kain di dahi itu cukup ditiban di bawah lilitan kain, sehingga tidak ada ujung kain ikat yang muncul di tengah dahi.

Juga di bagian belakang, ikatannya dirapikan dan dimasukkan ke dalam lilitan belakang, sehingga tidak ada sisa ujung ikatan yang terlihat lepas.

3/. Julang Ngapak.

Julang Ngapak.Julang berasal dari kata Manuk Julang, nama dalam Bahasa Sunda untuk Burung Enggang.  Sedangkan Ngapak artinya membentangkan sayapnya lebar-lebar. Jadi Julang Ngapak = Burung Enggang yang merentangkan sayapnya. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa burung Julang dikagumi  karena konon memiliki ethos kerja yang sangat baik.

Iket Julang Ngapak ini terlihat cukup unik, karena memiliki dua ujung yang diatrik ke samping mirip jambul burung hantu.

Iket Julang Ngapak ini sebenarnya agak mirip dengan Parekos Jengkol, tetapi pada bagian kain yang menutup kepala bagian atas, ditarik ke samping kiri dan kanan, hingga menyerupai sayap burung Julang.

4/. Parekos Nangka.

Parekos NangkaDari namanya, Iket ini mudah dimengerti maksudnya. parekos = lipatan. Sedangkan nangka artinya sama dengan nangka dalam bahasa Indonesia.

Parekos Nangka memiliki tampilan unik, karena penutup kepala bagian atas yang pada Parekos Jengkol dan parekos Gedang berada di bawah lilitan kain di bagian dahi, namun pada Parekos nangka ini, ujung kain tidak ditiban. Alih alih ditiban, ujung kain di bagian depan malah dilepas dan dibiarkan mengantung ke di depan dahi.

 

5/ Barangbang Seumplak.

Barangbang Semplak.Barangbang adalah kata dalam Bahasa Sunda untuk Pelepah Daun Aren atau juga pelepah kelapa. Kita tahu bahwa di daerah pasundan sangat banyak tumbuh pohon aren.  Sedangkan Seumplak artinya adalah nyaris jatuh (tapi masih menempel di batangnya), misalnya akibat sudah layu  atau patah tertiup angin. Jadi Barangbang Seumplak artinya Pelepah Daun Aren yang nyaris jatuh/patah.

Iket Barangbang Seumplak ini tidak menutupi kepala bagian atas.  Sehingga kalau udara sedang panas lembab, kelihatannya tidak membuat kepala berkeringat. Iket dilakukan dengan cara melipat kain segi empat menjadi segitiga, lalu dililitkan di kepala dengan meletakkan bagian ujung segitiga kain di bagian belakang. Ikatan dilakukan pada bagian belakang.

Di luar 5 Iket dasar Buhun ini, masih banyak lagi jenis Iket yang lain yang diciptakan belakangan. Andri sendiri juga sempat menciptakan beberapa jenis Iket masa kini. Rupanya setiap wilayah memiliki gaya mengikat yang tidak selalu persis sama. Sehingga jika dihitung di seluruh tanah Pasundan, banyak sekali jenis Iket yang ada.  Sayang sekali jika Iket ini sampai hilang karena tidak banyak lagi orang menggunakannya dalam aktifitasnya sehari-hari.

Saya salut kepada orang-orang di Komunitas Iket Sunda yang dengan sabar dan tekun terus menerus berusaha mengenalkan kembali Iket Sunda, tata cara berbusana ala Sunda sesuai dengan warisan leluhur.

 

 

3 responses »

  1. Duh, itu Kang Andri lagi in-action…
    Mbak An, ke Sukabumi gak info-info nih. Kalau tahu kan bisa bertemu di Lokatmala. Saya sudah lama tidak bertemu Kang Andri dan Ceu Fonna…
    Dan itu parekos jengkol…ah, itu gaya iket Sunda pertama yang saya pelajari juga.

    Salam,

  2. Salut deh sama Bu Dani dengan tulisan ini juga termasuk salahsatu cara memperkenalkan salah satu unsur budaya sunda. Saya sendiri senang mengenakan iket sunda bahkan anak saya yang paling kecil juga senang jika dikenakan iket sunda seperti ini.

  3. salut mbak .., bisa mampir dan belajar aneka iket sunda langsung dari ahlinya

    waktu lihat pameran batik Bogor bbrp waktu lalu aku lihat ada gambar iket Sunda ini.., udah dipasang juga fotonya, ternyata banyak macam ya jenis iketnya, sayang nggak ada peragaan cara pakenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s